Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
berpisah.


__ADS_3

Menjelang makan siang Arya dan bibi tiba di rumah.


"Sini mas biar bibi aja yang memasaknya.." tawar bi Marni.


"Biar Arya aja bi.. Bibi pasti akan memasak juga kan untuk makan siang nanti.. Waktunya sudah mau mendekati makan siang bi.. Nanti bibi kerepotan" senyum Arya.


"Ohh ya udah kalau gitu baiklah.." jawab bi Marni.


"Saya pinjam dapur sebentar ya bi.." ijin Arya.


"Iya mas Arya silahkan... Bibi juga baru mau siap siap.." jawab bi Marni.


"Terimakasih ya bi, maaf lho merepotkan bibi sampai sampai bibi terlambat memasak." kata Arya sambil mengikuti bi Marni menuju ke dapur.


"Gapapa mas, tadi juga kebetulan kan ada beberapa bahan habis juga" kata bi Marni meletakkan belanjaannya di meha dapur.


Arya pun memulai menyiapkan bahan bahan untuk membuat ramuan dengab beberapa kali menanyakan letak beberapa barang yang dia perlukan.


Bi Marni dan Arya tampak sibuk dengan kesibukan mereka masing masing dengan berbagi kompor.


Waktu terus berlalu, Arya sudah selesai membuat ramuan untuk kesembuhn Nathan.


"Bi.. Saya sudah selesai.. Ada yang bisa Arya bantu??" tawar Arya.


"Aahh tidak perlu mas, ini tinggal matengin aja kok.. Mas Arya istirahat aja dulu sebentar, pasti capek tadi sudah jalan jalan ke pasar sama bibi" jawab bi Marni menolak.


"Tidak kok bi, saya sudah terbiasa kok.. Ya sudah kalau begitu, saya mau antar ramuan ini untuk Nathan" kata Arya memegang segelas ramuan.


"Iya mas.." jawab bi Marni.


Arya berjalan menuju ke kamar Nathan. Pelan Arya membuka pintu kamar, dan terlihat Nathan masih memejamkan matanya. Arya meletakkan ramuan tersebut di atas nakas samping tempat tidur.


Arya memegang kening Nathan, sedikit demam.


"Than.. Bangun Than.." panggil Arya lirih.


"Eemmm.." perlahan Nathan membuka matanya.


"Pusing???" tanya Arya..


"Sedikit.. Badan gue rasanya malah seperti remuk" kata Nathan lemas.


"Minum ramuannya dulu ya.. Gue dah bikinin loe ramuan, tapi masih panas. Nanti di minum setelah makan aja ya.. Loe mau mandi??" tanya Arya.


"Antar gue ke kamar mandi ya." pinta Nathan.


"Sebentar, gue siapin air hangat ya. Tunggu dulu" kata Arya.


"Arya.." Nathan memegang tangan Nathan.


"Makasih ya.." kata Nathan lagi saat Arya kembali duduk di sampingnya.


"Sama sama Than.. Gue siapin dulu ya" kata Nathan lagi.


Nathan terus mengamati Arya hingga hilang terhalang tembok.


"Maafin gue Ar, kemaren sempat marah sama loe.. Sempet berfikir yang enggak enggak sama loe" batin Nathan.


Tidak lama kemudian, Arya keluar dari kamar mandi.


"Dah yuk, airnya dah siap.. Pelan pelan." kata Arya membantu Nathan bangun dari tidurnya.


Pelan pelan Nathan bangun dari tidurnya. Badannya terasa seperti remuk, kaku sulit untuk di gerakkan.


Pelan Nathan berjalan dibantu oleh Arya hingga masuk ke dalam kamar mandi. Arya mendudukkan Nathan di closed dan meninggalkan di dalam.


Tok...tok...tok..


"Than..." panggil Iren.


Cekleekkk..


"Eehh mas Arya.." kata Iren.

__ADS_1


"Nathan lagi di kamar mandi Ren.. Loe dah baik baik ajakan??" tanya Arya.


"Udah kok mas.. Makasih ya pijatannya, kaki gue udah enakan sekarang. Ohh ya, makan siang dah siap. Kita tunggu di bawah ya" kata Iren.


"Sama sama Ren.. Ya udah nanti gue sama Nathan menyusul." jawab Nathan.


"Sayang loe milik Nathan Ren.. Andai gue lebih dulu ketemu sama loe. Aahhhh mikir apa si gue ini.. Ingat Arya, dia milik saudaramu.. Ingat... Gue janji bakal melindungi kalian berdua.." batin Arya.


Nathan keluar dari kamar mandi, melihat iti Arya langsung bergegas mengahmpiri Nathan dan membantunya.


Tidak lama kemudian Arya dan Nathan menuju ke ruang makan, terlihat di sana Iren dan Ririn sedang berbincang menunggu mereka berdua.


"Dah lama ya menunggunya??" kata Nathan.


"Egak kok.. Dah yuukk keburu dingin." kata Iren.


Setelah menikmati makan siangnya, mereka pun berkumpul di ruang keluarga yang tidak jauh dari ruang makan.


"Bentar ya, gue ambilin ramuan buat loe" kata Arya.


"Nanti aja, loe di sini aja.. Gue ga mau loe kecapean.." jawab Nathan menahan Arya.


"Udah duduk sini" paksa Nathan saat Arya hendak menolaknya.


"Besok kalau loe mau balik ke bengkel ga papa Ar.. Kasihan pelanggan yang menunggu mobil mereka" kata Nathan lagi.


"Gapapa, gue dah konfirmasi ke para pelanggan. Mereka bisa mengerti kok.. Paling yang dah selesai digarap yang bisa mereka ambil." jawab Arya.


Nathan hanya tersenyum, dia benar benar bersyukur memiliki saudara yang sangat pengertian.


Hari berganti malam, dan malam berganti pagi.. Iren dan Ririn pun bersiap siap untuk berangkat ke kantor.


"Ren, kamu yakin mau berangkat??" tanya Nathan saat mereka sedang sarapan.


"Yakin.. Aku dah gapapa kok.." jawab Iren sambil memasukan sesendok nasi goreng.


"Ya udah kalau gitu, aku juga sekalian pamit ya.." kata Nathan.


"Aku dah gapapa kok.. Lagian ada Arya.." kata Nathan tersenyum.


"Ya udah kalau begitu.." jawab Iren lesu.


"Minggu depan aku kesini lagi ya..." bujuk Nathan.


"Iya, gapapa kok" kata Iren memaksakan tersenyum.


Setelah sarapan, kini mereka bersiap siap untuk pergi. Arya dan Ririn memilih menunggu Nathan dan Iren di teras rumah.


"Bi... Iren berangkat ya.." pamit Iren.


"Nathan juga bi, titip Iren ya bi" pamit Nathan juga.


"Kalian hati hati ya non.. Mas.." jawab bi Marni.


Iren dan Nathan mengangguk dan tersenyum.


"Yang.. Aku janji minggu depan kesini lagi.. Kasihan Arya bengkelnya tutup, pasti banyak pelanggan yang nungguin. Aku di sana juga istirahat kok" kata Nathan yang tau Iren sedang sedih.


"Janji ya.. Aku ga mau kamu kenapa kenapa lagi.." peluk Iren.


"Iua sayang, aku janji" Nathan mencium kening Iren.


"Ya udah kamu hati hati ya sama Arya. Jagan diri baik baik." kata Iren menatap Nathan.


"Pasti sayang.." senyum Nathan.


Mereka pun keluar menyusul Arya dan Ririn.


"Dah yukk.." kata Nathan.


Mereka pun masuk ke dalam mobil mereka masing masing. Dan mereka saling beriringan hingga berpisah di sebuah pertigaan.


"Ren.." panggil Ririn.

__ADS_1


"Heemm" jawab Iren.


"Nathan dah melamar loe??" tanya Ririn.


"Tau dari mana??" tanya Iren menatap Ririn yang tengah menyetir.


"Gue tanya ke Arya tadi waktu di teras rumah loe" jawab Ririn.


"Baru melamar antara gue dan dia doang, belum sampai ke paman Rudi." jawab Iren.


"Lalu kapan??" tanya Ririn lagi.


"Apanya??" tanya balik Iren.


"Lamaran resminyalah... Apa mau langsung kawin?" lirik Ririn sambil menahan tertawa.


"Cckkk apa siiii... Belum tau, gue masih fokus sama kuliah dulu.. Kata Nathan kuliah kelar" jawab Iren.


"Masih lama dong" kata Ririn.


Iren hanya diam saja. Dia menatap lurus ke depan.


Tidak lama kemudian nereka sampai di kantor. Setelah memarkirkan mobilnya, mereka berjalan beriringan menuju ke pintu masuk perusahaan. Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Rangga.


"Pagi Ren.." sapa Rangga.


"Pagi kak.." sapa Iren.


Iren berjalan mendahului begitu juga dengan Ririn. Rangga berusaha menyeimbangkan langkah Iren.


"Kok buru buru banget si Ren.." tanya Rangga.


"Maaf kak, gue ingin ke toilet" jawab asal Iren.


Iren pun berbelok ke arah karyawan, begitu juga dengan Ririn.


"Loe hati hati loe Ren. Inget status loe" kata Ririn.


"Iya gue paham, gue berusaha menghindari." jawab Iren.


"Eeehhh kalian, masih ngobrol aja.. Jam berapa ini!!!" bentak Rita tiba tiba.


Iren hanya diam tidak peduli, sedangkan Ririn melirik tajam Rita.


"Iya bentar lagi kita ke atas..!!" jawab Ririn sinis.


Tidak lama kemudian mereka berdua pun menuju ke kubikel mereka. Di sana terlihat Rita berdiri bersandar di tembok sambil membaca sebuah laporan ditangannya.


Iren dan Ririn pun hendak melewati Rita, saat Iren hendak melangkah. Tiba tiba Rita menjagal kaki Iren hingga Iren terjatuh dan luka yang belum sepenuhnya kering terbentur ujung kubikel depannya yang mengakibatkan berdarah kembali.


"Ehhhh loe sengaja ya!!!" bentak Ririn memegangi Iren yang terjatuh.


"Aaahhh maaf yaaa.. Gue ga sengaja.. Sumpah.. Aduuuhhh itu berdarah lagi.. Gapapa kan?? Gapapa lah ya, di ibatin bentar juga sembuh hahaha" kata Rita dengan nada meledek.


Semua karyawan yang berada di sana pun hanya menonton.


"Bisa bisanya loe bilang kaya gitu!!! Ga ounya otak loe ya???" bentak Ririn.


"Cukup!!!" teriak Iren menahan pusingnya.


"Ada apa ini???" tanya Rudi tiba tiba.


"Iren?? Dia kenapa Rin?? Kamu gapapa nak??" tanya Rudi tanpa memperdulikan orang orang disekitarnya menatap bingung.


"Ini kenapa Ririn!! Kenapa Iren begini.." tanya Rudi.


"Ini gara gara dia om.. Dia yang sengaja menjebak kaki Iren!" adu Ririn.


"Bawa Iren ke tempat kesehatan ya Rin.. Om urus yang berada di sini" kata Rudi dingin.


"Dan kamu Rita!! Ikut saya ke kantor!" bentak Rudi.


Mau tidak mau Rita pun mengikuti Rudi menuju ke kantornya.

__ADS_1


__ADS_2