
Setelah makan siang, mereka pun memilih bersantai di ruang keluarga.
"Iren.. Kamu istirahat dulu ya nak.. Ingat pesan dokter, jangan kecapean dulu.." bunda mengingatkan.
"Tapi bunda.." rengek Iren.
"Nurut sama bunda ya.. Yukk bunda antar" kata bunda bangun dari duduknya.
Mau tidak mau, Iren pun mengikuti perintah bunda. Ririn membantu bunda untuk mengantar Iren ke kamarnya. Kini tinggalah Nathan dan Rudi.
"Nathan.. Paman titip Iren ya nak.. Lindungi dia.." kata Rudi
"Itu sudah pasti paman.. Kenapa paman tiba tiba berbicara seperti ini?" tanya Nathan..
"Entahlah Nathan.. Semenjak kejadian itu, paman merasa sudah tidak memiliki muka lagi di hadapan Iren.. Paman merasa sangat bersalah nak.." ucap Rudi menundukkan kepalanya
"Paman.. Ini semua bukan kesalahan paman.. Ini diluar kendali paman.. Sekalipun Iren tau nantinya, Nathan yakin Iren tidak akan menyalahkan paman." kata Nathan.
"Entahlah, paman merasa sangat bersalah dengan almarhum Surya papi Iren.. Almarhum begitu baik dengan paman, tapi apa yang paman balas untuk beliau??" Rudi mulai terisak..
"Paman... Jangan seperti ini.. Paman tidak bersalah.." kata Nathan mencoba menenangkan...
"Paman..." panggil Iren yang berdiri di anak tangga.
"Iren.." Rudi menoleh terkejut tiba tiba Iren berada di sana.
Nathanpun ikut terkejut, dia bangkit dari duduknya dan menghampiri Iren.
"Iren.. Kenapa kamu di sini?? sejak kapan kamu di sini??" tanya Nathan mengambil alih perhatian.
"Bun.." Nathan menatap bundnanya meminta penjelasan.
"Iren ingin ke halaman belakang, dia merasa jenuh jika tiduran terus.. Dia merasa badannya menjadi lemas terlalu banyak tiduran di kasur." bunda menjelaskan.
Nathan menatap Iren lekat, Iren membalas tatapan Nathan.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya Than... Kenapa kamu malah menyembunyikannya dari ku" kata Iren berkaca kaca.
"Maafkan aku.. Maaf.. Aku hanya tidak ingin kamu banyak pikiran di saat kondisimu seperti ini" Nathan menjelaskan dan membawa Iren dalam pelukannya.
"Nak.. Jangan marah sama Nathan ya.. Paman yang meminta Nathan untuk menyembunyikannya dahulu.. Dan paman meminta maaf atas perbuatan Santi terhadapmu.. Paman siap menerima konsekuensinya" kata Rudi menghampiri Iren.
"Duduk dulu yukk, kita bicarakan di sana" ajak Nathan.
Mereka pun kembali duduk bersama di ruang keluarga.
"Paman.. Kenapa paman tidak mau menceritakannya kepada Iren paman??" tanya Iren.
"Paman tidak mau menambah bebanmu nak.. Maafkan paman.. Maaf.." kata Rudi berlutut di depan Iren.
"Paman.. Paman jangan begini.. Iren tidak suka paman seperti ini.. Paman sudah terlalu banyak membantu Iren dari Iren kecil hingga dewasa sampai sekarang." jawab Iren menahan Rudi agar tidak benar benar berlutut di hadapannya.
Rudipun kembali duduk di depan Iren.
__ADS_1
"Paman sudah menyerahkan hasil rekaman cctv sebagai bukti, dan kasusnya sekarang sedang berjalan. Namun Santi terlebih dahulu kabur. Pihak kepolisian sedang berusaha untuk menemukannya." kata Rudi.
"Paman, Iren sudah tidak apa apa paman, tidak perlu hingga ke jalur hukum.. Iren sudah tidak apa apa" jawab Iren.
"Tidak Iren.. Paman hanya ingin memberikan pelajaran untuk mereka. Mudah mudahan dengan ini mereka mendapatkan pelajarannya" jawab Rudi.
"Paman..." Iren meneteskan air matanya..
"Paman sudah menyerahkan kasus ini kepada Nathan dan bapak Subroto.. Paman tidak akan membela Santi.. Paman sangat kecewa dengan dia.." kata Rudi..
"Maafkan paman Iren, paman tidak mampu mendidik Santi sebagai istri paman.. Maafkan paman.. Paman berjanji, setelah kamu sudah siap untuk memimpin perusahaanmu, paman akan segera mengundurkan diri" kata Rudi menggenggam tangan Iren.
"Tidak paman.. Jangan... Paman tidak bersalah.. Ini bukan salah paman... Tetap bersama Iren paman.. Iren mohon.." Iren menggelengkan kepalanya dan menangis.
"Paman, benar apa yang dikatakan Iren.. Ini bukan salah paman.." kata Nathan.
"Rudi.. Apa kami tidak kasihan meninggalkan Iren sendirian??" imbuh bunda.
"Iren sudah memiliki kalian yang lebih menyayanginya Santi.. Aku sangat kecewa dengan istriku.. Kamu dan istriku memiliki nama yang sama, tapi kenapa sifat kalian jauh berbeda" kata Rudi.
"Rudi, jangan kamu menandingkan kami seperti itu.. Meski nama ku dan istrimu sama.. Tapi kami berbeda.. Semua sifat manusia pasti berbeda, bahkan anak kembar sekalipun. Rudi, mungkin ini cobaan untuk mu juga untuk istrimu.. Bersabarlah, jangan kamu menyalahkan dirimu sendiri. Hadapilah cobaan ini dengan lapang dada Rudi. Mana Rudi yang dulu aku kenal, yang selalu optimis dalam mengahadapi segala sesuatu." jawab bunda.
"Terimakasih Santu, suamimu begitu beruntung memiliki istri seperti dirimu.." kata Rudi.
"Rudi, jangan berkata begitu.. Aku hanya manusia biasa Rud, masih banyak kesalahan kesalahan yang aku lakukan.. Tidak baik membanding bandingkan" ucap bunda lagi.
"Ohh iya, ngomong ngomong. Rudi, kapan nihh kita mengadakan acara lamaran Nathan dan Iren" bunda mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Sayang... Kamu sudah siap??" tanya bunda ke Iren.
"Bunda..." jawab Iren tersipu malu..
"Eeecieeeee yang mau di lamar malu malu" goda Ririn.
"Ririn ihhh loe seneng banget sihh ngeleskin gue mulu.." jawab Iren memasang wajah cemberut.
"Hahahaha, Ren loe jangan masang wajah begitu, lihat tuhh Nathan keliatan gemas gitu ngeliatin loe" kata Ririn.
Irenpun mengalihkan pandangannya ke Nathan, dan benar saja. Nathan terus menatapnya.
"Jangan pernah memasang wajah seperti ini di hadapan laki laki lain. Karena wajahmu tampak begitu imut saat seperti itu" bisik Nathan.
Wajah Irenpun langsung bersemu merah, dan itu tidak luput dari pandangan Ririn.
"Hayooo Nathan bisikin apa loe sama Iren sampe wajahnya merah gitu. Bun, lihat dehh Iren.." goda Ririn.
"Ririnnnn!!!" Iren melempar bantal sofa.
"Hahahahahaha" Ririn tampak puas berhasil menggoda Iren..
"Sudah sudah.. Minggu depan kita akan mengadakan lamaran untuk mereka berdua. Bagaimana Rudi.." saran bunda.
"Boleh juga..." jawa Rudi.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, nanti aku coba hubungi mas Arthur." jawab bunda lega.
Mereka pun menikmati hari itu bersama hingga sore menjelang. Rudipun berpamitan untuk kembali pulang. Sedangkan Iren kembali ke kamarnya ditemani dengan bunda untuk sejenak beristirahat. Begitupula dengan yang lainnya.
#####
Waktu makan malampun tiba.. Iren, bunda Ririn dan Nathan sudah berkumpul di meja makan.
Ting tong.. Ting tong..
Bi Marni berjalan dari dapur hendak membukakan pintu.
"Bi.., biar Nathan aja" jawab Nathan.
"Oohh iya mas.." jawab bi Marni kembali ke dapur.
Nathan membuka pintu, tampak Ayah sedang berdiri di depan pintu menunggu dibukakan pintu.
"Ayah..." panggil Nathan mengambil tangan sang ayah untuk bersalaman dan mencium tangan ayahnya
"Than.. Kok sepi??" tanya ayah menepuk bahu Nathan.
"Lagi mau makan malam Yah.. Sekalian yukk yah.." jawab Nathan setelah menutup kembali pintu rumah.
Nathan dan ayahpun menuju ruang makan.
"Ayah... Kok baru tiba.." tanya bunda.
"Iya bun, banyak kerjaan tadi.. Haii Iren.. Kamu sudah tampak bugar" kata ayah.
"Ayah duduk sini" panggil Nathan.
"Ayah... Iren sudah baik baik aja ayah. Ayah ayoo makan bersama kami" jawab Iren.
Merekapun akhirnya makan bersama dengan tenang. Setelah menikmati makan malam merek, bunda dan Ririn membantu bi Marni untuk membereskan peralatan makan yang mereka gunakan.
"Bu, biar bibi aja yang beresin.." kata bi Marni.
"Kita kerjakan bersama sama ya bi, biar cepat selesai.." jawab bunda.
"Bun, Ririn buatin minuman ya.." tawar Ririn.
"Boleh boleh.." jawab bunda.
"Waahhh bibi kadi ga ada kerjaan lagi dong ini" gurauan bibi.
"Jadi bibi bisa cepat istirahat.." jawab bunda..
"Oohh iya bibi sudah makan?" tanya bunda sambil mencuci piring.
"Sudah sudah bu.." jawab bi Marni.
Tidak lama kemudian bunda pun sudah selesai menyelesaikan cuci piringnya. Sedangkan bi Marni sedang membersihkan meja makan dan menatanya dan Ririn sudah bergabung dengan Iren dan lainnya di ruang keluarga. Sayup sayup terdengar gurauan dari mereka.
__ADS_1