
Pagi harinya, Iren terbangun dari tidurnya. Hari ini dia ada jam kuliah jam 9, tapi kali ini Iren memilih untuk berangkat pagi.
Iren mempersiapkan dirinya, dari mandi hingga mengecek ulang tugasnya. Setelah dirasa cukup, Iren keluar kamarnya dan akan menuju ke garasi mobil.
"Ren..?? Loe ada kelas pagi?" tanya Ririn yang akan berangkat ke kampus juga.
"Enggak si.., gue cuma pengen ke perpustakaan aja. Loe ada kelas pagi??" tanya balik Iren.
"Iya nih.." jawab Ririn.
"Ya udah yuk bareng.." jawab Iren.
Iren dan Ririn pun berangkat bersama, saat melewati kamar Nathan dalam waktu bersamaan Nathan membuka pintu kamarnya.
"Loh Ren?? Emangnya ada kelas pagi?" tanya Nathan yang melihat Iren sudah rapi.
"Ga ada.. Pengen berangkat pagi aja" jawab Iren singkat dan langsung meninggalkan Nathan yang melongo merasakan perubahan sikap Iren.
"Katanya pengen ke perpustakaan tadi.. Kalian ada masalah??" tanya Ririn memastikan.
"Gue si ga merasa ada masalah.. Ya udah ati ati ya" jawab Nathan yang masih bingung dengan sikap Iren.
☘☘☘☘☘
"Nathaann!" panggil Putri mendekati Nathan dan Iren melihat itu.
"Hari ini kan gue disuruh berangkat.. Anterin yuuk buat daftar ulang" pinta Putri dibuat semanis mungkin karena dia tau Iren pasti sedang mengamatinya dari dalam mobil.
Iren yang melihat itu mencoba untuk mengontrol emosinya, mencoba untuk menguasai gemuruh detak jantungnya. Namun, Ririn menyadari perubahan raut wajah Iren.
"Ren, loe cemburu??" tanya Ririn lembut.
"Haahhh cemburu?? Sama?" kata Iren pura pura tidak tau.
"Jangan pura pura Iren, gue tau.." kata Ririn.
"Gue beneran ga tau Rin apa yang loe maksud." Iren berusaha mengelak.
"Gue cuma mau ngingetin aja Ren, kalau ada apa apa itu cobalah sedikit berbagi. Terserah deh loe sama siapa. Seenggaknya beban loe ilang, sukur sukur bisa dapat saran." kata Ririn yang tidak percaya dengan pengakuan Iren.
"Iya iya Rin, tenang aja. Thanks ya.." jawab Iren tersenyum.
"Ohhh ya Rin, loe masih ada waktu ga??" tanya Iren.
"Kenapa emangnya??" tanya Ririn.
"Gue laper, cari sarapan yukk.. Makan bubur ayam yang di depan kampus" ajak Iren.
"Kalo deket kampus ayok,.." jawab Ririn.
Akhirnya mereka berdua pun singgah dulu di warung bubur ayam depan kampus untuk sarapan terlebih dahulu.
#####
Di dalam kamarnya, Nathan tampak melamun. Dia sedang menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi dengan Iren. Sikapnya kepada dirinya berbeda 180derajat.
Nathan curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi saat dia pergi bersama Putri dan dia akan mencari tau.
__ADS_1
Tok..tok..tok..
"Nathan.." panggil Putri.
"Ya, sebentar" jawab Nathan.
Ceklekk..
"Lohhh kok belum siap?, katanya mau anter aku" tanya Putri melihat Nathan belum bersiap siap.
"Oohhh iya lupa, loe tunggu di kamar loe aja.. Nanti gue panggil." kata Nathan yang langsung saja menutup pintunya.
"Cckkk main tutup aja, gue tunggu di sini ajalah" kata Putri lirih.
Iren pun beralih dengan ponselnya, lalu dia menghubungi seseorang melalui chat.
"Gimana?? Udah belom??" tanya Putri.
Ting..
"Udah santai aja, loe tinggal lihat reaksinya gimana" balas orang itu.
"Ohhh pantes aja tadi pagi Iren kaya bete gitu sama Nathan hehehehe rencana kita mulai berjalan hahaha" jawab Putri.
Ting...
"Haaahhh Iren dah pergi??, kan nanti dia ada kelas jam 9. Waaahh pasti dia terpancing dengan foto foto itu hahahaha.. Ok lah bagus.. Tinggal loe perlahan lahan ambil alih perhatian Nathan" jawab orang itu lagi.
"Ok.. Ini gue juga minta anterin dia ke kampus" balas Putri lagi.
Ting...
"Ok. See you" jawab Putri.
Tidak lama kemudian, Nathan keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi. Kini Nathan tau siapa dalangnya yang membuat Iren berubah sikapnya, meski dia belum tau penyebabnya apa.
"Pake mobil gue aja Than" Putri memberikan kunci itu kepada Nathan.
"Terserah" jawab Nathan.
Di dalam perjalanan Putri terus menatap Nathan tanpa sedikitpun berpaling.
"Put, mau loe apa si??" tanya Nathan dengan wajah dinginnya.
"Mau gue?? Serius loe nanya mau gue??" Putri berbalik tanya.
"Put, gue ingetin loe. Jangan pernah mengusik Iren kalau loe ga pengen terjadi apa apa.." kata Nathan dengan tatapan dingin.
"Ma..maksud kamu apa Than? Gue ga tau yang loe omongin" Putri terlihat gugup.
"Loe kerja sama apa dengan Cindy hah?? Loe melakukan apa??" tanya Nathan yang tiba tiba menepikan mobilnya dan berhenti.
"Cin... Cindy?? Si..siapa Cindy? Gue ga kenal" Putri masih berusaha mengelak.
Nathan tersenyum sinis melihat Putri yang semakin gugup.
"Ok, loe ga mau jawab.. Loe berangkat sendiri ke kampus. Loe tinggal lurus, ada perempatan belok kanan" jawab Nathan yang hendak turun dari mobil.
__ADS_1
"Than... Than tunggu tunggu.. Iya iya gue kerja sama sama Cindy buat jauhin loe sama Iren. Gue bakal nglakuin apa aja buat dapetin loe" jawab Putri.
"Dengar ya Put, sekalipun gue ga sama Iren. Gue ga bakalan sama loe.. Gue bener bener ga punya rasa sama loe. Selama ini gue mau ngobrol sama loe aja karena menghargai orang tua loe. Jangan bikin gue semakin ga respect sama loe. P..A..H..A..M" bentak Nathan lalu keluar dari mobil.
"Hiksss... Nathaaannn!! Tunggu Than tunggu... Gue minta maaf.. Maafin gue Than.." panggil Putri mencoba mengejar Nathan.
Nathan terus berjalan meninggalkan Putri, dia memilih menuju ke taman kota yang tidak terlalu jauh dari kampus dan membeli sebotol air mineral..
"Apa gue sanggup nyenengin Iren?? Apa gue bisa bahagiain dia, jagain dia.. Ini belum apa apaa udah bikin Iren sakit hati. Ayah, apa putramu ini bisa seperti ayah" batin Nathan duduk di bangku taman dengan tangan memegang botol air mineral.
"Nak.. Yakinlah jika kamu mampu.. Ayah yakin kamu bisa.. Butuh proses nak. Buat Iren lebih percaya kamu. Buat dia semakin nyaman saat bersamamu" tiba tiba suara itu lagi.
"Ayah" Nathan clingak clinguk.
"Nathan.. Nathan.. Kamu kenapa clingak clinguk gitu si?" tanya ayah tiba tiba berdiri di belakang Nathan.
"Ayah sejak kapan di sini?" tanya Nathan bingung.
"Kamu ini kaya ga biasa aja" jawab ayahnya duduk di samping Nathan.
"Nak, batin kita terikat kuat.. Sekalipun jauh, jika kamu sebut ayah.. Pasti ayah akan mendengarnya.. Kamu jangan mudah putus asa nak, kamu harus bisa meyakinkan hatimu jika kamu mampu" jawab ayah Nathan mengelus punggung putranya itu.
"Yah, di antara kita tuh ga hanya musuh dari klan tiger, tapi dari teman sekampus pun ingin sekali memisahkan Nathan dengan Iren. Nathan bingung yah" keluh Nathan.
"Nak, cobalah kamu sedikit lebih tenang untuk mengahadapi mereka. Ingat pesan ayah, jangan menggunakan emosimu. Dan kamu juga perlu hati hati, musuhmu semakin dekat Nathan. Ayah yakin kamu bisa" jawab ayah Nathan yang mencoba memberi semangat putranya itu.
"Hufhhh baiklah ayah.. Nathan akan coba sedikit rileks." jawab Nathan.
"Baiklah.. Ayah harus pergi.. Akhir pekan pulanglah, bunda mu ingin sekali bertemu Iren." kata ayah.
"Ckkkk anak bunda itu Iren atau aku si yah?" sungut Nathan meski dalam hatinya dia senang orang tuanya sangat menyayangi Iren.
"Jangankan kamu Than, ayah aja sekarang di cuekin. Yang di bahas Ireeenn terus.." jawab ayahnya dengan tersenyum..
"Apa sebegitu inginnya bunda punya anak cewek yah??" tanya Nathan.
"Nathan, sebenarnya kamu itu punya seorang kakak perempuan. Namun sayang waktu itu ayah tidak bisa menyelamatkan kakak mu" kata ayah dengan wajah berubah murung.
"Maksud ayah?" tanya Nathan.
"Jadi, sebenarnya kamu memiliki kembaran Nathan. Kami memberinama Nathalia. Namun sayang waktu itu dia tidak bisa bertahan lama karena ada kelainan di jantungnya. Bunda mu syok berat, awalnya bunda mu tidak mau menyusui mu, mengurusmu bahkan melihatmu saja dia tidak mau. Dia selalu menolak. Tapi ayah perlahan selalu memberi pengertian ke bunda mu apa lagi disaat kamu menangis meminta asi. Perlahan tapi pasti, bundamu mulai bisa menerima keadaan dan berubah sangat menyayangimu. Tapi dia tidak mau kamu tau jika kamu memiliki kembaran" ayah Nathan bercerita dengan wajah sangat sedih.
"Tapi kenapa aku tidak boleh tau yah??" tanya Nathan tidak mengerti.
"Mungkin karena bunda mu tidak mau mengingatnya lagi" jawab ayahnya.
"Dan saat melihat Iren, bundamu seperti menemukan lagi putrinya. Seperti ada ikatan batin di antara mereka. Ayah senang melihat bundamu kembali memancarkan kebahagiannya saat melihat Iren. Jadi nak.. Bukan maksud kami berlebihan sama Iren. Kami hanya merasa ingin melindunginya, dan berharap kamu bisa menjaganya. Dia anak yang sangat mandiri, tidak mau di pandang sebelah mata. Tapi kami sebagai orang tua yang pernah kehilangan salah satu anaknya merasa ingin memberikan kasih sayang kami sama seperti kami menyayangimu nak" kata ayah Nathan sambil merangkul pundak Nathan.
"Nathan juga mengerti ayah, Nathan tau. Nathan juga sangat menyayangi Iren." senyum Nathan.
"Yah, lalu di mana kakak Nathalia di semayamkan" tanya Nathan.
"Dekat dengan rumah kita yang lama, tidak jauh dari sana" jawab ayah Nathan.
"Ayah, Nathan ke kampus ya, sudah waktunya Nathan ke kampus. Nathan juga ingin menjelaskan sesuatu ke Iren." kata Nathan berpamitan.
"Baiklah.. Berhati hatilah nak. Ayah antar ya.. Kebertulan ayah membawa mobil" tawar ayahnya.
__ADS_1
Akhirnya, Nathan dan ayahnya menuju ke kampus. Setelah mengantar Natham, ayah Nathan langsung pergi dan Nathan menuju ke kelasnya. Di dalam kelas tidak nampak Iren, yang ada hanya Cindy dan teman temannya, juga Putri yang ternyata memilih prodi yang sama dengan Nathan.