
Tok..tok..tok..
"Permisi.." kata Nathan.
"Oohh mari nak silahkan.." sapa mamanya Ririn.
"Nathan, mas Arya?? Bagaimana kabar Iren??" tanya Ririn.
"Hai Rin.. Bagaimana ke adaan loe??" tanya Nathan tanpa menjawab pertanyaan Ririn.
"Sudah lebih baik.. Bagiamana Iren?? Gue ingin menjenguknya" kata Ririn.
"Iren baru saja siuman Rin. Sekarang kalau loe ingin nengok dia kita ijin dulu ya.." kata Nathan.
"Biar gue yang minta ijin" kata Arya.
Nathan mengangguk dan menunggu Arya di kamar Ririn.
"Apa yang loe rasain Ren??" tanya Nathan.
"Gue cuma sakit di bekas jahitannya aja ini. Pusing. Tapi sekarang dah mendingan.." jawab Ririn sambil memegangi luka dipelipisnya..
"Syukur deh kalau gitu." jawab Nathan.
"Maafin gue ya Than ga bisa jagain Iren" kata Ririn sedih.
"Sssttt bukan salah loe.. Semua udah kita atasi.. Kalian berdua hanyalah korban." jawab Nathan.
"Maksudnya??" tanya Ririn.
"Sudah ga perlu dipikirkan, ini musibah. Yang penting sekarang loe dan Iren baik baik saja. Benarkan tante??" kata Nathan.
"Benar yang di katakan temanmu ini nak. Sejak kemaren Ririn selalu mengatakan dia penyebab kecelakaan itu, dia yang membuat Iren celaka" adu mamanya Ririn.
"Udah ya Rin, jangan salahin diri loe sendiri. Semua dah baik baik saja. Yang penting kalian berdua selamat" jawab Nathan.
Tok...tok...tok..
Arya masuk ke dalam kamar Ririn sambil mendorong sebuah kursi roda.
"Bagaimana Ar??" tanya Nathan melihat Arya masuk ke dalam kamar Ririn.
"Boleh, yukk pake ini" jawab Arya.
"Tapi gue dah sanggup jalan kok.." kata Ririn enggan menggunakan kursi roda.
"Kata dokter, loe jangan terlalu capek dulu. Loe masih dalam tahap pemulihan." jawab Arya.
Orang tua Ririn hanya tersenyum melihat interaksi ketiga pemuda di depannya. Mama Ririn merasa tidak lagi perlu khawatir melepas Ririn untuk hidup mandiri meski masih kuliah. Dia merasa beruntung putrinya mendapatkan teman temannyang begitu baik.
Kini Ririn sudah duduk manis di kursi rodanya, dan mama Ririn hendak mendorong Ririn.
"Biar Arya saja tante, Ririn berat" kata Arya cengengesan.
"Enak aja.." sungut Ririn.
"Hahaha tante bersukur melihat Ririn memiliki teman teman seperti kalian berdua. Tante jadi tidak terlalu khawatir meninggalkan Ririn di sini" kata mama Ririn.
__ADS_1
"Tante, tenang saja. Kami sebagai laki laki akan menjaga Ririn sebaik mungkin" jawab Arya.
"Terimakasih ya nak.." jawab mama Ririn sedikit menepuk nepuk pundak Arya.
Mereka berempat pun menuju ke ruang ICU di mana Rudi sedang mengobrol dengan dokter yang tadi mengecek Iren.
"Bagaimana dok??" tanya Nathan setibanya di sana.
"Pasian sudah melewati masa kritisnya. Kini pasien sedang di persiapkan untuk pindah ke ruang perawatan. Mungkin sebentar lagi sudah siap untuk di pindahkan. Naahh itu dia" kata dokter melihat tempat tidur Iren keluar dari pintu ICU.
Nathan langsung menghampiri Iren.
"Sayang..." panggil Nathan mengenggam tangan Iren.
"Nathan.." panggil Iren.
"Mari kita antar pasien ke kamarnya." ajak dokter.
Semua mengikuti ke mana dokter membawa Iren ke kamar rawat nya. Setelah Iren sudah di dalam kamarnya dan satu persatu perawat meninggalkan kamar tersebut.
"Terimakasih dokter" kata Rudi.
"Pasien jangan terlalu capek dulu ya pak. Agar masa pemulihannya cepat." kata dokter.
"Baik dokter. Terimakasih sekali lagi" jawab Rudi.
"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit dokter.
"Mari.." Rudi menundukkan kepalanya.
"Iren..." panggil Ririn.
"Ririn.. Loe baik baik saja kan??" tanya Iren.
"Seharusnya gue yang tanya begitu ke loe Ren. Luka loe lebih parah ketimbang gue.. Maadin gue ya.." kata Ririn berkaca kaca.
"Sssttt.. Jangan nangis dong.. Dah gapapa kok, waktu itu kan gue yang minta loe sedikit ngebut. Yang penting gue dan loe selamat" jawab Iren memegang tangan Ririn.
Ririn menatap Iren yang tengah tersenyum menatapnya. Akhirnya Ririn pun membalas senyum Iren.
"Udah.. Udah... Kenapa jadi nangis nangis si.. Yang penting untuk sekarang kalian berdua dah selamat." kata Rudi.
Tok..tok..tok..
Ayah dan bunda pun datang.
"Iren, putriku.." kata bunda.
"Kamu dah gapapa nak??" tanya Bunda.
"Nak Ririn, kamu juga gapapa kan sayang.." kata budna juga memegang tangan Ririn.
"Iren baik baik saja bunda. Hanya masih sedikit ada rasa pusingnya" jawab Iren.
"Ririn juga dah baik baik saja kok bund" senyum Ririn..
"Alhamdulillah.." kata bunda.
__ADS_1
"Bunda, ayah mumpung di sini semua ada. Ada paman Rudi juga Galih.. Nathan ingin mengatakan sesuatu" kata Nathan.
Semua mata beralih menatap ke arah Nathan. Pelan Nathan mendekati Iren, melihat itu Arya menarik Ririn untuk memberi ruang ke Nathan.
"Ayah, bunda.. Ijinkan Nathan untuk melamar Iren ya di depan paman Rudi sebagai pengganti orang tua Iren." kata Nathan tiba tiba.
Semua orang di sanapun terkejut dengan kata kata Nathan.. Ini tentu diluar dugaan, apa lagi Arya yang selama ini bersama Nathan tidam menyangka jika sepupunya ini diam diam memiliki rencana itu. Sebenarnya Nathan tidak merencanakannya, namun saat melihat Iren yang masih terlelap saat di ruang ICU, membuatnya berfikir untuk ingin segera meresmikan hubungan mereka agar dia bisa selalu bersama Iren.
Iren pun terkejut dengan kata kata Nathan, waktu itu mereka berdua sudah sepakat untuk menunggu hingga selesai kuliah mereka.
"Nak?? Kamu sudah memikirkan semuanya?? Kamu sudah yakin nak??" tanya ayah.
"Nathan yakin yah, Nathan sangat mencintai Iren. Nathan ingin menjaganya. Nathan tidak mau kehilangan Iren yah" kata Nathan.
"Anaj bunda ternyata sudah besar" kata bunda memeluk Nathan.
"Lalu bagaiman dengan Iren?? Kamu bersedia kan nak??" kata bunda memegang tangan Iren.
Iren hanya mengangguk sambil tersenyum malu malu.
"Alhamdulillah" kata bunda mencium kening Iren.
"Paman, ijinkan Nathan untuk meminang Iren." kata Nathan.
"Paman menyerahkan semua ini kepada Iren. Karena nantinya dia yang akan menjalaninya. Apapun keputusan Iren, paman akan mendukungnya" jawab Rudi.
"Baiklah, untuk saat ini tunggu Iren sembuh dulu ya.. Nanti saat Iren sudah pulih baru kita bicarakan lagi" kata ayah.
"Baiklah ayah." jawab Nathan.
"Than, sabar dulu donk.. Baru juga Iren sadar" ledek Ririn.
"Ririn.. Kambuh dehh iseng nya" jawab Iren.
"Abis pacar loe dah ga sabaran kayaknya Ren.. Jangan jangan loe juga njihh" Ririn cengengesan.
Semuapun tertawa mendengar celoteh Ririn yang sedari tadi hanya diam.
"Udah udah, biarkan Iren istirahat dulu y. Inget kata dokter, Iren harus masih banyak istirahat. Begitu juga dengan nak Ririn, biar cepet pulih" kata ayah menengahi.
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya.. Masih ada yang harus saya urus" pamit Rudi.
"Lohh kok buru buru si mas" tanya ayah.
"Iya mas, harus ada ada yang saya seleseaikan dulu.. Iren, cepat sembuh ya.. Nathan, bisa paman bicara sebentar?" kata Rudi.
"Terimakasih ya paman.." jawab Iren lemah.
"Baik paman" jawab Nathan.
Nathan dan Rudi pun berjalan keluar kamar Iren.
"Than, segera bukti itu serahkan ke pihak polisi jangan menunggu lama lagi" kata Rudi.
"Baik paman.. Terimakasih atas bantuan paman. Dan minta maaf juga jika Nathan harus melakukan ini" jawab Nathan.
"Kebenaran harus ditegakkan Nathan, untuk memberi pelajaran bagi mereka yang sudah berbuat kejahatan." kata Rudi berusaha tegar.
__ADS_1
Rudi dan Galih pun pergi meninggalkan rumah sakit untuk menuju kerumah baru mereka.