Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
dihina


__ADS_3

Setelah menikmati makan siang, Iren sebentar membantu membereskan meja makan.


"Tunggu sebentar ya, aku ambik beberapa barang" kata Nathan menghampiri Iren ke dapur danIren hanya mengangguk.


"Kamu yakin nak mau pulang sekarang?? Udah baikan?" tanya ayah.


"Iren sudah lebih baik yah.. Terimakasih jamunya.." kata Iren tersenyum.


"Ayah buatin lagi ya.. Nanti di sana rutin di minum.." kata ayah meninggalkan Iren.


Ayah berjalan menuju ruang kerjanya. Saat akan masuk ke ruang kerjanya, Nathan terlihat menuruni anak tangga.


"Nathan.. Kemari sebentar nak" panggil ayah.


Nathan menghampiri sang ayah, dan ikut masuk ke dalam ruang kerja ayah.


"Ada apa yah??" tanya Nathan.


"Nathan.. Kamu harus lebih berhati hati ya.. Dan ayah berpesan, jangan mudah terpancing emosi.. Itu PR dari ayah" kata ayah sambil meracik jamu untuk Iren.


"Iya ayah iya... Yah.. Tapi perasaan Nathan tidak enak.. Kenapa ya?" kata Nathan merasa tidak enak di hatinya.


"Mungkin karena kamu masih was was atas kejadian kemaren.. Pokoknya, kamu jangan mudah terpancing emosimu karena itu kelemahanmu Nathan" pesan ayahnya.


"Baik yah.. Itu jamu buat Iren?" tanya Nathan.


"Iya, biar dia lebih segar lagi tubuhnya. Ayah melihat dia masih pucat. Dan Nathan.. Ayah merasa Iren menjadi kurang nyaman di sini semenjak kejadian kemaren.. Ayah takut Iren berfikiran bahwa dialah yang membawa masalah kepada kita" kata ayah.


"Kenapa ayah bisa berkata seperti itu?" tanya Nathan.


"Tadi, saat ayah dan dia di meja makan menunggu kamu dan bunda. Iren beberapa kali minta atas kejadian kemaren, dia merasa dirinya merepotkan kita, menyusahkan kita.." kata ayah.


"Lalu, Nathan haris bagaiman yah?" tanya Nathan.


"Jangan paksakan kehendak kamu dulu Than.. Kejadian kemaren cukup membuatnya syok.. Apa lagi dia sudah tau siapa kita.. Itu tidak akan mudah begitu saja langsung diterima oleh manusia biasa.. Sama halnya dengan bundamu.. Dulu dia sangat was was.. Bahkan sampai bunda bertemu Iren, bunda sama sekali tak pernah membahas tentang dunia kita.. Awal pertama dia menanyakan dunia kita saat kamu pindah kost, saat itulah pertama kalinya bunda mu baru cari tau tentang kita.." ayah menjelaskan.


Nathan hanya mengangguk, dia paham kenapa Iren tidak pernah sekalipun membahas tentang perasaannya. Mungkin dia masih menjaga jarak karena masih takut.


Ayah dan Nathan kembali ke ruang tamu, di mana Iren dan bunda sedang mengobrol.


"Iren, minum jamu ini rutin ya.. Paling enggak sehari 3kali. Biar badanmu kembali pulih" kata ayah menerangkan sambil memberikan satu botok jamu.


"Terimakasih ayah" jawab Iren.


"Udah siap?" tanya Nathan dan Iren hanya mengangguk.


"Bun.. Iren pulang ya, terimakasih udah merawat Iren. Dan ayah, terimakasih kembali jamunya" pamit Iren.


"Hati hati ya.. Jangan sungkan main kesini.. Bunda pasti kangen kamu." bunda memeluk Iren.


Setelah berpamitan, mereka berdua pun berangkat. Dalam perjalanan mereka hanya saling diam, Iren terus menatap ke arah jendela. Mengamati setiap jalanan yang dia lewati.


"Iren.." panggil Nathan.


"Yaa.." jawab Iren lirih.


"Kamu tidak apa apa??" tanya Nathan sesekali menatap Iren.

__ADS_1


"Enggak apa apa kok.. " jawab Iren dengan senyum di paksakan.


"Maafkan aku ya.." kata Nathan.


"Untuk??" tanya Iren menatap Iren lekat.


"Membuat hidupmu menjadi tidak nyaman" jawab Nathan lirih.


"Harusnya aku yang minta maaf, banyak merepotkan kamu dan juga keluargamu" kata Iren kembali menatap ke arah keluar jendela.


"Tidak.. Tidak Iren.. Kamu tidak merepotkan kami.. Aku yang menyeretmu dalam masalah ini" jawab Nathan.


"Mungkin jika kalian tidak mengenalku, tidak akan menjadi seperti ini" jawab Iren lirih mencoba menahan air matanya.


"Tidak Iren, ada atau tidak ada kamu akan tetap terjadi.. Mungkin akan lebih parah lagi" jawab Nathan mengenggam tangan Iren.


Iren memalingkan wajahnya ke arah tangannya yang di genggam Nathan, dan seketika itu air matanya menetes di tangan Nathan. Merasakan ada yang menetes, Nathan menatap Iren. Lalu Nathan menepikan mobilnya dan berhenti.


"Iren.. Jangan nangis lagi ya.. Apapun yang terjadi aku akan tetap bersamamu. Aku akan ada untukmu. Maafkan aku membuat hidupmu menjadi tidak nyaman.. Menjadi berubah dari kehidupanmu yang dulu.. Maafkan aku Iren." Nathan mengenggam kedua tangan Iren sangat erat menyalurkan rasa sayang yang dia miliki.


"Hiksss... Hikksss maafkan aku Nathan.. Maafkan aku.. Gara gara a..aku, nyawamu hampir jadi taruhannya" Iren semakin sesenggukan.


Nathan menarik tubuh Iren, Nathan berusaha memeluk Iren. Nathan mencoba membuat Iren tenang. Nathan berfikir ini salah satu trauma atas apa yang dia alami.


Iren mulai tenang, tangisannya sudah mereda. Nathan memberikan tissu ke Iren.


"Kita jalan lagi??" tanya Nathan.


Iren mengangguk sambil mengusap sisa air matanya. Sesekali Iren menarik nafas dalam dalam agar hatinya sedikit tenang.


"Untuk apa?" tanya Iren.


"Untuk ngambil mobilku di sana" jawab- Iren.:::


"Nanti biar aku yang ambil, kamu istirahat aja di kost.. Kuncinya masih ada??" tanya Nathan.


"Kuncinya ilang ga tau kemana.. Tapi kayaknya aku ada duplikatnya.." kata Iren.


"Ya udah nanti cari dulu.. Kalau ga ada, biar temenku yang di bengkel yang ngurus" jawab Nathan.


Satu jam perjalanan mereka tempuh. Sebelum sampai d kost, Nathan membelokkan mobilnya ke minimarket.


"Sebentar ya, aku mau cari sesuatu.. Kamu mau ikut apa tunggu di sini??" tanya Nathan.


"Aku tunggu aja.." jawab Iren.


"Ya udah, jangan kemana mana ya.. Tunggu sebentar aja" kata Nathan sambil membuka pintu mobilnya.


Nathan meninggalkan Iren di mobil. Sedikit berlari Nathan memasuki minimarket.


"Nathan..." panggil Putri.


Nathan tidka memperdulikan Putri, dia terus melenggang pergi mencari apa yang dia butuhkan. Setelah mendapatkan semua Nathan langsung menuju ke kasir.


"Than, dari kemarin loe kemana si??" tanya Putri yang sedari tadi menunggunya di kasir.


"Gue pulang" jawab singkat Nathan.

__ADS_1


"Sama si Iren??" tanya Putri penasaran.


"Iya, bunda ingin bertemu dengannya." jawab Nathan.


"Sampai menginap?? Apa bagusnya dia si Than sampe loe sebegitunya sama dia.. Gue yang dah lama kenal sama loe aja ga gitu" gerutu Putri.


"Jangan pernah bandingin dia sama loe, paham!!!" Nathan sedikit meninggikan suaranya.


"Dia make apa si sampe loe bisa segitunya sama dia, sampe sampe ortu loe aja terlihat sayang banget sama dia. Loe dan sama keluarga loe pasti dipelet sama dia. Atau jangan jangan Iren dah ngasih badannya sama loe!! Hiiihh dasar murahan!!" bidik Putri yang memancing emosi Nathan.


"Jaga mulut loe!!" tunjuk Nathan.


Setelah membayar, Nathan langsung keluar minimarket menuju mobilnya.


"Nathan tunggu!!!" panggil Putri memegang tangan Nathan.


"Apa lagi si Put, jangan ganggu gue.." Nathan menghempaskan tangan Putri.


"Loe kenapa si??? Gue punya salah sama loe?" tanya Putri.


"Salah loe gangguin gue. Dan loe sudah menghina orang yang paling gue sayangi" jawab Nathan langsung meninggalkan Putri.


"Nathan... Nathan..." panggil Putri.


Iren melihat itu dari dalam mobil. Iren berusaha menenangkan hatinya yang terasa perih saat melihat Putri mencoba menggenggam tangan Nathan, meski terlihat jelas Nathan menolaknya. Namun tidak bisa dia pungkiri, hatinya merasa sakit. Tapi Iren berusaha berpura pura tidak melihatnya dengan berpura pura tertidur.


Nathan membuka pintunya dan sedikit keras saat menutup pintunya.


Buggg.


Iren terkejut, langsung membuka matanya.


"Ada apa Than??" tanya Iren pura pura.


Tok...tok...tok...


Putri berusaha mengejar Nathan. Namun Nathan tetap menjalankan mobilnya perlahan. Iren hanya menatap Nathan dalam diam, baru kali ini Nathan bersikap seperti itu terhadap Putri.


Nathan hanya diam, dia teringat pesan ayahnya untuk bisa mengontrol emosinya. Beberapa kali Nathan mengambil nafas dalam dalam untuk meredakan gejilak emosinya


Nathan melirik Iren yang tampak terdiam melamun.


"Maaf ya soal tadi.." kata Nathan lirih.


"Gapapa kok.." jawab Iren dengan senyum tipisnya.


"Aku terbawa emosi dengan kata kata Putri" jawab Nathan lagi.


"Emang dia mengatakan apa??" tanya Iren.


"Sesuatu hal yang membuatku tidak suka" jawab Nathan.


"Ohh ya, kamu mau beli ponsel lagi ga?? Sekalian jalan." tanya Nathan mengalihkan.


"Di kost ada ponsel lama aku kok.." jawab Iren.


Tidak lama kemudian mereka sampai di kost. Iren memilih langsung masuk ke dalam kamarnya, namun dia lupa bahwa kunci pintunya juga turut hilang bersama tas dan segala macamnya yang dia bawa waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2