Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
menjelang hari H.


__ADS_3

Ari membuka pintu kamarnya dan melihat Cindy menangis sesenggukan di sofa.


Ari melenggang begitu saja masuk ke dalam kamar mendekati tempat tidurnya hanya mengambil jaketnya.


Cindy menatap Ari dan bangun dari duduknya. Dengan impulsifnya Cindy membuka lilitan handuk yang satu satunya menutupi tubuhnya.


Ari membalikkan badannya dan terkejut dengan apa yang Cindy lakukan.


"Bang..." Cindy mendekati Ari dengan sisa sisa isak tangisnya.


"Lakukanlah..." kata Cindy meraba dada Ari.


"Segera lakukan bang... Dan segera bantu gue" bisik Cindy meski terdengar parau menahan air matanya.


Tangan Ari memegang pinggang Cindy yang Cindy berfikir Ari akan benar benar melakukannya.


Tubuh Cindy di angkat dan di lempar begitu saja di tempat tidur.


"Tidak mengertikah apa yang sudah terjadi hari ini??? Loe tidak merasa jika jebakan yang loe rencanakan sendiri justru menjebak loe??" tatap tajam Ari.


"Dan ini... Loe pikir dengan loe telnj**ng di depan gue trus gue bakal nafsu sama loe?" kata Ari lagi semakin dingin.


Ari membungkukkan badannya dan mendekat ketelinga Cindy.


"Dengar, gue aja ga nafsu apa lagi Nathan. Lihat loe malah semakin jijik" bisik Ari.


Ari meninggalkan Cindy begitu saja.


Brakk!!


Suara pintu yang dibanting oleh Ari saat menutupnya.


"Bang!!! Arrgghhhhhh" Cindy histeris.


Cindy merutuki kebodohannya yang begitu saja mudah mempercayai orang yang baru dia kenal.


"Ini semua gara gara Fitri!!!" rutuk Cindy di sela sela tangisnya.


Ceklek...


Tiba tiba pintu terbuka dan masuk 2 laki laki. Reflek Cindy menutupi badannya yang masih telanj**ng.


"Heehh gue ga nafsu lihat loe!! Gue cuma mau balikin nih kunci mobil loe..!!" kata Taufan salah satu laki laki tersebut dan melempar kunci mobil ke arah Cindy.


"Tuhhh Mbel, katanya tadi seksi.. Mumpung dah siap tuhh" ledek Taufan.


"Iiihhh ogah... Ntar gue kena penyakit lagi" kata Mbel sang rekan Taufan begidik.


Cindy yang mendengar itupun semakin sakit hati. Dan semakin merasa marah ke Fitri karena sarannya itu membuat dirinya bak kain bekas yang diinjak injak di dalam lumpur.


#####


Hari haripun terus berlalu, tanpa terasa tanggal pernikahan Iren dan Nathan tinggal satu minggu lagi.


Hari ini, Iren akan membawa beberapa undangan untuk teman teman satu kelasnya. Setelah dia mengumpulkan laporan yang telah di acc oleh dosen pembimbingnya. Iren bergegas menuju ke arah kelasnya.


Beberapa teman satu kelasnya tengah berkumpul.

__ADS_1


"Hai... Maaf mengganggu kalian.. Mumpung kalian pada ngumpul, gue mau kasih ini ke kalian.. Pada dateng ya.. Hmmm dan gue titip buat Cindy CS" kata Iren memberikan beberapa undangan ke teman temannya.


"Wahhh selamat ya Ren. Insyaallah kita usahain dateng" jawab salah satu teman Iren.


"Makasihh ya.. Gue pamit ya.. Jangan lupa.." kata Iren.


Semua teman temannya mengangguk.


"Wahhh ternyata diam diam sama Nathan.. Mau kasih kado ga??" kata salah satu teman Iren.


"Ehhh tapi di sini tertulis tidak menerima sumbangan dalam bentuk apapun.. Wahh kita tinggal bawa badan doang.. Bareng bareng aja bagaimana?" saut salah satu di antara mereka.


"Ehhh Fit.. Ini dapet undangan buat loe sama geng loe" panggil salah satu temannya saat Fitri melewati mereka.


"Apa ini?" tanya Cindy.


"Undangan dari Iren dan Nathan" jawab temannya.


Fitripun bergegas mencari keberadaan Cindy.


"Cindy!" teriak Fitri saat melihat Cindy dan kedua temannya berjalan ke arah kantin.


"Ada apa lagi nyariin gue??" ketus Cindy.


"Nih.." Fitri memberikan 3 lembar undangan.


Cindy menerima undangan itu dan Fitri bergegas pergi meninggalkan Cindy. Semenjak kejadian itu, Cindy marah kepada Fitri dan memutuskan hubungan pertemanan mereka. Padahal Fitri tidak mengetahui apa yang terjadi karena memang dia tidak diperbolehkan untuk ikut campur oleh Marko.


Hanya secara tiba tiba, Cindy menampar dirinya dan mencaci makinya di depan kedua temannya tanpa menjelaskan apa yang terjadi dan apa salah dirinya. Namun Fitri menerima itu, meski tidak tau pasti. Tapi dia yakin abangnya telah berbuat sesuatu.


Setelah menerima undangan tersebut, Cindy membukanya dan membacanya. Tiba tiba wajahnya berubah memerah menahan emosinya lalu merobek robek undangan tersebut.


Mau tidak mau kedua teman Cindypun ikut membuang undangan tersebut meski mereka sebenarnya ingin menghadiri acara tersebut.


#####


Waktupun berjalan dengan cepat. Tanpa terasa tinggal satu hari mendekati hari pernikahan mereka. Di rumah Iren sudah tertata rapih untuk acaranya esok. Sanak saudarapun sudah berdatangan.


Taman samping rumahnyaapun sudah disulap untuk acara besok. Rustic, tema yang bunda pilih mengingat samping rumah Iren yang cukup luas cocok untuk tema seperti ini.



"Ahhh Iren, akhirnya sebentar lagi.." peluk Ririn yang selama ini selalu setia bersama Iren.


"Iya.. Gue ga nyangka secepat ini.." jawab Iren.


"Bagaimana perasaan loe?" tanya Ririn.


"Hufhhhh memikirkan besok gue menjadi gugup.." jawab Iren.


"Gugup karena pernikahan loe atau malam pengantinnya Ren" goda Ririn..


"Hisss loe tuh ya pikirannya jorok.." jawab Iren memerah.


"Hahaha udah udah.. Dahh yuk kita kesalon.. Waktunya loe perawatan.." ajak Ririn.


"Ok.." jawab Iren.

__ADS_1


Seharian ini Iren mengahbiskan waktunya berada di salon untuk perawatan dirinya demi acara pernikahan mereka. Meski sederhana, namun Iren ingin berpenampilan yang terbaik.


Berbeda dengan Nathan, di rumahnya Nathan banyak mendapatkan banyak wejangan wejangan dari para sesepuh dirinya. Salah satunya dari sang kakek.


"Nak.. Maafkan kakek selama ini kakek tidak memperhatikan kamu pernah tidak menganggapmu ada.. Maafkan kakek.. Nathan, Kakek hanya berpesan, cintai dan sayangi pasanganmu.. Meski dia manusia biasa, tapi kakek lihat dia memiliki daya tarik tersendiri untuk sejenis kita, maka lindungi dia.. Kamu telah membawa masuk jauh kedalam kehidupan kamu, akan banyak marabahaya yang akan mengancam dirinya.. Kamu pasti sudah mengalaminya bukan??" kata kakek.


"Pasti kakek, ayah mampu melindungi kami.. Maka Nathan juga akan sangat mampu untuk melindunginya juga para keturunan kami.. Dan kakek, jangan mengingat yang sudah terlewati. Nathan sudah melupakan hal itu. Kakek masih ingat dengan Nathan, Nathan sudah sangat bersyukur.. Terimakasih kakek" kata Nathan mencium tangan kakek.


"Kek, jika Arya juga mengalami hal yang sama seperti Nathan.. Apakah kakek merestuinya??" tanya Nathan.


"Selama kalian bahagia dan dapat saling terima tidak ada alasan untuk kakek tidak merestuinya.. Apakah dia juga sudah memiliki calon??" tanya kakek.


"Ssttt, Nathan ingin mendekatkan dia dengan temannya Iren" bisik Nathan.


"Eghmmmm gue mendengarnya Nathan.." kata Arya yang bersidekap di depan pintu.


"Hehehehe" Nathan nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Jika apa yang Nathan katakan benar, maka kejarlah jika kamu memang menyukainya Arya.." kata Kakek.


"Ahhh kakek sama saja dengan Nathan.. Arya belum memikirkan hal itu kek.. Jika alam semesta memang menjodohkannya dengan Arya, Arya akan menikahinya.. Tapi tidak dalam waktu dekat ini" kata Arya duduk di sebelah Nathan.


"Loe si ni ahh profokator" bisik Arya..


"Hahahaha" Nathan hanya tertawa.


"Kalau begitu, kakek sekarang beristirahatlah agar besok fit menjadi saksi pernikahan ku.. Nathan dan Arya keluar dulu.." pamit Nathan.


"Baiklah.." jawab kakek.


Nathan dan Arya meninggalkan kamar kakek untuk membiarkan sang kakek beristirahat.


Terlihat sang bunda dan yang lainnya mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara pernikahannya besok. Sang bunda tampak beberapa kali menelpon sesorang untuk memastikan acara besok, karena bundalah yang mengatur, mulai ketring, perias hingga WO.


"Hufhhh semua sudah berjalan dengan semestinya... Semua sudah siap, bunda jado lega" kata bunda melihat sang putra dan keponakannya duduk di sofa yang terus memperhatikannya.


"Bunda kenapa tidak minta tolong dengan yang lain.." tanya Nathan.


"Ini acara sepesial untuk bunda.. Bunda hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kalian berdua.. Kamu satu satunya putra bunda" kata bunda menangkup wajah Nathan lalu memeluknya.


"Ahhh bunda... Maafkan Nathan selama ini Nathan belum membahagiakan bunda" kata Nathan..


"Tidak sayang.. Kamu lah kebahagiaan bunda." jawab bunda sendu.


"Eghmmm jadi yang menyayangi Arya siapa?" kata Arya berpura pura sedih.


"Ahhh ya ampun, anak bunda yang satu ini" kata bunda memeluk Arya berganti.


"Ckkk... Sirik aja loe.." goda Nathan.


Merekapun tertawa. Setelah semua dirasa siap, merekapun memilih menyiapkan keperluan mereka masing masing untuk acara besok..


Nathan memasuki kekamarnya dan duduk di tempat tidurnya. Dia menarik laci di meja samping tempat tidur untuk mengambil sebuah kota berbeludru merah.


Nathan membuak kotak tersebut dan menatapnya. Kotak tersebut berisikan sepasang cincin yang terlihat simple namun elegan. Nathan sengaja memilihkan cincin tersebut mengingat Iren adalah tipe wanita yang sederhana.


__ADS_1


"Sebentar lagi.. Kamu menjadi milikku. Dan kita akan selalu bersama. Aku berjanji, akan selalu menjagamu hingga nyawaku lepas dari ragaku. Aku mencintaimu Iren.." lirih Nathan.


__ADS_2