
Setelah menghabiskan makanan mereka. Merekapun kembali melanjutkan perjalanan mereka. Kali ini, Iren meminta Nathan duduk bersamanya. Ada rasa senang dihati Nathan kembali duduk dengan sang istri.
Entah mengapa, setelah tadi merasa mual dengan keberadaan Nathan, kini dirinya ingin sekali terus menempel pada diri Nathan. Bunda dan ayah hanya menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah aneh Iren.
"Yah, ada apotik melipir sebentar ya" pinta Nathan.
"Ya.." jawab ayah..
Setelah membeli yang dibutuhkan di apotik, mereka melanjutkan kembali perjalanan mereka.
Tepat pukul 4 sore mereka tiba di hotel yang Ririn rekomendasikan. Di sana Ririnpun sudah menunggi kedatangan mereka sejak 1jam yang lalu.
"Ririn!!..." panggil Iren mendekati sahabatnya itu dan memeluknya.
"Aahh Irenn" balas Ririn memeluk Iren.
"Aku kangeenn" manja Iren.
"Heeii sejak kapan loe jadi manja gini si??" tanya Ririn melihat aneh dengan sikap Iren..
"Emang ga boleh kangen sama temen sendiri?" sungut Iren.
"Heii bukan begitu" kata Ririn yang semakin heran.
"Dimaklumi aja nak Ririn.. Sepertinya Iren akan menjadi calon ibu" kata Bunda.
"Ahh Bunda ya Allah, sampai lupa ga menyapa" kata Ririn menyalami bunda takzim..
"Bagaimana kabar kamu dan keluarga kamu?" tanya bunda tersenyum.
"Alhamdulillah bunda. Mereka tidak aabar menunggu kedatangan bunda dan yang lain. Aahh iya mari masuk, Ririn sudah memesankan 4kamar. Dan ini kuncinya. Ririn sengaja meminta kamar yang ada di lantai satu, mengingat ada kakek ikut" kata Ririn menyerahkan 4 kunci kamar.
"Terimakasih ya nak.. Kenapa kamu repot repot. Kamu kan bisa tinggal telfon Arya" kata Ayah.
"Tidak apa apa ayah, Ririn senang menyambut kalian. Tapi maaf, Ririn hanya bisa memberikan di sini. Ga bisa menyediakan di rumah." kata Ririn.
"Tidak apa apa nak.. Hotel ini juga cukup nyaman" jawab bunda.
Merekapun bergegas menuju kamar masing masing. Sedangkan Ririn sudah berpamitan untuk kembali pulang setelah mengobrol santai dengan mereka.
Di dalam kamar, Nathan menyerahkan beberapa jenis test pack ke Iren.
"Yank, coba deh test" kata Nathan.
Irenpun menerima alat alat tersebut, dan sesaat membaca cara penggunaannya.
"Yank, tapi ini lebih efektif jika digunakan wakti di pagi hari yank" kata Iren.
"Coba aja dulu yank salah satu. Aku sudah ga sabar" jawab Nathan.
"Hmmm baiklah" jawab Iren bergegas menuju ke kamar mandi.
Nathan sembari menunggu Iren, dia lebih memilih menata pakaian bawaan mereka ke dalam lemari yang sudah di sediakan oleh pihak hotel.
Sedangkan Iren yang berada di dalam kamar mandipun menunggi dengan haral harap cemas dengan berjalan mondar mandir sambil menghigiti kuku jarinya. . Setelah beberapa menit memunggi, Iren mencoba mendekati alat tersebut dan menatapnya.
Seketika matanya membulat dengan tangan menutupi mulutnya yang menganga.
__ADS_1
"Yank!!!" teriak Iren.
Mendengar Iren berteriak, Nathan yang baru selesai menata pakaian mereka bergegas menuju ke kamar mandi.
Ceklek..
Bertepatan dengan Iren yang keluar dari kamar mandi.
"Ada apa yank? Ada sesuatu yang terjadi?" tanya Nathan khawatir.
"I.. Ini yank lihat yank" kata Iren mulai menangis.
"Heii kenapa menangis, coba aku lihat." Nathan menerima test peck itu.
"Ini maksudnya gimana hanya ada garis dua" tanya Nathan.
"Itu tandanya kamu akan menjadi ayah" jawab Iren sesenggukan.
Sekejap Nathan menatap Iren dalam diam dan sepersekian detik kemudian Nathan langsung memeluk Iren dan mengangkat tubuhnya.
"Kita akan jadi orang tua" kata Nathan.
Nathan menurunkan Iren lalu mengecup kening Iren lama. Mencurahkan segala rasa sayang juga syukur di sana. Irenpun memejamkan matanya dan memeluk Nathan.
"Kita lasih tau ayah dan bunda" kata Nathan dan Iren mengangguk.
Merekapun menuju ke kamar ayah dam bunda yang letak kamarnya persisi di samping kanan kamar mereka.
Tok.. Tok... Tok..
"Bun.. Ayah.." panggil Nathan.
Nathanpun membuka pintu tersebut dan memggandeng Iren.
"Ini ada apa? Kenapa Iren terlihat habis memangis?" tanya bunda menatap lekat Iren.
Nathan menyerahkan test peck ke bunda dan bunda menerimanya. Bunda mengamati alat tes kehamilan tersebut.
"Ini.. Iren hamil? Ahh ya Allah alhamdulillah. Yah.. Kita akan segera punya cucu" kata bunda.
"Alhamdulillah. Kebahagiaan tengah memghampiri keluarga besar kita. Mudah mudahan kebahagiaan ini akan terus berlanjut" kata ayah.
"Amin.. " mereka kompak mengaminkan kata kata ayah.
#####
Malam harinya Arya dan yang lainnya menuju kerumah Ririn. Di sana mereka disambut oleh keluarga besar Ririn.
Kakek yang ikut serta terkejut melihat salah satu sahabat lamanya yang sudah sangat lama tidak bertemu.
"Anda Alexander kan??" tanya pria di depan kakek saat mereka berjabat tangan.
"Anda Roman?" tebak kakek.
"Yaaa.. Ya.. Apa kabarnya kamu? Sudah sangat lama kita tidak bertemu" kata kakek Roman.
"Ya, sudah sangat sangat lama. Jadi ini?" tanya kakek.
__ADS_1
"Ya.. Ririn adalah cucuku dari Maulana" jawab kakek Roman.
"Mengapa bisa kebetulan begini" jawab kakek.
"hahahaja ya.. Ya.. Ayo mari silahkan masuk" ajak kakek Roman.
Acara lamaranpun sudah berlangsung dengan lancar. Acara pernikahan merekapun akan segera dilaksanakan dalam kurun waktu 2minggu. Arya dan Ririn sepakat hanya mengadakan syukuran saja dalam acara pernikahan mereka. Tidak ada acara pernikahan yang besar besaran. Mengingat kesibukan Ririn dan Arya.
Pihak keluargapun tidak ingin menundanya lagi, mengingat Roron yang hanya tinggal sendiri di kota kembang tersebut.
"Roman, mari kita mengobrol sebentar.. Ada yang ingin aku tanyakan." ajak kakek.
"Ayo mari, kita duduk di gazebo samping rumah" jawab kakek Roman membawa kakek ke halaman depan.
Setibanya di gazebo samping rumah, mereka berduapun duduk berhadapan di sebuah gazebo yang bawahnya terdapat sebuah kolam ikan.
"Apa yang ingin kamu tanyakan Al?" tanya kakek Roman.
"Jelaskan padaku, kamu sama seperti diriki. Tapi mengapa cucumu tidak seperti mu?" tanya kakek.
"Putraku menikahi seorang manusia, sama seperti putramu Al. Hanya kamu lebih beruntung mendapatkan cucu sepertimu. Ririn mendapatkan gen seperti ibunya. Dia tidak juga kunjung menandakan perubahannya" kakek Roman menjelaskan.
"Apakah dia tau siapa keluarga?" tanya kakek.
Kakek Roman menghela nafasnya dalam sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi, aku pernah mendengar. Meski dia tidak menunjukkan tanda tanda itu hingga dewasa. Kemungkinan kecil tanda tanda itu akan muncul ketika dia sudah menikah asal dengan pasangan seperti kita. Bisa juga ketika ia melahirkan anaknya." kata kakek Roman.
"Dirubah?" kata kakek memperjelaskan.
"Tanpa dirubah, tanda tanda itu akan muncul. Dan aku berharap seperti itu. Jadi aku masih memiliki keturunan lagi.
Maulana satu satunya putraku." kata kakek Roman sendu.
"Mudah mudahan cucuku dapat memancing tanda tanda itu Roman. Akupun sempat khawatir kehilangan keturunan murni. Putraku Arthur menikahi seorang manusia biasa. Otomatis Nathan memiliki darah campuran meski gennya lebih kuat ke sang ayah hingga dia memiliki kepekaan di atas sang ayah aku bersyukur itu. Namun, satu satunya darah murni itu putraku yang kedua Arsad dan sang istri meninggal dan meninggalkan Arya calon cucu mantumu itu. Aku sempat kecewa dia memilih seorang manusia biasa karena berfikir Ririn sama seperti menantuku. Namun aku memendam itu, tidak ingin mengulang kesalahan yang pernah aku lakukan dahulu terjadap Arthur hingga dia sempat memilih pergi dariku dan meninggalkan ku menentangku" cerita kakek.
"Dan ternyata semesta mempersatukan cucu kita. Tak menyangka kita benar benar akan menjadi keluarga Al, setelah dulu gagal karena kita sama sama sibuk dan taka ada kabar lagi" kata kakek Roman.
"Yaahhh aku bersyukur" jawab kakek tersenyum.
"Pa.. " panggil Ayah.
Kakek dan kakek Roman bersama sama menoleh.
"Ternyata di sini. Sedari tadi Arthur cari" kata Ayah mendekati kakek.
"Ada apa nak..?" tanya kakek.
"Mari kembali ke hotel. Papa harus banyak istirahat dan kasihan Iren" ajak ayah.
"Aahhh iya.. Man.. Ini putraku Arthur.. Dan Arthur, Roman ini teman papa. Tak menyangka calon cucu menantu sama seperti kita" kata kakek.
"Maksud papa?" tanya ayah bingung.
"Kamu bisa baca pikiran papa pasti tau. Ya udah mari, hari semakin malam" ajak kakek.
__ADS_1
Mereka bertigapun kembali masuk untuk berpamitan undur diri kembali ke hotel. Dan semua acara pernikahan sepakat akan di urus oleh sang bunda dan calon besan. Katena acara akan di adakan di rumah Ririn, sehingga bunda membutuhkan bantuan sang calon besan memgingat jarak tempuh Bandung dan Jogja sangatlah menguras tenaga.
Setelah kesepakatan bersama sudah final sebagai penutup acara malam itu. Ayah dan yang laun berpamitan untuk kembali ke hotel untuk beristirahat sebelum mereka kembali bertolak ke Bandung.