
Mobil sudah memasuki halaman rumah Iren. Tidak lama kemudian muncul Ririn yang terlihat berlari keluar.
Setelah mobil benar benar berhenti Iren bergegas keluar dari mobil dan berlari ke arah Ririn. Melihat Iren berlari Ririn merentangkan tangannya dan mereka berpelukan.
"Loe gapapa kan Rin?" tanya Iren merenggangkan pelukannya..
"Gue gapapa. Loe gapapakan?? Ga ada yang luka?? Siapa pelakunya Ren?" tanya Ririn bertubi tubi memegangi pundak Iren.
"Huffhhh bibi Santi Rin" jawab Iren menunduk.
"Dan kejadian itu membuat paman Rudi kritis di rumah sakit" Irenpun menangis menumpahkan segala rasa sesak di hatinya.
Ririn menutupi mulutnya dengan tangannya karena terkejut.
"Ya Allah Ren.. Kenapa jadi begini?? Lalu?" tanya Ririn kembali memeluk Iren.
"Kita masuk dulu.. Kita bercerita di dalam sambil menunggu Galih" sela Nathan merangkul pundak Iren.
"Baiklah ayok.. Gue bikinin teh hangat dulu.. Kalian bersih bersih dulu" kata Ririn.
Mereka pun menuju ke kamar mereka masing masing. Rumah Iren sudah seperti rumah mereka sendiri karena Iren tidak merasa keberatan akan hal itu.
Setelah selesai membersihkan diri mereka, merekapun sudah berkumpul di ruang keluarga sambil menikmati teh hangat juga beberapa cemilan yang disiapkan oleh bi Marni.
Tok... Tok... Tok...
Iren hendak berdiri untuk membuka pintu.
"Biar aku aja.." cegah Nathan yang langsung berjalan menuju ke ruang tamu.
Ceklek..
"Ahhh Galih.. Kak Iren menunggumu. Mari masuk" kata Nathan menutup pintu kembali setelah Galih masuk ke dalam.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang keluarga.
"Galih.." panggil Iren.
"Bi...." teriak Iren.
"Ya non.." jawab bia Marni dari arah dapur.
"Bi.. Teh hangat ya buat Galih" pinta Iren setelah bi Marni mendekatinya.
"Baik non.." jawab bi Marni langsung kembali ke dapur.
"Galih duduklah" kata Iren.
Begitupun yang lain juga besiap siap mendengarkan cerita Iren.
__ADS_1
"Ada apa ini kak..?? Apa yang terjadi dengan papa??" tanya Galih terlihat khawatir.
"Paman Rudi terluka sewaktu menolong gue. Waktu itu bi Santi menculik gue dan berniat membunuh gue. Dalam waktu bersamaan tiba tiba paman Rudi melindungi gue waktu bi Santi mau menusuk gue. Kejadiannya begitu cepat Galih," Iren kembali terisak dan Ririn mengusap ngusap tunggu Iren.
Mendengar itu Galih mengusap wajahnya kasar. Dia begitu syok mendengar sang mama bisa tega melakukan itu.
"Kak.. Maafkan mama.. Aku sangat malu dengan apa yang mama lakukan" kata Galih.
"Tidak.. Tidak.. Ini bukan kesalahan loe.. Kaka yang harusnya minta maaf, karena gue paman seperti ini" kata Iren masih terisak.
"Galih, maafkan kakak juga.. Kakak harus menjebloskan mama loe.. Dan sekarang sedang dalam proses yang sedang diurus pengacara kakak dan papa loe" sambung Nathan.
"Gapapa kak.. Mudah mudahan dengan kejadian ini mama jera dan sadar." jawab Galih.
"Lalu bagaimana keadaan papa kak?" tanya Galih.
"Papa loe masih di ICU Lih.. Keadaan masih kritis karena luka tusukan yang papa loe derita tembus hingga merusak ginjalnya." jawab Nathan.
"Ren, loe istirahat dulu ya" ajak Ririn.
"Ya yank, kamu istirahat dulu.. Nanti kita ke rumah sakit bersama sama. Galih nanti aku dan Arya yang temani." bujuk Nathan.
"Baiklah.. Galih.. Kaka tinggal dulu ya" pamit Iren.
"Ya kak.." jawab Galih menganggukkan kepalanya.
Tak berselang lama, Ririn terlihat kembali menuju ke ruang keluarga.
"Iren dah tidur?" tanya Nathan.
"Dia ga mau gue temeni.. Gue malah di suruh balik ke sini" jawab Ririn.
"Apa rencana loe selanjutnya Than??" tanya Arya.
"Yang pasti gue tunggu kabar dari pak Broto. Sekali lagi maafin kakak ya Galih.. Kakak terpaksa melakukan ini untuk keselamatan Iren" kata Nathan menatap lekat Galih.
"Kak.. Galih ga merasa keberatan. Karena itu memang harus mama yang tanggung.. Mama harus bertanggung jawab dengan semua yang dia lakukan." jawab Galih berusaha tegar.
"Terimakasih Galih.. Pantas saja paman begitu membanggakan loe. Beliau sangat menyangi loe" jawab Nathan.
Beruntung Rudi memiliki putra yang berhati besar, dapat membedakan mana yang baik dan benar. Galih juga tidak mudah terpancing dengan iming iming yang pernah mamanya janjikan agar dapat membantu mewujudkan mimpi mamanya.
#####
Waktupun terus berlalu. Sudah 3 hari Rudi terbaring di rumah sakit. Selama itu pula Rudi belum sadarkan diri meski sudah dipindahkan ke kamar perawatan.
"Dok apa yang sebenarnya terjadi.. Kenapa pamanku belum juga sadar hingga sekarang??" tanya Iren di ruangan sang dokter yang menangani Rudi.
"Luka yang pasien derita cukup dalam dan cukup fatal. Seperti yang sudah saya katakan waktu itu, salah satu ginjal pasien terpaksa harus saya angkat karena tidak berfungsi. Dan hal inilah yang membuat tubuhnya harus beradaptasi dengan satu ginjal tersebut. Dan saya juga berharap semoga hal ini pasien tidak mengalami gangguan kesehatan kedepannya. Dan untuk memastikan kita tunggu beliau siuman" jawab dokter.
__ADS_1
"Tapi hal itu tidak berbahayakan dokter?" tanya Iren.
"Secara umum tidak, hanya saja pasien yang memiliki satu ginjal ini harus benar benar memperhatikan pola makan, pola istirahat dan aktivitasnya." kata doker menjelaskan.
"Perkembangan sekarang bagaimana dok??" tanya Iren lagi.
"Sebenarnya beliau sudah melewati masa kritisnya.. Hanya tinggal menunggu beliau siuman saja." jawab dokter lagi.
"Baiklah dok.. Terimakasih atas informasinya. Saya permisi" jawab Iren sambil bangun dari duduknya.
Sang dokter hanya mengangguk dan tersenyum.
Iren berjalan kembali menuju ke kamar rawat Rudi. Terdengar di dalam ada suara beberapa orang yang sedang mengobrol.
Ceklekk...
Iren membuka pintu kamar dan twrnyata di dalam sudah ada ayah dan bunda.
"Ayah... Bunda..." panggil Iren.
"Putriku..." panggil bunda yang langsung memeluk Iren.
"Bunda dan ayah apa kabar??" tanya Iren.
"Kami baik baik saja sayang.. Kamu baik baik saja kan nak.. Maaf ya kami baru sempat menjenguk pamanmu.." jawab bunda.
"Tak apa bunda.. Hanya saja paman hingga saat ini sepertinya masih enggan untuk membuka matanya. Iren swdikit khawatir" jawab Iren.
"Yang sabar ya nak.. Tidak akan lama lagi beliau pasti akan siuman dan lekas pulih.." jawab bunda menenangkan Iren.
"Yah, bun.. Kita makan siang bersama yuk.. Putrimu ini sangat susah jika di suruh makan" kata Nathan.
Iren hanya melirik Nathan.
"Ya udah sana kalian berdua makan. Ayah dan bunda sudah makan duluan tadi. Biarkan pamanmu kami yang jagain ya.." kata bunda.
"Baik bunda.. Maaf merepotkan.." kata Iren.
"Jangan sungkan Iren." jawab bunda mengelus pundak Iren.
Mereka berdua pun memutuskan makan siang di kantin rumah sakit.
"Arya kemana??" tanya Iren.
"Dia kembali ke bengkel, ada pelanggannya yang meminta dia langsung yang menangani mobilnya" jawab Nathan.
"Hufhhh maafkan aku yang terus merepotkan kalian" kata Iren.
"Jangan berkata seperti itu. Tidak ada satupun orang tau apa yang akan terjadi kedepannya. Dan ingat, sampai kapan pun aku akan selalu ada untuk mu, dalam apapun itu kita akan selalu bersama" kata Nathan mengenggam tangan Iren kuat.
__ADS_1