Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
menyusup


__ADS_3

Jam pertama selesai, dan Iren langsung pergi keluar. Di depan kelasnya, Ririn sudah menunggu.


"Ren.. Ke kantin yuk.." ajak Ririn.


"Ayok.." jawab Iren datar.


"Sayanggg..." panggil Peter.


"Ehhh siapa loe???" tanya Ririn yang melihat Peter tiba tiba merangkul Iren.


"Pacar Iren lahh.." jawab Peter enteng.


"Ren.." Ririn menatap Iren.


"Kenalin Rin, ini Peter pacar gue sekarang" jawab Iren.


"Lalu Nathan?!!" tanya Ririn.


"Eiitzzzz, jangan bahas anak ingusan itu lagi di depan gue ok" jawab Peter.


"Gue mau makan siang sama Ririn" tanya Iren dingin.


"Ayookk gue temenin.. Punya pacar penting kaya gini ga bakalan gue biarin berkeliaran sendirian." jawab Peter.


"Emang kata loe Iren kucing berkeliaran sendirian.. Lagian ada gue" Sewot Ririn.


Iren hanya diam, sekalipun menolak juga tidak akan bisa..


Mereka bertiga pun menuju kekantin, sedangkan Dani dan Danu mendapatkan tugas lain.


Nathan melihat Iren bersama Peter. Tampak sangat jelas dari raut wajah Iren sangat tertekan semenjak bersama Peter. Ini membuat Nathan menjadi curiga, pasti ada sesuatu di antara mereka berdua.


Ting....


Ponsel Peter berbunyi.


"Kenapa loe ga ngasih tau gue kalau loe pacaran sama Iren??" pesan Cindy.


"Bukan urusan loe.. Mumpung Iren dalam genggaman gue, manfaatin tuhh Nathan" balas Peter.


Ting...


"Loe apain Iren, sampai dia mau sama loe.. Loe pelet ya" balas Cindy lagi.


"Sialan loe.. Jaga omongan loe" balas Peter tidak terima.


"Yang.. Nanti pulang jam berapa??" tanya Peter.


"Jam 2" jawab singkat Iren.


"Ok.. Gue tunggu sampai loe pulang, gue pergi dulu.." kata Peter sambil bangkit berdiri.


"Ingat jangan macam macam" ancam Peter berbisik di telinga Iren.


Iren hanya terdiam, hal tersebut tidak luput dari pandangan Ririn.

__ADS_1


"Ren.. Loe yakin sama pilihan loe?" tanya Ririn.


Iren hanya terdiam dan mulai terisak..


"Ren, loe kenapa?? Ada yang salah sama pertanyaan gue ya??. Cerita sama gue" Ririn memegang tangan Iren.


"Gue ga bisa cerita Rin.. Gue ga mau ada yang menjadi korban.. Gue cuma minta tolong sama loe katakan sama Nathan jangan deketin gue jika ingin lihat gue selamatm dan jangan mudah terpancing." kata Iren masih terisak.


"Maksud loe apa si??" Ririn bingung.


"Gue ga bisa jelasin.. Gue ga bisa" isak Iren.


"Ok... Ok kalau loe ga bisa cerita, tapi jangan nangis ya.. Kalau ada apa apa hubungi gue aja.." kata Ririn.


Diam diam Nathan membaca Ririn, dan dari sana dia jadi tau apa pembicaraan mereka berdua.


"Kamu kenapa si Ren?? Aku yakin ada sesuatu dibalik kamu dekat sama Peter.. Gue janji akan mencari tau, dan akan membebaskanmu" kata Nathan lirih.


Hari hari terus berlalu, Iren terus berusaha menghindari Nathan. Begitu juga Nathan yang berusaha mendekati Iren agat mendapatkan penjelasan dari Iren.


Malam harinya, diam diam Nathan mendatangi lagi apartemen Iren. Seperti malam malam yang lalu. Namun kesempatan datang malam ini di mana para musuh sedang lengah.


Nathan tidak menyia nyiakan kesempatan itu, dia memanfaatkan celah sekecilpun untuk dapat menemui Iren.


Nathan menuju ke unit Iren dengan penuh kewaspadaan. Bahkan cctvpun sempat dia sabotase.


Ting tong... Ting tong..


Nathan menekan bel pintu Iren. Tidak cukup lama terdengar suara kunci pintu berbunyi.


Melihat siapa yang datang, Iren terkejut. Belum sempat menolaknya, Nathan membekap Iren dan mendorongnya masuk ke dalam unit.


Lalu Nathan memeluk Iren.


"Aku mohon biarkan seperti ini.. Aku sangat merindukanmu.. Aku berjanji aku akan menolongmu.. Lanjutkan sandiwaramu hingga aku menemukan caranya." kata Nathan..


"Dari mana kamu tau Than?" tanya Iren terkejut.


"Tidak sulit bagiku untuk mencari taunya Iren selama kamu berkomunikasi dengan Ririn.. Dia satu satunya perantaraku agar aku bisa membacamu" jawab Nathan.


"Maafkan aku, aku melakukan ini demi keselamatan paman dan keluarganya.. Aku tidak ingim mereka menjadi korban, tanpa tau penyebabnya.. Mereka satu satunya keluargaku" isak tangis Iren.


"Mereka mengancam paman Rudi??" tanya Nathan.


Iren hanya mengangguk..


"Kenapa kamu tidak membicarakannya saat di rumahku Ren??" tanya Nathan.


"Maafkan aku.. Aku takut.. Bahkan saat aku pulang dari rumahmu mereka tau" Iren semakin menangis.


"Mereka selali membuntutiku.. Mereka twrua berkeliaran disekitarku.. Tolong aku Than.. Tolong.." kata Iren melorot terduduk.


"Sssttttt.. Jangan menangis lagi.. Aku janji aku akan menolongmu.. Tapi untuk sementara kamu tetap ikutin kemauan mereka.. Kamu bersabar untuk sementara ya.." Nathan mencium kening Iren.


"Aku sayang kamu Iren.. Jangan ragukan aku lagi ya.." peluk erat Nathan..

__ADS_1


Iren pun membalas pelukan Iren. Ada rasa kenyamanan saat berada di pelukan Nathan.


"Jangan tinggalkan aku" kata Iren sesenggukan.


"Tidak, aku akan selalu bersamamu.. Aku harus pergi sekarang sebelum mereka menyadarinya" kata Nathan.


Sebelum meninggalkan Iren, lagi lagi Nathan mengecup kening Iren lembut. Iren bisa merasakan kasih sayang Nathan terhadapnya. Bukan hanya belas kasihan.. Tapi kasih sayang tulus yang Nathan berikan.


Setelah kepergian Nathan, Iren tidak dapat memejamkan mata. Dia terus terbayang sikap Nathan terhadapnya. Lembutnya Nathan tidak seperti yang sering diperlihatkan dingin dan acuh.


Jantung Iren berdegup kencang ada rasa senang dan juga ada rasa khawatir bercampur jadi satu hingga kantuk menyerang Iren.


#####


Ting.. Tong... Ting... Tonh...


Iren membuka pintu..


"Haii cantik.. Dah siap..??" sapa Peter.


"Eitsss tunggu dulu..." kata Peter.


Peter tampak menghembus hembuskan nafasnya mencium sesuatu.


"Apa loe semalam kedatangan tamu??" tanya Peter curiga.


Deg...


Jantung Iren berdegup kencang, dia takut kedatangan Nathan tercium oleh Peter.


"Ta..tamu?? Si..siapa?? Sekalipun gue kedatangan seseorang, anak buah loe pasti akan melaporkan??? Bukan kah loe menjagaku bak tahanan??" jawab Iren menutupi.


"hmmmm betul juga.. Ya udah ayok berangkat.. Gue ingin sarapan, kita sarapan dulu" ajak Peter.


Peter dan Iren pun pergi meninggalkan apartemen dan mencari sarapan untuk mereka.


Peter memilih berhenti di taman dekat kampus dan membeli bubur ayam.. Menu favorit ketika sarapan.


Mereka menikmati sarapan mereka berdua, tidak lama kemudian datang Cindy dan kawan kawan.


"Ciiihhh dasar mur***n.. Kemaren Nathan, sekarang beda lagi.. Kasihan ya si Nathan, suka sama cewek kaya gini modelannya" kata Cindy memancing emosi..


Peter hendak bangun dari duduknya, tapi di tahan oleh Iren dengan menggelengkan kepalanya.


"Kalau kalian cuma ingin cari ribut, lebih baik loe loe pada pergi dari sini!!" kata Peyer tanpa menoleh.


"Yaaaa gue si ingetin aja, jangan sampai nyesel" jawab Cindy dan langsung pergi.


"Gue dah kenyang" kata Iren.


"Baru juga sesuap.. Abisin.." kata Peter dingin.


"Gue dah kenyang!!" bentak Iren.


"Gue suapin, dan jangan ada penolakan!!" kata Peter sedikit memaksa.

__ADS_1


"Gue bisa sendiri" kata Iren merebut sendok di tangan Iren.


"Selain jalanin perintah, gue akan buat lho sedikit demi sedikit suka sama gue Ren." batin Peter sambil menatap Iren.


__ADS_2