
"Fit.." panggil Marko.
"Ya bang.." jawab Fitri.
"Setelah habis makan, abang mau bicara sama kamu.." kata Marko meninggalkan meja makan.
"Ya.." jawab Fitri.
Setelah menghabiskan makanannya, Fitri bergegas menemui sang kakak yang tengah merokok di taman belakang.
"Ada apa bang.." tanya Fitri duduk di samping sang kakak.
"Soal kemaren. Coba ceritakan kembali apa masalahnya.." tanya Marko..
Fitripun menceritakan permasalahannya, bahkan Fitri menunjukkan foto Nathan dan Iren.
"Ini yang namanya Nathan dan ini Iren" kata Fitri menunjukkan foto dari ponselnya.
"Kirim ke nomor abang" pinta Marko.
Fitripun mengirim foto tersebut karena berfikiran jika abangnya pasti mau membantunya...
"Emangnya siapa yang meminta pertolonganmu?" tanya Marko.
"Cin.. Cindy bang" jawab Fitri.
"Fit.. Abang sudah berulang kali katakan sama kamu, jangan berteman dengan dia.. Lihatlah sekarang. Penampilan kamu jadi seperti ini.. Kamu sekarang ga pernah dengarin kata kata abang lagi" kata Marko menahan emosinya.
"Tapi bang.. Cindy yang selalu ngerti apa yang Fitri mau.. Dia modis, gaul tidak seperti anak anak yang lain terutama seperti Iren munafik!" kilah Fitri.
"Fitri!!! Modis gaul!! Yang seperti ini yang kamu katakan modis dan gaul!!! Kamu sama saja seperti perempuan mu****n yang memamerkan kemolekan tubuh kamu. Sudah berulang kali abang mendapat teguran dari dekan kampus kamu atas perbuatan kamu dan dia!! Dia si enak bokapnya pemilik kampus. Lahh kamu!!! Kita sudah tidak punya orang tua Fitri!! Kamu tanggung jawab kakak!!! Kakak ga mau terjadi sesuatu sama kamu, kamu satu satunya yang abang miliki!!" kata Marko emosi.
"Bang!!! Justru sama Cindy, aku mendapatkan semuanya.. Baju bahkan uang jajan" kilah Fitri ikut emosi.
"Uang yang abang berikan emang kurang hahh!!! Kalau begitu, ikutin saja temenmu itu.. Tinggallah sama dia.. Hiduplah sama dia.. Abang sudah tidak mau tau lagi, jangan mencari abang jika terjadi sesuatu apapun itu" Marko pergi meninggalkan Fitri.
"Ok..!!!" teriak Fitri.
Marko berjalan menuju ke kamarnya dan menelpon seseorang.
"Hallo Ari.." kata Marko setelah panggilan teleponnya diterima oleh Ari.
"Sialan loe, loe yang ngasih nomor gue sama bocah! Mana pakai nama beler lagi" protes Ari.
"Hahaha. Maaf maaf bro.. Abis gue sebel sama tuh cewek dah bikin adek gue sesat. Ohh ya, gue kirim foto, loe cari tau yang namanya Nathan ini ya.. Bilang aja temennya Cindy mau ngerjain dia gitu. Gue ga mau ada korban lagi dari kelakuan si Cindy, ." kata Marko sembari menceritakan rencana Cindy.
"Ahhh elo, bikin gue kerjaan aja si.. Lagian untungnya apa buat gue ngurursin urusan orang." jawab Ari.
"Ckkk, jelas aja ada untungnya.. Loe mengagalkan rencana busuk seseorang. Anggap aja loe lindungi adik loe sendiri. Loe dah taulah permasalahan gue, loe juga tau sendiri bagaimana Fitri sekarang semenjak bergaul sama si Cindy ini." kata Marko.
"Kenapa ga loe aja yang turun tangan malah nyuruh gue lagi yang ga ada hubungannya" tanya Ari.
"Gue takut melewati batas Ar.. Gue mendengar namanya aja dah sebel apa lagi ketemu sama orangnya" jawab Marko.
__ADS_1
"Loe kan belum pernah ketemu sama dia, dah bisa menilai gitu aja?" goda Ari.
"Tapi gue dah cari tau siapa dia.. Dan ahhh sudahlah.. pokoknya gue minta tolong sama loe, temuin Nathan dan gagalkan rencana Cindy.." pinta Marko.
"Ya deh, entar gue cari tau dulu.. Besok si gue mau ketemu sama doi, doi dah telpon gue barusan.. Niatnya si mau tau apa maksud dan tujuannya berhubung dah loe kasih tau, ya udah ntar gue cari tuh anak." jawab Ari.
"Ok thanks ya bro.. Sory sekali lagi" kata Marko.
"Santai bro.." jawab Ari memutuskan panggilan telepon tersebut.
Markopun memandangi ponselnya yang semakin meredup. Ya Marko sudah mengetahui siapa Cindy, semenjak Fitri dekat dengan Cindy, sang adik berubah banyak. Yang dulu Fitri dapat di atur dan nurut dengan kata katanya namun semenjak dekat dengan Cindy, Fitri berubah. Jadi suka pergi malam pulang hingga pagi dan suka berfoya foya.
Markopun merasa geram, mengingat kini mereka hanya tinggal berdua dan harta yang mereka miliki pun tidak seberapa meski masih dibilang cukup. Markopun mencari tau siapa Cindy hingga dia mendapatkan informasi dari banyak sumber dan banyak dari mereka adalah mantan mantan Cindy.
#####
Dilain tempat, Ari memandangi foto yang Marko kirim.
"Sepertinya gue kenal sama nih anak.. Tapi siapa ya??" batin Ari.
Ari mengingat ngingat, karena wajah Nathan yang tidak asing bagi dirinya.
"Ahhh iya, bukannya nih anak kerja di bengkel Arya ya.. Hmmm gue coba cek kesana" gumam Ari yang bergegas mengambil kunci mobil dan dompetnya di atas meja.
Aripun menuju ke bengkel Arya. Tidak membutuhkan waktu lama Aripun tiba do bengkel Arya.
"Hallo pak Ari.. Ada yang bisa saya bantu" canda Arya.
"Ckkk jangan panggil gue pak.. Berasa tua gue.." jawab Ari.
"Ehh karyawan loe ada orang ini kan ya??" Ari menunjukkan foto Nathan dan Iren.
"Ohh Nathan, itu ada.. Ada perlu? Gue panggilin.." jawab Arya..
"Dia ga sibukkan kan??" tanya Ari.
"Ga kok.. Bentar, tunggu dulu ya bang.." kata Arya meninggalkan Ari.
Arya berjalan mendekati Nathan yang tengah asik membetulkan mobil Iren.
"Than.. Ada yang nyariin loe tuh" kata Arya tiba tiba..
"Ckkk ngagetin aja loe.. Siapa?" jawab Nathan sambil mengelap tangannya.
"Tuhh temuin aja dia bang Ari.." kata Arya menunjuk ke arah Ari.
"Ohh ok.." jawab Nathan meninggalkan Arya.
"Bisa saya bantu?" tanya Nathan setelah berdiri di depan Ari yang tengah bermain ponselnya.
"Ehhh Nathan..?" tanya Ari yang sedikit terkejut.
"Iya saya.. Ada apa ya bang.." tanya Nathan sembari duduk di depan Ari.
__ADS_1
"Loe kenal Cindy??" tanya Ari.
"Cindy? Ada apa bang? Dia temen satu kelas" jawab Nathan.
Aripun menceritakan semuanya dari awal hingga pertemuannya nanti.
"Gue menceritakan ini ke loe bukan ada maksud apa apa.. Gue cuma ga mau ikut campur sama urusan loe dan dia. Dan gue juga dimintai pertolongan sama teman gue abangnya Fitri buat sedikit kasih pelajaran sama dia. Cuma yahh lagi lagi ini bukan urusan gue.. Sekarang gue serahin ke loe.." kata Ari.
"Kalau gitu gue ikut abang ketemu sama dia. Tapi sebelumnya anggap abang belum tau apa apa soal rencana dia" kata Nathan.
"Baiklah, ini kartu nomor ponsel gue. Buat komunikasi nanti kita." kata Ari memberikan sebuah kartu nama ke Nathan.
"Ok bang.. Thanks loe dah mau ngasih tau akan hal ini" kata Nathan.
"Sama sama.. Itung itung ngasih pelajaran sedikit sama gadis yang seperti itu" jawab Ari.
"Ahhh iya.. Jika temen gue bermain main sedikit sama doi bagaimana??" tanya Ari.
"Haha terserah abang.. Gue cuma mau bicara sama dia.. Selain itu gue ga mau ikut campur" jawab Nathan.
"Ok ok.. Mengingat temen baik gue yang minta tolong, gue berfikir untuk sedikit bermain sama dia. Tapi tenang kita ga akan melewati batas kecuali khilaf hahaha" canda Ari.
"Haha bisa aja.." jawab Nathan.
"Ya udah, gue permisi dulu.. Salam buat Arya.." pamit Ari.
Nathan hanya menganggukkan kepalanya. Ari pun kembali menuju ke mobilnya untuk segera kembali ke rumahnya.
"Dapat salam dari bang Ari.." kata Nathan tiba tiba.
"Udah?? Ada apa dia nyariin loe?? Ada masalah??" tanya Arya.
"Ya biasalah kutu dari hubungan gue sama Iren. Dan bang Ari nyritain rencana si kutu" jawab Nathan asal.
"Ckkk yang jelas kenapa si.." sewot Arya.
"Hufhhh si Cindy.. Loe ingetkan??" tanya Nathan.
"Mmmmm ahhh iya.. Yang pernah loe bantuin waktu mogok.." jawab Arya.
"Nah, intinya dia mau jebak gue seolah olah tidur sama dia.. Tapi dia salah minta bantuan gitulah pokoknya. Nah bang Ari lah yang Cindy hubungi melalui abangnya Fitri" Nathan menceritakannya.
"Ohhhh gitu.. Trus rencana loe apa?" tanya Arya.
"Yahh yang jelas gue mau nemuin dia, selanjutnya biar terserah bang Ari" jawab Nathan.
"Yang pasti Than, semakin mendekati tanggal pernikahan loe.. Akan semakin banyak pula cobaan. Kemaren ada cobaan, baru sehari bernafas.. Sudah ada aja cobaan lain.. Inilah hidup. Ada naik turunnya.. Yang pentinybloe berdua selalu bersama dan saling percaya." kata Arya.
"Benar kaya loe Ar, dari awal bertemu Iren. Ada aja coba yang terus mengusik sehari bernafas, esoknya ada lagi. Jika di bilang bosan ya bosan. Tapi mau gimana lagi? Namanya hidup, terus menerus nyaman juga bosan, melulu masalah juga bosan.. Selayaknya roller coaster, ada naik turunnya ada datarnya juga.." jawab Nathan.
"Bener, jangan kaya gue flat muluk hahaha" kata Arya.
"Dahh ahhh beresin kerjaan.." kata Nathan.
__ADS_1
Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.