Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
Nathan dan Rangga


__ADS_3

"Hai Ren. Ini untuk kamu." kata Rangga.


"Untuk aku?" tanya Iren.


"Kamu ga suka?" tanya Rangga.


"Dia sukanya jika bunga dan coklatnya itu dari gue" kata Nathan tiba tiba.


Ranggapun terkejut mendengar suara dari arah belakangnya. Rangga langsung menoleh ke sumber suara.


"Ya kan yang?" tanya Nathan tersenyum manis berjalan ke arah Iren.


Irenpun menganggukkan kepalanya dengan senyum manisnya.


"Tidak perlu repot repot membawakannya bunga dan coklat. Gue selaku calon suami bisa lebih banyak memberikan seperti itu" kata Nathan lagi sombong.


Rangga hanya menatap Nathan, tangannya meremas buket bunga yang ia pegang.


"Taraaaa.. Semua sudah siap.. Ayo kita makan bersama.." kata Ririn.


"Kak Rangga ayo jangan sungkan. Terimakasih ya sudah mau main ke rumah ku jauh jauh. Ayo silahkan" kata Iren.


"Sama sama Ren. Aku juga terimakasih sudah diijinkan main ke sini meski waktunya tidak tepat" kata Rangga melirik ke arah Nathan.


Iren mengambilkan nasi dan ikan panggang juga tidak lupa lalapan sesuai rekues Nathan. Begitu juga Ririn yang mengambilkan makanan untuk Arya sesuai rekues Arya. Sedangkan Rangga seperti nyamuk melihat dua pasang di depannya seakan akan memamerkan kemesraan mereka.


"Ga usah ambik, aku suapain aja" kata Nathan mencegah Iren mengambil piring untuk dirinya sendiri.


"Baiklah" jawab Iren sambil melirik Rangga.


"Kak, jangan sungkan sungkan ya" kata Iren dan Rangga hanya menganggukan kepala.


"haakkk" kata Nathan menyuapi Iren.


Irenpun menerima suapan dari Nathan, Arya dan Ririnpun hanya tersenyum karena mereka memang sudah tau rencana Nathan.


"Mas, ini teh hangatnya" kata bi Marni.


"Iya bi terimakasih" jawab Rangga.


"Bi, sekalian aja yuk makan bersama.. Masih banyak nih.. Belum jagungnya" ajak Iren yang masih mengunyah makanannya.


"Iya neng, bibi di belakang aja" jawab bi Marni sungkan.


"Issss bibi nihh udah ayokk" paksa Iren.


"Udah bi, jangan sungkan gitu" kata Nathan.


Mau tidak mau bi Marnipun ikut bergabung.


"Masa iya gue sama pembokat ini. Kenapa dia ada di sini si" batin Rangga.


Nathan yang tau isi pikiran Ranggapun hanya tersenyum. Nathan dengan sengaja memamerkan kemesraannya dengan Iren agar Rangga sadar diri milik siapa Iren.


"Eghmmm Ren, gue pamit dulu ya.. Gue lupa kalau gue ada urusan.. Lain kali gue main lagi" pamit Rangga.

__ADS_1


"Loh kak, kok buru biri si?? Masih sore" basa basi Iren.


"Iya, gue pamit ya" kata Rangga.


"Iya udah deh, hati hati" jawab Iren.


"Biara aku antar" kata Nathan.


"Tidak perlu, saya tau jalan keluarnya" tolak Rangga.


Tapi Nathan tetap mengantar Rangga. Ranggapun semakin jengah dengan Nathan, tapi sayang nyali Rangga tak cukup banyak untuk melawan Nathan mengingat kejadian waktu itu.


"Sepertinya peringatan waktu itu tidak cukup buat loe" kata Nathan yang berdiri di teras rumah Iren.


"Gue ga ada niatan untuk macam macam datang kesini. Gue cuma mau minta maaf sama Iren atas kecerobohan gue" jawab Rangga.


"Ok, untuk kali ini gue terima alasan loe. Gue ingatin sekali lagi, jangan ganggu Iren dan jangan dekati dia. Dia calon istri gue" kata Nathan menatap tajam Rangga.


Rangga tidak menjawab, dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Iren..


"Arggghhhh sial sial sial!!!" Rangga memggebrak stir mobilnya.


"Gagal gagal gagal!!! Ini kesempatan emas buat gue!! Bagaimana caranya gue melenyapkan orang itu.. Dia penghalang gue" gumam Rangga.


######


"Sudah pulang??" tanya Arya.


"Sudah.." jawab Nathan duduk di samping Iren.


"Jika dia masih ganggu, berarti dia cari mati" jawab Nathan.


"Dah ah yukk, ga usah mikirin itu" kata Iren.


Merekapun melanjutkan obrolan mereka, dan Nathanpun memainkan gitar miliknya sedangkan yang lain bernyanyi.


"Di sini tuh bikin betah. Dah aden, udaranya masih segar, nyaman lagi.." kata Nathan.


"Ckk loe mah yang bikin betah bukan itu, tapi karena ada Iren.." ledek Arya.


Merekapun tertawa bersama, mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka malam ini karena besok sore Nathan dan Arya sudah harus kembali ke kota.


#####


"Pa..." panggil Ayah membuka pintu kamar sang papa.


"Masuk nak.." jawab kakek.


"Besok, Arthur dan Santi pamit ya.." pamit ayah.


"Kenapa cepat sekali, papa ingin kamu dam istrimu berada disni temani papa. Ini juga sudah malam Ar" kata kakek yang masih berat ditinggalkan.


"Pa.. Arthur janji akan sering menengok papa di sini.. Jika perlu, papa ikut Arthur" tawar ayah.


Kakek hanya menggelengkan kepala "papa tidak bisa meninggalkan rumah ini Ar, banyak kenangan di sini" kakek sedih.

__ADS_1


"Arthurpun tidak bisa meninggalkan rumah lama lama pa.. Banyak pekerjaan yang Arthur tinggalkan selama ini" ayah memcoba memberi pengertian.


"Arthur janji, setiap akhir pekan akan menginap di sini.. Di sini banyak yang menemani papa. Ada Riki di sini, sedangkan Rio aku angkat menjadi sopir pribadiku. Aku yakin Riki anak yang baik, papa pasti suka kepadanya" kata papa.


"Riki memang anak yang baik, selama ini dia lah yang menghibur papa. Membantu papa" kata kakek.


"anggaplah Riki cucu papa seperti Nathan dan Arya." kata papa.


Kakek mengangguk menyetujui kata kata putranya itu.


"Baiklah pa.. arthur pamit. Papa jangan terlalu capek. Minum ramuan yang Arthur buat agar papa bisa segera pulih" pesan ayah.


"Terimakasih ya Ar. Kamu satu satunya putra papa yang bisa papa andalkan sekarang" kata kakek.


"Sudahlah pa, jangan di ingat lagi yang sudah lalu" jawab Arthur menggenggam tangan kakek.


"Ayah.." panggil Bunda.


"Sudah siap" tanya ayah menatap bunda.


"Sudah.." jawab bunda yang masih berdiri di ambang pintu kamar kakek.


"Sini masuk" panggil ayah.


"Ehmm tu..tuan saya pamit dulu" kata bunda sungkan.


Kakek tersenyum melihat menantunya ini. Kakek meraih tangan bunda dan mengenggam nya.


"Panggil papa, sama seperti Arthur memanggilku. Kamu juga putriku. Dan maafkan papa atas kesalahan papa yang dulu" kata kakek berkaca kaca.


"Tu.. Emm pa.. Dari dulu Santi sudah memaafkan papa. Jangan diingat ingat lagi ya" kata bunda tersenyum..


"Terimakasih ya nak. Arthur, hati hati dijalan" kata kakek.


"Kami permisi ya pa" pamit ayah


Ayah dan bunda menyalimi tangan kakek dan mencium punggung tangan itu yang sudah terlihat berkeriput. Kakek hanya membalas dengan sebuah senyuman yang tulus.


Kakek sudah berjanji dalam hatinya, dia akan menerima setiap keputusan putranya jiga cucu cucunya nanti. Kakek tidak akan memaksakan kehendaknya. Kakek hanya ingin suatu saat nanti jika dia pergi, keturunannya dalam hidup bahagia dan aman.


"Bun.." panggil ayah yang duduk di samping bunda.


"Hmmm" jawab bunda.


"Papa menginginkan kita tinggal bersama papa" kata ayah.


"Lalu jawaban ayah??" tanya bunda dan ayah hanya menggeleng.


"Maksudnya??" tanya bunda tidak mengerti.


"Ayah tidak mau.. Tapi ayah berjanji akan menemuinya setiap akhir pekan" kata ayah menjelaskan.


"Yah, kasihan papa. Beliau pasti kesepian. Kenapa tidak ajak tinggal bersama kita??" tanya bunda.


"Papa tidak mau bun, papa tidak bisa meninggalkan rumah" jawab ayah lagi.

__ADS_1


Bunda hanya menghela nafas dalam. Dia sebenarnya tidak tega meninggalkan kakek sendirian di sana. Meski di sana banyak para pengawal dan yang lain. Tapi bunda tau yang kakek inginkan berkumpul bersama anak dan cucunya untuk mengisi hari hari tuanya sekarang..


__ADS_2