Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
sah


__ADS_3

Ketika mentari masih enggan untuk keluar dari peraduannya, Iren sudah mulai bersiap siap untuk acara istimewanya..


Hawa dingin masih terasa menusuk badannya, meski masih merasa mengantuk. Iren memaksakan dirinya untuk bangun dan tidak lupa meminum air putih yang telah ia sediakan semalam.


Setelah merasa cukup kesadarannya, Iren bergegas untuk pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum perias datang.


Tok... Tok... Tok..


"Ren!" panggil Ririn masuk ke dalam kamar mandi.


Tok.. Tok..


"Ren! Loe di dalam?" panggil Ririn lagi.


"Iya!" sahut Iren dari dalam kamar mandi.


"Buruan, periasnya dah dateng" kata Ririn memberitahukan.


"Ya.. Iya.. Bentar lagi.. Suruh masuk aja ke kamar." kata Iren lagi.


"Ok.." jawab Ririn.


Ririn menghampiri sang perias yang sudah menunggunya di kamar tamu.


"Mbak.. Silahkan ditunggu di kamar, calon pengantin sedang mandi.. Mari saya antar" kata Ririn.


"Ahh ya mbak.." jawab sang perias.


Meski masih terlalu pagi, suasana di rumah Iren sudah ramai oleh keluarga besarnya juga para tetangga yang ikut membantu.


Di dalam kamarnya, Iren baru saja keluar dari kamar mandinya ketika pintu kamarnya di buka oleh Ririn diikuti sang perias dan dua temannya.


"Nahh itu dia pengantinnya dah siap.. Mari mbak.." ajak Ririn.


"Dah siap Ren?" tanya Ririn.


"Hufhhh sudah.." kata Iren.


"Mbaknya sudah makan? Jika belum lebih baik makan dahulu.. Waktu kita masih cukup banyak.." kata sang perias.


"Ahhh iya benar Ren.. Gue ambilin dulu.. Loe tunggu di sini.." jawa Ririn bergegas pergi keluar untuk mengambilkan makanan juga minuman untuk perias.


Tak berapa lama, Ririn datang juga di ikuti bibi membawa makanan dan minuman.


"Silahkan mbak teh angetnya.." kata bibi menawarkan..


"Terimakasih bi" jawab sang perias.


"Saya permisi dulu" pamit bibi.


Setelah Iren selesai makan, sang perias memulai ritualnya merias dan Ririn setia menemani Iren.


#####


Di rumah Nathan, hal yang sama terjadi seperti di rumah Iren. Nathan pagi pagi buta sudah bersiap siap. Meski dia tidak terlalu di repotkan dengan berias, namun karena jarak tempuh menuju rumah Iren yang cukup memakan waktu. Maka Nathan beserta yang lainnya bersiap siap lebih awal agar tidak terlambat.


Nathan memakai baju dan jasnya.. Dia mematutkan dirinya di kaca dan menyempurnakan pakaiannya. Tidak lupa dia juga mengantongi cincin nanti yang akan dia sematkan pada jari manis Iren.

__ADS_1


Sebentar, Nathan menatap sepasang cincin tersebut.


"Sebentar lagi.. hufhh... Tak akan aku biarkan siapapun menyakitimu bahkan seekor nyamuk sekalipun." Gumam Nathan sesekali menarik nafasnya dan menghembuskannya untuk menetralkan rasa gugupnya.


Setelah selesai, Nathan menuju ke ruang tamu dimana seluruh keluarganya berkumpul dan ada yang masih bersibuk diri untuk bersiap siap.


Ada yang repot mengurusi anaknya, ada yang menunggu giliran mandi, dan ada yang lainnya.


Nathan menghampiri sang kakek yang tengah duduk dengan memegangi tongkatnya.


"Kakek.." panggil Nathan.


"Cucuku.. Kamu sangat tampan hari ini.. Apakah kamu sudah siap?" tanya sang kakek memegangi tangan Nathan.


"Hufhhhh Nathan gugup kakek.." jawab Nathan.


"Tarik nafas sebelum mengucapkan ijab kabul.. Kakek hanya bisa mendoakan agat semuanya lancar dan kalian berdua berbahagia." kata kakek.


"Terimakasih kakek." jawab Nathan.


"Haahhh ga nyangka, putra ayah yang dulu masih mengompol sekaranga sudah akan meminang seorang gadis.." kata ayah yang tiba tiba duduk disamping Nathan.


"Ckkk ayah..." kata Nathan.


"Jika gugup, berdoalah agar semuanya lancar.." pesan ayah.


"Baik ayah.. hufhh..." kata Nathan yang sangat terlihat nervous.


"Yang penting, waktu malam pengantinnya jangan gugup paman.." Goda Arya.


"Kaya loe tau aja.. Dasar jomblo." sungut Nathan.


"Than.. awas jangan salah masuk ya" bisik Arya tertawa.


Nathan hanya menendang kaki Arya, namun Arya lebih cepat dari gerakan Nathan hingga mampu menghindari. Dan godaan yang Arya berikan cukup membantu sedikit menghilangkan rasa kegugupan yang Nathan alami.


#####


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Nathan dan seluruh keluarganya bersiap siap untuk berangkat menuju ke rumah Iren.


Acara ijab kabul pukul 9 pagi, ayah sengaja meminta lebih pagi takut akan adanya macet mengingat kejadian yang dahulu.


Selama perjalanan, Nathan hanya terdiam sambil merapalkan doa.


"Tenang lah nak.. Jangan terlalu gugup ya.. Tarik nafas dalam dalam" kata bunda yang paham jikan anak lelakinya di sebelahnya itu sedang merasa gugup.


#####


Di rumah Iren. Iren baru saja selesai dirias. Gini giliran dia memakai baju pengantinnya.


Sama halnya yang di rasakan oleh Nathan, Iren merasakan semakin dekat waktunya. Semakin gugup juga yang dia rasakan.


"Ren.. Loe gugup ya.. Ya Allah.. Tangan loe dingin banget" kata Ririn mengenggam tangan Iren.


"Hufh... Hufh..." Iren menarik nafasnya lalu membuangnya.


"Gue gugup banget.." jawab Iren.

__ADS_1


"Yakin aja.. Semua akan berjalan dengan lancar." jawab Ririn menenangkan.


"Mari mba, sudah siap ya.. Atau mau minum dulu mungkin??" tawar sang perias yang peka akan kegugupan Iren.


"Memang boleh??" tanya Iren.


"Boleh dong mbak.." jawab si perias tersenyum.


Ririnpun mengambilkan teh hangat untuk Iren. Irenpun langsung meminumnya.


"Hufhh.. Dah yukk mbak.." kata Iren.


#####


Waktu sudah mendekati, dan semua sudah siap. Begitu juga Nathan dan keluarga yang baru saja tiba.


Rudi dan kedua kakak Iren menyambut kedatangan keluarga dari pihak pengantin pria.


"Pak Rudi.. Apa kabar?" tanya Ayah memeluk Rudi.


"Alhamdulillah.. Hanya sekarang jadi tidak sebebas dahulu" jawab Rudi membalas pelukan ayah.


"Rud.. Sukurlah kamu baik baik saja.." sapa bunda.


"Paman.." panggil Nathan.


Rudipun melonggarkan pelukannya dan menjabat tangan bunda dan memeluk Nathan.


"Kamu sangat tanpan sekali Nathan.." kata Rudi.


"Ahhh paman bisa aja.." jawwb Nathan.


Rudi dan kedua kakak Iren mempersilahkan semuanya untuk masuk.


Nathan di bawa ke meja yang sidah disiapkan untuk ijab kabulnya nanti. Terlihat di snaa sidah ada penghulu juga wali hakim beserta saksi.


#####


Dikamarnya, Iren tengah duduk dengan rasa gugupnya. Ririn setia menemani Iren dan mengenggam erat tangan Iren.


"Sah..." suara dari luar.


"Loe dengar Ren.. Sah..." kata Ririn bahagia.


Ririn langsung memeluk sahabatnya itu, lalu melonggarkan pelukannya.


"Hei jangan nangis... Selamatnya sahabatku.. Semoga kalian berdua bahagia selalu.. Dan cepet cepet kasih keponakan buat gue" goda Ririn.


"Terimakasih ya..." kata Iren.


Ceklek...


"Iren ayoo turun.. Suamimu sudah menunggumu di luar" kata Tantri.


Irenpun berjalan keluar di iringi Ririn dan Tantri di samping kanan dan kirinya.


Semua mata menatap ke arah Iren. Hari ini, Iren terlihat sangat mempesona. Auranya sangat terpancar, hingga beberapa orang mengatakan jika sangat berbeda dari Iren yanh biasanya.. Sangat cantik..

__ADS_1


Iren berjalan semakin mendekati sang suami yang sudah menunggunya di meja tampat sang suami mengucapkan ijab kabulnya.. Setelah mendekat, Nathan mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Iren.


Mereka berdua duduk bersanding di hadapan sang penghulu. Setelah menandatangani surat nikah mereka. Kini saatnya mereka mengenakan cincin pengantinnya. Setelah itu, mereka berdua bersama sama menuju ke pelaminan dan duduk bersanding..


__ADS_2