Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
siuman


__ADS_3

"Nathan, kamu masih sanggup?" tanya ayah.


"Masih yah, jangan khawatir" jawab Nathan.


Mereka terus berlari kembali ke rumah. Menjelang pagi, mereka baru sampai di rumah.


Di dalam ruangan rahasia ayah, bunda tidak dapat sedikitpun memejamkan matanya.. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan mereka bertiga. Tidak ada sedikitpun rasa kantuk, hanya rasa khawatir yang terus menguasai hatinya.


Ayah, Nathan dan Iren kini telah tiba di rumah. Iren turun dari panggung Nathan dan langsung terjatuh pingsan. Melihat itu Nathan langsung panik.


"Iren... Iren.. Ren.." panggil Nathan sambil menepuk nepuk pipi Iren setelah kembali menjadi manusia.


"Yah badannya demam.." kata Nathan setelah memegang dahi Iren.


"Cepat bawa ke kamar tamu.. Ayah temui bundamu.. Biar bunda yang urus" jawab ayah yang langsung menuju ruang kerjanya.


"Baik yah" jawab Nathan mengangkat tubuh lemah Iren.


Tok..tok..tok..


"Bun.. Buka bun.. Ini ayah" panggil ayah.


"Ayah.." kata bunda lirih yang langsung membuka pintunya.


Bunda langsung memeluk sang suaminya.


"Ayah baik baik saja?" kata bunda sambil memegangi badan ayah mengecek.


"Di mana Nathan dan Iren?" tanya bunda lagi.


"Ayah baik baik saja bun. Nathan sedang membawa Iren ke kamar tamu. Iren jatuh pinsan tadi waktu sampai di depan pintu." kata ayah


"Apa... Pinsan.." kata bunda yang langsung menuju kamar tamu.


"Nathan.. Bagaimana Iren??" tanya bunda tiba tiba membuka pintu kamar.


"Badannya demam bun.. Wajahnya sangat pucat.." jawab Nathan khawatir.


"Nak.. Tolong ambilkan bunda air hangat dan handuk kecil untuk mengompres ya, bawa minyak angin juga. Dan satu lagi, bilang ke bi Murti suruh buatin bubur" kata bunda yang tatapannya terus menatap sedih Iren.


"Baik bun.." jawab Nathan yang langsung meninggalkan kamar itu.


Bunda mengelus pipi Iren dan memegang dahi Iren. Benar yang dikatakan Nathan. Iren demam tinggi.


"Ini bun.. Bi Murti sedang buatin buburnya" kata Nathan meletakkan air hangat di meja samping tempat tidur.


Bunda mengambil handuk yang sudah dibawa Nathan dan memasukkannya ke dalam air hangat tersebut lalu mengompresnya. Dengan telaten bunda mengompres Iren.


"Than, coba kamu tanya ke ayah ada ga herbal buat Iren.. Kalo tidak ada nanti panggil dokter aja. Kamu dan ayah jangan lupa sarapan dulu mandi juga." kata bunda.


Nathan hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan bunda. Bunda memilih ke dapur sebentar untuk mengecek apakah buburnya sudah siap atau belum.


"Bi.. Buburnya sudah??" tanya bunda.


"Sebentar lagi bu.." jawab bi Marni.


"Tolong nanti anter ke kamar Iren ya bi" kata bunda.

__ADS_1


"Baik bu nanti saya antar" jawab bi Marni.


Bunda kembali ke kamar Iren lalu mengecek handuk di kening Iren.


"Eghmmmmm" Iren mulai sadar.


"Iren.." panggil bunda.


"Bundaa.." lirih Iren.


"Apa yang kamu rasain nak? Pusing?" tanya bunda lembut.


Iren hanya menganggukkan kepalanya dan tangannya memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Minum teh hangat dulu ya.." bunda membantu Iren duduk bersandar lalu memberikan segelas teh hangat.


"Ayah dan Nathan di mana bun?" tanya Iren.


"Ada, mereka sedang sarapan di bawah" jawab bunda tersenyum.


"Bu.. Ini buburnya" kata bi Murti sambil membawa nampan berisi semangkok bubur.


"Mba udah siuman?? mba lekas sembuh ya. Bu mba saya permisi dulu" tanya bi Murti.


Iren hanya mengangguk sambil tersenyum lemah begitupun bunda.


"Iren makan dulu ya.. Bunda suapin." bunda menyendok buburnya lalu menyuapi Iren.


Iren membuka mulutnya dan memakan bubur tersebut. Bunda sangat telaten menyuapi Iren, layaknya sang mama yang sedang mengurus putri tersayangnya.


Nathan yang hendak masuk ke dalam kamar Iren melihat bunda nya yang begitu sangat menyayangi Iren. Nathan hanya tersenyum menyaksikan itu. Saat hendak meninggalkan kamar, datang sang ayah.


"Lihat yah, betapa bunda sangat menyayangi Iren" kata Nathan.


"Kamu cemburu?" goda ayah.


"Ega yah, Nathan malah seneng bunda sesayang itu sama Iren" jawab Nathan.


"Ya udah kalo gitu. Ayah mau bicara sama kamu, ayo ke ruang kerja ayah" kata ayah menggiring Nathan ke ruang kerjanya.


Nathan mengikuti ayahnya menuju ke ruang kerjanya. Di dalam ruang kerja, Nathan memilih duduk di sofa.


"Nathan, sebenarnya apa yang terjadi.. Kenapa Iren bisa tertangkap sama musuh?" tanya ayah.


"Nathan juga bingung yah. Waktu itu Iren berangkat ke kampus lebih cepat sama Ririn. Tapi waktu jam kelas sudah mulai Iren ga juga masuk. Nathan sempat menanyakannya ke Ririn, tapi kata Ririn sebelum jam masuk Iren ke perpustakaan. Nathan sudah mulai curiga pa, kalau memang di perpustakaan ga mungkin terlambat. Nathan mencoba menelfon, ternyata yang menjawab Yosep." jelas Nathan.


"Kamu memang harus berhati hati Nathan, ayah yakin kini Yosep akan kembali mengincar Iren" kata ayah.


"Ayah, selama ada Putri di sana, Nathan merasa kesulitan yah. Putri selalu mencari cara buat menjauhkan Nathan dengan Iren." kata Nathan mengeluh.


"Memangnya apa yang telah kamu lakukan terhadap Putri hingga dia mengejarmu?" tanya ayah.


"Ayaahh... Nathan tidak pernah melakukan apapun ke Putri. Menjanjikan apapun juga tidak.. Nathan tidak tau harus bagaimana ayah." jawab Nathan.


"Ayah tidak mau ikut campur soal urusan itu Than, kamu sudah dewasa. Kamu harus tau bagaimana cara mengatasinya. Hanya pesan ayah, jangan melakukan dengan kekerasan atau apapun yang dapat merugikan kamu" jawab ayah.


"Nathan, ayah hanya ingin kamu lebih bertanggung jawab. Secara tidak langsung kamu telah menyeret Iren dalam lingkaran dunia kita. Kamu harus mempertanggung jawabkan itu. Sudah sangat terlambat jika kamu harus meninggalkannya. Klan tiger sudah menyadari keunikan dalam diri Iren. Ayah yakin kamu bisa nak" ayah mencoba memberikan semangat.

__ADS_1


☘☘☘☘☘


"Bunda.. Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Iren.


"Bunda juga kurang paham nak.. Bagaimana bisa kamu berada di tangan nereka nak.." tanya bunda.


"Waktu itu Iren habis mengambil ponsel Iren yang tertinggal bun. Tapi waktu Iren ingin menyeberangi jalan, ada anak laki laki yang menanyakan alamat itu. Saat Iren sedang membaca secarik kertas, tiba tiba ada sebuah mobil berhenti di depan Iren. Setelah itu Iren ga tau apa apa lagi." jawab Iren menceritakan kronologinya.


"Kamu ga diapa apain kan sayang?" tanya bunda lembut.


"Ga bun.." Iren menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, Iren sekarang istirahatlah. Bunda mau menemui ayah dulu ya" kata bunda sambil membantu Iren kembali rebahan.


☘☘☘☘☘


"Oohh iya ayah, tadi bunda pesan. Ada ga herbal yang bisa mulihin Iren" tanya Nathan.


"Iren hanya lemas seharian tidak makan. Nanti akan ayah buatin jamu agar badannya bisa kembali fit." jawab ayah.


Tok...tok...tok..


"Ayah..." panggil bunda.


"Masuk bun.." jawab ayah.


Bunda membuka pintu ruang kerja ayah dan berjalan masuk ke dalam ruang kerja ayah.


"Ayah bagaimana dengan kalian.. Maaf ya bunda lebih perhatian dengan Iren" kata bunda.


"Kami tidak kenapa napa bunda. Hanya Nathan ada sedikit luka.. Tapi sudah bisa di atasi" jawab ayah.


"Beneran Than?? Kamu tidak apa apa?" tanya bunda.


"Nathan baik baik saja bun.. Hanya masih merasa lemas aja bun.. Nathan istirahat dulu ya" jawab Nathan.


"Baiklah.. Kamu istirahatlah dahulu.." jawab bunda.


Setelah kepergian Nathan, bunda menatap ayah lekat.


"Bubda tidak perlu khawatir, semua baik baik saja. Hanya tugas Nathan menjadi berat sekarang ini." kata ayah yang tau apa yang ingin ditanyakan oleh sang istri.


"Maksud ayah?" tanya bunda.


"Ketua klan Tiger menginginkan Iren setelah tadi menangkapnya. Awalnya mereka pikir Iren hanya manusia biasa. Tapi setelah menyekapnya, mereka tau bagaimana Iren ini. Jadi kini mereka mengincar Iren bun" ayah menjelaskan secara singkat.


"Lalu harus bagaimana?" tanya bunda.


"Ya itu biar Nathan yang mengatasi.. Biarkan dia belajar bertanggung jawab. Karena secara tidak langsung Nathan lah yang membawa Iren masuk ke dalam dunia kita bun" jawab ayah yang sebenarnya juga merasa khawatir terhadap keselamatan Iren.


"Apa ayah yakin?" tanya bunda yang lebih khawatir.


"Ayah yakin Nathan mampu. Jangan ragukan Nathan bun.. Dia memiliki insting yang sangat kuat." kata ayah tanpa meragukan Iren.


"Ayah bikinin jamu dulu buat Iren ya bun.. Dia sudah siuman kan?" kata ayah.


"Sudah yah.. Bunda menyuruhnya untuk beristirahat dahulu setelah makan tadi" jawab bunda.

__ADS_1


Ayah hanya mengangguk dan memulai meracik jamu untuk Iren.


__ADS_2