
"Iren..." panggil Nathan.
Iren hanya menoleh ke arah Nathan. Nathan mendekati Iren yang sedari tadi terus melamun berdiri berpegangan besi pagar kapal.
Iren terus melamun, tatapan matanya ke arah deburan air yang tertabrak kapal, tapi tidak dengan pikirannya yang terus melayang..
"Kamu kenapa hemm??" tanya Nathan.
"Gapapa kok" jawab Iren dengan senyum dipaksakan.
"Jangan berbohong Ren.. Sedari tadi aku lihat kamu melamun.. Kamu sedang memikirkan apa??" tanya Nathan.
"Entahlah, aku bingung dengan semua ini.. Entah ini mimpi atau memang begini" jawab Iren lirih.
"Maksud kamu? Tentang kami?" tanya Nathan.
Iren hanya diam, entah apa yang harus dia jawab. Bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya yakin apa yang saat ini dia jalani..
"Jika memang benar apa yang aku katakan.. Apa yang membuatmu menjadi bingung?? Yang... Kadang, apa yang kita jalani di dunia ini tidak bisa kita pikirkan secara logika kita.. Kita hanya di beri pilihan untuk menentukan kemana kita harus melangkah.. Maafkan aku jika aku menarikmu masuk kedalam dunia ku.. Aku tau sampai saat ini kamu belum sepenuh mempercayai semua ini.. Siapa aku dan Yosep." kata Nathan.
"Reb, satu hal yang harus kamu percayai.. Perasaanku kepadamu tidak pernah berbohong.. Aku menyayangimu bukan karena siapa kamu, bukan karena rasa belas kasihan." kata Nathan menggenggam jari Iren lembut.
Iren menatap lekat Nathan, perlahan Nathan memeluk Iren erat.. Menyalurkan segala rasa yang dia rasakan.
Semburat orange dilangit menemani mereka, dan deburan air yang menerpa kapal menambah suasana yang romantis.
Iren membalas pelukan Nathan dengan mata terpejam, menyalurkan rasa rindu dan kenyamanannya berada dalam pelukan Nathan.
"Aku merindukanmu" gumam Iren..
"Hmmm bisa ulangi lagi?" tanya Nathan.
"Aku malu" jawab Iren menyembunyikan wajahnya dada bidang Nathan.
"Malu dengan siapa hmmm, ayolah sayang.. Katakan sekali lagi" kata Nathan.
"Aku merindukanmu Nathan.." jawab Iren.
"Aku juga sangat merindukanmu" jawab Nathan mengurai pelukannya lalu mencium keningnya.
"Nathan, bagaimana keadaan kakek??" tanya Iren.
"Entahlah, lukanya cukup dalam" jawab Nathan sedih.
"Maafkan aku" jawab Iren menunduk.
"Heii kenapa kamu meminta maaf hmmm?? Ini bukan salah kamu Iren.. Kita doakan saja semoga kakek tidak apa apa ya.." kata Nathan memegang kedua pundak Iren dan Iren hanya mengangguk.
"Kita masuk yuk, anginnya semakin kencang.. Dan kamu istirahat ya.. Jangan sampai kamu sakit, pasti bunda dan yang lainnya akan sangat menghawatirkanmu.." kata Nathan menggandeng tangan Iren mengajak untuk masuk.
__ADS_1
"Than.." panggil ayah..
"Sayang, kamu beristirahatlah.. Jangan memikirkan yang macam macam ya.." kata Nathan.
"Iya.. Ayah, Iren masuk dulu ya" pamit Iren dan ayah hanya mengangguk.
Iren pun pergi meninggalkan ayah dan Nathan.
"Ada apa yah.. Kenapa dengan kakek.." tanya Nathan.
"Kakek semakin melemah Than.. Ayah tidak tau harus bagaimana.. Ini di tengah laut." jawab ayah.
"Mudah mudahan kakek kuat, itu yang Nathan harapkan.. Masih lama sampai darat yah??" tanya Nathan.
"Kurang lebih 3jam lagi Than.." jawab ayah.
"Ayah, tidak bisakah menolong dengan cara lain??" tanya Nathan.
"Sudah.. Tapi di bekas cakaran itu ada racun yang sudah mengalir dalam darah kakek.. Luka kakek sudah tertutup.. Tapi ayah tidak bisa mencegah penyebaran racun itu.." jawab ayah.
"Apakah sangat berbahaya yah??" tanya Nathan.
"Dalam jangka panjang mematikan, Than. Ayah takutnya, kakekmu tidak bisa bertahan untuk melawan racun itu." jawab ayah.
Nathan menghela nafas dalam, dia juga tidak tau harus berbuat apa..
"Ada satu cara.. Tapi ayah tidak yakin.." kata ayah.
"Iya, menggabungkan tenaga dalam kita berdua. Tapi mengingat kondisi fisik kita, ayah takut malah membahayakan kakek" jawab ayah.
"Kita coba dahulu yah.. Kita tidak akan tau sebelum kita coba.. Setidaknya ini berhasil hanya untuk membuat kakek bertahan" kata Nathan.
"Apa kamu yakin Than??" kata ayah ragu..
"Nathan yakin pah.." jawab Nathan.
"Arya juga akan ikut" kata Arya tiba tiba.
"Arya" kata Nathan dan ayah bersamaan.
"Paman, jangan lupakan Arya.. Kakek juga kakekku.. Apapun yang terjadi dengan kakek, Arya akan berusaha menolongnya " kata Arya.
"Baiklah kalau begitu, kita lakukan sekarang. Mudah mudahan dengan tenaga kita bertiga dapat membantu kakek. Arya, tolong anak buah kakek suruh untuk berjaga jaga di depan pintu ya" kata Ayah.
"Baik paman.." jawab Arya.
Mereka bertiga pun bersama sama menuju di kamar tempat kakek terbaring lemah..
Sebelum ikut menuju ke kamar kakek, Arya terlebih dahulu meminta beberapa anak buah kakek untuk berjaga di depan pintu. Mengingat ada Andi dari klan Tiger.
__ADS_1
Bukan bermaksud tidak mempercayainya, namun hanya untuk berjaga jaga yang notabene dia pernah bekerja sama dengan Yosep.
#####
"Bun, Bunda makan ya.. Sudah sejak kemarin bunda tidak makan.. Nanti bunda sakit" bujuk Ririn.
"Bunda kenyang Rin.." jawab bunda sambil melamun.
"Ayoolaahh bun, bunda harus tetap fit saat ketemu Iren dab yang lainnya nanti.." Ririn terus membujuk bunda.
"Tapi mereka tidak ada kabar Rin" bunda mulai menangis.
"Mbak.. Kita berdoa bersama sama ya... Agar mereka semua selamat. Sekarang mbak makan dulu lalu istirahat ya.. Lihat, wajah mbak terlihat pucat" bujuk Tantri..
"Ayokk bun, Ririn antar kekamar ya.. Nanti makanan biar bi Marni yang antar.. Bunda tenang saja, mereka pasti selamat" kata Ririn lagi.
Bundapun hanya mengangguk lalu bangun dari duduknya dibantu Ririn. Bunda terlihat sangat khawatir, bahkan sejak ia menerima telepon dari ayah matanya sangat sulit untuk terpejam.
Terlihat ada kantong mata berwarna hitam di bawah mata bunda, menandakan kekurangan dalam tidur. Bahkan hanya untuk sekedar makan satu suap saja sangat enggan.
#####
Ayah dibantu Nathan memposisikan kakek untuk duduk. Ayah duduk berada di belakang kakek dengan kedua telapak tangan dengan masing masing menempel di pundak kakek. Sedangkan Arya dan Nathan bersisian, masing masing memegang pundak dengan tangan mereka salin bertautan.
Kini mereka telah siap, mereka bertiga mengeluarkan tenaga dalamnya untuk sedikit membantu kakek dari racun dari Yosep.
Mereka berkonsentrasi penuh, hingga peluh menetes dan membasahi baju mereka.
Cukup lama mereka menyalurkan tenaga dalam mereka untuk kakek. Sudah tampak dengan jelas kelelahan di wajah mereka masing masing.
Terlebih Nathan, yang belum lama sembuh dari luka dalamnya ketika bertarung dengan Peter.
Wajahnya sudah terlihat memucat, bahkan sesekali tubuhnya terlihat akan limbung terjatuh jika Arya tidak menahannya.
"Uhuk.. Uhuk..." kakek terbatuk batuk
Mendengar kakek terbatuk batuk, ayah menyudahi ritual mereka. Terlihat kakek memuntahkan darah segar dari mulutnya. Begitu juga dengan Nathan yang langsung limbung badannya menimpa Arya. Di bibirnya merembes darah meski tidak sebanyak kakek.
"Paman.. Nathan.." kata Arya.
Setelah memeriksa keadaan kakek, ayahpun bergantian memeriksa Nathan.
"Paman.." Arya menatap ayah.
"Dia hanya kelelahan karena terlalu memaksakan dirinya.. Biarkan dia istirahat" jawab ayah.
"Lalu kakek??" tanya Arya.
"Kakekmu belum sepenuhnya pulih, namun sudah lebih baik.. Semoga kita lekas mendarat agar paman bisa segera mengobati kakekmu" jawab ayah.
__ADS_1
"Iya paman, mudah mudahan." jawab Arya.
Arya lalu membawa Nathan ketempat yang lebih nyaman agar bisa beristirahat untuk sesaat.