Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
tamu tak di undang


__ADS_3

Iren hanya menggelengkan kepalanya.


Nathan mengerti, Iren adalah gadis yang polos meski dia hidup sebatang kara dia mampu membuktikan bahwa dia bisa menjaga dirinya. Nathan menjadi semakin yakin, hatinya tidak salah menaruh perasaannya untuk Iren.


Lama mereka berdua saling diam menikmati gelapnya malam.


"Iren..." panggil Nathan lembut.


"Ya..." jawab Iren menoleh.


"Aku tidak tau perasaanmu kepada ku, tapi aku yakin dengan perasaanku kepadamu. Apa pun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu" kata Nathan sambil meraih tangan Iren.


Iren hanya menatap Nathan, hatinya terenyuh ada rasa haru dan bahagia yang kini dia rasakan. Namun Iren benar benar tidak menyadari bahwa dia telah jatuh hati kepada Nathan..


"Nathan, aku tidak mau kamu mengatakan ini karena merasa kasihan terhadapku.. Aku sudah terbiasa hidup sendiri Nathan, dan aku mampu menjalaninya" kata Iren lirih.


"Tidak..tidak Iren, aku mengatakan ini bukan karena aku sudah tau siapa kamu. Aku benar benar tulus dengan perasaanku Hanya saja..." jawab Nathan menggantung kata katanya yang kini dia sudah berlutut di depan Iren dengan wajah yang berubah sendu.


"Hanya saja apa Nathan?" Iren penasaran.


"Nanti suatu saat kamu akan tau siapa aku, hanya akan sangat beresiko untukmu Iren" jawab Nathan yang terduduk di depan Iren bersandar dinding pagar balkon.


"Beresiko?? Emang siapa kamu? Mavia? Penjahat? Atau buronan?" tanya Iren dengam wajah serius.


"Bukan..bukan itu maksudku Iren" Nathan tersenyum melihat reaksi Iren yang menurutnya lucu.


"Lalu apa?" tanya Iren.


"Kita istirahat aja, malam sudah larut" Nathan bangkit berdiri dan menggandeng Iren untuk berjalan masuk ke dalam.


"Masuk aja lah dulu, aku mau mengecek beberapa pintu siapa tau belum ada yang terkunci" kata Nathan kepada Iren yang mematung berdiri.


"Hmmm baiklah, selamat malam" sapa Iren berjalan menuju kamar tamunya.


Nathan hanya mengangguk dan melangkah ke pintu utama.


Nathan merubah dirinya menjadi harimau putih dan berlari menuju ke tengah hutan.


Sesampainya di tengah hutan Nathan bertemu dengan sang ayah.


"Ayah.." panggil Nathan merubah dirinya kembali.


"Nak, kenapa kamu malah kesini? Cepat kembali! Anak buah musuh tiger berada di sekitar sini" kata Ayah Nathan.

__ADS_1


"Tapi ayah?" kata Nathan yang ingin tau alasannya.


"Cepat Nathan kembalilah, apalagi di rumah ada anak gadis itu. Mereka tertarik dengan dia.. Cepat Nathan pergi!!" teriak sang ayah yang memiliki firasat buruk malam ini.


Nathan sepontan langsung berlari kembali ke rumah, dan benar saja. Salah satu anak buah musuh dari tiger sudah berada di dekat rumahnya dan sedang berusaha masuk.


Nathan langsung saja meloncat dan menubruk si musuh dari arah samping hingga si musuh mental dan berguling.


Mereka berdua mengaum keras. Merasa takut Iren terganggu dengan auman itu, Nathan menggiring anak buah tiger untuk lebih masuk ke dalam hutan.


Di tengah tengah hutan Nathan bertarung, ayah Nathan pun ikut membantu menyerang. Sebenarnya, saat ayah Nathan baru pulang dari kantornya sore tadi, dia melihat sekelebat beberapa anak buah tiger berkeliaran di area hutan dekat rumahnya. Akhirnya ayah Nathan memilih memantau pergerakan mereka dengan alasan sedang ada masalah di perkebunan barunya agar tidak menimbulkan kepanikan untuk sang istri.


Pergerakan anak buah tiger terbaca oleh ayah Nathan yang sedang mengintai anaknya dan gadis yang di bawa Nathan. Entah sejak kapan mereka memantau Nathan dan gadis itu, karena ayah Nathan baru melihat mereka berkeliaran di sekitar mereka.


Nathan dan ayahnya bertarung, mereka saling menyerang dengan cakarnya dan terus mengaum hingga beberapa pohon rubuh karena terkena cakaran mereka.


Nathan meloncat saat musuh berlari mendekatinya, saat musuh berbalik badan Nathan langsung mengeluarkan cakarnya dan menampar wajah musuh hingga jatuh pingsan.


Nathan melihat sang ayah kesulitan melawan dua musuh. Melihat sang ayah akan diserang dari belakang, Nathan langsung berlari dan menggigit tepat di leher sang musuh.


Ayah Nathan terkejut dan teralihkan fokusnya hingga musuh yang sedang iya lawan memiliki kesempatan menendang ayah Nathan hingga terpental dan mengenai sebuah pohon hingga terjatuh.


Melihat itu Nathan tambah emosi, langsung berlari mendekat musuh dan loncat begitu saja. Namun sayang musuh masih dalam posisi sigap hingga bisa menghindar lalu mencakar punggung Nathan. Nathan menggeram keras menahan sakitnya cakaran.


Nathan sempat tersungkur sesaat dan menoleh ke arah sang ayah yang masih tergeletak dan beralih ke arah musuhnya yang sedang menunggunya. Nathan menyiapkan posisinya, cakarnya kembali dia keluarkan dan kaki belakangnya memasang kuda kuda.


Cleeeppppp..


Kuku cakar Natham yang tajam dan panjang menancap sempurna di perut musuhnya lalu menariknya dengan sekuat tenaga hingga meninggalkan robekan yang begitu dalam.


"Gaauuuuummmmm" teriak musuh tergeletak lemah.


Nathan mendekati sang ayah, Nathan melihat kondisi ayahnya..


Tulang rusuk kanan sang ayah mengalami retak itu cukup menyulitkan sang ayah untuk berjalan.


"Ayah mari aku gendong hingga ke rumah" kata Nathan sambil merebahkan badannya agar sang ayah yang sudah kembali kewujud manusia bisa menaiki tubuhnya.


"Ayah, bagaimana dengan mereka?" tanya Nathan setelah sang ayah berhasil naik.


"Eghmmmm bi..biarkan saja, cepat kembali." kata ayah Nathan yang sedang menahan rasa ngilu di bagian tulang rusuknya.


Nathan berjalan meninggalkan tempat itu dan membiarkan sang musuh begitu saja di sana. Dia segera kembali ke rumahnya.

__ADS_1


Saat sudah sampai di halaman rumah, Nathan menurunkan tubuh ayahnya dan dia kembali merubah wujud sang ayah.


"Nathan, ikut ayah ke kamar kerja ayah. Kini saatnya kamu menyempurnakan ilmu mu untuk pengobatan" kata ayah Nathan sambil memegangi bagian tulang rusuknya yang dekat bagian perut.


Nathan menuntun sang ayah hingga masuk ke dalam ruang kerja sang ayah.


Ayahnya membuka sebuah pintu rahasia yang Nathan baru mengetahuinya.


"Ayo Nathan bantu ayah" kata ayah Nathan dan Nathan mengikuti semua arahan ayahnya.


"Nathan, coba kamu campurkan beberapa bahan ini tumbuk hingga halus" perintah sang ayah yang terduduk menahan rasa sakitnya.


"Sudah ayah" Nathan menunjukan ramuan yamg telah iya tumbuk.


"Coba baluri ayah di bagian yang tampak lebam ini dan di sini" kata ayah Nathan menunjukan beberpa luka.


"Auwww.." ayah Nathan menahan rasa sakitnya terutama bagian tulang rusuknya yang retak.


"Ayah, ini tampak parah.." kata Nathan sambil membaluri luka ayahnya perlahan.


"Tutup dengan kain kasa ini Nathan" perintah ayah Nathan.


Nathan terus mengikuti arahan arahan yang ayahnya berikan, dengan telaten Nathan mengobati sang ayah.


"Coba lihat lukamu" kata ayah Nathan.


Nathan menunjukan area punggungnya, tampak baju Nathan yang robek dan langsung dirobek begitu saja oleh sang ayah.


"sshh ayah perih" Nathan menahan rasa perih lukanya yang di pegang Nathan.


"Daya tahan tubuhmu sangat bagus Nathan, cakaran ini sebenarnya cukup beracun untuk para harimau lain apa lagi jika terkena manusia biasa. Tapi tubuhmu bisa mencegah racun ini" kata ayah Nathan yang cukup kagum dengan kondisi Nathan.


"Apa sebegitu parahnya ayah?" tanya Nathan yang memilih berbaring tengkurap sambil memperhatikan ayahnya yang kembali berkutat dengan beberapa ramuan.


"Jika hanya cakaran biasa, masih bisa di sembuhkan dengan tenaga dalammu saja Nathan paling hanya meninggalkan belas luka seperti waktu luka di tanganmu. Tapi untuk kali ini, butuh ramuan seperti ini. Ayah harap kamu nantinya hapal dengan semua ramuan ramuan yang ayah pelajari selama ini" kata ayah Nathan yang masih meramu.


"Jadi ga semua klan harimau tau akan ramuan ini ayah?" tanya Nathan.


"Tahan sedikit ya, ini akan perih..." ayah Nathan memperingati.


"Tidak, hanya ayah yang tau. Karena ayah mempelajarinya sendiri semenjak ayah memilih pergi dari kakekmu" kata ayah Nathan lagi sembari menempelkan ramuan itu ke luka Nathan.


"awwwww, aduuhhh..duuhhh ayah perih ssshhhh awww" Nathan menahan perih yang menjalar hingga ke kepalanya.

__ADS_1


"Tahan Nathan, tidak akan lama. Nanti rasa perihnya akan berangsur hilang" kata ayah Nathan mulai membalut dengan kain kasa untuk menutupi lukanya.


Nathan terus menahan rasa perihnya bercampur rasa panas di area lukanya. Namun lama kelamaan rasa sakitnya berangsur berkurang. Karena hari hampir pagi Ayah Nathan dan Nathan memilih beristirahat ke kamar masing masing.


__ADS_2