
Sebelum mereka meninggalkan tempat itu, mereka menyempatkan diri untuk mengabadikan kebersamaan mereka.
"Foto ini akan menjadi cerita kelak untuk anak anak kita" kata Iren.
"Cieeee yang mau married dah bahas anak" goda Ririn.
"Ckkk kaya loe ga bentar lagi nyusulin gue.. Seenggaknya kalaupun kita ga bisa bersama, foto ini bisa jadi saksi kebersamaan kita" kata Iren serius.
"Kamu ngomong apa si yang.. Kita akan selalu bersama.." kata Nathan memeluk Iren.
"Dah yukk, dah mulai siang.. Dah laper juga.. Cemilah dah abis.." ajak Ririn.
"Loe yang ngabisin" goda Arya.
Nathan dan Iren tersenyum melihat interaksi Arya dan Ririn yang terlihat semakin dekat.
Iren hanya bisa berharap Ririn mendapatkan laki laki yang terbaik buat sahabatnya itu. Meski ia berharap laki laki iti Arya, namun dia tidak mau memaksakannya.
"Kita makan di warung langganna papi aku aja gimana?? Kalau masih ada" ajak Iren ke Nathan.
"Ayok.. Nanti kasih unjuk aja.." jawab Nathan.
"Cari warung makan teh Anis namanya.." kata Iren.
"Siap.." jawab Iren.
"Ren, kapan kapan kita main ke Magelang yuk.. Ketempat nenek gue" ajak Ririn.
"Wahh boleh juga tuh.. Ayok.. Kapan??" tanya Iren.
"Habis loe married aja sekalian hanemoon gitu" kata Ririn.
"Tuhh Than dah ada yang merekomendasikan" sambung Arya.
"Kita lihat aja nanti" kata Nathan melirik ke arah Iren.
Drrttt... Ddrrrtttt
Ponsel Nathan berdering, tertera nama Yudi. Nathanpun langsung meminggirkan laju mobilnya dan berhenti.
"Sebentar ya.." kata Nathan turun dari mobil.
Iren hanya menatap hetan Nathan. Tidak seperti biasanya dia menghindar saat menerima telepon.
Nathan berjalan ke arah depan mobil yang hanya berjarak beberapa meter saja.
"Hallo, ada apa Yud" Nathan menerima panggilan tersebut.
"Maaf tuan saya mengganggu, dari semalam saya mengikuti target, dia sempat pergi keluar, namun saat di supermarket dia bertemu dengan seorang pria hingga pagi pria itu baru keluar tuan.. Nanti akan saya kirim foto foto mereka tuan" kata Yudi memeberikan informasinya.
"Baik Yud, terimakasih atas kerja samanya.. Kamu sementara istirahat dulu. Jangan terlalu sering berada di sana, gantian dengan Anto agar tidak menimbulkan kecurigaan.." pesan Nathan.
"Baik tuan" jawab Yudi.
Nathan menatap layar ponselnya, pesan baru masuk dari Yudi. Dan terlihat sebuah foto lalu Nathan membukanya.
__ADS_1
Nathan terkejut melihat foto tersebut, Nathanpun semakin geram dengan pria yang berada di dalam foto tersebut. Tidak lagi bisa tinggal diam, Iren kembali dalam bahaya.
Nathanpun kembali ke dalam mobil, dia menatap mata Arya. Seketika itu Arya tahu apa yang terjadi.
Bugh...
Nathan menutup pintu mobil tersebut cukup kencang.
"Apa ada masalah??" tanya Iren.
"Hindari Rangga" kata Nathan.
"Ada apa??" tanya Iren mengerutkan dahinya.
"Aku mohon hindari Rangga, jika dia mengajak kamu kemanapun hanya berdua jangan pernah mau" pesan Nathan.
Lalu Nathan mengetikkan sesuatu melalui ponselnya.
"Baiklah.. Selama ini aku juga menghindarinya.." jawab Iren.
"Aku percaya kepadamu.. Tapi kali ini berbeda.." jawab Nathan.
"Ini ada apa si?? Than" tanya Ririn.
"Rin, gue mohon jagain Iren, jauhin dari Rangga ya.. Gue punya forasat buruk soal Rangga.. Gue ga bisa ceritain sekarang.. Nanti jika semua sudah selesai gue bakal cerita ke kalian berdua" jawab Nathan.
"Than, dah.. Jangan buat mereja berdua bingung. Ren, Rin.. Intinya kalian berdua berhati hati mengingat Santi sedang berkeliaran di luar sana. Dan Rangga terlihat sangat terobsesi dengan Iren" jelas Arya.
"Huffhhh baiklah.." jawab Iren.
#####
Sebuah pesan masuk di ponsel Rudi. Saat ini Rudi tengah berada di ruang kerjanya mengecek semua laporan keuangan yang menurutnya ada kejanggalan.
"Paman, saya mendapat informasi tentang tante Santi, dia sepertinya sedang dekat dengan Rangga salah satu karyawan di perusahaan Surya Properti. Nathan curiga mereka bekerja sama mengingat Rangga yang sedang terus mencoba mendekati Iren" pesan dari Nathan.
Rudipun membuka foto yang Nathan kirim.
"Ahhh ya ampun... Santi.. Kapan kamu bisa berubah... Aku curiga jangan jangan keuangan ini juga ulah kamu" kata Rudi.
"Aku harus segera mengumpulkan divisi keuangan" kata Rudi lagi.
#####
Rudi mengumpulkan semua divisi dari keuangan. Ada empat orang yang berada di sana, dan yang bertanggung jawab penuh adalah Haikal, sedangkan tiga orang lainnya bawahan Haikal.
Haikal yang memang tidak merasa melakukan apapun hanya bersikap santai saat menerima kabat adanya rapat dadakan ini. Berbeda dengan Dwi, wajahnya seketika memucat ketika baru saja datang ke kantor sudah langsung di ajak oleh atasannya itu untuk rapat.
"Dwi, siapkan seluruh laporan 5bulan terakhir dan ikut saya ke ruang rapat, sekarang saya tunggu 10 menit" perintah Haikal.
"Apa???!" jawab Dwi terkejut.
"Apa perlu saya ulangi??" kata Haikal..
"Aahh i..iya pak tidak perlu.. Akan segera saya siapkan.." kata Dwi gugup.
__ADS_1
"10 menit saya tunggu!" Haikal mengingatkan kembali.
"Haduhhh.. Ada apa ini ya.. Kenapa gue jado merasa ga enak gini ya.." batin Dwi.
Tidak beberapa lama kemudian, Dwi dan kedua rekannya sudah besetta Haikal berjalan menuju ke ruang rapat. Di sana, Rudi telah menunggu kedatangan mereka..
"Selamat pagi semuanya.. Maaf sudah membuat kalian pagi pagi harus berkumpul di sini.. Langsung saja akan saya tanyakan beberapa hal tentang masalah keuangan dalam 5 bulan terakhir.." kata Rudi.
"Saya mendapatkan beberapa nota dari bebapa toko bangunan langganan kita. Nah yang membuat menjadi pertanyaan saya.. Kenapa laporan yang saya terima tidak sama dengan nota yang tertulis. Dan itupun sangat besar jumlahnya. Pak Haikal?? Tolong jelaskan!" kata Rudi memberikan beberapa lembar laporan yang terlihat rancu.
Haikal menerimanya dan segera memeriksa laporan dan nota yang Rudi berikan pada dirinya.
"Maaf pak Rudi, untuk nota ini berbeda dengan nota yang saya terima. Nota yang saya terima berbeda dengan yang bapak miliki ini.. Ini Notanya." jawab Haikal.
Rudipun menerima Nota yang Haikal miliki dan membandingkan nota yang dia dapat dari pemilik toko langganannya.
"Haikal kemari.." panggil Rudi.
"Lihat perbedaan dari dua nota ini.. Nota yang saya miliki berstempel ada tanda tangan pemilik dari toko tersebut. Sedangkan yang kamu miliki, memang ada tanda tangannya tapi berbeda.. Coba kamu cari nota dari toko tersebut sebelum ini.." kata Rudi.
"Sebentar pak, saya membawanya.." jawab Haikal mengambil berkas yang ia bawa.
Haikal segera mencari nota yang sama, namun nota tersebut terlihat sama dengan nota yang Rudi miliki, sedangkan nota yang Haikal miliki berbeda.
"Siapa yang menangani keuangan dalam proyek ini??" tanya Rudi.
"Dwi pak.." jawab Haikal.
Rudi menatap Dwi yang terlihat sangat gugup.
"Haikal, saya minta tolong periksa meja kerja Dwi.." perintah Rudi.
"Baik pak.." jawab Haikal langsung pergi meninggalkan ruang rapat.
"Dwi, bisa anda jelaskan dengan perbedaan nota yang anda berikan ke pak Haikal dengan nota yang saya miliki??" tanya Rudi menatap Dwi.
"Mmm ma.. Maaf pak.. Saya memberikan nota itu sesuai yang saya terima dari lapangan pak" jawab Dwi.
"Dari lapangan??" tanya Rudi merasa aneh.
"Pak Gun.. Apa benar selama ini yang membeli bahan bahan secara langsung pembangunan proyek adalah lapangan??" tanya Rudi.
"Untuk proyek yang saya pegang, setelah saya mendapat laporan dari mandor lapangan saya yang membeli bahannya melalui via telepon ke pemilik toko dan bahan langsung di antar ke lapangan pak. Dan pemiliki toko akan mengirim fax nota.. Setelah nota saya dapat, baru saya buat laporan pengeluaran beserta nota tersebut lalu saya berikan ke pak Haikal untuk meminta tanda tangan beliau." kata Guntur.
"Dwi, kenapa kamu tidak mengikuti cara pak Gun..??" tanya Rudi menyelidiki.
"Mmm maaf pak.. Waktu itu mesin fax di ruangan saya rusak pak.." jawab Dwi semakin gugup.
"Tidak pak, mesin Fax hanya satu di bagian keuangan.. Jadi jika rusak sudah pasti pekerjaan saya akan terkendala. Dan pasti akan ada laporan yang masuk. Sekalipun rusak, toko tersebut akan langsung mengirim via email pak.." kata Guntur.
Guntur sesungguhnya tau apa yang Dwi lakukan, karena dia pernah di sogok oleh Dwi untuk melakukan kerja sama dengan dirinya. Namun, mengingat kebaikan Rudi, Guntur tidak mau melakukan itu.
Dwi menatap Guntur, dia tidak menyangka Guntur akan tega menyudutkannya setelah apa yang dia lakukan untuk Guntur.
Tik...tok...tok..
__ADS_1
"Permisi pak.. Saya menemukan ini di meja kerja Dwi dan ini.." kata Haikal.
Haikal memberikan sebuah stempel dan nota yang sama namun berbeda isi dalam nota tersebut.