Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
siuman


__ADS_3

Satu jam kemudian Rudi tiba di rumah sakit, ia segera menuju ke ruang ICU. Rudi berjalan dengan gontai, ada rasa bersalah di dalam hatinya atas perbuatan istrinya.


Nathan dan Arya yang sudah lebih dahulu tiba di sana. Sedangkan ayah dan bunda kembali ke penginapan hanya untuk beristirahat sejenak karena menjaga Iren semalaman. Nathan melihat Rudi tengah berjalan ke arah mereka dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Paman..." panggil Nathan bangun dari duduknya.


"Nathan" jawab Rudi lemah.


"Ada apa paman??" tanya Nathan.


Nathan mencoba menelisik pikiran Rudi. Dan benar saja, Nathan bisa melihat apa yang tengah Rudi pikirkan.


"Nathan, aku serahkan sebuah bukti. Dan paman menyerahkannya semuanya kepadamu. Paman pasrah, paman tidak akan ikut campur. Demi Iren" kata Rudi menyerahkan sebuah flashdisk yang sebelumnya Rudi telah memindahkan rekaman itu ke sebuah flashdisk.


"Paman, apa ini??" tanya Nathan pura pura tidak tau.


"Di dalam flashdisk itu adalah sebuah rekaman para pelaku yang membuat Iren celaka. Gunakan flasdisk itu sebagai bukti." kata Rudi.


"Apa paman yakin??" tanya Nathan menerima flashdisk tersebut dan Rudi mengangguk.


"Jika paman tidak melakukan ini, paman akan merasa malu karena tidak bisa menjaga amanah dari papinya Iren." jawab Rudi.


"Paman, bisa kita bicara di taman rumah sakit??" kata Nathan sambil menoleh ke belakang.


"Mari" ajak Nathan setelah melihat Rudi mengangguk.


"Ar, gue tinggal sebentar" pamit Nathan dan di balas anggukan oleh Arya.


Nathan dan Rudi beriringan berjalan menuju ke taman RS yang tidak jauh dari sana. Mereka menuju ke sebuah bangku tepat di bawah pohon yang sangat rindang.


"Paman.. Sebelumnya Nathan minta maaf" kata Nathan.


"Minta maaf untuk??" tanya Rudi.


"Nathan sudah lancang melihat dan menyimpan hasil rekaman itu dari komputer paman" jawab Nathan.


"Jadi kamu sudah tau??" lirih Rudi.


"Nathan tidak akan melaporkan ke pihak kepolisian jika paman merasa berat, biar mereka yang menyelidikinya sendiri." kata Nathan.


"Tidak, serahkan bukti itu. Mereka harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Paman tidak akan menghalangi langkah kamu untuk Iren. Paman merasa bersalah tidak mampu mendidik Santi.. Maaf kan paman" kata Rudi terisak..


"Paman.. Paman jangan menyalahkan diri paman sendiri. Nathan tidak menyalahkan paman. Nathan tau, paman tidak akan mungkin tega melakukan itu. Nathan yakin, jika paman tau rencana tante Santi, paman pasti akan mencegahnya. Nathan percaya dengan ketulusan paman" kata Nathan mencoba menenangkan Rudi.


"Terimakasih Nathan.. Paman semakin tenang jika Iren tetap bersamamu. Kamu terlihat sangat menyayangi Iren." kata Rudi mengenggam tangan Iren dengan tangan kanannya.


"Pa..." panggil Galih.


Galih berjalan menuju di mana Nathan dan Rudi tengah duduk berdua.


"Nathan serahkan bukti itu segera, jangan ditunda lagi" kata Rudi sebelum putranya benar benar dekat dengan mereka.


"Pa... Sebenarnya apa yang terjadi.. Ada apa dengan mama pa?" tanya Galih


"Galih, paman, Nathan kembali ke dalam ya kasihan Arya sendirian" pamit Nathan yang tidak mau mengganggu masalah pribadi Rudi.


"Baiklah, nanti kami menyusul." kata Rudi.


Nathanpun melangkah pergi meninggalkan Rudi dan Galih.


"Pa... Jawab.." Galih tidak sabar.


"Setelah papa menceritakan apa yang terjadi, papa harap kamu tetap ingin ikut dengan papa.." Rudi terdiam sejenak.


"Papa sudah memutuskan untuk berpisah dengan mama kamu." jawab Rudi sambil menerawang jauh kedepan, sangat jelas ada bayangan Surya di pelupuk matanya.


"Memangnya apa yang terjadi pa??" tanya Galih.


Rudi pun menceritakan semuanya, dari perbuatan mamanya hingga tentang usaha Surya dengan perusahaannya. Rudi menceritakan semuanya, berharap putranya tidak memiliki pikiran yang sama seperti mamanya.

__ADS_1


"Kamu sudah mengertikan Galih?? Itulah sebabnya kenapa papa selalu ingin segera Iren yang mengurus perusahaan bukan kamu" kata Rudi.


"Pa... Jujur, Galih tidak sama sekali berminat bahkan berpikiran untuk mengelola sebuah perusahaan pa. Galih lebih menginginkan menjadi arsitek pa." jawab Galih.


"Papa akan mendukung apa yang kamu inginkan Galih, asal jangan tentang perusahaan. Karena itu bukan hak kita nak.. Papa bangga kepadamu nak" Rudi menepuk pundak putra semata wayangnya itu.


"Galih janji, Galih akan buktikan jika Galih bisa membahagiakan papa. Galih akan buktikan jika Galih mampu pa" kata Galih.


"Terimakasih nak.. Terimakasih" Rudi meneteskan airmatanya.


"Papa jangan menangis ya.. Galih akan bersama papa.. Tapi Galih masih boleh bertemu dengan mama kan pa??" tanya Galih.


"Boleh nak.. Yang penting kamu bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Jangan pernah mau mengikuti bujuk rayu mamamu jika dia mengatakan sesuatu soal persoalan ya nak.." pesan Rudi.


"Ya pa.. Lalu setelah ini kita akan kemana pa??" tanya Galih.


"Sebenarnya papa memiliki sebuah rumah, sudah lama papa membangunnya dan berencana untuk kamu nak. Kita akan tinggal di sana" jawab Rudi.


"Kenapa papa tidak pernah cerita??" tanya Galih.


"Papa ingin memberikan rumah itu jika kamu sudah lulus kuliah nanti nak.. Tapi sayang, sekarang bukan menjadi kejutan lagi" kata Rudi sedih.


"Pa... Galih sangat berterimakasih atas perhatian papa.. Usaha papa yang selalu menyenangkan Galih, menyukupi segala keperluan Galih. Terimakasih pa" peluk Galih.


"Sama sama nak.." Rudi membalas pelukan Galih.


"Papa mau beli makanan, kamu mau ikut papa atau menunggu di dalam??" kata Rudi.


"Galih masuk aja pa" jawab Galih.


"Ya udah kalau gitu, papa ke depan dulu." Rudi berjalan meninggalkan Galih.


Sedangkan Galih memilih masuk ke dalam menyusul Nathan.


#####


"Siapa yang berada di sana??" tanya Yosep.


"Keluarga Arthur dan satu orang lagi yang saya dapat info keponakan Arthur." jawab Danu.


"Ohhh ternyata mereka sudah mendapat kekuatan satu lagi??.. Hmmmm tidak bisa menyerang secara langsung. Kita harus menggunakan orang ketiga agar tidak tercium oleh Arthur dan Nathan.." Yosep tampak berfikir untuk rencana selanjutnya.


"Untuk sementara pantau mereka terus" perintah Yosep.


"Baik tuan.." jawab Danu lalu pergi meninggalkan Yosep.


"Berarti sekarang tidak ada lagi yang mengawasimu Alexander hahahaha" Yosep tertawa.


Yoseppun memanggil beberapa anak buahnya yang menurutnya bisa dipercaya sebagai pengganti Peter. Diapun segera menyusun sebuah rencana.


#####


"Dok, bagaimana keadaan pasien bernama Iren dok??? Apakah saya bisa menemuinya??" tanya Nathan menemui dokter di ruangannya.


"Untuk saat ini kondisi pasien sudah ada kemajuan. Silahkan jika anda ingin menjenguknya. Mudah mudahan ini dapat membantu memulihkan kesadarannya. Dan ingat hanya satu orang yang boleh menjenguk, dan hanya 15 menit berada di dalam" jawab dokter.


"Baiklah dok, terimakasih." jawab Nathan tersenyum.


Nathan kembali ke ruang ICU, dia masuk kedalam dan mengenakan alat Perlindungan Diri lengkap.


Nathan berjalan memasuki ruangan di mana Iren tengah terbaring lemah, ada beberapa selang yang menempel di tubuhnya.


Nathan duduk dikursi samping tempat tidur dimana Iren tengah terbaring. Wajahnya terlihat pucat. Nathan terus menatap Iren dengan tatapan sedih, dia sangat merindukan senyuman yang selalu menghiasi bibir pucat itu.


"Sayang..." kata Nathan lirih.


Tangannya bergerak mengambil tangan Iren yang terpasang selang infus dan menggenggamnya lembut.


"Bangunlah.. Aku sangat merindukanmu.. Tidakkah kamu merindukanku??? Kamu tau??? Aku sangat rindu dengan senyumanmu, rindu dengan tatapanmu.... Aku juga ingin sekali mengulangi ketika kita bisa bernyanyi berdua lagi... Aku sangat merindukanmu Iren.. Bangunlah sayang.. Ayah.. Bunda.. Paman dan yang lainnya juga sangat merindukanmu..." kata Nathan mulai meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Iren.. Aku berjanji, tidak akan jauh darimu lagi.. Aku akan selalu bersamamu, aku akan menjagamu. Apapun yang terjadi.. Sayang bangunlah.. Aku sangat sangat merindukanmu Iren." Nathan semakin terisak.


"Sulit rasanya bagiku untuk kembali bernafas lega melihatmu yang terus memejamkan matamu selama ini Iren... Hari hariku gelap Iren. Sebesar apapun kekuatanku terasa tidak ada gunanya jika aku tanpamu... Aku seperti bunga yang mulai layu tanpa kamu yang tidak lagi ada untuk menyirami aku dengan senyumanmu, dengan semangatmu.. Iren, aku mohon kembalilah.. Bangunlah sayang" air mata Nathan semakin deras.


#####


Iren kini tengah berjalan entah tidak tau arah, semua serba putih. Tidak ada apapun disekitarnya. Iren terus berjalan hingga tiba tiba terlihat setapak jalan. Dengan semangat dia mengikuti jalan itu. Iren terus menyusuri jalan itu hingga tiba di sebuah danau yang sangat indah. Hingga Iren melihat kedua orang tuanya hendak menaiki sebuah perahu.


"Papi... Mami..." panggil Iren.


Iren menghampiri kedua orang tuanya.


"Papi, Mami.. Iren ikut.. Iren ga mau ditinggal lagi" kata Iren menarik tangan maminya.


"Nak.. Kembalilah... Di sana banyak orang orang yang sangat menyayangimu, mereka sedang menunggumu nak. Kembali lah nak.." kata mami Iren lembut.


"Benar sayang, mereka sedang cemas menunggumu.. Kembalilah.. Kamu tidak sendiri lagi. Ada mereka yang akan selalu bersamamu" kata papi Iren menambahkan.


"Iren ingin ikut mami dan papi. Biarkan Iren ikut Mi.. Pi. Iren mohon.." Iren mulai menangis.


"Sayang, ikuti kata mami dan papimu ya nak.. Kembali lah.. Kamu tidak sendiri lagi sayang.. Ada mereka yang akan selalu bersamamu dan menjagamu. Percayalah." kata Mami Iren yang mulai masuk ke dalam sebuah perahu kecil di bantu oleh papi Iren.


"Papi... Mami...!!" panggil Iren sambil mengulurkan tangannya.


Papi mami Iren perlahan menjauh dari tempat Iren berdiri. Iren berlutut sambil mengulurkan tangannya dan berteriak memanggil orang tuanya.


"Iren... Kembalilah sayang.. Aku mohon" suara Nathan.


"Nathan..." bisik Iren.


Iren bangun berdiri, mencari sumber suara.


"Nathan!!!" panggil Iren.


"Iren.. Kembalilah sayang, aku mohon.." suara Nathan lagi.


"Nathan... Tunggu aku Nathan..." kata Iren.


Iren berlari mencari sumber suara itu, hingga dari kejauhan Iren melihat sosok Nathan berdiri sedang mengulurkan tangannya kearahnya. Iren berlari menghampirinya, Iren menggapai tangan Nathan dan langsung memeluknya.


#####


Tangan Iren dalam genggaman Nathan bergerak. Nathan langsung mendongakkan kepalanya dan mengamati tangan Iren yang tengah bergerak. Nathan terkejut, reflek dia menekan tombol merah untuk memanggil dokter.


"Iren... Kamu sudah sadar.." kata Nathan khawatir campur senang.


Tidak lama kemudian terdengar suara langkah berdatangan memasuki ruang ICU.


"Maaf pak, anda lebih baik keluar dahulu. Biarkan dokter memeriksa kondisi pasien." kata salah satu perawat.


Nathan mengikuti permintaan perawat tersebut.. Nathan berjalan keluar dari ruangan Icu. Sesampainya di luar Nathan di berondongi berbagai pertanyaan.


"Nathan, apa yang terjadi dengan Iren??? Apa dia tidak apa apa??? tidak terjadi yang sangat seriuskan??" tanya Rudi tampak khawatir.


"Iren sudah siuman paman dokter sedang mengecek kondisi Iren kembali" jawab Nathan.


"Syukurlah kalau begitu" jawab Rudi lega.


Nathan mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sang ayah. Setelah selesai berbicara, Nathan kembali duduk di samping Arya menunggu dokter.


"Than, kita jenguk Ririn yukk sekalian tunggu kabar Iren. Dari kemarin belum menengok Ririn" ajak Arya.


"Ayok.." jawab Nathan.


"Paman, Nathan dan Arya mau jenguk Ririn dahulu ya. Nanti tolong berikan kabar tentang Iren" pamit Nathan.


"Baiklah.." jawab Rudi.


Nathan dan Arya meninggalkan Rudi dan Galih yang sedang menunggu kabar dari dokter. Sudah semenjak Ririn dipindahkan ke ruang perawatan Nathan Dan Arya tidak menjenguk Ririn, kini mereka ingin melihat keadaan Ririn sekaligus ingin memberikan kabar jika Iren sudah siuman.

__ADS_1


__ADS_2