
Nathan kembali ke kamarnya, namun saat hendak memasuki kamarnya ponselnya berdering.
"Hallo.." Nathan menerima panggilan tersebut.
"Than, loe sama Iren kemana si? Dari kemaren pada ga pulang. Mobil Iren aja masih terparkir tuh di kampus. Kalian ke mana si??" tanya Ririn khawatir.
"Duhh, cari alasan apa ya??" batin Nathan.
"Emmm kita lagi di rumah gue.. Kemaren tuh ternyata Iren sakit, jatuh pinsan. Gue di kabarin Iren di bawa ke klinik. Trus gue di suruh nyokap buat di bawa pulang. Nyokap pengen ketemu Iren juga" alasan Nathan.
"Pinsan??? Trus gimana keadaan dia??" tanya Ririn.
"Dia lagi istirahat" jawab Nathan.
"Trus ponsel Iren kok ga aktif ya??" tanya Ririn lagi
"Ahhh iya, dari kemaren gue juga ga lihat ponsel dia. !anti deh gue tanyain ya.." jawab Nathan.
"Oohhh ya udah.. Kalo ada apa apa kabarin ya" pinta Ririn.
"Ok.." jawab Nathan lalu mematikan sambungan teleponnya.
Setelah selesai berbicara, Nathan mencoba melihat kondisi Iren. Pelan Nathan membuka pintunya. ternyata Iren tidak tidur.
"Iren.. Kamu ga tidur??" tanya Nathan lirih.
Iren hanya menggelengkan kepala dengan wajah sendunya.
"Kamu sudah baikan? apa yang kamu rasakan sekarang? mana yang sakit?" tanya Nathan duduk di samping ranjang Nathan.
"Sudah lebih baik" jawab Iren.
"Mmm ya udah kamu istirahat dulu ya.. Aku juga ingin istirahat" kata Nathan tersenyum.
Iren hanya mengangguk. Iren terus memikirkan kejadian kemaren. Sangat jelas orang itu mengatakan bahwa gara gara dia nyawa Nathan dalam bahaya. Sempat terfikir oleh Iren, andai jika mereka tidak dekat mungkin Nathan tidak akan membahayakn dirinya untuk menyelamatkannya bahkan ayah sekalipun. Iren bingung, dia merasa dirinya lah pembawa masalah itu. Lama kelamaan Iren pun tertidur dengan sendirinya.
Hari semakin siang, Iren terbangun dari tidurnya.
"Sudah bangun nak?? Ini tadi ayah buatin kamu jamu.. Di minum ya biar badan mu lebih segar." kata bunda.
"Terimakasih bun." jawab lirih Iren.
"Mau di minum sekarang atau nanti?? Setelah itu baru makan.." kata bunda duduk di samping Iren.
"Sekarang aja bun" jawab Iren seraya memposisikan dirinya untuk duduk.
Bunda pun memberikan secangkir jamu racikan ayah. Iren menerimanya dan langsung meminum jamu tersebut dengan wajah yang menahan rasa pahit.
"Pahit ya?" tanya bunda dengan wajah tersenyum.
"Ini penawar rasa pahitnya" kata bunda memberikan segelas kecil penawar rasa pahitnya dan Iren pun meminumnya.
"Bun, Iren boleh keluar?? Iren bosen di kamar terus" tanya Iren.
"Memangnya kamu sudah enakan??" tanya bunda memegang tangan Iren.
__ADS_1
"Iren sudah lebih baik bun" jawab Iren.
"Ya udah kalau memang sudah lebih baik, jangan jauh jauh ya nak." jawab bunda.
"Iya bun.. Iren hanya ingin ke halaman belakang bun." jawab Iren.
"Ya udah kalau gitu, jangan capek capek dulu ya" pesan bunda sembari memberesi gelas kosong di meja.
"Biar Iren aja bun" cegah Iren..
"Sudah gapapa. Kalau pengen mandi, bunda sudah ambilin baju buat Iren. Tapi maaf kalau bajunya jadul ya.. Itu baju bunda dulu saat seumuran kamu" senyum bunda.
"Terimakasih bunda" Iren memeluk bunda.
"Ya udah bunda ke dapur dulu ya.." kata bunda.
Iren hanya mengangguk. Sebelum keluar kamar, Iren memilih membersihkan badannya dahulu yang terasa lengket.
Saat mengenakan baju bunda, Iren merasa menyukai dress tersebut yang sangat pas di tubuhnya. Dress panjang selutut bercorak kembang kembang dengan warna dasar krem. Iren merasa nyaman memakai dress tersebut.
Iren keluar kamarnya, dia berjalan menuju halaman belakang. Saat hendak melewati pintu belakang, bunda yang keluar dari dapur melihat Iren.
"Waahhh putri bunda ternyata cantik sekali.. Cocok banget ini dress di kenakan kamu sayang" kata bunda memegang pundak Iren seraya mengamati Iren.
"Bunda bisa aja, dressnya nyaman bun" jawab Iren.
"Kamu suka??" tanya bunda.
Iren hanya mengangguk dengan bibir yang menyunggingkan senyuman.
"Terimakasih ya bun, Iren ke halaman belakang ya bun." kata Iren.
"Ya udah bunda juga mau bantuin bibi masak dulu" kata bunda.
Di halaman belakang terdapat taman kecil, dimana bunda sering menghabiskan waktunya di sana jika sedang sendirian di rumah. Iren memilih duduk di bangku taman yang membelakangi rumah.
Iren duduk terdiam, di dalam kepalanya begitu banyak pikiran pikiran yang terus berputar putar.. Ada rasa ketakutan, tekanan, kekhawatiran, dan rasa bersalah dari setiap kejadian. Dari Cindy, Putri hingga penculikan. Iren berfikir, apa yang akan terjadi jika dia terus bersama Nathan dan keluarga ini.
Iren akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumahnya besok, dan mengambil cuti kuliah dulu. Dia akan menerima tawaran Rudi untuk ikut mengurus perusahaannya.
Keputusan Iren sudah bulat, sementara waktu dia akan menghindar dulu. Dia hanya ingin menenangkan dirinya. Iren kembali masuk ke dalam rumah.
"Bun, Iren pulang ke kost ya.. Iren harus mengambil mobil Iren" kata Iren.
"Pulang?? Apa kamu sudah baikan Iren?? Wajah kamu masih pucat" bunda berat mengijinkan Iren kembali pulang.
"Iren sudah baik baik saja bun.. Iren dah pulih kok" bujuk Iren..
"Ya udah nanti sore sorean bareng Nathan ya, biar sekalian.." kata bunda saat sedang menyiapkan makan siangnya.
"Iren harus segera bun.. Tidak enak terlalu lama meninggalkan mobil di kampus.. Iren juga takut Ririn khawatir dengan keadaan Iren yang ngilang ga ada kabar. Soalnya ponsel Iren kemaren disita sama orang itu" jelas Iren.
"Ya udah kamu makan siang dulu ya, bunda bangunin Nathan dulu" kata bunda akhirnya.
"Ga usah bun, biar Iren sendiri.. Kan bisa pesan taxi" kata Iren yang merasa enggan merepotkan Nathan kembali.
__ADS_1
"Ga ga tidak boleh.. Kalau Iren mau pulang, harus di antar oleh Nathan." bunda menolak.
"Baik bunda.." jawab Iren.
"Ya udah Iren makan dulu ya.. Bunda bangunin Nathan sebentar" kata bunda memegang pundak Iren.
Bunda menginggalkan Iren di meja makan sendirian.
"Lohh yang lain kemana nak?" tanya ayah.
"Emm.. Bunda lagi ke kamar Nathan yah bangunin Nathan" jawab Iren.
"Ayah.. Terimakasih ya sudah menyelamatkan Iren.. Maaf Iren merepotkan terus.." kata Iren menundukan kepalanya.
"Nak.. Jangan ngomong gitu ya.. Kamu sudah kamu anggal anggota keluarga kami. Anak ayah dan bunda. Jangan pernah merasa menjadi orang lain dengan kami ya." kata ayah lembut.
"Terimakasih sekali ayah.. Iren benar benar bersukur bisa mengenal ayah, bunda dan Nathan.. Maaf kalau adanya Iren membawa masalah buat ayah dan Nathan." kata Iren lagi.
"Nakk.. Kamu jangan bilang gitu ya.. Dahh jangan bahas ini lagi.." kata ayah.
#####
Tok..tok..tok..
"Nathan... Than..." panggil bunda.
Ceklekk...
Bunda membuka pintu kamar Nathan.
"Nathan bangun nak.. Ayoo makan, terus antar Iren pulang.." bunda menggoyang goyangkan kaki Nathan pelan.
"Huaaammmm... Pulang???" kata Nathan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Iya, Iren ingin pulang sekarang.. Bunda dah bujuk pulang sore dia ga mau" kata bunda menjelaskan.
Nathan bangun dari tempat tidurnya.
"Nathan mandi dulu ya bun.." jawab Nathan.
Bunda meninggalkan kamar Nathan dan kembali ke ruang makan.
"Ayah dah di sini??? Bunda padahal mau nyamperin ayah ke ruang kerja" kata bunda.
"Ayah dah lapar bund.." kata ayah.
"Nathan mana bun?" tanya ayah lagi..
"Nathan lagi mandi, makan aja dulu.. Biar Nathan nyusul lagi" jawab bunda.
Mereka bertiga pun makan, tidak lama kemudian Nathan turun. Dan saat melihat Iren mengenakan dress milik bunda. Nathan sempat terpesona dengan kecantikan Iren memakai dress itu. Sangat cocok, terlihat manis.
"Wahh ayah baru sadar, kalau Iren memakai dressnya bunda.. Cocok banget bun" kata ayah tersenyum mengetahui putranya itu terpukau dengan Iren.
"Ayahh iihhh kebiasaan.." kata Nathan yang tau ayahnya membaca pikirannya.
__ADS_1
Ayah hanya tersenyum jahil begitupun bunda. Sedangkan Iren hanya tersenyum tipis. Mereka pun menikmati makan siang bersama.