Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
akhirnya


__ADS_3

Waktu yang ditunggu tunggupun sudah tiba, acara pernikahan Arya dan Ririn berjalan dengan lancar. Mereka kini sudah sah menyandang status suami istri.


Setelah acara selesai seluruh keluarga sejenak beristirahat. Terutama kedua mempelai yang bergegas menuju ke kamar pengantin mereka.


"Kamu mau mandi dulu atau aku mas?" tanya Ririn ke Arya.


"Kamu aja dulu. Kamu pasti sudah sangat gerahkan? " jawab Arya.


"Iya.. Ya udah aku duluan ya" kata Ririn.


Arya hanya mengangguk sambil melepaskan jas yang masih melekat di tubuh kekarnya.


Ririn masuk kedalam kamar mandi sesaat dan hampir 15 menit kemudian dia kembali keluar.


"Loh, kok belum mandi?" tanya Arya yang melihat sang istri masih sama seperti ketika masuk.


"Hehehe, hmmmm boleh minta tolong ga?" tanya Ririn ragu.


"Boleh, minta tolong apa?" tanya Arya bangun dari duduknya.


"Tolong bantu aku menurunkan resleting, tangan aku ga nyampe" pinta Ririn.


"Ya ampuunn, kenapa ga dari tadi? Sini, kamu balik badan" kata Arya.


Ririn memutarkan tubuhnya memunggungi Arya. Aryapun perlahan mulai menurunkan resleting gaun milik Ririn.


Saat tangan Arya bergerak turun, ada desiran aneh pada tubuh Ririn. Ini hal pertama kali yang dia rasakan. Perlahan, gaun itu terbuka dan memamerkan punggung mulus, dan putih milik Ririn.


Arya menelan salivanya mencoba mengontrol dirinya, namun tangannya tanpa sadar mengusap punggung Ririn dengan punggung tangannya.


Ririn terkejut merasakan tangan Arya menempel di punggungnya. Seketika, tubuhnya merasa meremang.


"Eghmm ma.. Mas.. Aku permisi mandi dulu ya.. Gerah" pamit Ririn gugup.


"Aahhh i.. Iya.. Maaf" jawab Arya keget.


Ririnpun bergegas melesat ke arah kamar mandi dan bergegas membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower.


Tak berapa lama, Ririn keluarga dengan rambut basahnya. Arya yang masih mengingat kejadian tadi membuatnya merasa canggung sendiri, padahal hal tersebut sah sah saja mengingat mereka telah sah menjadi suami istri.


#####


Waktupun terus berlalu. Kini Ririn dan Arya sudah kembali ke kota kembang. Mereka berdua menempati unit apartemen milik Iren yang sudah Iren berikan untuk mereka berdua.


Hari haripun berjalan seperti biasa, yang membedakan hanya kini Arya selalu mengantar jemput sang isyri, dan mereka akan bersama sama kembali ke apartemen setelah bengkel tutup dan tidak jauh dengan Nathan dan Iren, hanya saja berhubung sedang berbadan dua, jadi Nathan akan langsung mengantar Iren ke apartemen. Nathan tidak ingin Iren merasa kelelahan.


"Yank.. Aku ikut kamu ya kebengkel.. Aku bosan di rumah sendirian" rengek Iren.


"Tapi nanti kamu kecapean sayang.. Ingetkan kata bu Jasinta, kamu harus banyak istirahat." tolak Nathan halus.


"Ayolaahh yank, lagian aku di bengkel juga cuma jadi mandor paling juga ngontrol perkembangan proyek, itu aja cuma duduk duduk di lepan laptop. Ada Ririn juga di sana" rengek Iren.


Mendengar rengekan Iren, Nathanpun. Menjadi tidak tega. Akhirnya dia mengijinkan Iren untuk ikut bersamannya.


"Ok, boleh ikut.. Tapi kita makan siang dulu" perintah Nathan..


"Baik sayangku" jawab Iren senang.


Merekapun kembali meninggalkan bastman untuk mencari makan siang dan langsung menuju ke bengkel.


Tak lama kemudian, Nathan memilih sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari bengkel Arya. Mereka berdua menikmati makan siang mereka.


Setelah menikmati makan siang mereka, mereka menuju ke bengkel Arya.


Hanya membutuhkan waktu 10 menit dari restoran ke bengkel Arya. Terlihat bengkel Arya ramai dengan mobil mobil yang membutuhkan service.


Sebelum mereka keluar dari mobil, sejenak Nathan mengelus perut Iren yang sudah sedikit membuncit. Nathan melepas safety Belt dan menunduk ke perut Iren.


"Anak ayah.. Jangan bikin repot bundamu ya sayang. Repotkan saja ayah gapapa. Jangan membuat bundamu kesusahan ya nak" kata Nathan mengelus perut Iren.


"Iya ayah" jawab Iren mengikuti suara anak kecil.


Nathan menatap lembut sang istri dengan tersenyum.


Cup..


Sebuah kecupan mendarat di kening Iren. Iren menikmati kecupan sesaat itu.


"Ayok" ajak Nathan.


Merekapun turun dan masuk ke dalam bengkel menuju kesebuah ruangan yang hanya dikhususkan untuk sang pemilik.


Di sana, terlihat Ririn dan Arya baru saja selseai menyantap makan siang mereka.


"Heii kalian akhirnya datang juga. Kalian dah makan?" tanya Ririn.


"Sudah kok" jawab Iren.


"Aku ganti baju dulu ya yank. Inget jangan capek capek" pesan Nathan.


"Iya" jawab Iren.


Tanpa terasa, kehamilan Iren sudah memasuki kurang lebih minggu ke 38. Dan sang bunda memilih menemani Iren di apartemen mengingat ini pengalaman pertama bagi Iren dan Nathan.


Detik detik kelahiran semakin dekat. Prediksi minggu depan akan melahirkan. Semua persiapan sudah masuk ke dalam tas yang sudah standbay.

__ADS_1


Dan Iren sudah mulai bercuti kuliah sejak satu bulan yang lalu. Dan saat ini dia di temani sang bunda berada di apartemennya. Beberapa kegiatan masih dia lakoni, seperti memasak menyapu dan pekerjaan ringan yang lainnya.


"Yank, ku berangkat dulu ya. Inget hati hati awas jika di kamar mandi. Jika terjadi sesuatu segera hubungi aku" pesan Nathan.


"Iya sayang, kan dah ada bunda di sini" jawab Iren.


Nathan pun berjongkok dan tangannya mengusap ngusap perut Iren.


"Anak ayah. Jangan bikin repot bunda ya nak.. Segeralah keluar, ayah sudah sangat ingin bertemu dengan mu" kata Nathan.


"Siap ayah.." jawab Iren lagi lagi menirukan suara anak kecil.


Nathanpun langsung beranjak pergi menuju kampus. Tidak lupa sebelum benar benar pergi dia mengecup kening Iren sebagai rutinitasnya sehari hari.


"Ren.." panggil bunda.


"Ya bun.." jawab Iren....


"Apa kalian selama ini sudah USG calon cucuku?" tanya bunda.


"Sudah bun." jawab Iren.


"Laki laki atau perempuan?" tanya binda.


"Ga tau bun.. Kami sepakat tidak menanyakannya bun. Buat kejutan nanti" senyum Iren.


"Iya benar.. Entah laki laki atau perempuan sama saja. Sama sama anugerah dari sang maha kuasa" kata bunda.


"Bun, sejak pagi perut Iren suka merasa kram bun. Sakit" kata Iren.


"Apakah itu sering?" tanya bunda.


"Belum terlalu sering si bun" jawab Iren.


"Sepertinya dia sudah ingin bertemu dengan bunda dan ayahnya" senyum. Bunda sembari mengelus perut buncit Iren.


Dan setelah mengatakan itu, bunda merasa sang calon cucu memberikan reaksi dengan menendang nendang perut Iren.


"Awwww.." teriak Iren.


"Sakit?" tanya bunda kembali mengelus.


"Cucu eyang, jangan nakal ya.. Lihat tuhh bunda kesakitan" kata bunda berbicara tepat di depan perut buncit Iren.


"Awwww bunda.." teriak Iren lagi


"Apa masih sakit nak?" tanya bunda.


"Aahh i.. Iya bun.. Ini semakin sakit bun aawww" kata Iren memahan sakit.


Iren hanya mengangguk. Diapun segera meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Nathan.


"Halo yank.." jawab Nathan.


"Ya... Yank.. Kamu kembali.. Pe.. Perutku sakit" kata Iren menahan rasa mulas di perutnya.


"Iya.. Iya aku kembali ke atas tunggu sebentar sayank" jawab Nathan segera memutuskan panggilan telepon itu.


"Ayo nak.. Bunda bantu" kata bunda yang sudah menggendong sebuah tas.


"Na.. Nathan sedang kembali bun.." jawab Iren.


"Ahhh baiklah" jawab bunda.


Bunda terus meminta Iren untuk menarik nafas sesuai petunjuk bunda. Tidak lama kemudian, Nathan tiba dan langsung menggendong sang istri. Bunda mengikuti langkah Nathan, mereka segera menuju ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Iren lansung mendapatkan penanganan karena air ketuban sudah pecah. Hanya tingga menunggi pembukaan sempurna.


Membutuhkan waktu hampir 3 jam untuk mendapatkam pembukaan sempurna, dan selama itu pula Iren menahan rasa mulas di perutnya. Dan sesekali dia berjalan jalan dan terkadang berjongkok.


Setelah pembukaan sempurna, Iren langsung di bawa ke ruang bersalin. Dan di ruang tersebutlah perjuangan terakhir Iren. Nathan ikut menemani perjuangan Iren.


"Bu Iren, ingat saat mengejan nanti jangan menutup mata untuk menghindari kebutaan dan jangan berteriak ya agar tenaga ibu tidak terbuang sia sia. Tunggu aba aba saya ya" pesan sang dokter.


Iren sudah menggenggam erat tangan Nathan, Iren tengah bersiap untuk menerima aba aba dari sang dokter, tiba tiba sang dokter memberi aba aba.


Irenpun mengejan sekuat tenaga.


"Ayo mbak, sedikit lagi." kata sang dokter


"eghhhhhh" ejan Iren dengan meremas tangan Nathan sekuat tenaga.


"Ya ambil nafas dulu. Tunggu aba aba saya" kata dokter.


"Hufh... Hufh... Hufh.." Iren mengambil nafas dalam dalam dengan keringat bercucuran di keningnya tidak tertinggal demgan air matanya yang terus mengalir.


Nathan dengan telaten mengusap keringat dan air mata Iren.


"Sedikit lagi sayang.. Sedikit lagi.. Kamu pasti bosa... Sebentar lagi kita akan bertemu dengan dia" kata Nathan.


Perjuangan Iren terua berlanjut dan hingga alhirnya suata tangisan bayi melengking begitu kuat. Nathan dan Iren sangat mengucap syukur atas kelahiran putra pertamanya itu.


Namun tiba tiba, kesadaran Iren mulai menurun. Dan Nathan yang menyadari itu seketika panik.


"Ren.. Ren.. Sayank.. Dokter, ini istri saya kenapa dokter?" tanya Nathan.

__ADS_1


Dokter langsung memeriksa keadaan pasien. Dan salah satu perawat meminta Nathan untuk keluar.


"Tidak.. Tidak.. Saya ingin bersama istri saya" tolak Nathan dengan mata mulai berembun.


"Mohon kerja samanya pak. Biarkan dokter yang menangani pasien. Jika bapak tidak mau bekerja sama maka dokter akan kesulitan untuk memeriksa pasien." kata salah satu perawat itu.


Dengan gontai, Nathan keluar dari ruang persalinan tersebut. Bunda dan ayah yang melihat itu langsung mendekati sang putra.


"Ada apa nak? Bagaimana keadaan anak kalian? Bagaimana dengan Iren?" tanya bunda.


"Putraku baik baik saja bunda. Tapi Iren tiba tiba kehilangan kesadarannya" ucap Nathan menangis.


Bunda terkejut dan lalu memeluk sang putra.


"Percayalah, semua akan baik baik saja" kata bunda menenangkan meski sejujurnya hatinya jiga gelisah.


"Nathan, jika kamu takut kehilangan dirinya. Maka rubahlah Iren sama sepertimu" kata ayah tiba tiba.


"Maksud ayah?" tanya Nathan menatap lekat sang ayah.


"Ya, hanya dengan merubah Iren dia akan selamat" jawab ayah.


"Bagaimana caranya?" tanya Natha menatap sang ayah.


"Gigitlah dan keluarkan racun yang tersimpan di taringmu, dia akan keluar dengan sendiri." kata ayah.


"Tapi ayah...." kata Nathan terpotong.


"Keluarga pasien Iren" panggil ssang dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Nathan.


"Maaf, kami gagal menyelamatkan pasien" jawab sang dokter.


"Tidak tidak tidak.. Aku mohon, usahakan lagi dokter.. Jangan biarkan istri saya meninggal dok..aku mohon" tangis Nathan.


Arya dan Ririn yang baru tiba pun merasa syok mendengar kata kata Nathan. Ririn seketika itu langsung menangis, tidak menyangka sahabatnya akan pergi secepat itu.


"Bolehkah kami menengoknya sebentar dok?" tanya ayah.


"Silahkan..dan saya mohon diri. Sebelumnya saya mengucapkan turit berduka cita pak. Sekali maafkan saya" pamit samg dokter.


Ayahpun bergegas masuk ke ruang bersalin dan menuju ke brankar pasien. Terlihat di sana, terlihat Iren sudah memejamkan matanya dengan sebuah senyuman yang samar meski wajahnya terlihat sangat pucat.


"Nathan.." panggil ayah.


"Dia masih bisa di selamatkan" kata ayah.


Mendengar itu pun Nathan langsung bersemangat.


"Apa ayah yakin?" tanya Nathan.


"Sangat yakin, cepat rubah dirimu dan rubah Iren. Kami akan mengawasi di dean pintu.


Merekapun menjaga di depan pintu dan mencegah jika ada seorang perawat yang hendak masuk ke dalam ruang bersalin dengan alasan Nathan masih ingin bersama sang istri.


Melihat situasi terkendali, Nathan merubah dirinya menjado Harimau putih. Dan tanpa menunggu lama, Nathan menggigit Iren pada bagian leher sesaat dan menunggu sesaat.


Setelah itu Nathan kembali merubah dirinya menjadi manusia biasa. Dia terus mengamati keadaan Iren. Nathan terus menunggu, lama dia menunggu reaksi dari racun yang dia berikan. Susah tidak sabar lagi dia menunggu bahkan hampir putus asa.


"Sayang, kenapa kamu tega meninggalkanku seorang diri. Bahkan kamu belum sempat melihat putra kita yang sanagt rupawan sepertimu bangunlah sayang.. Jangan tinggalkan aku. Kami masih sangat membutuhkanmu terutama putra kita. Aki mohon sayang" kata Nathan menangis dengan menggenggam erat tangan Iren.


Nathan terkejut saat tanpa sengaja melihat bekas luka di leher Iren perlahan menghilang, dan tak berapa lama kemudian tangan Iren bergerak. Wajah Iren perlahan tampak lebih segar. Dan ada tanda tanda Iren kembali bernafas.


Nathan langsung menatap Iren untuk memastikan lagi.


"Sayang, kamu selamat.." tangis Nathan memciumi tangan Iren dan wajah Iren." kata Nathan.


Sedangkan diluar terdengar suara tangisan bayi yang melengking sangat kuat. Nathan langsung keluar kamar dam memgambil sang putra dari tangan bunda.


"Serahkan padaku bun, putraku sepertinya ingin bertemu dengan sang bunda" senyim Nathan.


"Apa artinya Iren selamat?" tanya bunda.


Nathan hanya mengangguk dan menerima sang putranya. Dia membawa putranya itu masuk kedalam.


Saat bayi itu Nathan dekatkan ke Iren, tiba tiba saja tangisan sang putra berhenti dan terlihat mendongakkan kepalanya untuk menatap sang bunda.


"Lihatlah sayang, ini putra kita. Bahkan sekecil ini tau merasakan kehadiranmu sayang" ucap Nathan memeluk kedua mahluk yang sangat dia cintai.


Perlahan Iren membuka matanya dan mengusap kepala Nathan. Semua yang menyaksikan itupun menangis haru.


"ini sebuah keajaiban" kata dokter.


TAMAT


######


MAAFKAN author yang mulai jarang up..


Dan maafkan author jika ceritanya kurang menarik.


Author masih dalam tahap belajar. Terimakasih untuk kalian yang selalu suport author..


I love u all 😘😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2