
Mereka pun selesai menikmati sarapan mereka.
"Nanti malam gue mau ngajak loe dinner. Ga ada penolakan" kata Peter yang langsung jalan menggandeng Iren setelah tiba di area kampus.
Iren hanya menatapnya jengah. Iren benar benar merasa tertekan. Dia merasa seperti dalam penjara, tidak merasa sebebas dahulu. Bahkan sekarang hanya ingin mengobrol dengan Ririn pun dia merasa terbatasi.
"Ren..." panggil Ririn dari arah belakang.
"Loe sendirian??" tanya Ririn.
"Sama Peter, tapi dia dah masuk kelas duluan." jawab Iren lesu.
"Ren, kalo loe merasa tertekan dengan Peter.. Udah tinggalin aja si.." kata Ririn.
"Gue ga bisa Rin" jawab Iren.
"Kasih gue alesan" kata Ririn.
Iren hanya menggeleng, dia benar benar menutup dirinya.
"Gue masuk kelas dulu ya Rin.. Bay" kata Iren.
"Bay" jawab Ririn.
"Naahhhh ini ni orang.. Hehhh loo mu**han.. Udah selesai kencan sama tadi tuh cowok.. Ehhh kalian... Ada yang mau daftar kencan ga sama Iren.. Gratiiisss hahahaha" tawa Cindy.
Brakkk...
Tiba tiba Nathan melempar kursi di depannya dan mendekati Cindy.
"Jaga omongan loe ya... Jangan pernah sekalipun loe menghina Iren dengan mulut bu**k loe ini" kata Nathan mencengkeram rahang Cindy.
"Awww...aaww.. Sakit Than... Sakiiitt" kata Cindy.
Nathan melepas cengkeramnya dan menoleh ke Iren.
"Kamu ga papa kan?" tanya Nathan.
Iren menggeleng "gapapa.. Makasih"
Iren menuju ke bangkunya dan tidak lama kemudian dosen masuk.
Malam harinya, Peter menjemput Iren pukul 7 malam. Peter mengajak Iren keluar untuk makan malam bersama. Berbagai macam usaha Peter lakukan agar bisa tetap bersama Iren. Selain tugasnya, tapi juga karena perasaannya yang tertarik terhadap Iren.
☘☘☘☘☘
Sudah lebih dari sebulan Iren mengikuti perintah Nathan agar tetap bersandiwara mengikuti permainan Peter dan bosnya.
Pagi ini seperti biasa, Peter selalu menjemput Iren untuk kekampusnya dan pergi sarapan bersama. Setelah sampai di kampus mereka baru menuju ke kelas masing masing. Meski mereka berbeda kelas, namun tidak ada kesempatan sedikitpun bagi Iren untuk kabur atau hanya untuk menemui Nathan. Karena di sekitar Iren banyak yang memata matai setiap gerak gerik Iren.
Jam pertama pun dimulai, pertemuan kali ini hanya diisi gambaran gambaran untuk menyusun sebuah laporan untuk PKL mereka nanti.
Dua jam kemudian makul pertama selesai.
"Anak anak.. Minggu depan pertemuan kita terakhir.. Ibu harap mulai dari sekarang kalian sudah mendapatkan bayangan akan PKL di mana dan mulai menentukan judulnya sesuai tempat kalian PKL. Selamat siang" kata sang dosen.
Setelah kepergian dosen, Iren langsung keluar dan memilih ke perpustakaan.
Ting..
"Loe di mana??" pesan dari Ririn.
"Perpus" balas Iren.
Ting.
"Ga makan??" bales Ririn.
"Belum laper" jawab Iren.
Ting.
"Loe di mana??" pesan dari Peter.
"Perpus" balas Iren.
"Cepat keluar.. Gue tunggu" balas Iren.
Dengan terpaksa Iren keluar dari perpus. Malas rasanya untuk menemui Peter.
"Ada apa?" tanya Iren datar.
__ADS_1
"Ikut gue" ajak Peter menggandeng Iren.
"Lepasin!!! Gue ga mau ikut loe!" Iren menarik tangannya.
"Gue mau nyari bahan buat PKL gue bulan depan" kata Iren lagi dingin.
"Ikut.. Atau.." ancam Peter.
Mau tidak mau Iren pun mengikuti Peter. Nathan melihat itu semua. Ada rasa sakit di hatinya melihat Iren sangat tertekan. Namun sampai saat ini, dia belum menemukan cara untuk melepas Iren. Mengingat korbannya adalah paman Rudi.
Peter membawa Iren ke parkiran yang cukup sepi, karena sebagian ada yang pulang dan ada yang masih ada kelas.
Dan mereka masuk ke dalam mobil Peter.
Peter mengendarai mobilnya.
"I..ini kan arah ke apartemen ku" tanya Iren..
Peter hanya diam.. Yang ada di dalam pikiran Peter hanya bagaiaman caranya agar Iren tetap bersamanya. Karena dia sudah mengetahui bahwa malam itu Nathan menyelinap masuk ke dalan apartemen Iren.
Setelah sampai di depan unit Iren, Peter memintanya untuk membuka pintu.
"Masuk" kata Peter dingin.
Brak...
Peter menutup pintu itu dengan sangat kencang.
"Iren... Iren... Iren.. Jangan di kira gue bodoh.." kata Peter.
"Ma....maksud loe" kata Iren takut melihat wajah Peter.
"Loe pikir gue ga tau.. Waktu itu Nathan pernah datang kemarikan menemuimu??" tebak Petee.
Deg..
Sesaat jantung Iren terasa berhenti.
"Ti..tidak" jawab Iren gugup.
"Jangan bohong!!!" bentak Peter yang mulai melangkah mendekati Iren.
Iren tersentak kaget mendengar bentakan Peter.. Setitik air mata lolos dari mata Iren.
"Ti..tidak jangan.. Gue mohon.. Mereka tidak tau apa apa.. Bunuh saja gue.. Mereka tidak bersalah" isak tangis Iren merasa ketakutan..
Peter mengungkung Iren dengan kedua tangannya.
"Hahahaha bunuh loe?? tidak semudah itu.. Jika pun gue mau sudah sejak awal gue bunuh loe" kata Peter dingin.
"Maafin gue.. Jangan apa apakan mereka.. Aku mohonn..Mereka tidak bersalah.." pinta Iren memohon.
"Ok ok.. Gue ga bakalan aduin hal ini ke bos.. Tapi.." kata Peter dengan senyum smirknya.
"Ta..tapi" kata Iren.
"Loe harus bikin gue seneng" bisik Peter sambil memegangi rambut Iren.
"Ma..maksud loe???" tanya Iren terkejut.
Peter memegang rambut Iren lalu menciumnya.
"Rambutmu wangi dan indah, se indah orangnya" senyum Peter.
"Gu...gue mohon jangan.." kata Iren semakin ketakutan.
"Loe harus jadi milik gue Ren.. Gue menyukai loe.. Ga ada yang boleh memiliki loe selain gue.. Hanya ini satu satunya cara agar loe menjadi milik gue." bisik Peter dengan tangan mengelus bagian belakang kuping Iren.
"Ja..jangan.. gue mohon.. Maafkan gue.. Gue mohon jangan... Gue ga bakalan ngulangin lagi" Iren semakin ketakutan.
"Nathan.. Tolongin aku... Hikksss... Nathan.." batin Iren.
☘☘☘☘☘
Di kampus, tiba tiba Nathan merasa tidak enak dan terus memikirkan Iren.
"Iren... Kenapa perasaan gue jadi ga enak.. Atau akan terjadi sesuatu dengan Iren.. Iren kamu di mana??" batin Nathan yang mulai gelisah.
Nathan bangkit berdiri dan mencoba mengikuti instingnya.
☘☘☘☘☘
__ADS_1
Peter memegangi tangan Iren dan meletakkannya di atas kepala Iren. Jarak mereka sangat dekat, hingga nafas Peter terasa di pipi Iren.
"Gue menginginkanmu sayang.." Peter mulai menciumi bagian leher Iren.
"Gue mohon jangan... Lepasin gue.. Maafin gue.. Gue janji ga bakalan bertemu lagi dengan Nathan.. Ampuni gue" isak Iren yang terus berusaha.
Peter mengangkat tubuh Iren layaknya karung beras dan menuju ke sebuah kamar.
"Lepasin gue!!! Toloooongggg lepasiinn gue!!" Iren terus menggerak gerakkan kaki dan tangannya.
Peter meletakkan tubuh Iren di atas kasur. Lalu ia menindih tubuh Iren dengan menahan tangan Iren di atas kepala.
Peter berusaha mencium bi**r Iren. Namun Iren berusaha menolaknya dengan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Minggir... Lepasinnn" Iren terus berusaha lepas dari Peter.
Lalu dengan kekuatan penuh, Iren menggigit pundak Peter..
"Awwwww..." teriak Peter.
Melihat ada kesempatan, Iren lalu berusaha kabur berlari keluar kamar. Namun saat berhasil membuka pintu dan akan keluar, Peter merangkul perut Iren dan kembali membawanya ke kasur dan membantingnya di atas kasur..
Dengan kasar Peter menindih Iren dan mel**t bibir Iren. Iren tak mampu lagi memberontak dengan tenaga Peter yang kuat.
"Mmmmm....mmmmm" Iren terus berusaha memberontak.
Peter menggigit bibir Iren, reflek Iren membuka mulutnya dan Peter langsung menci**mnya kasar.
Tangan Peter tidak tinggal diam.
Srekkkk...sreeekkkk..sreeeekkk
Baju Iren di robek robek oleh Peter hingga tertinggal bagian dalam atas.
"Awwwwwww" teriak Peter bibirnya di gigit kuat oleh Iren hingga berdarah.
"Tolooonngggg!!" teriak Iren.
Braaakkkkk..
"Lepaskan Iren bang**t!!!" Nathan mendobrak pintu.
Bughhh.. Bughh..
Beberapa tinjuan Nathan berikan ke wajah Peter.
"Si**lan.." kata Peter terjatuh di atas sofa kamar tersebut.
Iren bersembunyi di balik selimutnya untuk menutupi tubuhnya bagian atas yang hampir terbuka semua.
Peter menyerang Nathan, namun Nathan dapat menghindar dan memegang tangan Peter dan memelintirnya ke belakang lalu mengarahkan cakarnya ke leher Peter.
"Loe tinggal pilih, mau mati seperti temen loe atau selamat dari cakaran gue haahh!!!" bentak Nathan.
"Hahahaha loe macem macem macem, keluarga nya tidak akan selamat!" jawab Peter.
"Hahahahah kata siapa.. Sekarang mereka aman bersama gue.. Loe ga bakalan bisa menemukan mereka" kata Nathan.
"A..apa!??" kata Peter terkejut.
"Emang bos loe ga ngabarin loe haahhh kalau keluarga Iren sekarang dalam pengawasan keluarga gue" tanya Nathan.
"Sekarang loe pergi dari sini.. Atau mau mati!!" Nathan mengeratkan cakarnya hingga menusuk ke dalam leher Peter.
"O..ok.. Gue pergi" jawab Peter.
Peter pun berlari meninggalkan apartemen Iren.
"Kamu tidak apa apa Iren?" tanya Nathan lembut mendekati Iren.
Iren langsung memeluk Nathan dan menangis sejadi jadinya.
"Nathan.... Aku takut" Iren menangis sesenggukan..
"Jangan takut lagi ya, aku akan selalu bersama mu.. Maaf aku datang terlambat dan merusak kedua pintumu" kata Nathan.
"Tidak.. Tidak.. Kamu datang tepat waktu.. Jika kamu tidak datang entah akan jadi seperti apa" Iren semakin terisak.
"Sudah sudah.. Jangan nangis lagi ya.. Semua aman... Paman dan keluarganya susah aman di bawah pengawasan ayah.. Semua sudah terkendali." kata Nathan masih memeluk erat Iren.
Iren melonggarkan pelukannya, tatapan mereka beradu.. Lama mereka saling menatap dan Nathan menempelkan keningnya di kening Iren.. Nathan berusaha mengauasai dirinya agar tidak mencium bibir Iren.
__ADS_1
"Pakailah pakaianmu.. Ikut aku.. Sementara kamu menginap di kost bersama Riein.. Biar pintumu aku panggilkan langanan ayah.. Aku tunggu di luar ya" ucap Nathan mengecup kening Iren sekilas.
Iren merasa nyaman di dekat Nathan.. Nathan begitu menjaga berusaha melindungi dirinya.. Sebuah senyuman terukir di bibir Iren mengingat sikap manis Nathan..