
Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah Nathan. Saat mereka memasuki halaman rumah, Nathan bingung karena ada sebuah mobil asing berada di sana.
"Sepertinya lagi ada tamu Than?" tanya Iren.
"Mungkin.." jawab Nathan mengamati mobil tersebut dan akhirnya dia tau siapa pemilik mobil tersebut.
"Than, ga enak deh kayaknya. Soalnya lagi ada tamu.." kata Iren lagi ragu.
"Gapapa yukk turun.. Ririn bangunin dulu" jawab Nathan mematikan mesin mobilnya.
"Rin.. Ayokk bangun.." Iren membangunkan Ririn.
"Hoaaammmm udah nyampe ya... Waaahhh vintage..." kata Ririn melihat model rumah Nathan yang terlihat kuno tapi masih terlihat menarik.
Ririn dan Iren mengikuti Nathan untuk masuk ke dalam rumah Nathan. Ririn terkagum kagum dengan gaya rumah Nathan yang cukup menarik.
"Bunda.. Ayah... Nathan pulang" sapa Nathan saat masuk ke dalam rumah.
Orang tua Nathan tengah berbincang dengan orang tua Putri yang kebetulan rekan bisnis sewaktu di Jakarta.
"Ehh Nathan, dah pulang nak... Beri salam dulu sama om dan tante... Mana Iren...? Katanya sama Iren" kata bunda antusias bangkit berdiri menghampiri putranya.
"Bunda iihhh anaknya bunda siapa sii.. Yang ditanyain Iren.. Anaknya sendiri ega" sungut Nathan berpura pura setelah memberi salam ke kedua orang tua Putri.
"Uluh uluhh sejak kapan si putra bunda jadi sensi gini??" kata bunda sambil mencubit hidung Nathan.
"Bunda..." panggil Iren.
"Ahhhh putri bunda" bunda langsung memeluk Iren.
"Bun.. Kenalin ini temen Iren, Ririn. Oh yaa bunda, ini ada sedikit kue buat bunda" kata Iren sambil memberikan kue yang sudah dia buat.
"Waahhhh jadi repot repot nihh... Oh ya anak anak kenalin ini ada orang tua Putri, dan ini Putri teman Nathan sewaktu di Jakarta" bunda mengenalkan tamunya.
Iren dan Ririn membungkukkan badannya tanda menyapa sedangkan Nathan sudah menuju ke kamarnya.
"Bun.. Kami tunggu di dapur aja ya.. Kuenya Iren kasih ke bibi aja ya bun" kata Iren.
"Ahhh iya, tolong ya sayang.." jawab bunda.
"Gapapa kalian di sana?? Bergabung aja di sini.." tawar ayah.
"Hehehe tidak ayah.. Iren ke dapur aja" jawab Iren sopan.
Iren dan Ririn menuju ke arah dapur dan duduk di meja yang ada di dapur. Di sana sudah ada bi Murti.
Putri terus menatap sinis ke arah Iren. Dia merasa cemburu melihat kedekatan Iren dengan kedua orang tua Nathan.
"Haii bu Murti.." sapa Iren.
"Ehhh mba Iren.. Baru datang? Mau minum apa?" bi Murti senang melihat Iren.
"Apa aja bi..." kata Iren sambil duduk.
"Ren... Orang tua Nathan ramah ya sama loe.. Dah kaya anaknya sendiri malah.. Seneng deh gue lihatnya" kata Ririn berbisik.
"Iya gue juga jadi ngerasa punya orang tua lagi" jawab Iren tersenyum.
__ADS_1
"Ohhh iya bi.. Ini ada kue.. Tolong siapin ya buat tamu di depan" kata Iren memberikan kuenya.
"Waahhh ini mba Iren yang buat?" tanya bi Murti.
"Ega bi, Iren dibantu sama Bi Marni kok hehehe" kata Iren.
#####
"Ohh ya mas, saya datang ke sini juga mau minta tolong.. Putri katanya ingin kuliah di sini, kemarin dah ngurus pindahannya di kampus tempat Nathan kuliah.. Dan lusa dah mulai masuk katanya.. Kira kira Nathan bisa ga ya cariin kost kostan buat Putri" kata ayah Putri.
"Nanti coba saya tanya kan dulu ya sama anaknya" jawab ayah Nathan.
"Bun tolong panggilin Nathan sebentar." kata ayah Nathan.
"Itu anaknya.. Nathan sini dulu nak.." panggil bunda.
"Iya bun.." jawab Nathan yang merasa enggan melihat Putri yang memiliki suatu rencana.
"Than, ini lohh nak Putri kan mau pindah kuliah di sini... Kamu bisa ga minta tolong cariin kost kostan buat Putri.. Siapa tau kamu tau ada kost kostan yang kosong.." jelas bunda.
"Hmmm buat sekarang Nathan belum tau bun.. Nanti deh Nathan cariin ya." jawab Nathan enggan dan itu terbaca oleh ayahnya.
"Gini aja.. Putri sementara waktu di sini aja dulu.. Biar Nathan nanti yang cariin gimana??" usul ayah Putri.
"Tapi Putri belum hafal jalannya pah" kata Putri..
"Lohh kan ada nak Nathan.." kata ayah Putri.
"Saya ngekost om.." jawab Nathan.
"ooohhh nak Nathan ngekost juga, saya pikir di rumah??" kata Ayah Putri.
"Emang di kostan kamu ga ada kamar kosong Than??" tanya bundanya.
"Bentar ya Nathan tanya dulu ke Iren.. Dia yang tau.." jawab Nathan bangkit berdiri dan menuju ke dapur.
"Iren lagi Iren lagi.. Kenapa dia dekat sekali si sama anak itu.." batin Putri..
#####
"Ren... Emang di kostan ada kamar kosong??" tanya Nathan setibanya di dapur.
"Setahu aku ada, tapi di lantai dua.. Iya ga sih Rin.." tanya Iren meyakinkan.
"Buat siapa si??" tanya Ririn.
"Buat Putri, katanya pindah kuliah di kampus kita." jawab Nathan.
"WHAATT!!!! dia mau kuliah di sana.?? Ga ga.. Gue ga mau satu kostan sama tuh anak" jawab Ririn teringat dengan labrakan Putri ke Iren.
"Udah si gapapa.. Dia di lantai dua ini" jawab Iren sambil melirik Nathan memastikan raut wajahnya.
"Huhhhh ya udah aku ke depan dulu ya.. Sebentar.." kata Nathan menghela nafas dan sempat mengenggam erat tangan Iren sesaat.
Nathan merasa enggan dekat dekat dengan Putri, karena dia tau ada niat terselubung dari Putri atas kepindahannya.
"Om.. Tante.. Kebetulan di kostan saya masih ada yang kosong.. Jika berkenan nanti bisa langsung menempati" kata Nathan mencoba sopan.
__ADS_1
"Yes... Gue bisa lebih dekat sama Nathan.. Jadi rencana gue bisa lebih mudah hehehehe" batin Putri dengan tersenyum samar.
"Jangan harap Putri, gue tau apa yang loe pikiran" tatapan Nathan menghujam Putri tanpa Putri sadari.
"Om, tante Nathan kebelakang dulu. Dah di tungguin soalnya sama temen Nathan." kata Nathan selanjutnya.
"Kalo gitu om sama tante sekalian aja pamit.. Takut kemaleman sampe Jakarta, titip Putri ya Than" kata ayah Putri.
Nathan hanya mengangguk tidak menjawab iya ataupun menolaknya. Setelah kepergian orang tua Putri, Nathan akan kembali mengahampiri Iren.
"Than..." panggil Putri dengan gaya sok manisnya.
"Ada apa??" jawab Nathan malas.
"Gue boleh ikut loe ga??" tanya Putri sambil memeluk lengan Nathan.
"Terserah loe, dan tolong lepasin tangan gue" jawab Nathan sinis.
"Nathan, kenapa loe jadi gini si sama gue?? Pasti gara gara cewek sialan itu" gerutu Putri.
"Jaga ucapan loe.." bisik Nathan lalu pergi meninggalkan Putri di depan pintu.
Nathan menuju ke dapur di mana Iren dan Ririn sedang mengobrol dengan bundnya..
"Bund.. Kita pamit ya... Takut kesorean... Kasihan Iren dan Ririn juga butuh istirahat" kata Nathan.
"Yahhh kok buru buru si.. Bunda masih kangen sama Iren.." kata bunda memasang wajah sedihnya..
"Lain kali Iren main lagi kesini ya bun.." bujuk Iren sambil memeluk bunda.
"Iya dehh... Kalian hati hati ya.. Dan terimakasih kuenya.. Enak..." kata bunda tersenyum.
"Than gue ikut ya.." Putri menyambung.
"Ya emang elo kudu ikut.. Katanya mau cari kostan" sewot Ririn.
"Ehhhh gue nanya nya sama Nathan, kenapa loe yang nyamber" jawab Putri tak kalah sewot.
"Udahhh cukup!! Loe ikut tapi pakai mobil loe sendiri.. Mobil gue ga cukup!" bentak Nathan.
Iren menyikut Ririn agar bisa menahan emosinya tidak enak sama bunda nya Nathan.
"Bunda maaf ya.. Iren berangkat.. Bunda jangan capek capek.. Titip salam juga buat ayah" pamit Iren sopan.
"Iya sayang..." bunda mencium kening Iren.
Begitupun dengan yang lain. Setelah berpamitan Nathan, Iren dan Ririn masuk ke dalam mobil sedangkan Putri menggunakan mobilnya sendiri.
"Akhhhh dasar loe pinter banget cari muka di depan bonyoknya Nathan. Gue buktiin Than, loe akan bertekuk lutut cinta sama gue" kata Putri di dalam mobilnya.
Mereka pun saling beriringan menuju kostan Iren.
"Ren mampir dulu yukk ke mall.." ajak Ririn yang ada niat terselubung.
"Emang loe ga capek Rin?" tanya Nathan.
"Buat kali ini ega.. Hehehehe" jawab Ririn nyengir kuda dan Nathan tau maksudnya apa.
__ADS_1
"Ya udah mampir dulu aja.. Sekalian cari makan buat ntar malem.." jawab Iren.
Nathan pun menyetujuinya, karena dia tau niat Ririn apa dan dia hanya tersenyum dengan niat Ririn tersebut.