Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
pemecatan


__ADS_3

"Pak Dika, tolong lihat cctv pada dvc pemasaran di jam 8 hingga 8.30 segera kirimkan ke saya" kata Rudi melalui sambungan telepon kebagian keamanan.


Tok...tok..tok..


"Masuk" jawab Rudi.


Terlihat Rita memasuki ruang kerja Rudi.


"Silahkan duduk.. Tunggu sebentar" kata Rudi memasang wajah serius.


Tidak lama kemudian Rudi menerima kiriman potongan CCTv yang dia pinta sudah masuk ke dalam komputernya.


Rudi lalu memeriksanya. Saat melihat cctv tersebut Rudi cukup terkejut dengan perbuatan Rita.


Rudi mencoba menahan emosinya untuk tetap bersikap biasa tidak terbawa emosi dalam kantornya..


"Rita..." panggil Rudi dingin.


"Saya pak..." jawab Rita gugup.


"Kamu sadar apa yang telah kamu lakukan??" tanya Rudi.


"Sa..saya tidak melakukan apapun pak.." elak Rita.


"Lalu apa yang sebenarnya terjadi hingga Iren terluka??" Rudi kembali bertanya.


"Mmm sa..saya kurang tau pak.. Saat kejadian saya memang sedang berdiri di dekat Iren, tapi saya sedang mengecek laporan pak. Lalu tiba tiba Iren terjatuh.." bohong Rita.


"Lalu kenapa Ririn bisa menuduh kamu sengaja melakukan itu??" tanya Rudi lagi.


"Dia memfitnah saya pak, karena sejak awal dia memang tidak suka sama saya pak. Bisa jadi juga Ririn lah yang menjegal Iren lalu menuduh saya. Saya benar benar tidak tau pak.." bohong Rita.


"Lalu apa kamu bisa menjelaskan ini??" kata Rudi sambil memutar komputernya untuk menghadap ke arah Rita.


Rita pun menyaksikan rekaman cctv itu. Sangat jelas setiap kejadian terekam di cctv itu. Wajahnya berubah menjadi pias, keringat dinginpun mulai bercucuran di kening Rita padahal AC cukup dingin dalam ruangan tersebut.


"Eee.. Sa..saya.. Anu pak.. Sa..saya.." gugup Rita.


"Saya sudah terlalu banyak menerima laporan tentang kamu Rita. Dan kamu tau, orang yang kamu celakailah yang menyuruh saya mempertimbangkannya lagi. Dia meminta saya untuk tetap mempertahankan kamu. Dan ternyata apa yang kamu lakukan??? sangat mengecewakan saya. kamu tau siapa Iren??" kata Rudi mulai terbawa emosinya dan Rita hanya menggeleng menahan air matanya.


"Dialah pemilik perusahaan ini!!! Saya hanya membantunya untuk menjalankan perusahaan ini!!! Orang tuanya yang membangun perusahaan ini dari nol. Dan kamu!!! Bisa bisanya semena semena terhadap Iren bahkan orang yang berada di bawahmu. Saya benar benar sangat kecewa dengan mu Rita!!" kata Rudi.


"I.. Iren pemilik perusahaan ini??" tanya Rita lirih terkejut mendengar perkataan Rudi...


Waktu seolah olah berhenti sesaat ketika mengetahui siapa Iren.. Kini timbulah rasa penyesalan itu di hati Rita. Seketika itu Rita menangis sesenggukan. Rudi menyodorkan sebuah amplop putih.


"Bacalah" perintah Rudi.


Rita menatap Rudi sesaat. Tangannya gemetar untuk membuka isi amplop tersebut. Perlahan Rita membuka lipatan kertas yang ia pegang dan mulai membacanya.


"Pak.. Maafkan saya.. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi pak.. Saya mohon pak... Maafkan saya.. Jangan pecat saya pak" sesenggukan Rita memohon..


Rita terus mengeluarkan air matanya, dia benar benar tidak mau keluar dari perusahaan ini. Dia terus berusaha agar tidak dipecat.


"Maaf Rita.. Ini hak kamu untuk bulan ini dan pesangon dari perusahaan. Mudah mudahan segera bisa mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan lain. Silahkan keluar, saya sebentar lagi harus rapat" kata Rudi dingin.

__ADS_1


"Ta..tapi pak.. Saya mohon beri saya kesempatan satu kali lagi pak" Rita terus memohon.


"Kamu memilih keluar sendiri atau saya panggilkan satpam" ancam Rudi.


Mau tidak mau Rita pun keluar dari ruang kerja Rudi dengan membawa amplop coklat di tangannya. Rita berjalan dengan gontai, dia tidak memperdulikan karyawan yang menatapnya. Tidak ada satupun yang mencoba mendekatinya hanya sekedar untuk ikut prihatin yang ada hanya tatapan sinis untuk dirinya.


Saat akan memasuki lift, tanpa sengaja dia bertemu dengan Iren yang hendak keluar dari lift..


"Iren.. Gue mohon maafin gue.. Gue ga tau jika loe pemilik perusahaan ini.. Beri gue kesempatan lagi Ren.. Jangan pecat gue.. Gue mohon" Rita menangis di depan Iren.


"Eehh loe!!! Jadi kalau dia bukan pemilik perusahaan ini loe ga bakal minta maaf gitu haahh!!! Ini kan kesalahan loe.. Jadi loe harus mau menerima akibatnya!!" bentak Ririn.


Semua karyawan yang berada di sana pun terkejut mendengar ternyata Iren pemilik perusahaan ini. Mereka saling bertukar pandang tidak percaya.


Sedangkan Iren hanya terdiam, dia sudah yakin jika Rudi lah yang mengatakan statusnya sebagai pemilik perusahaan ini.


"Bu..bukan itu maksud gue.. Ren gue mohon, maafin gue" Rita masih terus berusaha.


"Maaf saya harus bekerja.." jawab Iren tanpa memperdulikan Rita..


"Iren... Iren... Gue mohon.." teriak Rita.


"Eehhh loe.. Cepat keluar, jangan berisik!!! Ini masih jam kerja.!!" teriak salah satu karyawan di sana.


Akhirnya Rita pun masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai dasar. Dia pun mau tidak mau menerima keputusan pemecatan untuk dirinya. Namun sayang, bukannya dia memikirkan kesalahannya dia malah menyimpan dendam untuk Iren.


#####


Nathan dan Arya pun baru tiba di bengkel Arya.


"Than, loe istirahat aja dulu ya.. Jangan terlalu capek.." kata Arya.


"Than.. Gue ga mau loe semakin parah.. Luka dalam loe belum sepenuhnya sembuh. Ok.." ucap Arya sambil menepuk pundak Nathan.


"Gini ya rasanya punya saudara.." senyum Nathan.


"Kenapa???" tanya Arya.


"Ada yang bawelin selain nyokap" Nathan tertawa.


"Sialannn" ucap Arya seolah olah marah lalu dia tertawa.


"Udaahh sana istirahat." ucap Arya.


"Iya.. Iya..." jawab Nathan menuju ke kamarnya.


#####


Mendengar Iren adalah pemilik perusahaan membuat Rangga semakin semangat untuk mengejar Iren. Dia akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan Iren agar bisa menjadi miliknya.


"Loe gapapa Ren??" tanya Rangga.


"Gapapa kok kak" jawab Iren langsung meninggalkan Rangga menuju ke kubikel nya.


Iren duduk di kubikel nya, diikuti Ririn yang juga duduk di kubikel nya dekat Iren.

__ADS_1


"Ren.. Loe pulang aja apa.. Istirahat di rumah.." kata Ririn khawatir.


"Gue gapapa kok Rin, masih kuat.." jawab Iren.


"Iya Ren, gue antar" tawar Rangga.


"Terimakasih kak, tidak perlu repot repot" jawab Iren tanpa menatap Rangga.


"Baiklah kalau begitu" kata Rangga yang berlalu meninggalkan Iren.


Semua sibuk dalam pekerjaan mereka masing masing begitu pula dengan Iren. Meski masih terasa nyeri, namun Iren masih tetap berusaha untuk terus menyelesaikan kerjaannya.


"Mbak Iren, mbak Ririn dipanggil sama pak Rudi" panggil sekertaris Rudi.


"Oohh iya bu.." jawab Ririn dan Iren serentak.


Ririn dan Iren segera menuju ke ruang kerja Rudi.


Tok...tok...tok..


"Masuk.." jawab Rudi.


"Silahkan duduk.." kata Rudi saat melihat Ririn dan Iren yang datang.


"Kamu gapapa Ren?? Kalau pusing beristirahatlah pulang aja gapapa, wajah kamu pucat." kata Rudi setelah Iren dan Ririn duduk.


"Iren gapapa paman." jawab Iren lemas.


"Baiklah, paman memanggil kalian ke sini untuk meminta kepastian dari kalian soal proyek baru kita. Lalu bagaimana keputusan kalian.." tanya Rudi.


"Iren bersedia paman.." jawab Iren.


"Ririn juga siap om" jawab Ririn.


"Baiklah kalau begitu, paman akan menerima kontrak kerja sama kita. Ya udah nak Ririn tolong antar Iren pulang ya.. Temani dia untuk beristirahat" kata Rudi.


"Tapi paman." Iren ingin menolaknya.


"Ini perintah" jawab Rudi.


"Baiklah paman, Iren permisi dulu ya paman." jawab Iren.


Begitu juga Ririn berpamitan. Sebelum meninggalkan kantor, tidak lupa mereka membenahi kubikel mereka.


"Kalian mau kemana?" tanya Rangga.


"Kita di suruh pulang. Iren terlihat pucat jadi disuruh istirahat" jawab Ririn.


"Gue antar ya Ren" tawar Rangga.


"Ga usah, gue yang disuruh mengantar Iren.. Lagian gue satu rumah sama Iren.." ketus Ririn.


"Heeehh kenapa loe yang nyerocos mulu si.!! Gue ngomongnya sama Iren" Rangga merasa kesal.


"Yang dikatakan Ririn benar kak.. Jadi ga usah repot repot.." jawab Iren.

__ADS_1


Ririn dan Iren pun menuju ke parkiran mobil. Ririn mengambil alih untuk mengemudikan mobil Iren. Setelah mereka sudah siap, Ririn perlahan melakukan mobilnya keluar dari perusahaan itu.


"Gue tunggu apa yang terjadi terhadap loe Ren" senyum smirk seseorang yang memperhatikan mereka berdua dari kejauhan.


__ADS_2