
"Awas mengandung unsur dewasa 18+. Harap bijak membacanya ya"
Santi merasa bosan terus terusan bersembunyi di dalam rumah. Ia ingin sekali pergi keluar hanya untuk sekedar berbelanja. Santi meski sudah berpisah dengan Rudi tapi ia masih terbilang berduit karena mendapat harta gono gini selama ia menikah dengan Rudi, belum ditambah dengan parkir ilegalnya.
Santipun berniat pergi, dia memakai beberapa atributnya untuk menyamar. Seperti menggunakan lensa mata dan bergaya seperti seorang gadis tomboy.
Santi memesan taxi on line, dan tidak lama kemudian taxi pesenannya datang. Santi minta untuk di antarkan ke sebuah minimarket untuk mengisi dapurnya yang mulai menipis bahan bahannya. Dan mumpung hari sudah malam, jadi tidak akan mudah bagi orang orang mengenalinya.
#####
Rangga masih merasa sebal dengan Nathan. Dengan adanya Nathan, membuat dirinya sulit mendekati Iren. Beberapa kali dia terus mengumpat, melepaskan kekesalannya. Rangga terua melajukan mobilnya hingga kini ia sudah memasuki perkotaan.
Saat Rangga tengah asik memikirkan rencana untuk merebut Iren. Tangannya meraba pada bagian laci pintu untuk mengambil rokoknya. Ia tidak akan merasa tenang jika belum menghisap rokok.
"Ahh sial.. Pakai acara habis" kesal Rangga meremas bungkua rokok tersebut.
Tidak lama kemudian, dia melewati sebuah minimarket. Diapun membelokkan mobilnya dan memarkirkan mobilnya di minimarket tersebut.
Saat Rangga hendak masuk, tidak sengaja dia berpapasan dengan Santi yang melangkah keluar dari minimarket dengan kerepotan.
Brughhhh
Tanpa sengaja, kaki Rangga menyenggol kantung plastik yang tengah Santi jinjing.
"Ahh ya ampunn" kata Santi terkejut belanjaanya terjatuh dan berserakan.
Ranggapun reflek menoleh dan terkejut.
"Maaf maaf, gue ga sengaja" kata Rangga membantu memunguti belanjaan Santi.
"Gapapa," jawab Santi tanpa memperhatikan Rangga.
Setelah selesai memunguti belanjaannya, Santi bangkit berdiri begitu pula dengan Rangga.
"Rangga" panggil Santi.
Rangga mengernyitkan dahi, dia tampak asing dengan wanita di depannya tapi tidak dengan wanita tersebut.
"Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya??" tanya Rangga.
"Ya, kita saling mengenal. Ikutlah denganku jika kamu ingin tau siapa aku" jawab Santi.
"Ok, tunggu sebentar di sini. Gue beli rokok dulu" kata Rangga bergegas masuk ke dalam minimarket.
Santipun mendapat sebuah ide ketika bertemu Rangga di sana. Tidak lama kemudian Rangga kembali keluar.
__ADS_1
"Ayok" ajak Rangga.
Merekapun menuju ke rumah Santi yang sekarang ia tinggali. Perjalanan mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menuju ke sana.
"Duduklah dulu, tunggu sebentar" kata Santi.
Santipun meninggalkan Rangga sendirian di ruang tamu. Dia masuk ke arah dapur dan meletakkan belanjaannya di atas meja. Sedangkan Rangga melihat lihat kesekeliling ruangan tersebut, namun tidak ia temukan sebuah foto satupun untuk membantunya menganli wanita itu meski Rangga tampak tidak asing dengan suaranya.
Santi membuatkan teh hangat untuk Rangga. Hanya lima menit iya membuat teh tersebut. Sebelum membawa minuman yang sudah ia buat, tidak lupa Santi membuka semua atribut penyamarannya.
Santipun membawa minuman itu dan menemui Rangga yang masih menunggu.
Mendengar suara langkah mendekatinya, Rangga mendongakkan kepalanya dan melihat Santi.
"Ibu? Anda?" tanya Rangga terkejut..
"Haii Rangga, sudah ingatkan dengan aku.." senyum Santi dan menatap Intens Rangga.
"Tapi kan anda" kata Rangga menggantung.
"Buronan?? Mereka tidak akan berhasil menemukanku" jawab Santi berbangga diri.
"Silahkan Rangga di minum" kata Santi berbasa basi.
"Terimakasih bu" jawab Rangga dan menyesap teh hangat itu.
Rangga merasa risih ditatap Santi seperti ini. Ia merasa ditel****ngi oleh Santi. Santi tak ada hentinya menatap Rangga dengan wajah yang entah sulit di artikan.
"Rangga, aku tau tujuanmu mendekati Iren" kata Santi duduk di samping Rangga.
"Mmmm maksud anda?" tanya Rangga bingung dan sedikit menggeser duduknya.
"Aku tau, kamu punya maksud lainkan mengincar Iren. Seharusnya kamu bersukur tidak ikut terseret masuk penjara karena membantu Fitri mengelabui satpam" kata Santi dengan suara lirih dan mendekati Rangga dengan menempelkan bagian badannya ke lengan Rangga.
Rangga menyipitkan matanya, dia tidak menyangka jika Santi akan tau itu. Rangga kembali bergeser hingga ia terpojok disofa.
"Dan kamu mengincar harta Iren kan??" tanya Santi menatap intens Rangga.
"Hahaha sepertinya anda salah paham bu" tawa Rangga terdengar sumbang karena di paksakan.
"Jangan coba membohongiku Rangga, aku tau semuanya.. Kita memiliki misi yang sama Rangga" kata Santi yang tangannya mulai berputar putar di dada bidang Rangga.
Santi semakin menempel ke arah Rangga. Santi sengaja menggodai Rangga dan terus merayu agar Rangga mau membantunya. Santi terus menempelkan bagian dadanya ke lengan Rangga. Dan matanya menatap Rangga.
"Jika kita mau, kita bisa bekerja sama. Aku berjanji akan membagi dua perusahaan itu. Kamu tau, meski perusahaan itu terlihat kecil. Tapi pundi pundi yang dihasilkan sangat banyak. Jika kamu mau, maka kamu akan bisa memilikinya asal kamu bekerja sama dengan ku" kata Santi mulai membuka kancing kemeja Rangga hingga kemeja itu terbuka dan memamerkan perut rata Rangga. Santipun menelan salivanya melihat tubuh Rangga.
__ADS_1
Rangga menatap Santi dengan duduknya yang bersandaran di sofa panjang. Meski Santi sudah berumur, namun Rangga mengakui Santi masih terlihat cantik dengan tubuh yang terlihat terawat. Terbukti dengan apa yang dia rasakan pada bagian tangannya yang terasa kenyal saat Santi merapatkan dadanya. Rangga terus mendengarkan ocehan santi dan menikmati setiap sentuhan yang Santi berikan.
"Lihatlah aku, meski aku sudah bercerai dengan Rudi aku masih mampu merawat diriku, karena aku mendapatkan bagianku. Tapi aku belum puas, aku tidak rela perusahaan itu kembali ke Iren. Sedangkan perusahaan itu sudah bertahun tahun di kembangkan oleh Rudi" kata Santi sambil tersenyum genit.
"Kamu mau kan?" lirih Santi mendekatkan wajahnya ke arah wajah Rangga.
Perlahan Santi mendekatkan wajahnya ke wajah Rangga. Bibirnya dia arahkan ke bibir Rangga. Tangannya masih aktif bermain di dada bidang Rangga.
Merasa tidak mendapatkan penolakkan, Santi mulai menempelkan bibirnya. Santi mulai menciumi bibir Rangga, mulai mel***tnya. Awalnya Rangga tidak membalas, namun karena tangan Santi begitu aktif. Ranggapun mulai tidak tahan, dan dia membalas mel***t bibir Santi. Mereka saling bermain lidah bertukar saliva. Suara kecapan mulai memenuhi di ruangan itu.
Hingga akhirnya mereka kehabisan oksigen di dadanya. Merekapun mengakhiri sesi itu dengan nafas terengah engah.
"Bagaiamana?" tanya Santu dengan wajah sayu.
"Layani aku dulu" jawab Rangga yang langsung menarik tengkuk Santi.
Santipun meneruma perlakuan Rangga, menikmati sentuhan yang Rangga berikan. Dan merekapun melanjutkan aktifistas tersebut hingga berujung penyatuan mereka disofa itu.
"Mana kamarmu?" tanya Rangga dengan suara seraknya mengangkat tubuh Santi padahal mereka masih menyatu.
Santipun menunjukkan kamarnya. Setelah masuk ke dalam kamar dan meninggalkan pakaian mereka yang masih berserakan di ruang tamu., Rangga menutup pintunya dengan kaki dan meletakkan tubuh Santi tanpa melepaskan miliknya di dalam milik Santi.
"Ahhh, milikmu sangat enak" Racau Rangga dalam gerakannya.
Tidak lupa, tangan Rangga aktif pada aset dada Santi. Santipun sangat menikmati itu. Sudah lama ia tidak mendapatkan ini dari Rudi, hingga ia sangat merindukan sentuhan sentuhan itu.
Sebenarnya niatan Santi tidak sampai sejauh ini, namun saat melihat tubuh atletis Rangga. Hasrat Santi terpancing, dan ia memanfaatkan ini untuk merayu Rangga.
Sebelum menuntaskan hasratnya, Rangga menghentikan aktifitasnya dan menc*but miliknya lalu dia menjelajahi tubuh Santi yang masih terlihat segar seperti seorang gadis. Tidak ada yang terlihat kendur pada tubuh Santi, padahal usianya mungkin sudah memasuki kepala empat.
Rangga terus menjelajahi tubuh Santi hingga berakhir pada bagian pusat Santi. Santi sangat menikmati itu, berkali kali Santi melenguh kenikmatan hingga tanpa disadari menjambak rambut Rangga. Bahkan Rudipun dulu tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Merekapun melakukan aktifitas dewasa itu hingga menjelang pagi yang pada akhirnya sama sama merasa kelelahan.
"Kamu hebat sayang.. Bahkan mantankupun tak pernah memberikan itu" kata Santi dalam pelukan Rangga.
"Ohh ya??? Milikmupun sangat enak honey, padahal usiamu sudah tidak muda lagi" puji Rangga yang tangannya masih bermain main pada bagian d*da Santi.
"Iya dong, meski aku janda sekarang. Aku masih merawatnya" kata Santi bangga.
"Boleh dong aku nimati" kata Rangga dengan wajah mesumnya.
"Dasar mesum.. Boleh, tapi kamu harus bekerja sama denganku dan kita akan memiliki perusahaan itu bersama sama" kata Santi menahan dada Rangga yang hendak kembali menciumnya.
"Baiklah, rencanakan besok saja ya. Karena aku masih ingin" kata Rangga dengan tangannya beralih memainkan bagian inti Santi.
__ADS_1
"Ahhh kamu nakal" lenguh Santi.
Merekapun kembali melanjutkan aktifitas itu hingga pelepasan mereka. Setelah itu merekpun beristirahat menutupi tubuh polos mereka dibalim selimut tebal milik Santi.