
"Dwi... Aku berharap kamu mau jujur terhadap saya.. Jika kamu mau menjawab jujur, aku tidak akan memecatmu dan aku tidak akan memintamu untuk mengembalikan uang tersebut. Bahkan hutang hutangmu akan aku lunasi" rayu Rudi.
"Ba.. Baik pak.." jawab Dwi gugup.
"Dwi, aku tahu kamu bukan tipe orang yang berani melakukan hal seperti ini.. Apa ada yang menyuruhmu?" tanya Rudi.
"Ti..tidak pak.. Ini inisiatif saya pak" jawab Dwi tertunduk.
"Ayolahh Dwi, aku paham dengan karakter kamu.. Kamu sudah hampir 2 tahun kerja di sini, aku sedikit paham dengan karakter kamu." kata Rudi terus mencoba mengintrogasi Dwi.
"Be..benar pak, itu inisiatif saya" jawab Dwi sambil ******* ***** kedua tangannya bertanda dia tengah ketakutan.
"Aku yakin, ada seseorang yang mengancammu.." batin Rudi.
"Jika kamu mau bekerja sama denganku, aku akan menjamin keselamatan keluargamu dan kamu. Tapi itu tergantung dengan pilihanmu.. Masih mau bekerja bersama dengan saya atau saya pecat dan kamu tidak akan mendapatkan pekerjaan baru setelah keluar dari perusahaan ini. Saya tunggu jawabanmu" ancam Rudi bangkit berdiri hendak keluar dari ruang rapat.
Mendengar ancaman Rudi, seketika Dwi melototkan matanya. Jika dia menganggur, bagaimana dengan dirinya dan keluarganya kedepannya. Karena hanya dirinya lah tulang punggung keluarganya. Bagaimana dengan sang mama juga sang adik yang masih mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Atas.
"Pak Rudi, tunggu" cegah Dwi menahan Rudi yang hendak keluar ruangan.
Rudi berhenti dan membalikkan badannya. Menatap Dwi yang masih menunduk.
"Sa.. Saya akan menjawab jujur pak.." kata Dwi yang ******* ***** ujung baju kemejanya.
"Katakan.." jawab Rudi dingin.
"Sa.. saya di perintah oleh nyonya Santi waktu itu untuk sedikit demi sedikit mengambil uang dari perusahaan ini. Hanya saja, saya sempat tidak langsung memberikan uang tersebut selama 4 bulan karena saya ingin melihat kesungguhan nyonya Santi membiayai mama saya. Dan baru kemaren saya mengirim uang tersebut karena nyonya sudah menepati janjinya." penjelasan Dwi.
"Maafkan saya pak, saya tidak bermaksud untuk menghianati bapak.. Tapi waktu itu nyawa mama saya yang hanya dalam pikiran saya pak... Maafkan saya pak" tangis Dwi bersujud di depan kaki Rudi.
Deg..
Jantung Rudi seakan akan sejenak berhenti, apa yang dia curigakan ternyata benar. Sungguh dia semakin malu terhadap almarhum Surya yang telah membantunya dahulu.
Rudi mengusap kasar wajahnya, dia menarik lengan Dwi agar bangun dari berlututnya dan Rudi kembali duduk tidak jauh dari Dwi.
"Duduklah!!! Apa lagi yang kamu tau?? Di mana dia sekarang" tanya Rudi.
"Saya tidak tau pasti pak, saat saya di bawa bertemu dengan nyonya Santi kondisi saya pingsan pak.. Tiba tiba saya terbangun sudah berada di dalam sebuah kamar. Hingga saat ini saya hanya berkomunikasi dengan anak buahnya saja pak." jawab Dwi.
"Kamu yakin tidak membohongi saya lagi.??" tanya Rudi curiga.
"Tidak pak, saya berani sumpah. Dalam ponsel saya masih ada percakapan antara saya dengan anak buahnya, juga percakapan saya dengan Nyonya Santi" jawab Dwi.
"Baiklah, kamu tetap bisa bekerja di sini, tapi maaf posisi kamu akan saya pindahkan ke bagian marketing. Dan sesuai janji saya,. Keluargamu aman berada di bawah pengawasanmu dan hutang hutangmu akan saya lunasi.." kata Rudi bangkit berdiri dan meninggalkan Dwi.
__ADS_1
"Aahh satu lagi, kirimkan semua chat tersebut dalam bentuk screan shoot juga rekamannya.." kata Rudi lagi kembali lagi.
"Lalu bagaimana dengan nyonya Santi pak.. Bagaimana jika mereka menanyakan uangnya" tanya Dwi takut.
"Katakan saja, jika beberapa bulan kedepan ada pengawasan sistem kerja" jawab Rudi keluar dan menutup pintu ruang rapat.
#####
"Than, kenapa ga tinggal di rumah Iren saja??" tanya Arya.
"Gue ga mau Iren curiga.." jawab Nathan yang mengawasi perusahaan Surya Properti.
"Kan ada Agus dan lainnya yang mengawasinya Than" kata Arya yang belum tau rencana Nathan memilih ngontrak di dekat perusahaan Iren.
"Perasaan gue ga enak sejak kemaren mengetahui Rangga dekat dengan Santi. Gue bisa memastikan, hari ini Rangga akan melancarkan rencananya." jawab Nathan yakin.
"Lalu apa yang akan loe lakuin??" tanya Arya.
"Menghabisi dia jika macam macam" jawab Nathan masih fokus ke depan.
Tidak beberapa lama kemudian, terlihat mobil yang membawa Iren memasuki perusahaan tersebut.
Nathan semakin menajamkan matanya. Perasaan Nathan semakin tidak enak.
#####
"Ren pulang yuk.." ajak Ririn.
"Loe pulang aja dulu, tanggung sebentar lagi kelar nih laporannya.." jawab Iren tanpa mengalihkan pandangannya..
"Gue pulang sendiri, loe nanti gimana??" tanya Ririn.
Rangga ketika itu mendengar percakapan mereka berdua. Ranggapun tersenyum smirk.
"Mungkin ini waktunya loe jadi milik gue Ren.." batin Rangga.
"Gue pulang dulu ya" pamit Rangga basa basi saat melewati mereka.
Namun Iren dan Ririn hanya menoleh saja, pandangannya mengikuti arah jalan Rangga hingga menghilang.
"Udah gampang, Agus nanti suruh balik lagi aja ke sini setelah nganter loe" jawab Iren.
"Loe yakin??" tanya Ririn ragu.
"Iya gue yakin.. Gue di sini ga sendirian Rin, lihat tuh masih ada beberapa yang lembur.." jawab Iren.
__ADS_1
"Ya udah deh, gue balik dulu.." pamit Ririn.
"Ok.. Hati hati" jawab Iren.
"Loe juga" jawab Ririn berlalu meninggalkan Iren dengan beberapa karyawan yang juga lembur.
Ririnpun keluar dari kantornya dan menuju ke mobil dimana Agus telah menunggunya.
"Loh non Iren ga ikut pulang non??" tanya Agus.
"Iya, dia lembur. Nanti kamu kembali ke sini ya jemput Iren.." pinta Ririn.
"Siap non.." jawab Agus.
Aguspun menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya. Tanpa sepengetahuan Ririn, Rangga mengintainya dari dalam mobil. Namun apa yang dia lakukan juga tidak luput dari pengawasan mata tajam Nathan.
Di dalam perjalanan, Agus teringat akan sesuatu. Dia segera mengambil ponselnya dan mengetikan sesuatu di sana.
#####
Waktupun terus berlalu, Iren tengah bersiap siap untuk pulang. Setelah semua terlihat beres. Iren segera keluar menunggu kedatangan Agus yang masih dalam perjalanan.
Iren mnyempatkan diri untuk ke dalam kamar mandi. Hal itu menjadi kesempatan untuk Rangga melancarkan aksinya.
Rangga mengeluarkan sebuah sapu tangan dan tidak lupa dia menuangkan sebuah cairan di sana.
Rangga bersembunyi di balik tembok dan menunggu Iren keluar. Cukup lama Iren berada di dalam karena Iren sekaligus mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar.
Irenpun keluar dari toilet dan berjalan menuju ke halaman depan, tanpa dia sadari Rangga telah berada di belakangnya dan membekap Iren. Tidak membutuhkan waktu lama Iren terkulai lemas karena tertidur.
Rangga segera mengangkat tubuh Iren seperti karung beras dan menuju mobilnya dan meletakkan tubuh Iren di bangku belakang sehingga dari depan tidak terlihat.
Hal itu terlepas dari pengawasan orang suruhan Nathan, tapi tidak untuk Nathan.. Dia mengetahui jika Iren telah dibawa oleh Rangga.
"Gue harus kejar dia.. Atau gue akan kehilangan jejak.." kata Nathan.
"Gue ikut.." jawab Arya.
"Ok, ayok loe bawa mobil, gue brubah.." jawab Nathan.
"Than, tapi itu bersiko.. Terlalu mencolok" jawab Arya.
"Loe turunin gue di tempat yang aman. Aahh udah ayok, keburu jauh" jawab Nathan berlari menuju mobil mereka.
Arya pun menyalakan mesin mobilnya dan bergegas mengejar mobil Rangga yang masih terlihat jelas di mata Nathan yang mustahil terlihat oleh manusia biasa.
__ADS_1
Arya berusaha memacu mobilnya agar tidak terlalu jauh tertinggal. Agar Nathan tidak kehilangan jejak saat nanti ia menurunkannya. Entah apa yang di rencanakan Nathan kali ini..