
Tok... Tok... Tok... Tok...
Suara pintu utama di ketuk. Dan Santi segera menuju ke arah depan berharap itu Rangga.
"Rangga.. Kenapaaa.." suara Santi melemah saat melihat siapa yang mengetuk pintunya.
"Eghmmm... Ada apa??" tanya Santi..
"Nyonya, saya mendapatkan informasi jika tuan Rangga meninggal dalam kecelakaan kemarin" lapor salah satu anak buah Santi.
"Aa.. Apa!!! Ga.. Ga.. Ga... Ini ga mungkin... Semalam dia kesini!!" jawab Santi panik.
"Tapi nyonya, salah satu kawan saya memberikan ini yang katanya tergeletak di pinggir jalan dan ini ada foto jenazahnya" kata laki laki tersebut.
Santi menutup mulutnya saat melihat foto yang di berikan oleh anak buahnya tersebut. Santi seketika mundur beberapa langkah dan jatuh terduduk di sofa ruang tamunya.
"Tidak... Tidak... Tidak.. Ini tidak mungkin.. Lalu.. Semalam itu siapa??? Tidak... Aku pasti bermimpi.." kata Santi panik mencubit tangannya.
"Awww... Tidak... Gagal... Rencanaku gagal.." rancau Santi mulai menangis.
Seketika itu, raut wajah Santi berubah menjadi emosional.
"Ini semua gara gara gadis si**an itu!!! Harus aku bereskan sesegera mungkin!" kata Santi emosi.
"Ehhh elo... Buat mobil Iren seolah olah rusak lalu bawa Iren ke sini!! Buat sopirnya tidak dapat mengantar Iren.. Paham!!!" perintah Santi.
"Baik nyonya.." jawab laki laki itu.
Anak buahnya pun bergegas pergi meninggalkan rumah Santi.
#####
Di kediaman Iren, Ririn dan Iren tengah menikmati sarapan mereka. Sedangkan Nathan dan Arya kembali mengurus bengkel Arya karena ada kendala yang harus mereka berdua tangani dan akan kembali siang nanti.
Nathan sudah meminta beberapa pengikut sang ayah untuk lebih wasapada lagi.
"Ren, ini mas Agus mana ya?? Kok jam segini belum datang.." tanya Ririn sambil melihat jam di tangan kirinya.
"Bentar, gue telepon dulu"
Tuuuttt.... Ttuuuutt... Tuuuttt..
"Hallo mbak Iren.. Duhhh mbak.. Sepertinya saya ga bisa jemput mbak.. Ban mobil bocor mbak.. Saya minta tolong Angger untuk menjemput mbak ya.." suara Agus yang paham kenapa dia ditelpon oleh Iren.
"Ahhh ga usah mas Agus.. Kita pesan taxi aja ya.. Ga keburu kalau nunggu Angger" jawab Iren.
"Tapi mbak..." jawab Agus merasa keberatan.
"Dahhh gapapa.. Kita pesan taxi aja.." jawab Iren langsung mematikan ponselnya.
"Rin, kita naik taxi aja.. Agus ga bisa jemput.. Ban mobilnya bocor.." kata Iren ke Ririn.
"Ya udah, gue apa loe yang pesan...?" tanya Ririn.
"Ehhh Ren mau kemana??" tanya Ririn.
"Mau lihat kedepan siapa tau ada taxi yang lewat" teriak Iren.
Iren mencoba jalan ke luar pintu gerbang, siapa tau ada taxi yang lewat sehingga tidak harus menunggu lagi jika memesan melalui online karena waktu sudah menunjukkan jam setengah 9. Sudah sangat terlambat untuk seorang karyawan.
Meski Iren pewaris tunggal, namun dia ingin menerapkan kedisiplinan untuk dirinya sendiri agar dapat memberikan contoh yang baik untuk para karyawannya kelak.
Ririn mengikuti langkah Iren. Mereka berdua menatap ke arah jalanan dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Saat Iren hendak memesan Online, tiba tiba ada taxi lewat.
"Taxii!!!" teriak Ririn.
Iren langsung mengurungkan niatnya dan menoleh ke arah Ririn yang menghentikan sebuah taxi.
Merekapun masuk ke bangku penumpang setelah taxi benar benar berhenti.
"Pak.. Ke Surya Property ya" kata Iren.
"Baik neng" jawab sang sopir.
"Emang bapaknya tau di mana perusahaan loe??" bisik Ririn.
"Nyatanya dia tidak menanyakannya kan?? Lagian jaman sekarang itu udah canggih, tinggal cari di maps juga dah nongol" jawab Iren yang ikut berbisik.
__ADS_1
Saat dalam perjalanan tiba tiba taxi yang ia naiki dihadang oleh mobil berwarna hitam.
Ciiiittttt...
"Pak ada apa??" tanya Iren terkejut.
Namun sang sopir tidak menjawab dan malah keluar dari mobil dan ada yang menggantikan posisinya.
"Ehhh ini ada apa?? Siapa loe???" tanya Ririn.
"Rin.. Ini gimana.." tanya Iren mulai panik.
"Keluar dari sini!" kata Ririn.
"Pintu gue ke kunci..!" teriak Iren.
"Lewat sini!" Ririn membuka pintunya.
Namun saat Iren akan keluar, salah satu gerombolan itu masuk dan pintu segera ditutup dan terlihat Ririn dipukul bagian tengkuknya yang mengakibatkan jatuh pinsan.
"Ririn!!!.. Berhenti!!!" teriak Iren memukuli orang yang berada di sampingnya.
"Emmmbbbb" Iren di bekap dan tak sadarkan diri.
Mobilpun langsung berjalan meninggalkan Ririn yang tergeletak di pinggir jalan.
#####
Aguspun sudah selesai menambal ban mobil dan menanyakan ke Angger perihal Iren.
"Ngger, non Iren sudah terlihat???" pesan Agus ke Angger.
Ting...
"Gue belum lihat mbak Iren.." balasan dari Angger.
"Ok.. Gue cek ke rumahnya dulu.." balas Agus.
Ting..
"Gue abis nambal ban, bocor" balas Agus lalu memasukkan ponselnya tanpa memmbalas lagi pesan dari Angger.
Aguspun bergegas menuju ke rumah Iren. Entah mengapa, perasaan dia tidak enak. Tengah perjalanan menuju ke rumah Iren, Agus melihat ada tubuh tergeletak di pinggir jalan. Aguspun segera menghentikan laju mobilnya dan bergegas keluar dari mobil menghampiri gadis tersebut.
Agus berjongkok, dan membalikkan tubuh gadis tersebut lalu menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya.
"Mbak.. Mbak Ririn" gumam Agus terkejut.
"Ahhh shiit.. Ini pasti terjadi sesuatu.. Gue harus segera menghubungi mas Nathan.." geram Agus.
Agus mengecek nadi Ririn.
"Hanya pingsan" gumamnya lagi.
Agus bergegas mengangkat tubuh Ririn dan membawanya ke dalam mobil. Di balik kemudinya Agus bergegas menghubungi Nathan.
Tuuttt....
Tuuuttt...
Tuuuttt...
"Hallo ada apa Gus.." jawab Nathan.
"Mas terjadi sesuatu... Mbak Iren kemungkinan di bawa kabur. Karena mbak Ririn tergelatak pingsan di tengah jalan." lapor Agus.
"Ok.. Gue segera kesana." jawab Nathan.
Agus melakukan mobilnya dan membawa Ririn kembali ke rumah Iren. Setibanya di rumah Iren, dengan di bantu oleh bi Marni, Agus membawa Ririn ke dalam kamarnya.
Agus kembali meraih ponselnya dan memberikan kabar ke rekan rekannya yang lain tentang kejadian hari ini. Begitu juga ke Rudi.
Rudi yang mendapatkan kabar dari Agus panik. Dia langsung menghubungi Yudi untuk menanyakan gerak gerik Santi dan Yudi yang mendapatkan perintah segera meluncur ke rumah persembunyian Santi
#####
Di dalam mobil, anak buah Santi memberikan informasi.
__ADS_1
"Bos.. Paket segera kami kirim" lapor salah satu anak buah Santi dan langsung mematikan sambungan teleponnya.
Tak berselang lama, mereka tiba di rumah persembunyian Santi. Mereka bergegas turun dari mobil dan membawa tubuh Iren masuk kedalam rumah.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang mengamati gerak gerik merek.
"Hallo pak, mbak Iren di bawa kerumah ini" kata Yudi memberikan informasi ke Rudi.
"Awasi terus gerak geriknya, aku akan segera kesana membawa pihak kepolisian" suara Rudi di balik telepon.
"Baik pak.." Yudi memutuskan sambungan teleponnya dan kemudian menghubungi rekan rekan yang lain juga tidak lupa Nathan.
#####
Di dalam rumah tersebut, tepatnya di gudang Iren didudukan dalam kondisi di ikat tangan dan kakinya.
Byuurrrr...
"Hgaaaaghhh" Iren tergagap terbangun terkejut karena diguyur air dingin.
"Hai keponakan ku yang cantik.. Apa kabarmu hahh?" kata Santi berdiri di depan Iren.
"Bi. Bibi... I.. Ini kenapa bi??" bingung Iren.
"Haaahhh dasar mun*fik... Gara gara loe, gue digugat cerai sama Rudi!!! Dan gara gara loe, Rudi harus melepaskan seluruh aset perusahaan itu!!! Padahal perusahaan itu yang mengelola Rudi, yang membuat semakin maju Rudi.. Tapi kenapa harus loe yang menerima semuanya!!! Dan itu semua gara gara loe!!! Paham haahh!!!" kata Santi mencengkeram dagu Iren kencang.
"Aawwww. Ssshhh sakit bi" kata Iren yang tidak mampu melawan.
"Sakit??? Segitu belum ada apa apanya.. Dan rasakan ini!!!" Santi menendang perut Iren.
Bughhh..
"Aghhhh" Iren kesakitan dan merasa sesak untuk bernafas.
"Sakit hahhh!!! Hahahahaha.. Sebelum loe mati, gue ingin main main dulu sama loe" kata Santi di depan wajah Iren.
"Bi.. A.. Apa salah.. I.. Iren bi" kata Iren menahan rasa sakit.
"Loe masih belum paham juga haahh!!!" bentak Santi.
"Loe udah merebut perusahaan itu dari Rudi!!! Dan Rudi lebih memilih loe ketimbang gue istrinya!!!" teriak santi.
Iren menggelengkan kepalanya "bi.. Sejak awal Iren enggan terjun ke perusahaan itu. Tapi paman Rudi memegang amanatnya kepada Papi Iren.. Jadi paman menyerahkan semuanya.. Ini bukan kemauan Iren bi.. Itu juga sudah hak Iren.. Iren juga tidak akan lupa dengan jasa jasa paman Rudi" isak tangia Iren.
"Halaaahhhhh bulshiit!!! Mun*fik!!! Gue yakin setelah serah terima perusahaan loe juga bakal depak tuh Rudi.. Dan gara gara loe gue jadi incaran polisi!!!" kata Santi marah.
"Iren tidak melakukan apapun bi..." kata Iren terisak.
"Loe ingat kecelakaan yang loe alami, itu gue yang merencanakan hahaahha.. Dan loe tau kenapa?? Gue ingin loe mati, setelah loe mati, otomatis perusahaan itu akan jatuh ke Rudi, tinggal gue manfaatkan Galih untuk meminta perusahaan itu hhahahaha" kata Santi yang sudah kehilangan kewarasannya.
"Bi.. Iren mohon... Lepasin Iren.. Iren janji akan menyerahkan seluruh perusahaan untuk tante jika itu mau tante." kata Iren.
"Hahahaha terlambat.. Karena Rudi tidak akan pernah menyerahkannya!!" kata Santi yang sudah memegang sebuah pisau.
Tanpa Santi sadari, diluar rumah anak buahnya sudah dapat dilumpuhkan oleh Agus dan kawan kawannya.
Tidak lama kemudian, Rudi sampai terlebih dahulu.
"Di mana mereka???" tanya Rudi.
"Mereka di dalam pak.." jawab Yudi.
"Kita masuk.." kata Rudi.
Merekapun masuk ke dalam rumah Santi. Mencari cari keberadaan Santi.
#####
Santi tengah bersiap siap akan menusuk Iren. Dengan menyeringai, Santi menatap lekat wajah Iren yang ketakutan.
"Bi.. Bibi Iren mohon bi.. Jangan lakukan ini" kata Iren yang masih berusaha memohon..
"Sudah sangat sangat terlambat!!!" kata Santi lirih
Jlebbbbbb
Darah segar mengalir di tangan Santi.
__ADS_1