
Bi Marni menyiapkan sarapan di meja makan. Saat tengah menata hidangan bel pintu berbunyi. Bi Marni segera berjalan cepat untuk menuju ke depan untuk membukakan pintu.
"Mas Nathan??? Ahh mari pak silahkan masuk.." kata bi Marni terkejut melihat kondisi Nathan.
Bi Marni setengah berlari menuju ke ruang keluarga untuk memberitahukan kedatangan Nathan ke Iren.
"Non.. Di depan ada mas Nathan.." kata bi Marni dengan raut wajah khawatir.
Iren langsung bangun dari duduknya meski masih sedikit pincang pincang dan diikuti oleh Arya.
"Nathan... " lirih Iren dengan air mata menetes tanpa bisa dibendung.
Iren langsung mendekati Nathan dan langsung memeluknya. Air mata Iren tidak dapat lagi bisa dibendung.
"Nathan... Apa kamu baik baik saja.." isak Iren dalam pelukan Nathan.
"Aku tidak apa apa sayang.. Jangan menangis lagi ya, lihat aku di sini bersamamu" senyum Nathan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Iren..." panggil ayah.
"Ayahh... Ayah tidak apa apa kan??" tanya Iren.
"Bi tolong buatkan minuman ya.. Sekalian sama dua bapak di depan." pinta Iren.
"Baik non.." jawab bi Marni.
"Ayah tidak apa apa nak.. Kamu juga tidak apa apa kan??" tanya balik ayah.
"Iren sudah tidak apa apa ayah, mas Arya sudah membantu Iren. Sepertinya mas Arya menuruni bakat ayah" jawab Iren sambil melihat Arya.
"Ohh ya??" tanya ayah.
Nathan hanya menatap Iren tanpa berkedip. Dia merasa bersukur Iren bisa selamat dan terlihat baik baik saja.
"Iya ayah, lihatlah kakiku ini. Semalam bengkak besar. Lalu mas Arya minta Ririn untuk buatin entah apa lalu di balur ke kaki Iren. Paginya udah kempes." lapor Iren.
"Wahh kebetulan kalau begitu Ar.. Paman boleh minta tolong kalau gitu sama kamu.." kata ayah.
"Boleh paman.." jawab Arya.
"Paman cuma minta tolong nanti buatin jamu untuk Nathan juga untuk menghilangkan lebam lebamnya. Nanti akan paman tuliskan resepnya. Kamu bisa kan??" tanya ayah memastikan.
"Bisa paman.. Paman tinggal tuliskan saja nanti apa saja dan bagaimana" jawab Arya.
"Baik lah kalau gitu.." jawab Ayah lega.
"Lohh om. Nathan.. Loe kenapa?? Ini ada apa si sebenarnya.. Sepertinya cuma gue di sini yang ga tau apa apa" ucap Ririn tiba tiba.
"Ga ada apa apa nak.. Iren dan Nathan hanya mengalami kecelakaan. Lalunada yang menghubungi om semalam. Karena melihat Iren baik baik saja, om meminta Arya buat jemput Iren. Om sama Nathan mengurus sisanya." jawab ayah Nathan.
"Loe gapapa Than??" Ririn melihat kondisi Nathan.
"Gapapa, badan gue cuma rasanya pegel semua" jawab Nathan.
Tidak lama kemudian bi Marni datang dengan membawa beberapa gelas minuman untuk mereka semua. Tidak lupa bi Marni juga menawari sarapan pagi karena kebetulan bibi memasak lebih.
Akhirnya mereka semua makan bersama. Mereka sangat menikmati sarapannya dalam diam. Tidak ada yang berbicara sedikitpun hanya suara sendok yang beradu dengan piring.
__ADS_1
Setelah selesai menikmati sarapannya ayah memilih berpamitan karena kasihan bunda yang sendirian di rumah.
"Iren, kapan kapan main ke rumah ya. Bunda selalu merindukanmu" ucap ayah.
"Baik ayah, nanti kapan kapan Iren main kesana." jawab Iren.
"Ya udah kalau begitu. Ayah pamit ya.. Titip Nathan.. Arya.. Jaga mereka ya.." pesan ayah.
"Siap paman. Arya bakal di sini samapai Nathan pulih." jawab Arya.
"Hati hati ayah" ucap Iren melihat ayah Nathan menaiki mobil Nathan.
Ayahpun pergi meninggalkan rumah Iren.
Iren dan Arya kembali masuk dan menuju ke ruang keluarga.
"Than, mau ke kamar.. Gue bantu" tawar Arya.
"Gue ingin bersama Iren dulu sebentar" ucap Nathan yang terus menatap Iren.
"Ya udah, gue cari buat jamu loe kalau gitu. Gue ajak bi Marni bisa kan Ren." jawab Arya.
"Bisa mas.. Bi Marni sedang di dapur kayaknya.." jawab Iren.
"Ya udah, gue tinggal ya.." kata Arya langsung mencari bi Marni.
"Gue ke kamar aja." jawab Ririn yang sedari tadi hanya terdiam karena menjadi merasa asing.
Melihat kedua temannya telah pergi, Nathan mengambil tangan Iren yang duduk di sebelahnya.
"Kamu baik baik saja kan sayang??" tanya Nathan.
"Selama kamu baik baik saja, begitu pula denganku juga baik baik saja." Nathan mengulas senyum.
"Nathan iihhh, gombal mulu.. Kamu ya dien diem suka juga menggombal" Iren mencubit lengan Nathan.
"Hahaha aku ga menggombal sayang.. Aku ngomong apa adanya" jawab Nathan yang sangat suka melihat wajah Iren yang sedang ngambek, menggemaskan.
"Aku takut kehilangan kamu.." kata Iren memeluk Nathan.
"Lebih lebih aku.." jawab Nathan mengecup pucuk kepala Iren.
"Jangan tinggalkan aku" isak tangis Iren.
"Jangan menangis lagi sayang... Aku berjanji, aku tidak akan meninggalkanmu sampai maut yang memisahkan kita" jawab Nathan yang masih memeluk Iren.
"Than..." panggil Iren..
"Aku susah nafasnya.." kata Iren.
"Ahhh iya maaf maaf sayang.. Kekencengan ya.." Kata Nathan melonggarkan pelukannya.
"Kamu istirahat ya.. Kamu terlihat pucat." kata Iren dan Nathan mengangguk.
"Aku antar sampai ke kamar" tawar Iren.
"kamu ga takut nganter aku sampai kamar??" ledek Nathan.
__ADS_1
"Takut kenapa?" tanya Iren polos.
"Aku terkam" bisik Nathan di telinga Iren.
Bulu kuduk Iren seketika meremang diterpa nafas hangat Nathan saat berbisik di telinganya.
"Nathan issshh lama lama kenapa kamu jadi jorok sii" sebal Iren.
"Hahahahaha kamu lucu deh.. Wajah kamu gemesin.. Dahh yukk, tolong bantu aku berdiri" kata Nathan.
"Ga mau.. Kami nyebelin.." Iren ngambek.
"Uluhh uluhhh ngambek... Iya iya maaf ya... Aku cuma bercanda sayang.. Aku ga mungkin macam macam sama kamu.." jawab Nathan.
Iren hanya diam dan membuang muka. Ireb sebal yang terus terusan digoda oleh Nathan meski hantinya senang.
"Percayalah padaku sayang.. Aku tau batasannya karena aku masih ingat bunda" kata Nathan lagi menegang tangan Iren.
Iren menoleh, saat menatap Nathan. Hatinya semakin mengahangat. Dia kagim dengan Nathan yang bisa benar benar menjaga dirinya.
"Iya aku percaya kamu kok" senyun Iren.
"Mari aku bantu" Iren bangun dari duduknya dan mencoba membantu Nathan.
Jika Nathan ingin, Nathan bisa mengambik kesempatan saat Iren mengukurkan tangannya untuk membantunya agarbIren jatuh dalan pelukannya. Namun Nathan sadar, dia tidak ingin terlalu jauh sebelum mereka resmi.
Iren memeluk pinggang Nathan dan membantu Nathan menuju ke kamarnya. Nathan tiduran dan Iren merapikan selimutnya.
"Terimakasih ya sayang.. Kamu juga istirahat." kata Nathan.
Iren mengangguk sambil tersenyum. Lalu meninggalkan Nathan agar beristirahat. Iren memilih kembali ke kamarnya, dia menatap cincin yang Nathan sematkan di jari manisnya. Sebuah senyuman terukir dibibir Iren. Dia baru menyadari bahwa perasaannya benar benar untuk Nathan. Tidak ada lagi keraguan. Dua kali Nathan bertaruh nyawa untuk dirinya. Iren mencium cincin itu.
"Cie cie... Jadi ini yang loe rahasiain dari gue??" kata Ririn tiba tiba masuk ke kamar Iren.
"Ririn... Ngagetin aja" ucap Iren.
"Jelaslah loe kaget, loe lagi asik nyiumin cincin. Coba lihat" kata Ririn menarik tangan kanan Iren.
"Waahhh ini dari Nathan??? Loe dah jadian?? Bener bener loe ya.." kata Ririn pura pura ngambek.
"Pantesan tadi di ruang tamu kalian mesra mesraan, ga inget di sini ada jomblo ngenes" ucap Ririn lagi.
Sedangkan Iren hanya tersenyum senyum menahan rasa malunya, terlihat jelas ada semburat merah muncul di wajah Iren.
"Cieeee yang malu malu" kata Ririn mencolek dagu Iren.
"Ririn issshh.. Loe sama mas Arya aja.. Orangnya baik juga itu" kata Iren mengalihkan.
"Tau deh Ren.. Nanti kalau jodoh juga bakal ketemu, kaya loe tau tau ketemu Nathan aja.." jawab Ririn.
"Ahhh Ririn..." kata Iren memeluk Ririn.
"Dahh ahh, gue kesini cuma mau memastikan loe baik baik aja.. Loe istirahat biar bugar lagi.. Gue balik ke kamar." ucap Ririn.
"Thanks ya Rin" senyum Iren.
"Sama sama" jawab Ririn lalu keluar dari kamar Iren.
__ADS_1
Iren pun memilih memejamkan matanya dan tertidur.