Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
hari terakhir


__ADS_3

Saat sudah mendekati rumah Iren, Nathan berhenti..


"Than.. Ada apa?" tanya Iren turun dari punggung harimau itu.


"Ga mungkin kan aku ke rumah mu dalam bentuk harimau.. Nanti jadi heboh.." jawab Nathan tersenyum.


"Ahhh iya lupa.. Ya udah yuk" kata Iren ceria.


Mereka berdua pun berjalan santai seolah olah baru pulang jalan jalan.


"Ceileeeeee jalan jalan pagi ga ngajak ngajak.. Kalian berdua sengaja ya hayoooo abis ngapain??" kata Ririn tiba tiba muncul dari dalam rumah.


"Apaan sii..." jawab Iren malu malu.


"Idiiihhhh kenapa muka loe merah gitu.. Ciee cieee benaran yaaa...hahahahaha" ledek Ririn menggoda Iren.


"Ririn apaan siihhh.. Kita cuma jalan jalan kok.. Loe di bangunin susah" kata Iren asal lalu jalan masuk.


"Masa??" tanya Ririn melirik Nathan.


Nathan hanya mengangkat kedua pundaknya lalu berjalan masuk menyusul Iren.


"Ihhh ni anak dua aneh... Bodo ahhh" kata Rierin akhirnya yang ikut menyusul masuk.


Iren kembali masuk ke kamarnya, yang di ikuti oleh Nathan.


"Ren... Jadi mau pindah kamar?" tanya Nathan.


"Ahhh iya lupa... Besok kita dah pulang ya..." kata Iren.


"Mau di bantuin??" tanya Nathan.


"Emmmm kayaknya ga perlu deh... Cuma baju sama beberapa foto aja si.." jawab Iren.


"Ya udah kalo gitu, kalo butuh bantuan panggil aja.." tawar Nathan..


"Ok.. Makasihh ya.." jawab Iren.


"Sama sama.. Aku balik ke kamar dulu." kata Nathan.


Iren hanya mengangguk dan tersenyum lalu masuk ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintunya, Iren langsung bersandar di daun pintunya sambil memegangi dadanya..


Dada Iren bergemuruh kencang, baru kali ini dia merasakannya.


"Jantung gue kenapa nihh.. Huuhhhh" kata Iren pada diri sendiri.


Iren tersenyum mengingat setiap kali dia bersama Nathan.


"Kenapa gue bisa sesenang ini ya.. Bukannya takut, malah ngerasa aman kalo ada dia" kata Iren lagi bingung pada diri sendiri.


Tok...tok...tok...


"Neng... Sarapannya dah siap.. Dah di tunggu sama tuan Rudi di meja makan.." suara bi Marni di balik pintunya.


"Iya bi.. Bentar.. Iren mandi dulu" jawab Iren.


"Baik neng.." jawab bi Marni.


Iren langsung menuju ke kamar mandinya dan memulai ritual mandinya.

__ADS_1


☘☘☘☘☘


Di kamar Nathan, Nathan sedang mengguyur badannya di bawah shower. Dia berdiri menghadap ketembok dan menempelkan kedua tangannya ketembok sebagai tumpuan badannya dengan menundukkan kepalanya.


"Gue senang loe membalas perasaan gue Ren.. Tapi gue takut kehilangan elo." kata Nathan lirih


Selama ini Nathan sebenarnya takut Iren dalam bahaya jika bersama dia. Tapi setelah tau Iren manusia spesial, Nathan kembali berfikir tanpa dia pun Iren juga dalam bahaya besar.


"Ayah... Mampukah putra mu ini melindunginya seperti ayah melindungi bunda??" kata Nathan.


"Percayalah nak, kamu akan mampu.. Bahkan kemampuanmu melibihi ayah" ada suara yang tiba tiba menyahut Nathan.


"Ayah..." Nathan terkejut lalu mendongakkan kepalanya dan mencari sosok ayahnya, namun tidak ada.


"Jangan bingung nak, aku lah yang selalu bersamamu.. Aku akan membantu untuk menjaganya.. Yang tepenting kamu harus tetap siaga dan terus menjaga staminamu.." jawab suara itu.


"Siapa anda??" tanya Nathan lirih.


"Tanyakan saja pada ayahmu" jawabnya.


Nathan memilih bergegas menyelesaikan mandinya, lalu keluar dari kamar mandi.


Nathan dan Iren bersamaan keluar dari kamar mereka dan saling bertukar pandangan. Nathan tersenyum.


"Wah...wah...wahm.. Kayaknya gue ketinggalan kabar nihh" Ririn yang tiba tiba muncul dari dalam kamarnya.


"Apaan sih Rin... Dahh yuk ahh kita sarapan dah di tungguin sama paman" Iren menoleh menatap Ririn lalu menggandengnya.


"Ayok Than.." ajak Iren.


Mereka bertiga pun turun menuju meja makan..


"Tidak kok Ren.. Ya udah yukk sarapan" kata Rudi.


Mereka semua menikmati sarapan mereka dalam keheningan. Hanya ada suara dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar di sana.


"Ren.. Kamu ga nengok perusahaan papimu?? Umurmu sebentar lagi sudah cukup untuk mengambil alih perusahaan" kata Rudi tiba tiba.


Nathan mencoba membaca keluarga kecil itu.. Tampaknya istri paman Rudi tampak tidak suka mendengar kata kata suaminya.


"Paman... Perusahaan kan sudah di percayakan sama paman.. Apakah masih harus Iren juga?" tanya Iren.


"Iren... Paman hanya menjalankan perusahaan papimu, bukan memimpinnya.. Yang memimpin tetap harus kamu.. Karena kamulah pewaris tunggalnya" jawab Rudi.


"Tapi paman, Iren belum siap.. Iren merasa ga mampu" jawab Iren yang sesungguhnya sedikit enggan membahas ini.


"Baiklah.. Nanti di setelah sarapan paman akan bicara kepadamu" kata Rudi yang seakan paham ke engganan Iren.


Dalam diam Nathan terus mengamati mereka.. Yang harus di waspadai adalah sang istri Rudi.. Sangat jelas dia tidak menyukai perusahaan yang lama suaminya kelola jatuh begitu saja kepada Iren meski dia tau Irenlah pewaris tunggalnya. Namun dia menginginkan suaminyalah yang memiliki perusahaan itu karena sudah bersusah payah mengurusi perusahaan itu. Dan putranya yang akan meneruskannya nanti. Rasa iri hatilah yang tengah menyelimuti hatinya.


Setelah sarapan mereka selesai.. Iren mengikuti Rudi ke ruang kerja yang dulu selalu di gunakan oleh papi Iren.


"Silahkan Ren" kata Rudi.


"Lohh kok aku yang di sini, paman dong?" kata Iren bingung melihat Rudi menyuruhnya di kursi kebesaran sang papi.


"Tidak Iren, paman tidak bisa.. Itu milikmu.." kata Rudi sambil duduk di depan Iren.


"Baiklah paman.. Ada apa paman, kan tadi Iren dah jelaskan.. Iren juga masih ingin fokus kuliah paman" kata Iren.

__ADS_1


"Paman tau Ren, tapi se enggak nya kamu belajarlah untuk turut serta dalam perusahaan papimu.. Papimu tidak mudah membangunnya Iren.. Paman hanya mewakili, paman tidak punya hak sedikitpun untuk memimpin.. Paman hanya diberi kepercayaan hingga umurmu 25tahun.. Maka dari itu, paman harus memulai mempersiapkanmu dari sekarang" kata Rudi panjang lebar.


"Hufhhhh Iren benar benar belum siap paman" Iren menghela nafas.


"2 tahun lagi umurmu genap 25 Iren.. Paman mohon... Paman harus memberikan amanat yang papimu berikan, paman tidak mau merasa bersalah terus menerus jika gagal menuntunmu" Rudi memasang wajah sedihnya.


"Paman.. Beri Iren waktu lagi ya.. Se enggaknya hingga Iren sudah bisa cari waktu.. Iren ga mau ninggalin kuliah Iren.." bujuk Iren yang tidak tega melihat Rudi..


"Baiklah... Paman akan berusaha menunggumu Iren.. Paman juga pamit ya.. Paman harus pulang.. Paman mu ini sudah tidak bisa lagi terlalu capek Iren.." kata Rudi.


"Paman jaga kesehatan selalu ya.. Iren janji, sampai benar benar Iren punya waktu Iren akan mengisi tempat papi.." jawab Iren mengenggam erat tangan Rudi.


"Kamu jaga diri ya di sana, jika ada apa apa kabari paman" kata Rudi.


Rudi sangat menyayangi Iren, layaknya putri sendiri.. Itu karena kebaikan hati orang tua Iren yang dulu telah menolongnya dari keterpurukannya.. Saat dia jatuh, papi Iren lah yang mau mengulurkan tangannya hingga dia seperti sekarang ini. Salah satu bentuk balas budinya hanyalah menyayangi Iren dan menjaganya sama seperti dia menjaga putrinya sendiri.


Rudi beserta anak istrinya pergi meninggalkan kediaman Iren. Iren kembali masuk ke dalam rumah setelah mengantar pergi Rudi.


"Bi Marni, Iren ingin pindah kamar.. Tapi rasanya males.. Besok aja ya kapan kapan tolong pindahin barang barang milik Iren ke kamar papi mami.." kata Iren saat melihat bi Marni akan menuju ke dapur.


"Baik neng.. Perlu dekorasi ulang?" tanya bi Marni.


"Ga usah bi.. Biar gitu aja dulu.. Yang penting barang barang Iren aja dulu" jawab Iren sambil tersenyum.


"Baik neng" jawab bi Marni.


"Ya udah Iren ke halaman belakang, bikinin 3 minuman ya bi tolong" kata Iren lagi.


"Ya neng, bibi buatin dulu ya" jawab bi Marni.


Iren menuju ke halaman belakang di mana kedua temannya telah menunggunya di sana.


"Ren, hari ini kan hari terakhir kita di sini.. Besok dah pulang.. Kita ngapain ya enaknya" tanya Ririn.


"Kalau gue penginnya ya gini aja.. Rasanya lagi males mau kemana mana" jawab Iren.


"Oh ya Ren, bunda tadi sempet telepon.. Besok di suruh main ke rumah.. Kamu mau??" kata Nathan.


"Boleh.. Kita mampir aja dulu ke rumah mu besok" jawab Iren yang langsung berseri mendengar kata bunda.


"Tunggu tunggu... Loe dah akrab sama nyokapnya Nathan.. Wahh..wah.. Dah dapat restu nih hihihihi" Ririn kembali menggoda.


"Bunda baik tau Rin.. Gue berasa kaya sama nyokap sendiri..." jawab Iren sambil mengenang kebersamaannya saat bersama bunda.


"Ohhh iya ngomong ngomong soal bunda.. Besok bawain apa ya???" kata Iren sambil mikir.


"Nahhh betul tuhh masa mau ketemu camer ga bawain apa apa" kata Ririn.


"Goda terosssss" kata Iren sambil menjitak Ririn.


"Hahahahaha.. Iya juga gapapa kali Ren.. Kalian berdua cocok kok" kata Ririn senang menggoda Iren.


"Ren, bunda tuhh seneng bikin brownis.. Kamu bikinin itu aja.." usuk Nathan.


"Hmmmm boleh juga tuhhh... Ya udah nanti gue bikin.. Sekalian buat cemilan di mobil besok" kata Iren.


"Neng, ini minumnya.." bi Marni mengantarkan 3 gelas minuman dan beberapa makanan ringan.


"Terimakasih ya bi" jawab Iren tersenyum.

__ADS_1


Mereka bertiga pun kembali menikmati haru terakhir mereka di sana.


__ADS_2