Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
sebuah petunjuk


__ADS_3

Saat memasuki kamarnya dahulu, Iren terkejut.. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari terakhir dia tempati.. Masih sama, perlahan dia berjalan ke meja belajarnya di sana masih ada foto saat dia bersama orang tuanya. Tidak terasa air matanya kembali metes.


"Papi.. Mami.. Aku kangen hiksss" tangis Iren sambil memeluk foto tersebut.


Iren berjalan ke arah tempat tidurnya dengan masih memeluk erat foto. Di rebahkannya tubuhnya, dan tidak lama kemudian dia tertidur lelap.


#####


Iren berjalan sendirian di tengah hutan belantara dengan pohon pohon yang begitu besar, dia terus menyusuri seperti setapak jalan dengan wajah kebingungan.


"Di mana aku??" batin Iren dengan terus melihat lihat di sekelilingnya.


Iren terus menyusuri jalan setapak yang terlihat tanahnya.. Sesekali dia melihat kebelakang. Tidak lama kemudian dia menemukan seperti jalan yang bercabang.. Iren kembali bimbang..


"Aku harus kemana.. Kenapa tidak ada orang yang lewat.. Jika memang tidak ada yang pernah lewat.. Kenapa seperti ada bekas jejak seperti ini" kata Iren berbicara sendiri.


Iren mengambil jalan sebelah kanannya sesuai kata hatinya. Tidak jauh dia berjalan, Iren melihat seperti sepasang suami istri yang tidak asing bagi dia.


"Papi... Mami.." kata Iren perlahan.


Sepasang suami istri itu membelakangi Iren, dan berjalan perlahan menjauh.


"Papi...!! Mami!!! Ini Iren.. Tunggu!!" teriak Iren.


Iren berlari mengejar, namun bukannya semakin dekat tetapi malah semakin jauh. Iren terus berusaha berlari.


"Papi.. Tunggu Iren pi... Mami...!" Iren terus memanggil.


Saat Iren merasa kehabisan tenaganya, Iren tersungkur jatuh berlutut.


"Huhhh huhhh huuhh mami papi tunggu Iren huuhh" Iren tersengal sengal.


Saat Iren melihat kedepan, sepasang suami istri itu membalikkan badannya dan melihat Iren dengan wajah pucatnya mereka tersenyum. Dan dari arah kanan mereka datang seekor harimau putih..


Melihat itu Iren menjadi takut, dia takut terjadi sesuatu oleh mereka.


"Mami... Papi awas!!!!" teriak Iren


Namun Iren terkejut melihat pemandangan di depannya.


Tampak pria itu mengelus kepala harimau itu dengan lembut dan membisikkan sesuatu..


Iren terus menatapnya tidak percaya..


Harimau itu seolah olah menundukkan kepalanya setelah pria itu selesai berbisik kepada dia, lalu pria itu kembali mengelusnya dengan mengangguk.


Harimau itu berjalan ke arah Iren perlahan. Iren terkejut dan merasa takut. Karena panik Iren langsung bangkit berdiri dan akan berlari dengan berjalan mundur memastikan harimau itu namun sayang Iren terjatuh.

__ADS_1


Iren semakin panik, dia benar benar takut saat harimau itu semakin dan semakin dekat. Tapi sekejap Iren mematung melihat reaksi harimau itu, dia tidak menyakiti Iren bahkan menggeram pun tidak. Bahkan harimau itu malah mengusapkan kepalanya ke pipi Iren. Selayaknya kucing yang manja kepada majikannya.


Seelah itu, Iren kembali menatap kedua orang itu. Iren terkejut melihat sepasang suami istri itu justru semakin jauh..


"Papi!!!! Mami!!!" Iren menangis, dia mengulurkan tangannya dan bangkit berdiri akan berlari namun di tahan oleh harimau itu.


#####


"Haahhh huuhhhhh" Iren terbangun dari tidurnya dengan peluh keluar dari dahinya.


Dia melihat sekelilingnya, dia masih berada di kamarnya dan dia tersadar masih memegangi foto kedua orang tuanya. Perlahan dia turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke kamar mandinya.


Di depan wastafel Iren mencuci mukanya lalu menatap ke cermin.


"Mimpi apa tadi?" kata Iren lirih..


Iren terus memikirkan mimpinya tadi..


Lalu dia memilih mandi sesaat agar merasa lebih segar.


Tok..tok...tok..


"Ren, gue boleh masuk" panggil Ririn.


"Masuk aja Rin, ga dikunci kok" kata Iren yang masih mengeringkan rambutnya.


"Ayok.. Bentar ya.." kata Iren.


"Ehh Ren, kayaknya asik tuhh ntar malam kita bakar bakaran.." Ririn memberikan ide.


"Hmmm coba nanti gue tanya, ada ga bahan bahannya.. Kalo ga ada kita masih bisa beli mumpung masih jam segini" jawab Iren.


Iren dan Ririn pun berjalan menuruni anak tangga, mereka menuju ke dapur dan bertemu dengan bi Marni yang sedang memasak.


"Bi.. Di lemari es bahan bahan makanan komplit ga" tanya Iren.


"Kalo sayuran masih komplit neng, kemaren pak Rudi dan istrinya yang belanja" jawab bu Marni.


Iren pun membuka isi lemari esnya, benar.. Hanya ada sayuran dan daging ayam saja.


"Rin, kita ke pasar yuk" ajak Iren.


"Neng mau ke pasar.. Bibi temenin ya.. Emang eneng mau beli apa?" tanya bi Marni.


"Ini Ririn ngajak bakar bakaran nanti malam, tapi bahan bahannya masih kurang lengkap.. Ya udah ayok bi kita kepasar, jalan aja bisa kan ya bi" kata Iren.


"Ohhh bisa neng, nanti kita potong jalan aja biar lebih dekat" jawab bi Marni.

__ADS_1


"Ya udah ayok, gue ambil dompet dulu" jawab Ririn.


"Ya udah bi siap siap ya.. Ehh Rin Nathan kemana?" tanya Iren.


"Kedepan kali" kata Ririn sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Tidak lama kemudian mereka bertiga sudah siap.


"Ini mau pada kemana?" tanya Nathan yang sedang mengamati sekitaran rumah Iren dengan kamera yang masih menggantung di lehernya.


"Kita mau kepasar, ikut yukk" ajak Ririn.


"Ya udah ayo, aku ambil kunci mobil" jawab Nathan akan mengambil kuncinya.


"Eitsss kita jalan aja Than, deket kok" kata Iren.


Setelah mengunci pintu depan, mereka berempat berjalan santai menuju ke pasar.


Mereka berjalan melewati pinggiran hutan meski masih ada beberapa rumah penduduk. Sesekali Nathan mengambil gambar yang menurutnya cukup menarik.


"Bi, emangnya di sini ibu ibu ke pasar pada lewat sini?" tanya Ririn kepo.


"Iya neng, kalo pagi rame pada lewat sini.. Kami lebih senang berjalan kaki kalo ke pasar bareng bareng sama ibu ibu yang lain" jawab bi Marni.


"Ga ada gitu tukang sayur" tanya Ririn lagi.


"Ada neng tapi kan ga se komplit di pasar neng" jawab bi Marni lagi.


"Tapi ini kan hutan bi" Ririn membayangkan kalau malam tiba.


"Kami sudah terbiasa keluar masuk hutan neng, jadi sudah menjadi hal yang biasa" kata bi Marni.


Nathan yang berjalan di belakang mengikuti tiga wanita di depannya tidak henti hentinya memasang mode waspada nya dengan dalih mengambik beberapa gambar. Karena dia yakin di dalam sana ada yang sedang mengawasi gerak geriknya.


**terimakasih sekali yang sudah komen di tulisanku ini..


jangan lupa like dan komentnya ya..


biar author semangat buat nulis..


jangan lupa melipir ke novel pertama author** Cinta Dalam Dendam dan Benci..


**mudah mudahan suka ya dengan tulisan tulisan author.


author sedang belajar nulis, kasih kritik dan sarannya untuk author.


terimakasihhh. 🙏🙏☺☺☺**

__ADS_1


__ADS_2