Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
jalan jalan


__ADS_3

Di hari libur ini, Nathan Iren dan Arya Ririn memilih jalan jalan di atas bukit yang tidak jauh dari rumah Iren. Setelah sarapan pagi, mereka bersiap siap untuk menuju ke sebuah tempat wisata yang tidak jauh dari rumah Iren..


Iren teringat akan sesuatu hal, tentang peninggalan sang papi. Iren berjalan menuju ke arah halaman belakang, di sana terdapat sebuah garasi yang sangat jarang di buka. Setelah mengambil kunci gemboknya, Iren pun membuka garasi mobilnya tersebut. Pintu garasi ia buka selebar mungkin, dan terpampang jelas di depan Iren sebuah mobil yang masih tertutup. Lalu Iren membuka mantel yang menjadi penutup mobil tersebut.


Sreettt..


"Uhuk... Uhukk... Uhuk.. Ahh debunya banyak banget.." kata Iren yang terbatuk batuk..


Iren melipat penutup itu dan menyimpannya di salah satu rak di sana. Lalu Iren membersihkan bajunya yang terkena debu dari penutup tersebut. Dia mengibas ngibaskan tangannya untuk menyingkirkan debu yang menempel di bajunya.


"Kira kira masih berfungsi ga ya??" gumam Iren.


Irenpun menuju ke kamar Nathan untuk memanggilnya. Karena Iren tau jika Nathan ahli akan hal otomotiv.


Tok...tok...tok...


"Yang..." panggil Iren.


"Sebentar..." jawab Nathan.


Ceklek..


"Kamu dah siapkan??" tanya Iren setelah Nathan berdiri di depan pintu.


"Sudah.." jawab Nathan.


"Ikut aku sebentar yuk.." kata Iren menggandeng tangan Iren.


Nathanpun mengikuti langkah Iren.


"Sebentar.. Tunggu di sini" kata Iren masuk ke dalam kamarnya.


Tidak berapa lama kemudian Iren kembali keluar dan menutup pintu kamarnya.


"Ayok.." ajak Iren.


"Ada apa si yang" tanya Nathan.


"Aku baru inget, di garasi belakang rumah ada peninggalan papi.. Kamu cek nanti ya" kata Iren.


"Emang apa?" tanya Nathan.


"Itu.." tunjuk Iren setelah mereka berdua sampai di depan garasi.


"Jip?? wahhh bentar aku coba cek dulu ya.." kata Nathan mengamati mobil tersebut.


"Selera papimu bagus juga ya yang.. Mana kuncinya" kata Nathan.


"Nih.." jawab Iren melempar kunci tersebut dan Nathan menangkapnya..


Nathanpun mulai mengecek dan ternyata kondisinya masih cukup baik meski sudah lama tidak terpakai..


"Hanya air radiatornya aja yang harus ditambahin.." jawab Nathan.


"Aku ambil dulu" kata Nathan.


"Berarti dah bisa di pakai kan??" tanya Iren.


"Sudah.. Enak nih buat jalan ke atas" jawab Nathan.


Tak berapa lama kemudian mobil siap dan Nathan sudah memanasi terlebih dahulu mobil tersebut.


Nathan dan Irenpun berdua menuju ke halaman depan setelah Iren menutup kembali pintu garasi tersebut.


"Wahhh dapet mobil dari mana kalian??" tanya Arya yang melihat Nathan dan Iren parkir di halaman depan rumah.


"Punya papi gue.. Gue lupa kalau ada ini.. Untung masih berfungsi" kata Iren.


"Dahh siap semua?? Yukkk" kata Iren lagi.

__ADS_1


"Lets goo." jawab Arya setelah memasukkan beberapa persiapan yang mereka bawa ke bagian belakang.


Di susul Ririn yang baru saja keluar dari rumah.


"Widiiihh mobil baru nih.. Punya siapa?" tanya Ririn sambil naik ke bangku penumpang belakang Iren.


"Punya bokap gue.." jawab Iren.


"Dah siap?" tanya Nathan.


"Siapp.." jawab Iren, Arya dan Ririn kompak.


"Jangan lupa isi bensin dulu.. Nanti kita lewati pom mini" kata Iren mengingatkan..


"Siap.." jawab Nathan.


Merekapun meninggalkan rumah Iren dan menuju ke tempat yang mereka tuju untuk menikmati hari libur mereka.


Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menuju ke tempat tersebut. Di sana udara sangat sejuk dan dingin, di tambah pemandangan yang begitu asri. Tebing Keraton yang berada di kawasan Ciburial, Cimenyan inilah yang mereka tuju.


Mereka menikmati kebersamaan mereka di sana. Meski ada beberapa wisatawan juga di sana.


"Nathan, Arya.. Ini benar kalian kan??" sapa seseorang tiba tiba.


Nathan dan Aryapun mengamati gadis yang berada di depan mereka.


"Naura??" tebak Arya.


"Ya benar.. Ya Ampuuunn lama banget ya kita ga ketemu.. Apa kabarnya kalian.. Nathan kamu ga banyak berubahannya ya.." kata Naura menatap Nathan lekat.


Sedangkan Iren dan Ririn hanya menatap interaksi mereka tanpa mau mengganggu.


"Alhamdulillah kami baik.. Bagaimana dengan kamu??" jawab Arya dan Nathan hanya mengangguk.


"Seperti yang loe lihat" kata Naura sambil merentangkan tangannya.


"Tuuhh sama temen temen kuliah" jawab Naura menunjuk ke arah teman temannya yang sedang asik berfoto foto.


"Eemmm Than, boleh kita bicara berdua ga??" tanya Naura.


"Ada apa? Di sini saja, sama saja kok.." jawab Nathan dingin.


"Sebentar aja Than please.. Gue pingin bicara empat mata sama loe" pinta Naura menarik Nathan sedikit menjauh.


Iren terus mengamati mereka berdua, dan Arya menyadari itu.


"Ren, loe harus percaya sama Nathan. Gue yakin Nathan bisa dipercaya Ren.. Dia cuma cinta sama loe.. Dari dulu Naura memang suka sama Nathan sejak mereka masih SMA. Tapi Nathan ga pernah meresponnya.." kata Arya menjelaskan.


Iren hanya mengangguk mengerti.


"Than, pertanyaanku soal perasaanku yang dulu masih berlaki loh sampai saat ini.. Meski kita dah ga pernah ketemu.. Tapi perasaan itu masih ada hingga saat ini" kata Naura serius.


"Kamu ingin tau jawabannya??" tanya Nathan.


"Iya Than.." jawab Naura berbinar.


Nathan menggandeng tangan Naura dan membawanya kembali ke posisi dimana ada Iren dan yang lainnya. Otomatis hal itu membuat Naura semakin berbunga bunga.


"Ra.. Kenalin ini Iren.. Calon istri gue.. Jadi loe dah tau jawabannya kan?" kata Nathan memeluk pinggang Iren.


Jlebb..


Naura seketika mematung saat Nathan mengatakan calon istri. Hampir 3 tahun dirinya menyimpan perasaan itu untuk Nathan.


"Ra..." panggil Nathan.


"Ahhh i..iya gue paham.. Hai.. Gue Naura.. Temen waktu SMA dulu. Selamat deh kalau gitu.. Maaf ya Than, Ren kalau kedatangan gue mengganggu kalian.. Maaf ya Than.." kata Naura.


"Gapapa Ra.." jawab Nathan masih memeluk pinggang Iren erat.

__ADS_1


"Lagi lagi gue gagal. Hufhhh dia memang gadis yang pantas untuk Nathan.." batin Naura.


"Ya udah gue pamit dulu ya.." jawab Naura.


"Ga mampir dulu rumah gue Ra" tawar Iren.


"Makasih Ren, lain kali aja ya.. Gue ga enak ninggalin teman teman di sana.. Dari tadi di telponin mulu.. Lain kali gue mampir daaa" kata Naura sambil menunjukkan ponselnya dan langsung melenggang pergi.


Iren hanya melambaikan tangannya. Nathan menatap wajah Iren. Dia merasa aneh mengapa tidak ada raut sebal atau marah ketika dirinya sempat berduaan dengan Naura.


"Naura ga kaya Putri ya.." celetuk Ririn.


"Ga semua sama kali Rin.." jawab Iren.


"Tapi bentar lagi kita balik ke kampus, siap siap ngadepin temen loe yang centil itu siapa namanya yang bokapnya pemilik kampus" kata Ririn.


"Cindy?" kata Iren.


"Naahh iyaaa" jawab Ririn.


"Itu mah terserah Nathan gimana" lirik Iren.


"Cieee ada yang mulai cemburu" ledek Ririn.


"Apaan siihh.." jawab Iren.


"Ar, ajak Ririn jalan dulu sana.. Biar ga gangguin gue sama Iren" celetuk Nathan godain Ririn.


"Mau Rin jalan sama gue??" tanya Arya.


"Haahh.. Mmm" Ririn tampak ragu.


"Halahhh pakai acara dittawarin segala.. Udah sana foto foto kek" kata Nathan gregetan.


"Cieeee ada yang lagi mulai mulai.." ledek Iren ke Ririn.


"Apaan si Ren.. Balas dendam loe ya.." kata Ririn.


"Hahahaha.." Iren tertawa puas melihat Ririn yang bersemu merah.


"Dah yukk kita ngalah dulu jangan gangguin calon suami istri ini" Arya menggandeng tanga Ririn.


Ririn yang merasa tanggannya digenggampun memperhatikan tanggannya tersebut.. Hatinya merasa senang, namun dia juga belum berani meyakinkan hatinya jika perasaannya iti akan terbalaskan..


"Ciieeee bentar lagi yang mau nyusul.." goda Iren puas..


"Ireeeennnn" teriakk Ririn kesal..


Irenpun tertawa puas melihat temannya malu malu tidak seperti biasanya.


"Sudah puas?" tanya Nathan..


"Hahaha sudah.. Senang aja melihat wajah Ririn yang malu malu" jawab Iren.


"Temanmu iti sepertinya mulai suka sama Arya.. Tapi Arya belum bisa membuka hatinya.. Tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti doa juga bisa suka sama temanmu itu" kata Nathan.


"Dari mana kamu tau?" tanya Iren.


"Apa kami lupa, kalau semua orang di sini aku bisa baca isi hati mereka, pikiran nereka.. Hanya kamu yang tidak mampu aku baca" kata Nathan.


"Masa si??" tanya Iren.


"Serius yang.. Sejak awal bertemu dengan kamu, aku penasaran sama kamu. Kamu berbeda" kata Nathan lagi lagi memeluk pinggang Iren sambil sama sama menatap ke arah tebing yang terlihat hijau menyejukkan mata.


"Spesial dong ya" kata Iren mendongakkan kepalanya untuk menatap Nathan.


"Tentu dong sayang" jawab Nathan mencium kening Iren.


Baru kali ini Nathan mencium kening Iren, dan itu cukup membuat Iren tersiam terpaku menikmati ciuaman itu meski hanya sesaat.

__ADS_1


__ADS_2