
"Than..." panggil Iren.
"Ya.. Udah siap??" Nathan menoleh dan Iren hanya mengangguk.
"Sini aku bawain.." Nathan mengambik tas yang di pegang Iren.
Iren hanya diam dan menatap Nathan lekat. Dia begitu tidak percaya Nathan bisa semanis itu, mengingat sikap Nathan saat berada di tempat umum.
"Ayokk..." Nathan mengulurkan tangannya.
"Iren..." panggil Nathan lagi yang melihat Iren hanya terdiam dan terus menatapnya.
"Ren.. Kamu gapapa???" tanya Nathan lagi sambil melambai lambaikan tangannya di depan wajah Iren.
"Ehhhh i..iya Than.." jawab kaget Iren.
"Kamu melamun ya?? Mikirin apa si hemmm" tanya Nathan lagi.
"Haaahhh engggg ga mikirin apa apa.." jawab Iren l.
"Ya dah.. Yukk.. Belum makan kan??" kata Nathan sambil menggandeng Iren.
Mereka pun keluar dari apartemen Iren dan Nathan mengajak Iren untuk makan siang.
Nathan memilih sebuah tempat makan steak.
"Tunggu di sini ya, aku pesen dulu" kata Nathan yang lalu meninggalkan Iren untul memesan.
"Wahhh....wah.." kata Cindy tiba tiba yang berdiri di depan Iren
Plok...plok..
"Kayaknya gue harus belajar sama loe nih Ren.. Kayaknya baru tadi pagi gue lihat loe sama si siapa itu namanya" Cindy sok mikir.
"Peter Cin" jawan Fitri.
"Aahh iya Peter.. Ehhh ini tau tau udah sama yang lain aja.. Loe pake apa si sampe cowok cowok bisa luluh sama loe.." kata Cindy sinis.
"Ngomong ngomong biaya sewa loe brapa?? Siapa tau.." kata Cindy terpotong.
Plaakkk....
"Aawwwwww" pekik Cindy memegangi pipinya
Iren menampar Cindy cukup keras. Iren sudah tidak bisa lagi mengalah.. Kali ini Cindy sudah cukup keterlaluan.
Tiba tiba Nathan datang berada di antara mereka.
"Nathan... Loe lihat nih, gue ngomong baik baik tapi dia nampar gue.. Mana sakit lagi duuhhh" kata Cindy memelas agar mendapatkan pembelaan dari Iren.
"Jangan loe pikir gue ga tau Cin.. Gue denger semua yang loe katakan ke Iren.. Tamparan itu sebenarnya belum pantas kamu dapatkan." kata Nathan.
"Kok loe malah belain dia si.. Gue tuhh belain loe di sini.. Dia gadis yang loe cinta cinta gonta ganti cowok mulu.. Loe mau dapet bekas banyak cowok?" kata Cindy membela diri.
"Jangan sampai gue menampar loe Cin.. Loe di sini ga tau apapun.. Dan loe hanya cukup tutup mulut loe. Dan loe juga ga lebih baik dari Iren. Emang loe pikir gue ga tau masalalu loe hahhh!!! Lebih baik loe pergi dari sini..!!!" bentak Nathan.
"Ok..ok gue pergi, asal loe jangan menyesalinya Nathan.." ancam Nathan..
Cindy pun pergi meninggalkan Iren dan Nathan.
"Kamu gapapa kan??" tanya Nathan.
"Gapapa kok.." jawab Iren.
"Aku bungkus aja ya, makan di kost.. Sebentar" kata Nathan yang mencoba mengerti perasaan Iren.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Nathan audah membawa 3bungkusan makanan.
"Dah yukk.." Nathan mengambil tas Iren.
"Sini aku bawain aja" kata Iren yang merasa ga enak.
"Kamu bawa ini aja.. Dah yukk" Nathan memberikan bungkusan makanan itu.
Mereka berduapun akhirnya kembali ke kost Nathan..
Setiba di kost, tampak Ririn baru pulang dari kampus.
"Ririn..."panggil Iren.
"Iren???" jawab Ririn terkejut melihat Iren berada disana.
"Loe baru pulang..?? Makan yukk sama gue dan Nathan.. Nathan abis beliin traaaalaaa" kata Iren menunjukkan bungkusan makanan.
"Waaahhh boleh juga tuuuhhh" jawab Ririn.
"Rin.. Iren biar nginep di tempat loe dulu ya.. Gapapkan??" kata Nathan.
"Bolehhh dong... Apa sii yang ga boleh buat sahabatku yang satu ini" jawab Ririn merangkul Iren.
"Dahh yuk siapin dulu... Sini tasnya Than.." kata Ririn mengambil tas milik Iren.
Mereka bertiga pun makan bersama di kamar Ririn. Perlahan keceriaan Iren kembali, meski masih ada ketakutan yang masih tersisa.
"Mmmm Ren, besok lo mau PKL di mana??" tanya Ririn di tengah tengah dia mengunyah daging.
"Gue ke perusahaan papi.. Gue dah janji sama paman." jawab Iren.
"Gue ikut dong Ren.. Gue males nyari tempat nih hehehehe" kata Ririn cengengesan..
"Boleh boleh.. Gue seneng kalo ada temennya." jawab Iren.
"Heemm gue?? Gue paling di bengkel Arya.." jawab Nathan.
"Arya?? Yang waktu itu bantuin benerin mobil loe bukan Ren??" tanya Iren.
"Iya..." jawab Iren.
"Kalian LDRan dong.." jawab Ririn.
"Apa sii Rin.. Jangan mulai deh.." kata Iren.
"Hahahaha wajah loe merah gitu Ren" ledek Ririn.
Nathan hanya tersenyum melihat Ririn yabg berusaha menghibur Iren.
"Ren.. Kamu istirahat dulu ya.. Aku mau nemuin orang yang mau benerin pintu kamu.. Rin, titip Iren ya.." kata Nathan.
"Elaahhh emang loe pikir Iren barang apa... Eeehhh tunggu.. Iya gue baru sadar.. Loe berdua kenapa bisa bareng ya.. Ada apa nih.. Trus kenapa pintu sampe rusak.." selidik Ririn baru menyadarinya.
"Ga ada apa apa.. Dah ya Rin Ren.. Udah di tunggu.." pamit Nathan.
"Ren... Bukannya gue kepo.. Tapi loe hutang penjelasan sama gue" kata Ririn.
"Gue jelasin nanti di dalam jangan di sini" jawab Iren.
Mereka berduapun masuk ke dalam kamar Ririn. Di dalam, Iren mulai menceritakan apa yang sudah dia alami di apartemen.
"Yaa ampunnn Ren.. Untung Nathan dateng ya.. Kalau enggak gimana jadinya.. Bang**t tuhh si Peter.... Kan loe bisa bela diri Ren?? Kenapa ga lawan aja??" tanya Ririn.
"Gue ga ada bayangan sama sekali Rin kalo bakal seperti itu. Dan loe tau, tenaga dia tuhh kuat banget.. Lihat nihh tangan gue ini dua duanya cuma dia pegang tangan satu aja tapi kaya gini.. Gue cuma mau bergerak aja susah.. Boro boro melawan.. Bisa gigit aja dah untung" Iren memunjukkan luka lebam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Nathan tau luka ini??" tanya Ririn meraba luka Iren.
"Enggak.. Dia belum menyadarinya." jawab Iren.
"Gue jamin, dia lihat ini waktu itu, si Peter pasti dah habis ditangan nathan" jawab Ririn.
"Makanya gue ga mau nunjukin ini" jawab Iren.
"Masih sakit??" tanya Ririn.
"Lumayan.." jawab Iren.
"Gue kayaknya punya deh obat buat luka lebam gini.. Bentar ya gue cari dulu" kata Ririn mulai mencari.
"Naaahhh ketemu.. Nihh pake.. Biar ga terlalu sakit juga" kata Ririn setelah mencari cari kesana kemari.
Iren pun mengoles salep tersebut dan setelah itu mereka berdua memilih beristirahat. Terlebih Iren yang merasa sangat lelah fisik dan hatinya yang telah mengalami kejadian demi kejadian.
#####
Malam harinya, Ririn sedang mengerjakan tugas kampusnya, sedangkan Iren hanya berdiam diri sambil tiduran.
Ting...
"Ren, keluar gihh.. Aku dah di teras bawa beberapa makanan.. Ajak Ririn juga" pesan dari Nathan.
"Tunggu sebentar, aku keluar" balas Iren.
"Rin, Nathan ngajak duduk di depan.. Loe mau ikutan ga.. Bawa makanan dia.." ajak Iren.
"Gue nyusul aja ya, tanggung nihh mau kelar dikit lagi" jawab Ririn yang fokus di tugasnya.
"Ya udah, gue tunggu di depan ya.." kata Iren keluar kamar.
#####
"Sendiri??" tanya Nathan yang sudah duduk manis di bangku.
"Ririn lagi sibuk.." jawab Iren.
"Dusuk sini.. Aku ingin ngomong sesuatu" kata Nathan sambil menepuk nepuk bangku kosong di sebelahnya.
Iren pun menuruti dan duduk di samping Nathan.
"Nanti selama PKL, aku ga bisa setiap waktu bareng sama kamu tidak seperti di sini. Tapi di sana ada anak buah ayah yang jagain paman mu dan otomatis akan jagain kamu juga.. Ayah sudah berhasil menguasai kawasan sana.. Jadi akan sangat mudah bagi ayah mengetahui jika ada musuh mendekat.." jelas Nathan.
"Apa kamu yakin Yosep ga akan nekat Than??" Iren masih merasa takut.
"Tenang aja.. Untuk saat ini Yosep belum bisa melakukan apapun.." jawab Nathan.
"Terimakasih ya Than.. Jika ga ada kamu.. Aku ga tau akan menjadi seperti apa" kata Iren.
"Ren.. Aku sudah berulang kali bilang sama kamu.. Aku akan selalu bersama kamu, melindungi kamu.. Jangan takut lagi ya.. Ada aku dan ayah" jawab Nathan.
Pandangan mereka beradu, semakin lama pandangan mereka semakin dalam hingga tanpa sadar Nathan memajukan kepalanya perlahan dann..
"Eghhmmmm" suara deheman Ririn.
"Woyyy lihat lihat tempat dong.." ledek Ririn.
Iren dan Nathan pun menjadi salah tingkah. Dan Nathan pun merutuki dirinya sendiri kenapa bisa kelepasan.. Hampir saja, untung ada Ririn yang membuatnya kembali sadar.
"Than, loe mah bener bener ya.. Jangan bikin para jomblo di sini pada ngiri napa??" kata Ririn lagi.
"Apaan si Rin.. Nihh martabak telor makan tuhh" kata Iren menyumpal mulut Ririn.
__ADS_1
Dan mereka bertiga pun akhirnya tertawa dan kembali Iren dengan Nathan menjadi bahan ledekan Ririn. Namun mereka tampak menikmati malam kebersamaan mereka setelah sebulan lebih tidak bersama.
Diam diam dari kejauhan ada yang terus mengamati mereka dan merasa tidak suka melihat kebahagiaan Nathan yang telah menghancurkan rencananya.