
Sore harinya, Nathan menuju ke apartemen Iren untuk menjemputnya.
Ting tong
5menit kemudian pintupun terbuka.
"Ehh loe Than.. Masuk dulu.. Iren lagi mandi" kata Ririn yang membukakan pintu.
"Ok.. Thanks.." jawab Nathan masuk ke dalam apartemen.
"Mau minum dulu?" tawar Ririn.
"Ahh ga usah, kita langsung brangkat aja nanti" tolak Nathan.
Tak berapa lama menunggu, Irenpun keluar dari kamarnya.
"Dah lama ya nunggunya?" tanya Iren.
"Ngga kok, baru beberapa menit" jawab Nathan.
"Ya udah yuk. Rin, gue tinggal ya.. Nih kunci mobilnya" kata Iren sambil menyerahkan kunci mobilnya.
"Ok.. Ati ati ya kalian berdua." jawab Ririn sambil mengantar Iren dan Nathan hingga pintu depan.
Selama perjalanan, Iren hanya berkutat dengan laptopnya untuk menyelesaikan beberapa revisi laporan miliknya..
"Yank.." panggil Nathan.
"hmmm" jawab Iren yang masih fokus.
"Sebentar lagi pernikahan kita, kata bunda semua sudah beres, tinggal mencoba baju yang sudah bunda pesan, dan mencatat beberapa nama dari kita untuk undangan.." kata Nathan.
"Ahhh sudah beres?? Ya ampunn bunda, aku jadi ga enak sama bunda.." kata Iren sambil menutup laptopnya yang sebelumnya sudah mengesave hasil revisinya.
"Tapi bunda suka, dan kamu tau, bahkan bunda sudah memesankan cincin untuk kita.." kata Nathan lagi.
"Kamu beruntung memiliki bunda seperti bunda" kata Iren menyandarakan kepalanya di pundak Nathan.
"Dan aku lebih beruntung bisa memiliki kalian berdua" jawab Nathan mengecup pucuk kepala Iren.
Tak berapa lama, merekapun tiba di rumah Nathan.
Mendengar deru mobil sang putra, bundapun bergegas keluar rumah dan menyambut Iren dan Nathan.
"Ahhh putra putri bunda akhirnya datang juga.. Apa kabarmu nak? Bagaimana kabar Rudi?" tanya bunda.
"Kabar Iren baik bunda.. Dan paman sudah membaik, hanya saja beliau tidak boleh terlalu capek sekarang.. Bagaimana kabar bunda dan ayah?" tanya Iren setelah mencium tangan bunda.
"Seperti yang kamu lihat, bunda sangat baik.. Lebih baik sekarang sudah melihat kalian berdua." kata bunda dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
"Sayang, besok kita ke butik teman bunda ya.. Bunda sudah pesan baju untuk kalian berdua.. Kalian hanya tinggal mencobanya saja, bisakan??" tanya bunda.
"Bisa bunda.." jawab Iren.
"Kalau Nathan nanti habis ke butik langsung pergi ya bun, ada urusan yang harus Nathan selesaikan besok.. Sore mungkin baru kembali" kata Nathan.
__ADS_1
"Memangnya mau kemana?" tanya Iren.
"Adalah urusan yang harus aku urusin, sebentar kok.. Gapapa ya.." jawab Nathan.
"Emmm" jawab Iren mengangguk.
"Udah, yuk masuk.. Kalian dah makan?" tanya bunda.
"Udah bun.." jawab Iren sambil mengikuti bunda masuk ke dalam.
Merekapun mengobrol santai dan sedikit membahas acara pernikahan mereka nanti.
"Bun, Iren ga mau acara yang terlalu mewah. Iren maunya yang sederhana saja. Yang penting keluarga, sanak saudara bisa ngumpul datang buat Iren sudah cukup.." kata Iren.
"Baiklah, kemarin bunda sudah mendatangi katering. Kita tinggal pesan untuk berapa porsi, bunda menunggun kalian." jawab bunda.
"Iren sudah nyiapain nama nama yang ingin Iren undang bun.. Hanya teman teman satu kampus aja yang Iren kenal." kata Iren menyerahkan secarik kertas yang memang sudah dia siapkan sejak kemarin.
"Kamu yakin hanya segini, ga nambah lagi?" tanya bunda.
"Ga bun, dah cukup.." jawab Iren.
"Berarti undangan kita cetak 500 aja ya, itu sudah semua" jawab bunda dan Iren hanya mengangguk.
"Baiklah, besok kita sekalian ke pencetak undangan" jawab bunda lagi.
Dan merekapun kembali melanjutkan obrolan mereka.
#####
"Than, rencana kalian setelah menikah bagaimana?" tanya bunda.
"Karena kami masih kuliah, ya sementara di apartemen yang ayah belikan aja bun. Bagaimana yank? Kamu setuju ga?" tanya Nathan.
"Aku ngikut aja" jawab Iren tersenyum.
"Apartemen aku samping apartemen kamu kok yank, tenang aja.." kata Nathan.
"Sejak kapan??" tanya Iren baru tahu.
"Sejak kita bertunangan, ayah beliin aku apartemen di samping apartemen kamu" jawab Nathan.
Tidak berapa lama kemudian, mereka sampai di butik tersebut. Mereka turun dari mobil dan bersama sama memasuki butik tersebut.
"Haiii jeng Santi, kita berjumpa lagi. Wahhh ini Nathan??" tanya Naura selaku pemilik butik tersebut.
"Iya dia putraku, dan ini Iren calon istrinya" jawab bunda.
Nathan dan Irenpun menyapa Naura dengan berjabat tangan.
"Wahhh pasangan yang sangat serasi.. Yang satu ganteng dan yang satunya cantik." kata Naura.
"Kamu memang pintar memilih calon mantu jeng" kata Naura lagi.
"Hahaha bukan aku yang memilih, tapi mereka berdua yang memilih untuk bersama" jawab bunda tersenyum.
__ADS_1
"Andai putramu belum memiliki calon, pasti akan aku jodohkan dengan putriku" bisik Naura.
"Ahhh tapi sudahlah, Nathan ternyata sudah bertemu dengan permaisurinya hahaha.. Ayo mari, kita lihat gaun pesanan kamu" kata Naura menggiring ketiga tamunya tersebut.
Naura menunjukkan sebuah gaun yang sangat indah. Dengan model kerah v-neck, dengan balutan kain lace menambah cantiknya untuk sebuah gaun pengantin. Gaun ini jika di kenakan akan membuat tubuh si pemakai semakin terlihat ramping dan menawan.
"Naahh ini dia.. Bagaimana??" tanya Naura ke bunda.
"Wahhhh cantik... Iren beagaimana? Kamu suka tidak?" tanya bunda.
"Suka bunda.. Tapi apa tidak terlalu mewah bunda??" tanya Iren sambil memegangi gaun tersebut.
"Sayang, ini adalah acara spesial untuk kalian.. Sekali seumur hidup kalian. Kali ini bunda mohon mau ya.." jawab bunda.
"Baiklah bunda" jawab Iren memeluk pinggang bunda.
"Jeng, tolong ya" kata bunda.
"Ahhh bagus.. Ayo cantik ikut saya.. Kita coba gaunnya ya.." ajak Naura menggandeng Iren.
"Mbak, tolong gaunnya bawakan ya, dan juga berikan setelan untuk pengantin prianya" perintah Naura ke salah satu pegawainya.
Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Iren keluar dengan mengenakan gaun tersebut. Nathan yang sudah mengenakan jas berwarna putih itupun langsung berdiri saat melihatnya tidak berkedip sedikitpun begitu pula bunda yang kagum melihat Iren yang sangat cocok mengenakan gaun tersebut..
Nathan berjalan mendekati Iren. Nathan berdiri di sampingnya dan tangan kirinya menggenggam tangan kiri Iren dan tangan kanan Nathan merangkul pinggang Iren.
"Kamu cantik sekali sayang" bisik Nathan di telinga Iren.
Irenpun hanya tersipu malu mendapat pujian dari Nathan. Melihat posisi mereka berdua seperti itu, bunda tidak menyia nyiakannya. Bunda langsung mengambil ponselnya dan bergegas memotret mereka berdua.
"Kalian begitu serasi" batin bunda memandangi mereka berdua sambil tersenyum senyum.
"Jeng.." panggil Naura mengagetkan bunda.
"Ahhh iya.." jawab bunda.
"Sepertinya kamu terpesona dengan mereka berdua ya.. Mereka memang pasangan yang sangat serasi. Dan untuk gaunnya tidak ada yang perlu di perbaiki. Semua sangat pas melekat pada tubuh calon menantumu itu. Sangat sempurna.." puji Naura.
"Hahaha benar sangat sempurna.. Terimakasih ya.. Langsung aku lunasi dan segera kirim ya.." kata bunda.
"Baiklah.. Ayo ikut aku.." ajak Naura.
Setelah Iren dan Nathan berganti baju. Mereka menunggu bunda di ruang tunggu.
"Yank, habis mengantar kamu dan bunda. Aku langsung berangkat ya.. Gapapakan aku tinggal?" kata Nathan.
"Iya gapapa kok.. Emang harus sekarang ya, ga bisa ditunda gitu.." tanya Iren.
"Ini untuk kebaikan kita berdua sayang.. Aku harus segera menyelesaikan ini" jawab Nathan.
"Emang apa?" tanya Iren penasaran..
"Nanti ya jika semua sudah beres baru aku ceritakan.." jawab Nathan.
"Baiklah.." kata Iren.
__ADS_1
Setelah Nathan mengantar sang bunda dan Iren, dia langsung tancap gas bertemu dengan Ari sesuai tempat mereka akan bertemu.