
Melihat Fitri berdiri dan menuju ke toilet sendirian, Cindy bergegas menyusul Fitri di ikuti kedua temannya Dwi dan Fani.
Melihat kondisi sepi, Cindy menunggi Fitri di luar pintu toilet yang Fitri masuki. Tak berselang lama, terdengar pintu terbuka. Dan Cindy langsung menghampiri Fitri.
Fitri yang melihat Cindy dan kawan kawannya berada di sana terkejut. Lalu foa berusaha menghilangkan rasa gugupnya dan keluar melewati Cindy.
"Kenapa buru buru?" cegah Cindy..
"Sory, gue udah ditungguin sama temen" jawab Fitri yang hendak berusaha keluar toilet.
"Temen? Iren? Keliatannya loe sangat nyaman sama dia." Cindy mencengkeram tangan Fitri dan mendorongnya ke pojokan kasar.
"Aww.. Mau loe apa si? Loe nyuruh gue pergi, gue dah pergi" tanya Fitri menahan tangannya yang terasa terpelintir.
"Mau gue? Loe jadi mata mata gue dan merusak hubungan Iren dan Nathan" jawab Cindy.
"Ga!! Gue ga mau lagi nurutin perintah konyol loe. Mereka dah nikah. Dan gue ga mau merusak hubungan suami istri itu. Mereka terlalu baik sama gue" jawab Fitri.
"Terlalu baik? Lalu apa kabar gue yang selalu beliin loe barang baranh branded dan nraktir loe!" geram Cindy.
"Semua dah gue balikin, tapi loe malah membuangnya. Jadi gue dah ga punya utang budi lagi sama loe!" jawab Fitri.
"Ohhh sekarang loe jadi pinter menjawab ya" Cindy mencengkeram rahang Fitri.
"Sshhh sakit Cindy" rintih Fitri.
"Loe mau bantuin gue atau gue bikin loe mati!" ancam Cindy.
"Loe mau ngancam gue, gue ga takut" lawan Fitri yang masih memegangi tangan Cindy.
"Dwi, Fani! Pegangi dia!" perintah Cindy.
Dwi dan Fanipun melakukan apa yang Cindy suruh. Antara tega dan tidak mereka menuruti perintah Cindy. Melihat tangan Fitri sudah di pegangi Dwi dan Fani, Cindy menampar Fitri.
Plak!
Cukup keras Cindy menampar Fitri hingga meninggalkan bekas merah.
"Loe mau nuruti gue atau tidak!" bentak Cindy.
"Tidak!" tegas Fitri.
Bughh.
Cindy menendang perut Fitri.
"eghhhh lo... loe mau nyik.. nyiksa gue sampai matipun gue ga bakal nu... nuruti loe" jawab Fitri menahan rasa sakit di bagian perutnya hingga terasa sesak nafasnya.
"ooohh loe nantangin gue!" seringai Cindy.
__ADS_1
#####
Sedangkan di food court, Iren merasa aneh sudah lebih dari 30 menit Fitri tidak kembali. Perasaan Iren tiba tiba menjadi tidak enak.
"Rin, toilet yuk. Perasaan gue ga enak" ajak Iren.
"Ayok" jawab Ririn.
"Mbak, meja nomor 11 tolong jangan di beresin dulu ya. Saya mau ketoilet sebentar" pamit Iren ke salah satu kasir di sana.
"Ohhh iya mbak" jawab sang kasir.
Mereka berdua pun bergegas menuju ke toilet. Namun saat di toilet terlihat jika toilet dalam kondisi sangat sepi. Iren merasa curiga, samar samar dia mendengarkan ada suara pukulan dan berbicara.
Iren bergegas masuk disusul Ririn masuk kedalam toilet.
"Hentikan!!!" teriak Iren.
"Gue panggil satpam" bisik Ririn yang lamgsung bergegas lari keluar.
"Wah.. Wah.. Wah.. Ini sahabat baru Fitri, mau jadi pahlwan kayaknya" kata Cindy menatap Iren penuh emosi.
"Apa yang loe lakukan hahh!! Loe bener bener ga punya hati! Sebenarnya apa si yang loe mau!" kata Iren yang sudah habis kesabarannya memgahadapi Cindy.
"Ini bukan urusan loe! Ini urusan gue sama dia!" bentak Cindy.
"Di.. Dia meminta gue bu.. buat hancurin rumah tangga loe Ren" kata Fitri terbata bata.
Bughhh
Lagi lagi, Cindy menendang bagian perut Fitri.
"Aghhhh" Fitri kesakitan.
"Cindy!!" teriak Iren.
Plak..
Iren menarik tangan Cindy dan langsung menampar wajah Cindy cukup keras.
Cindy mundur dua langkah sambil memegangi pipinya yang terasa panas.
"Loe sekali lagi megang Fitri, gue ga akan tinggal diam lagi. Sudah cukup gue selama ini diam atas semua perbuatan loe terhadap gue. Jangan dikira gue selama ini diam karena gue takut sama loe. Tapi gue kasihan sama bikap loe yang malu punya anak gadis macam loe gini!" kata Iren.
"Sialan loe! Jangan bawa bawa bokap gue! Dwi, Fani pegangi dia!" perintah Cindy.
Namun kali ini Iren benar benar tidak tinggal diam, saat Dwi mendekatinya hendak memegangi tangannya, Iren memlintir tangan Dwi hingga tubuh Dwi memutar dan langsung mendorongnya, begitu pula dengan Fani.
Tidak lama kemudian, datang Ririn dengan dua orang satpam.
__ADS_1
"Pak, tangkap mereka bertiga pak. Mereka mengeroyok teman kami!" adu Ririn.
Kedua Satpam itu pun menangkap Cindy dan kedua kawannya ke pos keamanan. Cindy terus memberontak dan tidak mau di salahkan.
"Kalian bertiga juga di mohon datang ke pos untuk dimintai keterangan untuk langkah selanjutnya." kata pak Tono salah satu satpam.
"Baik pak, terimakasih" jawab Iren.
Iren mendekati Ririn yang sudah membantu Fitri untuk berdiri.
"Loe gapap kan? Nanti kita visum ya. Gue ga mau Cindy begiti saja bebas. Dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya" kata Iren.
"Tapi Ren....." Fitri ragu.
"Sudah, loe ikuti aja kata Iren. Ini demi kebaikan loe juga" sambung Ririn.
"Terimakasih ya, kalian sudah nolongin gue" kata Fitri lirih.
Setelah mereka bertiga menyelesaikan urusan mereka di pos Satpam. Akhirnya Cindy dan kedua temannya di bawa ke kantor polisi dengan kasus penganiayaan. Iren sudah memasukan laporan dan akan sekegera mengirim hasil visum sebagai bukti kuat. Iren dan Ririnlah yanh akan menjadi saksi dan bukti cctv yang terletak di depan area toilet.
Dengan bantuan pengacara keluarga Iren pak Broto, Cindy dan kedua temannya berhasil memdekam di penjara. Iren tidak mau mencabut laporannua meski Cindy bahkan pihak keluarga Cindy sudah memohon. Sudah cukup banyak toleransi yang Iren berikan ke Cindy selama ini. Kali ini sudah masuk pelanggaran hukum dan hal itu haris Iren tegakkan agar Cindy mendapatkan efek jera.
Bahkan, keluarga Cindy menawarkan sebuah beasiswa hingga kelulusan nanti untuk Iren terutama Fitri.
"Maaf Om, Tante.. Keluarga bahkan suami saya masih sanggup untuk membiayai kuliah saya bahkan hidup saya. Saya tidak menginginkan apapun. Saya hanya ingin membuat Cindy jera agar tidak lagi mengulangi hal ini. Sudah cukup bagi saya selama ini untuk diam, dan membiarkan Cindy semena mena hanya untuk menuruti ambisinya hingga ingin menghancurkan kehidupan rumah tangga saya" kata Iren.
"Sekali lagi saya minta maaf, jika om dan tante masih berusaha membujuk saya. Saya tekankan sekali lagi. Apapun yang terjadi, saya tidak akan pernah mencabut laporannya" kata Iren tegas.
"Saya permisi" pamit Iren yang meninggalak orang tua Cindy dari cafe tersebut.
Iren, dan Ririn mengantar Fitri untuk pulang. Di rumah Fitri, Iren menjelaskan duduk permasalahan penyebab Fitri babak belur. Markopun terkejut dan merasa geram, dia mendukung langkah Iren melanjutkan perkara ini hingga ke jalur hukum. Bahkan Marko bersedia menyewakan pemgacara jika dibutuhkan. Namun Iren menolaknya larena kasusnya sudah diserahkan ke pengacara keluarga Iren.
"Bang, kami mohon ijin. Dan ini surat hasil visum Fitri. Rencana akan saya berikan ke pihak berwajib sebagai bukti penganiayaan." kata Iren menyerahkan sebuah amplop berlogo rumah sakit itu.
Marko membuka amplop itu dan membacanya. Setelah membacanya, Marko meletakkan amplop itu di atas meja depan Iren.
"Biarkan khasus ini saya yang urus Iren. Saya selaku abang Fitri mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian kalian berdua" kata Marko.
"Sudah sepantasnya kita saling menolong kak. Dan ini pengacara keluarga saya. Saat ini beliaulah yang membantu saya mengurusnya semuanya" jawab Iren menyerahkan kartu nama pak Broto.
"Sekali lagi terimakasih" kata Marko menerima kartu nama tersebut.
"Baiklah kak. Kami permisi. Salam untuk Fitri semoga lekas sembuh. Besok kami akan datang menengoknya kembali" pamit Iren.
"Baiklah, nanti akan saya sampaikan." jawab Marko sambil mengantar keddua teman bari Fitri.
Iren dan Ririnpun pergi menaiko taxi yany sudah Iren pesan sebelumnya. Markopun mengantarnya hingga pintu gerbang.
"Andai loe belum bersuami, sudah aku pastikan gue bakal mengejar loe" batin Marko yang kagum bertemu dengan Iren.
__ADS_1
Setelah taxi yang Iren dan Ririn tumpangi sudah mengilang, Markopun bergegas kembali masuk untuk melihat kondisi adik tersayangnya itu.