
Iren membersihkan diri, setelah selesai Iren mengecek sekali lagi barang barang yang akan dia bawa besok. Setelah merasa cukup, Iren keluar kamar untuk melihat situasi kost. Iren mengamati kamar Ririn dan Nathan. Sepi, itu yang Iren pikirkan.
Bergegas Iren memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobilnya agar besok dia tinggal berangkat. Karena rencananya besok dia akan ke kampus untuk mengajukan cuti lalu langsung menuju ke rumahnya. Iren tidak ingin ada seorang pun yang mengetahui kepergiannya. Iren benar benar ingin menyendiri.
Saat Iren menutup bagasinya, datang mobil Nathan.. Iren hanya terdiam, dia merasa was was jika Nathan melihat dia saat memasukkan kopernya. Iren hanya mengamati Nathan yang sedang memarkirkan mobilnya.
"Iren.. Mau kemana?" tanya Nathan setelah turun dari mobilnya.
"Haaahh emm enggak ke mana mana.. Hanya ngecek aja, soalnya tadi sempet mogok di jalan. Tapi dah gapapa kok." jawab Iren.
Nathan mengerutkan dahinya, dia merasa aneh melihat ke gugupan Iren.
"Ohhh.. Dah makan??" tanya Nathan.
"Udah tadi sama Ririn.. Abis dari mana??" tanya Iren basa basi.
"Abis ketemu temen, dia ngajakin kerja sama di bengkelnya" Nathan menjelaskan.
"Oohhh gitu... Ya udah, aku istirahat dulu ya capek. Aku masuk duluan" kata Iren mulai melangkahkan kakinya.
"Iren..." panggil Nathan.
"Yaaa.." Iren menoleh.
"Kamu gapapa kan??" tanya Nathan.
"Hahh aku?? Enggak.. Emang kenapa??" tanya Iren.
"Mmm gapapa, mungkin hanya perasaanku aja. Ya udah selamat istirahat" ucap Nathan.
Iren mengangguk lalu kembali berjalan menuju kamarnya. Sesekali Iren menoleh menatap Nathan. Entah mengapa dia ragu dengan rencananya seakan dia meras berat jika jauh dari Nathan, tapi dia juga tidak mau terus terusan merepotkan Nathan. Dia juga merasa butuh menenangkan dirinya dengan apa yang dia alami.
"Nathan..." panggil Iren sebelum benar benar masuk ke dalam kamarnya.
"Yaaa.." jawab Nathan dan Nathan berjalan mendekati Iren.
"Ada apa Ren..? Ada yang perlu aku bantu?" tanya Nathan.
Iren menggelengkan kepalanya, sejenak Iren terdiam memikirkan sesuatu sambil menatap lekat nathan.
"Than.. Maafin aku ya sudah nyusahin kamu sama ayah kemaren. Terimakasih banget kamu sudah baik sama aku.." kata Iren sambil menundukkan kepalanya.
"Heiii kenapa tiba tiba ngomong kaya gini hemmm" Nathan mengangkat dagu Iren dan menatapnya lekat.
"Ada apa?? Ren.. Aku sudah beberapa kali kan bilang sama kamu. Tidak ada yang di repotin, tidak ada yang di susahin. Aku tulus sama kamu.. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada buat kamu. Jangan berfikiran yang macam macam ya" kata Nathan lembut.
Iren hanya tersenyum dan mengangguk, lalu memegang tangan Nathan.
"Trimakasih ya.. Aku masuk.." jawab Iren.
"Masuklah.. Kalau ada apa apa panggil aku." kata Nathan.
Tanpa sengaja Putri melihat adegan tadi.. Tangan Putri mengepal kuat. Putri harus segera melakukan sesuatu agar segera membuat Nathan terikat dengannya.
Lalu Putri mengambil ponselnya lalu mengetik sesuatu ke nomor Cindy. Putri merencanakan sesuatu.
"Nathan..." panggil Putri dan Nathan menoleh.
__ADS_1
"Than.. Gue minta tolong pleas.." kata Putri.
"Apa??" jawab Nathan dingin.
"Mmmm gue kan ada janji sama temen malam ini" kata Putri ragu
"Lalu??" tanya Nathan.
"Gue minta tolong temenin gue dan pura pura jadi pacar gue.. Kali ini aja Than gue mohon" Putri memulai sandirwaranya.
"Kenapa harus gue?? dan kenapa juga harus berpura pura jadi pacar. Loe kan tinggal bilang apa adanya." jawab Nathan merasa aneh.
"Gue ga tau harus minta tolong sama siapa Than.. Gue juga ga mau terus terusan di kejar kejar sama dia.. Gue mohon Than.." bujuk Putri.
Nathan sebenarnya ragu dan sekarang yang ada dipikiran Nathan hanya ada Iren sehingga membuat dia tidak waspada dengan bahaya lain selain klan musuhnya. Sehingga Nathan ceroboh tidak membaca pikiran Putri.
"Than.. Gue mohon" Putri menggoyangkan tangan Nathan menyadarkan dari lamunannya.
"Jam berapa??" tanya Nathan malas.
"Nanti jam 8 malam" kata Putri mengulas senyum.
"Panggil aku kalau sudah siap" jawab Nathan langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
Putri pun kembali ke kamarnya dengan senyuman yang terus terukir di wajahnya.
"Kali ini ga bakalan gue lepasin Than" kata Putri dengan senyum smirknya.
Ting...
"Thank's Cin" balas Putri.
#####
Tepat pukul 8, Cindy sudah siap dan turun menuju kamar Nathan.
Tok..tok..tok..
"Than.." panggil Putri.
Ceklekk...
"Haii Than.. Gue dah siap.." kata Putri.
Nathan langsung keluar dan mengunci pintunya.
"Pake mobil gue aja ya.." kata Putri mengulurkan kunci mobilnya.
Nathan hanya menerimanya dalam diam.
"Janjian di mana?" tanya Nathan yang tetap fokus ke jalanan.
"Sebentar gue lihat di ponsel, gue lupa nama tempatnya" kata Putri sambil membuka ponselnya.
Putri menyebutkan sebuah kafe, dan Nathan langsung mengarahkan mobilnya menuju ke kafe tersebut.
Tidak butuh waktu lama mereka telah sampai. Putri memegang tangan Nathan.
__ADS_1
"Gue mohon jangan tolak.. Ini hanya pura pura" kata Putri lirih.
Putri mencari cari tempat duduk di mana yang telah menjadi tempat janjian bersama seseorang. Setelah ketemu, Putri membawa ke orang tersebut.
"Putri..?" kata pria tersebut.
"Hai Yog.." sapa Putri.
"Dia?" Yogi menunjuk ke arah Nathan.
"Aahh iya kenalin, ini Nathan pacar gue" kata Putri.
"Yogi.." Yogi mengulurkan tangannya.
Nathan mengulurkan tangannya juga dengan wajah dinginnya.
"Mau pesan sesuatu mungkin?" tawar Yogi.
"Gue jus jeruk aja.. Kamu apa yang.." tawar Putri.
Nathan menoleh tidak suka dengan panggilan itu..
"Terserah.." jawab Nathan jutek.
Lama mereka saling diam.. Entah mengapa suasana tampak kaku.
"Gue permisi ke toilet dulu" kata Nathan berdiri dan menuju ke toilet.
"Gue bawain obat. Gue bisa jamin doi malam ini akan menjadi milik loe. Cepat masukkan ke dalam minumannya" kata Yogi memberikan bungkusan obat.
Putri pun mencampur obat tersebut ke dalam minuman Nathan dan bungkusnya di berikan ke Yogi agar tidak ada barang bukti dalam dirinya.
Tidak beberapa lama kemudian Nathan kembali. Nathan duduk lalu menenggak habis minuman itu.
"Dah beres urusannya??.. Kalo udah ayo pulang" kata Nathan.
"Yogi.. Gue pamit dulu ya." pamit Pitri
"Ohhh ok... Maaf kalau selama ini gue dah gangguin loe ya." kata Yogi berbasa basi.
"Gapapa Yog.. Maaf gue ga bisa terima.. Tapi kita masih bisa temenan kok" jawab Putri mengulur waktu.
Tiba tiba kepala Nathan merasa pusing.. Matanya menjadi terasa berat.. Nathan menyadari jika dia tengah di jebak oleh Putri.
Melihat Nathan mulai limbung Putri berpura pura terkejut.
"Nathan... Yog.. Tolongin bawa ke mobil gue.." kata Putri.
Yogi pun membantu Putri membawa Nathan ke mobil Putri. Karena tubuh Yogi lebih pendek dari Nathan, itu membuat dia sedikit repot memapah Nathan yang mulai tidak sadarkan diri.
"Thanks ya.." kata Putri sembari memberikan sebuah amplop ke Yogi.
"Siaapp.. Thanks amplopnya" jawab Yogi.
Putri menjalankan mobilnya dan memilih kembali ke kost. Suasana kost tampak sepi, perlahan Putri mengangkat tubuh Nathan yang lemas. Susah payah Putri memapah tubuh Nathan yang tinggi dan berat. Perlahan Putri membawa Nathan ke kamar Nathan, karena tidak akan sanggup jika Putri membawa Nathan ke dalam kamarnya.
Sesampainya di depan kamar Nathan, Putri merogoh saku celana Nathan untuk mengambil kunci pintu kamar Nathan. Setelah terbuka, Putri menidurkan Nathan. Rencana pun di mulai.
__ADS_1