Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
dipaksa


__ADS_3

"Yah... Minggu depan bunda dan Rudi sudah memutuskan untuk mengadakan acara lamaran Nathan dan Iren.. Kira kira ayah siap kan??" tanya bunda.


"Kok bunda tanyanya ke ayah. Tanyanya ke Nathan dan Iren dong bun.. Mereka berdua dah siap belum??" kata ayah.


"Om... Mereka berdua mahh besok pagi akad sudah siap siap aja" goda Ririn..


Irenpun reflek mencubit Ririn, dan Ririn pun mengerang kesakitan.


"Irenn, sakit tau.." kata Ririn mengusap ngusap bagian paha.


"Suruh siapa ngledek muluk.." sungut Iren.


Yang lainpun tersenyum melihat Iren yang terlihat bersemu merah.


"Ayah, benar kata Ririn, mereka berdua pasti siap siap aja.. Apa lagi Nathan.. Ya kan nak??" kata bunda menggoda Nathan.


"Nathan kapanpun siap bun" ucap Nathan.


"Tuuhhh dengar kan yah.. Sekarang ayah nihh bagaimana. Siap belum mewakili Nathan buat meminang Iren." kata bunda.


"Ayah kapanpun siap bun... Sekarang ayah mau tanya ke Nathan dulu.. Memangnya kamu sudah siap untuk membina rumah tangga nantinya?? Memikirkan kedepannya bagaimana??" tanya ayah ke Nathan.


"Semua sudah Nathan pikirkan ayah.. Nathan sudah berjanji dengan diri sendiri, apapun yang terjadi. Nathan akan selalu disisi Iren" jawab Nathan..


"Kira kira apa yang kamu berikan nanti untuk Iren sebagai mahar" tanya ayah lagi.


"Nathan serahkan pada Iren, menginginkan apa" jawab Nathan.


"Iren?? Apa yang kamu inginkan sebagai maharmu" tanya ayah..


"Mmmm boleh Iren pikirkan nanti kan ayah??" jawab Iren.


"Boleh.. Boleh.. Saat lamaran minggu depan kita diskusikan lagi.." jawab ayah.


"Ya udah, kalau begitu Iren sekarang istirahat ya.. Minum obat, biar cepat pulih.." kata bunda.


"Baik bunda.. Bi Marni..!!" panggil Iren.


"Iya non.." jawab bi Marni berlari dari arah dapur.


"Kamar tamu buat ayah bunda sudah siap??" tanya Iren.


"Sudah, sudah non.." jawab bi Marni..


"Terimakasih ya bi" kata Iren.


"Sama sama non.. Saya permisi dulu" pamit bi Marni kembali ke arah dapur.


"Bun, ayah.. Iren ke kamar dulu ya.. Ayah dan Bunda jangan lupa istirahat juga ya" pamit Iren.


"Iya sayang, selamat beristirahat ya nak.." kata bunda.


"Ya bun.." jawab Iren bangun dari duduknya.


"Gue antar yuk Ren.. Bun, om. Than.. Ririn antar Iren dulu ya.." pamit Ririn.


"Iya nak, kamu juga jangan lupa istirahat ya.." kata bunda lagi.


"Ohh ya sebentar.. Ayah bawa jamu untuk kalian berdua.. Minumlah, agar kalian berdua cepat pulih.." kata ayah memberikan sebotol jamu.


"Terimakasih ayah.." jawab Iren.


"Terimakasih ya om.. Ririn ambil.." jawab Ririn sambil menerima botol tersebut.


"Sama sama.."jawab ayah.


Sedangkan Nathan sedari tadi hanya terdiam menatap Iren. Keputusannya semakin bulat untuk segera meminang Iren.. Tidak ingin lagi menunda, terlebih Nathan sudah mengetahui jika salah satu karyawan di perusahaan Iren sedang mengincar Iren juga mengincar perusahaan Iren.


Bukan maksud Nathan untuk ingin menguasai perusahaan Iren. Selain Nathan tulus mencintai Iren, dia juga hanya tidak bisa membiarkan Iren dimanfaatkan oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab karena kebaikan Iren.


"Nathan, kamu istirahatlah.. Ayah tau kamu belum sepenuhnya pulih karena penculikan itu. Minumlah ini.." kata ayah memberikan ramuan khusus.


"Terimakasih ayah.." jawab Nathan..


"Dah yukk yah, ayah juga istirahat" jawab bunda mengajak untuk beristirahat.


Ayah dan bunda pun bangun dari duduknya dan berjalan menuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh bi Marni.


"Ayah tinggal ya nak" pamit ayah.


"Iya ayah.." jawab Nathan yang masih enggan untuk beranjak dari sana.


#####


Waktu terus berlalu, hari demi hari silih berganti.. Tidak terasa dua hari lagi waktu yang ditunggu tunggu Nathan pun semakin dekat. Semua persiapan untuk melamar pun sudah siap.

__ADS_1


Nathan sudah kembali ke bengkel untuk membantu Arya. Selain itu, Nathan juga di sibukan dengan kasus kecelakaan Iren yang masih berjalan di tempat karena tersangka utama tak kunjung di temukan. Meski kasus itu sudah dia serahkan ke pengacara, namun Nathan tetap ingin terus memantaunya.


Sedangkan Iren, setelah ia merasa sudah membaik. Dia memutuskan untuk kembali ke perusahaannya. Sebenarnya Rudi khawatir jika Iren kembali ke perusahaan, bukan tanpa sebab. Karena hingga saat ini Santi masih bebas berkeliaran. Rudi takut, Santi akan nekat berbuat sesuatu kepada Iren. Hingga akhirnya Rudi mengijinkan Iren kembali ke perusahaan dengan syarat, Iren harus menggunakan jasa sopir pribadi. Irenpun mau tidak mau menyetujuinya..


#####


"Pagi Iren..." sapa Rangga.


"Pagi.." jawab Iren singkat.


"Nanti siang makan bareng mau ya.." ajak Rangga.


"Ga bisa janji ya kak.." jawab Iren mempercepat langkahnya.


"Ren, ke toilet dulu yukk" ajak Ririn menarik Iren.


Ririn tau jika Iren sedikit risih dengan Rangga, karena Rangga terus saja mengejar Iren.


"Tu orang ga kenal tempat apa ya.." gerutu Ririn.


"Thanks ya Rin.. Loe emang sohib the best.." kata Iren.


"Siipp" Ririn mengacungkan kedua jempol tangannya.


"Daahh yukk," ajak Iren.


Iren dan Ririn pun berjalan menuju ke ruang kerjanya. Sesampainya di sana, Iren dan Ririn langsung menuju ke kubikel mereka.


Ting...


Tanda pesan masuk di ponsel Iren.


"Pagii sayang.. Kamu dah kerja ya.. Nanti siang makan siang bareng mau ga?? Ajak Ririn aku kesini sama Arya juga" pesan dari Nathan.


Melihat Nathan yang mengirimi dia pesan, sebuah senyumpun terukir di bibir Iren.


"Pagi juga ay.. Baru sampai kok.. Ok deh.. Mau makan siang di mana??" balas Iren..


Ting..


"Depan kantor kamu aja biar ga terlalu jauh kamunya.." balasan dari Nathan.


"Ok, siap.. Sampai bertemu nanti 😊😊" balas Iren.


Ting..


"Love you too" balas Iren.


"Woiii senyum senyum sendiri loe.. Kesambet loe ya Ren??" Ririn mengagetkan Iren.


"Iisshhh Ririiinnn... Ngagetin aja sii... Ini si Nathan ngajak makan siang bareng, gue di suruh ngajak loe" jawab nathan terkejut.


"Woooo pantes senyum senyum sendiri." goda Ririn.


Ting..


Kembali pesan masuk di ponsel Iren.


"Ren, paman kirim sebuah proposal.. Paman minta tolong cek lagi terutama pada bagian keuangan" pesan dari Rudi.


"Baik paman." balas Iren.


Iren pun segera membuka komputernya dan membuka pesan yang masuk dan langsung memulai mengecek proposal yang Rudi kirim.


Tidak terasa 4jam berlalu, sudah memasuki jam makan siang. Iren sedikit merenggangkan jari jari tangannya dan sesekali memijit bagian ujung kedua matanya karena merasa pegal.


"Rin, yukk turun.." ajak Iren.


"Ayok.." jawab Ririn.


Melihat Iren akan keluar untuk makan siang, Rangga diam diam pun mengikuti Iren. Tampak Iren dan Ririn masuk ke dalam lift, sedangkan Rangga memilih turun melalui tangga darurat. Saat dia sampai di lantai dasar, dia melihat Iren sudah berada di pintu keluar. Rangga pun mencoba mengejar Iren.


"Iren!!" panggil Rangga.


Iren dan Ririnpun menoleh ke arah sumber suara. Tampak Rangga berlari kecil menghampiri mereka berdua.


"Gue ingin bicara sebentar sama loe.. Ikut gue sebentar yuk" kata Rangga.


"Maaf kak, gue dah ada janji" jawab Iren yang hendak menyebrang.


"Iren tunggu" Rangga menarik tangan Iren.


"Kak lepasinn.." Iren berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rangga.


"Heehh kak, lepasin ga.." bentak Ririn.

__ADS_1


"Heehh loe siapa si?? Maknya Iren?? Ikut campur terus usuruan gue. Ayoo Ren ikut gue.." paksa Rangga.


"Kak, ini sakit" kata Iren yang masih berusaha melepaskan tangannya.


"Lepasin Iren!" Ririn mencoba menolong Iren.


"Ren, gue mohon ikut gue.." kata Rangga yang masih terus memaksa Iren.


Rangga terus berusaha memaksa Iren, Rangga sedikit menyeret Iren agar mau mengikutinya menuju ke area parkir. Ririn juga terus mencoba menolong Iren, hingga akhirnya Rangga mendorong Ririn dengan kasar hingga Ririn terjatuh.


"Kak, lepasinn.. Tangan gue sakit" kata Iren.


Rangga tidak memperdulikan kata kata Iren yang terus merengek kesakitan pada pergelangan tangannya.


"Nathan... Tolongin aku.. kamu di mana??" batin Iren terisak menangis..


Nathan baru saja tiba di tempat makan depan perusahaan Iren. Dia turun dari mobilnya dan tanpa sengaja dia melihat Iren tengah dipaksa untuk mengikuti seorang pria. Dan terlihat Ririn tampak terjatuh di belakang mereka.


"Ar, lihat" kata Nathan menepuk pundak Arya.


Nathan langsung berlari menyeberangi jalanan.


Tiiinnn....


"Woyyy nyebrang lihat lihat dong!!! mau cari mati loe!!!" teriak salah satu pengendara.


Nathan hanya melenggang pergi tanpa menggubris pengendara tersebut, sedangkan Arya mengatupkan kedua tanggannya sebagai tanda permohonan maaf sambil berlari menyusul Nathan.


"Lepasin dia!!!" teriak Nathan..


Rangga dan Iren pun menoleh.


"Siapa loe!! Ikut campur urusan gue aja.." jawab Rangga tidak suka.


"Caranya tidak seperti itu memperlakukan seorang perempuan!! Loe punya matakan??, sangat jelas dia terlihat kesakitan. Kenapa loe paksa juga!!" kata Nathan.


"Terserah gue mau melakukan apapun.. Dia kekasih gue" kata Rangga.


Iren menggelengkan kepalanya, takut Nathan percaya dengan ucapan Rangga. Terlihat sangat jelas di wajah Iren meminta pertolongan, wajahnya sudah sembab karena menangis. Nathan berusaha sekuat tenaganya menahan emosinya yang hampir meledak saat melihat wajah Iren.


"Than, jangan terpancing emosi loe ingat" bisik Arya yang kemudian berlalu mencoba membantu Ririn yang ternyata kakinya terkilir.


"Heeehh kekasih loe??? Kasihan sekali loe sebagai lelaki tidak ada harga dirinya sama sekali, mengaku ngaku kekasih orang lain menjadi kekasih loe" kata Nathan mengejek.


"Apa loe bilang??" kata Rangga melepaskan genggamannya dan berjalan mendekati Nathan.


Merasa tangannya terlepas dari genggaman Rangga, Irenpun berlari menjauh ke arah Ririn dan Arya.


"Mas.. Tolongin Nathan" rengek Iren.


"Tenang Ren, kekasih loe bisa di handalkan kok" jawab Arya yang sesungguhnya juga merasa was was.


"Emang loe tau siapa kekasih dia haahh!!" bentak Rangga mendorong Nathan.


"Eitsss jangan dorong dorong dong.. Santai aja bro..." kata Nathan.


"Loe tau siapa gue?? Calon pemilik perusahaan ini paham!! Jadi jangan berani berani loe sama gue" kata Rangga sombong.


Nathan hanya tersenyum mendengar penuturan Rangga yang menurutnya sangat lucu itu. Nathan baru tau, ternyata ada laki laki yang sungguh tidak tau malu seperti Rangga ini.


"Bro.. Kalau mimpi itu jangan terlalu tinggi lah... Nanti kalau loe jatuh, sakit jadinya" kata Nathan tersenyum


"Sialan!!!" Rangga mengayunkan tangannya.


Namun sasaran Rangga meleset, karena dengan sigap Nathan mampu menahan ayunan tangan Rangga lalu memlintir tangan Rangga kebelakang dengan kuat.


"Dengerin ya... Gue calon suami Iren.. Sekali lagi gue lihat loe deketin Iren.. Tangan loe ini gue patahin. Paham!!!" bentak Nathan sambil menekan pelintirannya.


"Aw.. Aw...aw... Pa..paham.. Lepasin.." kata Rangga menahan rasa sakit ditangannya.


Nathan pun mendorong Rangga cukup keras hingga Rangga hampir saja terjatuh. Dengan wajah sinisnya Rangga memilih lari dari sana.


Melihat Rangga menjauh, Nathan menoleh ke arah Iren dan yang lain.


"Kamu tidak apa apa?? Lihat tanganmu" kata Nathan meraih tangan kanan Iren.


"Gapapa kok.." jawab Iren.


"Gapapa bagaimana, lihat tanganmu sampai lebam begini" jawab Nathan.


"Awww sakiiitt" rengek Iren saat lukanya di sentuh Nathan.


"Tuuh dipegang begini aja sakit, dah yukk ke tempat makan. Nanti disana dikompres pakai es batu biar tidak terlalu lebam lagi" ajak Nathan.


"Loe gapapa Rin??" tanya Nathan.

__ADS_1


"Gue dah gapapa kok.." jawab Ririn.


Mereka berempat pun berjalan beriringan menuju ketempat makan. Di sana Nathan dengan telaten mengompres pergelangan tangan Iren dengan es agar sedikit meredakan rasa sakitnya.


__ADS_2