Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
Fitri, Iren dan Ririn


__ADS_3

Setelah air siap, dengan hati hati Nathan mengangkat tubuh Iren dan memasukannya ke bathup kemudian dirinya ikut masuk ke dalam.


"Ehh kok ikut masuk?" kaget Iren.


"kita mandi berdua aku akan menggosok punggungmu" jawab Nathan.


Mereka berduapun saling menggosok satu sama lain. Setelah ritual mandi mereka berdua selesai, Nathan kembali menggendong tubuh Iren.


"Yank, akunya sudah gapapa" kata Iren.


"Jika sudah benar benar sembuh baru aku ga akan menggendongmu" jawab Nathan seraya mendudukan Iren di bangku depan meja rias.


Nathan mengambilkan piyama untuk Iren. Setelah mereka selesai, mereka kembali merebahkan tubuh mereka ke tempat tidur king size itu. Tak membutuhkan waktu lama merekapun terlelap dengan saling berpelukan.


#####


Waktupun terus berlalu, waktu terasa cepat. Empat bulan sudah Nathan dan Iren menjadi sepasang suami istri, merekapun menjalani hari hari seperti sebelumnya. Berangkat kuliah bersama, makan siang bersama.


Kini Fitripun lebih memilih berteman dengan Iren dan Ririn. Dia meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dia lakukan kepada Iren. Irenpun sudah melupakan hal hal yang lalu.


Tidak dengan Cindy, masih ada rasa iri dihatinya meski dia kini tidak berani macam macam terhadap Iren. Meski di dalam hatinya masih ingin sekali merebut Nathan.


Selama lima bulan itu pula Iren dan Nathan sudah menempati apartemen baru Nathan yang bersebelahan dengan apartemen Iren. Sedangkan Ririn menempati unit apartemen Iren.


Nathan masih sesekali membantu Arya di bengkelnya, Iren dan Ririn juga disibukan dengan proyek yang Rudi berikan kepada mereka.


Semuapun berjalan apa adanya, terutama Iren dan Nathan yang sangat menikmati peran baru mereka masing masing.


Pagi hari, seperti hari hari lalu. Iren lebih dulu bangun untuk menyiapkan sarapan mereka berdua. Setelah membersihkan badannya, Iren keluar kamarnya dan menuju ke arah dapur, dia membuka lemari pendingin itu untuk mengecek menu apa yang akan dianmasak pagi ini, dan ternyata isi lemari pendingin itu sudah hampir kosong. Di sana hanya ada telor dan susu. Sedangkan di meja makan ada roti tawar, selai kacang, dan pisang ambon. Irenpun lebih memilih menu sarapan kali ini toast perancis kacang susu.



Setelah siap, dia kembali menuju kamar untuk membangunkan sang suami.


"Yank.. Bangun, sarapan dah siap. Mandi dulu" kata Iren membangunkan Nathan.


Cup.


Iren mencium pipi sang suami, dan Nathan menggerakkan badannya meregangkan otot ototnya.


"Eghmmmm, huaamm" Nathan menguap.


"Ayok bangun, lekas mandi" perintah Iren.


"Hmmm, mandi bareng" jawab Nathan dengan suara paraunya.

__ADS_1


"Aku dah mandi, tinggal ganti baju" jawab Iren.


Dengan malas, Nathan beranjak dari tidurnya dan menuju ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, terlihat Iren tengah merapikan rambutnya.


Setelah keduanya siap, mereka sama sama menuju ke meja makan dan makan bersama.


"Yank, nanti aku mau belanja ya. Lemari es dah kosong, stok mingguan habis" ijin Iren.


"Tapi aku ga bisa antat yank, kerjaan di bengkel Arya lagi banyak banyaknya. Banyak pelanggan yang minta service" jawab Nathan.


"Gapapa, kan aku bisa sama Ririn juga Fitri" jawab Iren seraya melahap rotinya.


"Ya udah hati hati, uangnya masih cukupkan??" tanya Nathan.


"Masih kok yank, bahkan hasil kerjaku aja masih utuh ini" jawab Iren.


"Pokoknya, urusan dapur pakai uang yang aku berikan ke kamu. Soal yang lain terserah kamu. Pokoknya, uang kamu pribadi, pakai untuk keperluan pribadi kamu" kata Nathan.


"Iya sayank, aku paham kok" jawab Iren.


"Ya udah yukk berangkat" ajak Nathan.


Mereka berduapun bersama sama keluar dari unitnya. Saat Iren akan menghampiri Ririn, ternyata pintu terbuka. Iren melongok ke dalam, ternyata di dalam ada Arya yang tengaj berkunjung. Perlahan Iren membalikkan badannya dan menghampiri sang suami.


"Yank.. Yank.. Sini deh" bisik Iren.


"Lihat kedalam ada siapa" jawab Iren menyeret Nathan ke unitnya.


Nathanpun bersama sama masuk dengan Iren dan melihat Arya tengah bercanda dengan Ririn.


"wuidiiiihhhh dah ada kemajuan niihhh" celetuk Nathan.


Kedua insan yang tengah bercanda itupun langsung menoleh dan terkejut melihat sepasang suami istri itu berdiri memergoki mereka berdua.


"Ehhh kalian" kata Arya canggung.


"Sejak kapan?" tanya Iren yang menatap Ririn.


"Mmm apanya?" tanya Ririn yang melirik ke arah Arya.


"Ya ini, kalian berdua." jawab Iren lagi.


"Harus ada PJ nih" kata Nathan.


"PJ?" tanya Ririn dan Arya bebarengan sedangkan Iren hanya menatap Nathan.

__ADS_1


"Tuhh jadi kompakkan sekarang. Pajak Jadianlah.." jawab Nathan.


"Ckk kaya bocah aja" jawab Arya.


"Ya udah, segera lamar Ririn. Jangan kelamaan kasihan dia sendirian di sini" saran Nathan.


"Apa kamu siap aku lamar sekarang?" tanya Arya ke Ririn.


"Haahh ehmmm, i.. Ini apa ga terlalu cepat?" tanya Ririn.


"eeecieeeeee yang aku kamu. Gugup pula tuh" goda Iren.


"Udaaahh, jawabnya iya aja, jangan kelamaan." desak Iren lagi.


"Hmmmm iya deh, aku mau" jawab Ririn malu malu.


"Yeaaayyy akhirnya sahabatku akan married juga" teriak Iren yang langsung mendekati Ririn dan memeluknya.


"Good job bro, kita akan persiapkan bersama" kata Nathan menepuk pundak Arya.


"Dahh ahh yuk, rencananya kita bahas nanti. Kita harus kekampus sekarang dah hampir terlambat" kata Iren.


Mereka berempatpun berasama sama menuju ke kampus dengan baik motor berboncengan. Sedangkan Arya langsung kembali ke bengkel setelah mengantar Ririn kekampus. Ya, mereka memilih memggunakan motor karena lebih efisien waktu, bisa salip sana sini.


Jam perkuliahanpun telah usai, Iren mengajak Fitri dan Ririn untuk berbelanja di mall sekalian pergi jalan jalan.


"Ren, loe ga pulang?" tanya Ririn.


"Ga, besok kita mau ke rumah bunda, membahas lamaran resmi loe. Loe mau ikut?" ajak Iren.


"Waahhh selamat ya Rin" kata Fitri.


"hehe thanks ya.. Boleh. Sekalian aja Fitri ikut" ajak Ririn.


"Ga bisa, gue ada janji hehe" jawab Fitri.


"cieee yang mau malam mingguan." goda mereka berdua.


Fitri tidak menyesal bisa dekat dengan Iren dan Ririn. Bersama mereka berdua, dia lebih merasa dihargai selayaknya teman. Tidak saat ketika bersama Cindy yang hanya menjadi suruhannya dan tidak pernah dihargai. Pantas saja abangnya tidak pernah menyukai Fitri dekat dengan Cindy. Berbeda ketika abangnya tau kini dekat dengan Iren dan Ririn.


Mereka bertigapun melanjutkan jalan jalan mereka dan menemani Iren berbelanja kebutuhan dapurnya. Fitri samgat menikmati kebersamaannya dengan Iren dan Ririn. Dan hal itu pula membuat Cindy semakin membenci Fitri yang justru lebih dekat dengan Iren sekarang ini.


Cindy menatap tidak suka ke arah mereka bertiga yang terlihat sangat menikmati kebersamaan itu. Tangannya mengepal erat melihat Fitri yang terlihat berbeda.


"Lihat itu, setelah apa yang sudah aku berikan ke dia. Kini dia malah berpihak ke saingan gue" kata Cindy.

__ADS_1


"Benar Cin, dia seperti kacang lupa dengan kulitnya" kompor Dwi.


Cindy masih terus menatap tajam ke arah mereka bertiga yang tengah berjalan menuju ke sebuah food court. Cindypun diam diam mengikuti dan ingin menguping, takut Fitri menceritakan perihal dirinya.


__ADS_2