Pangeran Ke Empat

Pangeran Ke Empat
108. Musuh dari masa lalu


__ADS_3

Xiao Ho Dong menatap tajam dua manusia dengan Riasan seperti hantu gantung yang berdiri angkuh di atas tanah yang terbakar bekas tempat berdiri nya istana ufuk barat.


Raja pertama kerajaan ufuk barat itu saat ini berhenti di udara kaki nya menapak mantap seakan berdiri di lantai yang datar,


"Kalian berdua jauh dari kata mampu untuk mengimbangi aku! Panggil tua Bangka sialan yang memberi makan kalian itu kesini!" 


"Hahaha kami akan menemani sebelum mereka datang!" Salah satu dari dua yang di sebut angsa hitam putih itu membalas perkataan Xiao Ho Dong dengan datar. ekspresi orang itu tidak dapat diketahui karena wajahnya benar benar seperti dilapisi adonan tepung.


"Hmmmpp,,!" Xiao Ho Dong mendengus lalu menggerakkan sebelah tangannya, angin berhawa panas membelah udara, 


Dua Angsa hitam putih tercekat dan berusaha menghindar, tapi tak urung kaki kedua orang itu putus juga dilanda serangan Xiao Ho Dong.


Akkhjjhh


Kedua nya bergedebuk ditanah yang terbakar dengan Jeritan menyayat hati.


"Kalian sama sekali belum pantas!" Xiao Ho Dong mengibaskan lagi lengan baju nya, kembali angin berhawa panas membelah udara malam.


Bahkan panasnya angin serangan Xiao Ho Dong terasa berkali kali lipat karena keadaan tanah yang masih terbakar akibat petir Xiao Ahnzi sebelumnya.


Angsa Hitam Putih yang tirani pun tidak sempat lagi menghindar maupun menangkis serangan ganas itu.


!


Kali ini tidak ada jeritan kesakitan yang bisa mereka keluarkan, kepala kedua nya telah putus sebelum sempat bahkan sekedar untuk menelan ludah.


Plok plok plok


"Berani sekali kau kembali ke dunia ini,,," sebuah suara berat dan dalam menggema di bekas berdiri nya istana ufuk barat. wujud orang nya belum kelihatan.


"hmmpp,,, manusia usiran seperti kalian berani menginjakkan kaki di wilayah ufuk barat, tidak sabar sekali untuk mati" Xiao Ho Dong membalas tak kalah dalam dan dingin suara nya.


di kejauhan nampak empat titik hitam yang melesat cepat, makin kesini wujud nya makin jelas, bahkan dalam hitungan detik, empat titik itu sudah menginjak tanah bekas istana ufuk barat, wujud nya ternyata empat orang manusia berpenampilan mewah dengan aksesoris lengkap seperti kaum bangsawan.


salah satu di antara empat titik hitam sebelumnya adalah seorang wanita dengan dandanan begitu mencolok dan mewah, meski begitu masih tidak bisa menutupi keriput di wajah dan sekujur kulitnya.


"hihihiihi,, tua bangka,, kau boleh juga.." wanita itu mengerling genit ke arah Xiao Ho Dong.


ekspresi Xiao Ho Dong buruk, bahkan pria tampan berpenampilan berusia tiga puluhan itu sampai mengusap tengkuknya "menjijikkan,,"


"brengs*k!" wanita tua nan menor itu langsung meledak, tanpa peringatan langsung menerjang Xiao Ho Dong, 

__ADS_1


pertarungan cepat terjadi, kedua manusia yang sepertinya punya urusan sejak lama itu tidak menahan diri sama sekali, berpacu untuk saling merobohkan lawan, 


sampai suatu ketika pada jurus yang ke tiga puluh wanita itu menerima tendangan telapak kaki Xiao Ho Dong di wajahnya. tubuhnya terhempas di atas tanah yang terbakar.


melihat wanita nya dipermalukan, tiga orang yang datang bersama wanita itu segera mencabut senjata masing masing dan menerjang Xiao Ho Dong.


pertempuran kembali berlanjut, Xiao Ho Dong sekarang harus menghadapi empat lawan sekaligus. meski begitu sikap nya masih dingin dan terkendali,


"mampus!"


seorang pria tua yang hanya memakai cawat dan berkepala plontos menusukkan senjata nya ke punggung Xiao Ho Dong ketika Pendiri kerajaan ufuk barat itu sibuk melayani tiga serangan dari depan dan samping kiri kanan.


"hmp!" Xiao Ho Dong cuma mendengus, tubuhnya melenting dan berjumpalitan ke belakang melewati kepala plontos tersebut. dengan telapak kaki berhasil mendorong tengkuk  lawan yang hanya mampu memicingkan mata ketika senjata kawan kawannya sekarang bersarang di lehernya.


tanpa suara sosok nya jatuh ke tanah dalam keadaan tak bernyawa.


wanita menor itu merutuk dan wajah nya tampak makin buruk, "kau akan jadi pengganti nya!" 


dua orang pria tua lain tampak biasa saja ketika kawan nya malah tewas di tangan mereka sendiri, tidak ada simpati di wajah mereka. tapi ketika mendengar ucapan wanita itu ekspresi mereka berubah, wajah kedua nya memerah menahan amarah. cemburu mungkin juga.


"tidak sudi!" Xiao Ho Dong menjawab pendek dan menyakitkan.


"pembohong!!" wanita itu histeris dan kembali menerjang, serangan nya makin kesini semakin ganas dan brutal, dua pria nya ikut menggila dan seperti memiliki semangat yang lebih untuk menghabisi pria tampan dan menawan di depan nya.


pertarungan kembali memasuki level yang lebih tinggi dari sebelumnya, 


wanita tua yang berdandan mencolok dan berpakaian mewah ini adalah mantan bangsawan yang berasal dari daratan selatan, wilayah yang butuh waktu sembilan bulan perjalanan menggunakan kapal udara untuk sampai ke daratan benua timur, 


di masa lalu Xiao Ho Dong pernah terlibat hubungan yang rumit dengan wanita ini, nama wanita ini Rakena, Seorang putri bangsawan dari negara besar di benua selatan, hubungan yang akhirnya membuat Xiao Ho Dong menjadi orang yang menempati posisi teratas daftar buronan daratan selatan.


sedangkan tiga pria yang bersama Rakena adalah Pangeran Pangeran dari daratan selatan dari negara yang berbeda, daratan selatan memiliki kultur dan peradaban yang sangat berbeda dengan daratan benua timur. di wilayah selatan terdapat puluhan kerajaan, yang hampir sepanjang tahun selalu terlibat konflik perebutan wilayah kekuasaan, perebutan tahta internal, bahkan perebutan wanita.. secara keseluruhan dapat digambarkan dengan satu kata "kacau"


Sekarang disini lah wanita itu, dengan dendam cinta nya yang musti di tuntaskan segera.


Xiao Ho Dong memang luar biasa, dikeroyok empat orang, lelaki tua berpenampilan tiga puluhan itu tidak bisa di desak lawan lawannya, sekarang hanya melawan tiga orang tentu saja bebannya semakin enteng, bahkan tidak menunggu lama sampai satu lagi gendak Rakena menemui ajal setelah kena tempeleng Xiao Ho Dong.


Wanita tua itu meraung saat kekasihnya yang paling muda menemui ajal di tangan bekas pacar nya.


"Ho Doooooong!!!" 


"tidak perlu berteriak, aku mungkin pikun, tapi tidak tuli!" Xiao Ho Dong kembali berhasil mendaratkan tendangan di tengkuk seorang pria yang tersisa.

__ADS_1


krek!


leher orang itu patah, nyawa nya melayang sebelum tubuhnya ambruk ke bumi.


Rakena semakin menggila, saat kekasihnya yang terakhir kembali dibunuh Xiao Ho Dong.


"kau benar benar kejam,," Tangis Rakena seperti orang yang kehilangan kewarasan, bahkan nenek tua itu mulai berguling guling di atas tanah yang masih memiliki nyala api dari petir Xiao Ahnzi, pakaian indah dan mewahnya mulai terbakar,


Xiao Ho Dong berdiri diam dengan wajah beku nya, tidak tersirat sedikitpun simpati dari ekspresi nya. 


wanita itu sudah berakhir seiring kehilangan kewarasannya, Xiao Ho Dong baru akan berbalik menjauh dari tubuh yang di lalap api itu saat seseorang tertawa dari jauh.


"hahaha"


suara tertawa lain terdengar dari belakang Xiao Ho Dong


"Hahahaha"


"hpft,,," Xiao Ho Dong menghembuskan nafas, "benar benar merepotkan"


Xiao Ho Dong tampak berkonsetrasi lalu mengirim pesan pada orang orang nya.


******


aaaaakkkhhh


"ceking sialan, kau membuat ku kaget!" 


Xu Lian yang sedang bersiap mengalirkan energi spiritualnya jadi terlalu fokus karena perasaan was was, begitu Xiao Ahnzi tiba tiba terduduk, kepala nya sempat kena tanduk kepala Xiao Ahnzi, refleks Xu Lian menjerit karena kaget.


sebagai korban, Xu Lian benar benar merasa dilecehkan, seharusnya dia yang mengomel bahkan boleh saja menjitak kepala yang membuatnya hampir jantungan tersebut, kenyataannya sekarang subjek tersebut tiada henti mengeluarkan seluruh isi kebun binatang dari mulut nya,


Untunglah Alang atau Paman Lan bersuara, Anak setan itu langsung terdiam begitu menyadari ada guru nya di tempat itu.


"Paman Lan,," Xiao Ahnzi turun dari meja hijau yang terbuat dari kristal es. Pemuda itu lalu membungkuk memberi hormat.


"...." 


Xiao Ahnzi baru sadar, tempat ini terasa dingin, begitu mengedarkan pandangan, ia ingat tempat ini,lalu menolehkan kepala menatap Xu Lian


 "apa yang terjadi?" bisik nya 

__ADS_1


Xu Lian tidak berani menjawab, pria setengah tua di depannya memberikan tatapan dingin. Xu Lian bahkan sampai kesulitan menelan ludah, seakan air ludahnya berubah jadi bongkahan es di dalam mulut.


"Kau masih bertanya apa yang terjadi?" Suara Paman Lan terdengar serius dan seakan suara nya berasal dari palung yang sangat dalam.


__ADS_2