
Penebas sampai mengucek matanya beberapa kali, Sosok Beruang yang besar tiba tiba menghilang, bagaimana mungkin dia tidak syok?
"tenang saja, Paman Beruang ada ditempat aman, Paman berdua juga akan segera kesana" Xiao Ahnzi mengibaskan tangannya sekali lagi Serigala dan Penebas merasa tubuh mereka ditarik kekuatan besar dan berpindah pada suatu tempat yang terasa asing.
Serigala berusaha bersikap tenang, didepannya adalah sebuah dataran yang dipenuhi rumput berwarna kuning kehijauan, tidak ada matahari di langit,tapi cuaca nya cerah, seperti pagi menjelang siang hari.
Serigala sampai menghembuskan nafas menyaksikan semua keajaiban ini "dunia ini benar benar luas, kami sangat beruntung setelah orang tua itu mengenalkan teknik kultivasi, jika tidak,, mungkin kami masih akan menjadi katak didalam tempurung!"
Sudut mata Serigala menangkap pergerakan seseorang, orang itu ternyata lelaki tua bernama Cakra, sosok bayangan itu tampak sedang menyusun Pot pot tanaman, kedua tangan nya tampak memegang Pot pot itu, tapi bila diperhatikan dengan seksama, akan kelihatan sebenarnya orang tua itu tidak benar benar menyentuh benda benda itu.
Beruang masih saja tertidur, manusia bertubuh besar itu tampaknya tidak terganggu dengan cahaya terang yang tidak tahu asal nya dari mana itu.
"Kemana Penebas?" Serigala tidak melihat rekan nya yang seorang itu.
sebuah suara menyadarkan Serigala, Cakra sekarang melayang di sampingnya dengan sebuah senyum yang bersahabat,
"kau mencari Penebas!?"
"mn.." Serigala mengangguk mengiyakan
"Dia sedang mandi disana" dengan tangan kiri nya Cakra menunjuk ke depan, " disana ada sebuah sungai"
"......." wajah Serigala tampak bingung "bukankah ini sebuah dunia didalam cincin? Bagaimana bisa ada sungai di dalam cincin?"
"tiga ratus tahun lalu aku juga seperti kalian," Cakra menarik nafas, wajahnya sedikit berubah,"dunia ini ternyata sangat luas,,,, di atas langit masih ada langit! Ujar ujar itu sungguh bukan sekedar isapan jempol!"
"........"
"ahhh.. Kapan kapan saja, ku pikir kalian butuh sebuah gubuk selama tinggal di sini, Aku akan meminta anak muda itu mengirimkan kayu, bahkan mungkin Pohon hidup ke dalam sini."
Sementara itu di jurang kematian,
Xiao Ahnzi membentangkan kembali gulungan peta yang didapatnya dari Safira, wanita yang menolongnya pertama kali terdampar di benua ini.
Xiao Ahnzi sedang menghitung langkah untuk perjalanan selanjutnya, keterangan keterangan dari orang orang yang ditemui nya mulai di urai, sampai saat ini status Xiao Ahnzi dengan Orang orang dari benua Minanka Bao itu sama, tersesat.
Xiao Ahnzi mencoba menggali informasi dari peta di tangannya, semesti nya lokasi fortal fortal yang menghubungkan benua ini dan benua lain itu memiliki hal hal yang dapat dipelajari, "ini akan sangat sulit!!"
Xiao Ahnzi tidak menemukan petunjuk apa pun mengenai keberadaan portal portal itu,"seandai nya portal itu bisa diciptakan dengan teknik yang pernah ku pelajari!!" Xiao Ahnzi berbicara sendiri, otak nya benar benar buntu.
Xiao Ahnzi akhirnya menunda dulu masalah portal, saat ini dia masih memiliki satu tempat yang menjadi tujuan awalnya memasuki benua ini.
Berdasarkan peta yang diberikan Safira, jalan tercepat mencapai tujuan terakhirnya adalah dengan menyeberangi danau, kota terdekat yang memiliki pelabuhan adalah kota teluk berkabung,permasalahannya apakah ada kapal yang memiliki rute kesana?
Memikirkan itu semua Xiao Ahnzi akhirnya memutuskan kembali ke kota teluk berkabung sebagai langkah pertama."putuskan setelah sampai di kota teluk berkabung!"
Xiao Ahnzi menyimpan kembali petanya ke dalam cincin.lalu mulai keluar dari wilayah jurang kematian. Ketika melewati jalan setapak di pinggang tebing batu, anak muda itu sempat terpikir untuk terjun kembali ke dalam jurang kematian guna menyelidiki portal yang membawa nya keluar dari goa besar dibawah lempeng batu.
Xiao Ahnzi berhenti sejenak, keningnya berkerut mengingat semua detail sebelum portal itu menarik tubuhnya waktu itu,
Nihil...
__ADS_1
"portal itu akan membuat perjalanan ku kian jauh," anak muda itu menggeleng, lalu melanjutkan langkah nya keluar mengikuti jalur setapak,
Pemandangan yang sungguh memanjakan mata menyambutnya sewaktu Xiao Ahnzi meninggalkan jurang kematian, sekarang anak muda itu sedang berdiri di tempat dimana lebih kurang tiga tahun lalu anak muda ini melakukan pembunuhan pertama nya.
Didepannya tampak Danau yang dulu pernah menjadi saksi kedatangan Xiao Ahnzi ke benua ini. Pantulan cahaya matahari membuat permukaan danau seperti cermin raksasa. Sayang sekali tidak tampak tepian diseberang sana. Danu itu benar benar luas.
Xiao Ahnzi mencapai kota teluk berkabung tepat tengah hari, kota ini beberapa hari ini masih tetap ramai, di sepanjang jalan Xiao Ahnzi mendengar banyak orang yang bercerita tentang musnahnya sekte selaksa racun.
Seorang pemuda berbadan kurus yang memakai pakaian lusuh tampak paling bersemangat saat bercerita,
"aku melihat sendiri orang kulit hitam yang berbadan besar itu mati ditangan seorang pendekar!" orang itu menepuk dada nya. Suara nya yang keras membuat orang orang berkumpul semakin ramai untuk mendengar ceritanya.
"pendekar yang membunuh orang jahat bernama Burka itu badannya juga besar! Dia tidak memakai pedang atau senjata apapun,dia hanya menggunakan tinjunya yang lebih besar dibanding punya Burka."
"......" Xiao Ahnzi tertegun mendengar bagian cerita yang ini, "Beruang memang petarung tangan kosong, tapi dari mana si ceking itu tahu? Apakah ada orang dengan kemampuan yang sangat luar biasa saat itu di jurang kematian hingga aku tidak bisa mendeteksi keberadaanya?"
Xiao Ahnzi yang semula ingin mengabaikan orang yang di anggapnya membual itu, akhirnya ikut nimbrung di keramaian.
"lalu lalu bagaimana orang keji bernama Burka yang menculik anak anak di kota ini mati?" seorang lelaki berusia empat puluhan tampak antusias mendengar kematian Burka.
" orang itu mati dengan tulang tulang yang patah kena tinju lawannya yang bertangan kosong itu." Pemuda ceking itu bahkan memperagakan teknik tinju dengan kedua tangannya.
"apa semua orang sekte selaksa racun mati ditangan pendekar itu?" seorang lelaki yang menyandang pedang dipunggung nya mengajukan pertanyaan, tapi bibirnya tampak meremehkan.
"oh tentu saja tidak!! Pertarungan di jurang kematian itu semua pendekar dan orang sakti terlibat disana. Bahkan orang orang dari sekte sayap emas dan sekte pedang langit juga ikut menyerang sekte lembah iblis."
"apa??" beberapa orang sama sama terkejut mendengar sekte sayap emas dan sekte pedang langit juga ikut menyerang sekte selaksa racun.
Xiao Ahnzi yang mendengar jadi semakin tertarik.
Pemuda ceking itu melanjutkan cerita nya.
"hmp!! Kau jangan mengarang!! Tidak mungkin semua orang itu mati ditangan patriarch sekte selaksa racun!" lelaki yang menyandang pedang dipunggung nya tampak tidak terima.wajahnya memerah dan tangannya terkepal.
Tapi pemuda ceking yang punya cerita tidak menanggapi orang itu, dia melanjutkan cerita nya " hanya empat orang yang berhasil selamat dari tangan kejam patriarch sekte selaksa racun itu, salah satu nya adalah orang yang membunuh Burka itu!"
"Lalu siapa yang tiga orang lagi?" seorang pemuda berpenampilan seperti bangsawan mengajukan pertanyaan.
"Teman teman orang yang membunuh Burka itu,satu orang memiliki senjata seperti cakar di kedua tangannya. Dan satu lagi seorang pendekar yang memiliki pedang dengan mata sebelah"
Xiao Ahnzi merasa itu hanyalah bualan semata, memang saat pertarungan antara kawan kawan nya dengan pihak sekte selaksa racun terjadi, Xiao Ahnzi telah pergi menjauh menggiring Mo Xiang Jin.
Pemuda dengan rambut putih seperti gundukan salju itu lalu memasuki sebuah rumah makan tidak jauh dari orang orang yang tengah berkumpul mendengar cerita si ceking.
Suara orang berbadan kurus itu ternyata masih terdengar sampai ke dalam rumah makan yang dimasuki Xiao Ahnzi. Masih banyak meja kosong di rumah makan ini, mungkin orang orang lebih tertarik mendengar cerita si ceking hingga menunda dulu makan siang nya.
Keadaan yang cukup lengang membuat Xiao Ahnzi tetap dapat menyimak cerita bohong si ceking. hingga suatu saat suara si ceking membuat Xiao Ahnzi tersedak makanannya.
"aku langsung melarikan diri saat tiba tiba saja petir menyambar tidak henti hentinya didalam kegelapan jurang kematian!" suara si ceking bahkan bergetar sewaktu mengucapkan kalimat itu.
Terdengar seorang lain bertanya " lalu bagaimana nasib patriarch sekte selaksa racun itu?"
__ADS_1
"orang itu tidak terlihat ikut bertarung,jadi aku tidak tahu bagaimana nasib orang tua itu, mungkin dia melarikan diri!" si ceking mengakhiri cerita nya. Orang orang itu bubar setelah si ceking meninggalkan mereka,
Kerumunan itu lalu bergerak ke arah rumah makan dimana Xiao Ahnzi sedang kehilangan selera setelah mendengar kalimat si ceking tadi. Pikirannya benar benar terganggu dengan kata kata Petir menyambar tiada henti itu.
Rupa nya orang orang itu mengikuti si ceking yang juga memasuki rumah makan, Xiao Ahnzi melihat dengan sudut mata, si ceking tampak sedang berdiri memperhatikan meja meja di sekelilingnya.
Entah apa yang dipikirkan pengarang cerita itu, kalau ingin makan seharusnya dia langsung memilih meja kosong. Tapi dia hanya berdiri memandang berkeliling.sedangkan semua meja yang awalnya kosong tiba tiba telah penuh terisi irang irang yang ingin makan siang.
Si ceking itu akhirnya melihat seorang anak muda yang duduk sendirian, banyak makanan di meja nya. Perlahan si ceking itu melangkah kesana.
Xiao Ahnzi yang menyadari si ceking menghampiri meja nya, mengangkat wajah, lalu dengan sebuah suara datar menawarkan si ceking makan bersamanya. "kamu ingin menemaniku makan?" Xiao Ahnzi menunjuk kursi di seberangnya.
Si ceking yang memang sedang mencari makan gratis tidak malu malu langsung saja duduk di meja Xiao Ahnzi setelah anak muda itu menawari nya.
Tidak menunggu anak muda didepannya berubah pikiran, si ceking sudah mulai menyantap makanan yang di pesan Xiao Ahnzi.
"......" Xiao Ahnzi adalah orang yang tidak memakai peradatan saat makan malah merasa dirinya masih kalah dibanding si ceking. Betapa tidak beradab nya cara makan orang itu. Seperti telah tidak bertemu makanan selama berhari hari.
"tuan muda, anda ingin mendengar ceritaku tentang sekte selaksa racun?" si ceking itu mengajak anak muda di depannya berbicara, sambil tangan nya menyuap makanan.
"aku sudah dengar!" Xiao Ahnzi menjawab singkat. Entah mengapa hati nya jengkel melihat pengarang didepannya ini.
"ohh..." si ceking itu mengangguk, sambil tetap mengunyah.lalu kembali berbicara, "tuan muda berasal dari mana dan hendak kemana?, aku telah bertemu banyak orang selama hidupku, tapi yang memiliki rambut menawan berwarna putih itu, ,, baru kali ini!" sebuah senyum terbit di bibir si ceking.
"......" Xiao Ahnzi tidak menanggapi keningnya berkerut melihat sikap tak tahu malu orang di depannya.
"aku,, seperti nya pernah melihat seseorang dengan rambut putih seperti tuan muda sebelumnya,,," si ceking merendahkan suara nya "apa tuan muda hari itu yang bertarung di jurang kematian?" si ceking kali ini nyaris berbisik, wajahnya dekat sekali dengan wajah Xiao Ahnzi.
Di dalam hati Xiao Ahnzi sangat syok, untunglah dia adalah aktor ulung, sehingga wajahnya tidak menampakkan perubahan. "apa orang yang bertarung di jurang kematian itu berambut putih?" Xiao Ahnzi berkedip, tatapannya membuat si ceking menarik kepala nya.
"iya!" si ceking mengisi gelasnya lalu meminum habis dalam satu tegukan.
Xiao Ahnzi yang semula menganggap si ceking ini pembual, mulai berpikir ulang, kemungkinan si ceking ini benar benar melihat kejadian di jurang kematian.
"siapa namamu?" Xiao Ahnzi ankhirnya mengalihkan pembicaraan.
"orang orang menyebutku ceking"
Xiao Ahnzi hampir menyemburkan air di dalam mulutnya mendengar jawaban orang di depannya."busyet.. Benar benar nama nya ceking?"
"tuan muda boleh memanggilku ceking, karena tuan muda telah memberi makan seorang pengelana ini." si ceking melanjutkan bicara nya.
"tuan muda pasti seorang bangsawan, dunia ini banyak orang jahat dan licik, tapi kenapa tuan muda tidak membawa pengawal?"
Xiao Ahnzi melirik, lalu menjawab," aku hanya sekedar jalan jalan,"
"tuan muda dari kota terapung?" si ceking kembali bertanya, tapi tangannya masih berusaha menghabiskan stok makanan di atas meja.
"...." Xiao Ahnzi mengangguk sedikit,tapi sedikit itu dapat di tangkap si ceking. Wajah orang itu tampak bersemangat mendapat jawaban dari Xiao Ahnzi.
Xiao Ahnzi yang merasa sudah cukup, segera mengakhiri makannya, lalu melangkah ke meja kasir, membayar beberapa keping emas, meninggalkan si ceking yang masih berusaha menghabisi semua makanan yang ditinggalkan Xiao Ahnzi.
__ADS_1
Tapi orang kurus dengan tampilan lusuh itu juga segera berdiri saat meilhat Xiao Ahnzi pergi begitu saja.
Dengan tangan yang masih memegang paha ayam, si ceking mengikuti anak muda itu.