Pangeran Ke Empat

Pangeran Ke Empat
040.Identitas Asli si Ceking


__ADS_3

"aku seorang buronan"


Suara si ceking bergetar mengucapkan kalimat itu. Tapi wajah Xiao Ahnzi yang tanpa ekspresi membuat nya semakin ketar ketir di dalam hati. Seperti nya anak muda itu tidak sedang mendengarkan.


" kau,,, seorang kriminal?" Xiao Ahnzi tiba tiba saja seperti orang yang terkejut, suara dan ekspresi nya tampak di usahakan se dramatis mungkin, wajahnya menampilkan ekspresi terkejut yang luar biasa, seakan dia baru menyadari kata kata si ceking.


Wajah pemuda kurus itu langsung berubah melihat reaksi anak muda yang jadi tuan nya." bu bukan,, aku bukan kriminal" keringat membasahi keningnya.bahkan ia tidak tahu harus berkata apa untuk membela diri.


Sedangkan orang disebelahnya telah kembali bersikap biasa, reaksi terkejut yang sebelumnya seperti menguap begitu saja, bahkan langkahnya tampak tenang dan tidak goyah.


Sambil terus melangkah, pangeran ke empat terus berkutat dengan pikirannya sendiri.


Xiao Ahnzi telah melakukan beberapa uji coba sehari ini, bukan terhadap si ceking, tapi terhadap orang yang melakukan pengintaian semenjak memasuki kota semenanjung pelangi. Orang itu ternyata bukan mengintai Xiao Ahnzi, tapi targetnya adalah si ceking itu sendiri.


Setelah melewati hari yang tenang "berduaan" di dalam perpustakaan bersama gadis penjaga itu,tiba tiba kedatangan si ceking membuat alam bawah sadar Xiao Ahnzi merasa ada nya ancaman,


Belakangan Xiao Ahnzi mulai memberikan kepercayaannya kepada pemuda kurus itu, itu pun setelah melalui beberapa kejadian dan uji coba, alam bawah sadarnya yang merasakan selalu ada nya ancaman saat bersama si ceking, ternyata bukan berasal dari si ceking itu sendiri, melainkan dari penguntit yang ber kepandaian tinggi.


Musuh tampak nya sangat lihai, orang yang menguntit dari kejauhan, sebenarnya adalah pengalih, sedang penguntit yang sebenarnya selalu dekat dengan si ceking. Setidaknya begitulah analisa Xiao Ahnzi sejauh ini.


Tapi suatu antitesa mementahkan analisa itu, dengan kemampuan yang lihai itu, kenapa musuh yang begitu dekat tidak langsung menyerang si ceking?


Atau... Apa mungkin sosok itu adalah pelindung si ceking sendiri?


Xiao Ahnzi terpaksa menghentikan pemikirannya saat sebuah benda seperti bola bekel melesat cepat di depannya.benda itu membentur tanah dan menyebabkan letupan kecil,


Si ceking yang mengaku punya nama Xu Lian, terpaku di tempatnya, indra penciumannya menangkap sesuatu yang menakutkan dari letupan kecil itu, tiba tiba asap putih yang pekat menyelimuti tempat itu.


Xiao Ahnzi tidak merasakan racun didalam kabut itu, tapi ada suatu kandungan yang....


"ini....??" anak muda berambut putih seperti gundukan salju itu terpaku ditempat berdirinya, dia mencoba melihat ke arah si ceking berdiri sebelumnya, tapi kabut telah menutupi pandangannya, Xiao Ahnzi merasakan aura yang kuat memancar dari tempat si ceking berdiri.


Sebuah senyum perlahan mengembang di bibir Xiao Ahnzi setelah menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Dalam keadaan genting itu, anak muda ini berhasil menarik sebuah benang merah dari masalah yang dihadapinya.


"pantas saja aku selalu merasa kurang nyaman saat didekat orang ini,,,ternyata begitu..."


Di dalam kabut putih yang pekat, keanehan melanda si ceking, asap putih ini mengandung sari tumbuhan yang adalah pantangan bagi demonic beast. Dengan mencium bau nya saja demonic beast akan hilang kendali.


Beberapa orang memasuki kungkungan asap putih, Xiao Ahnzi menghitung jumlah nya sepuluh orang,dari aura yang dipancarkan, kekuatan orang orang ini setidaknya berada di tingkat forging qi ke sembilan.


Orang orang yang bergerak di dalam kabut memegang rantai di tangannya, itu bukan rantai biasa, rantai rantai itu mengeluarkan hawa yang menekan.


Dilain sisi,Sosok si ceking atau Xu Lian tidak lagi tampak di tempatnya, sekarang ditempat itu telah digantikan seekor rubah berbulu merah, dengan tiga ekor di belakangnya,, rubah api berekor tiga.


Rubah api itu mulai mengamuk merasakan kehadiran orang orang yang memegang rantai ditangan nya, pertarungan pecah di dalam kabut berwarna putih,

__ADS_1


Suara benturan logam memecah kesunyian, suasana kota semenanjung pelangi yang senantiasa damai jadi hiruk pikuk di penghujung senja itu.


beberapa serangan meleset dan menghantam dinding bangunan, menyebabkan beberapa rumah ambruk, penghuni rumah yang sedang bercengkerama menunggu malam dengan keluarga nya berhamburan keluar mencari selamat.


Tapi walau begitu satu dua orang terlalu lambat dalam bergerak, hingga tubuh mereka tertimbun di dalam runtuhan rumah mereka sendiri.


Xiao Ahnzi masih berdiri di tempatnya, walau beberapa serangan sempat mengarah kepadanya, pemuda itu hanya menghindar meliuk liuk seperti pohon kelapa diterjang badai. Kaki nya tetap tidak beranjak. Pandangan mata nya memang terganggu kabut putih yang tebal, tapi mata ketiga anak muda itu bisa melihat dengan jelas jalannya pertarungan.


Area yang terdampak pertarungan semakin luas, beberapa orang lain yang memiliki kepandaian tinggi mendekati gelanggang pertempuran.


Rubah Api berekor tiga itu benar benar mengamuk, bahkan ia tidak peduli serangannya mengenai orang orang yang berusaha melarikan diri,


Di lain sisi, orang orang yang memegang rantai di tangan sebagai senjata, mulai kewalahan, beberapa telah terluka, hanya menunggu waktu orang orang itu akan termakan siasat mereka sendiri.


Pertarungan sengit yang berlangsung cepat itu akhirnya memakan korban, tiga orang yang coba menangkap si ceking terlempar keluar dari medan pertempuran dalam kondisi tidak bernyawa.


Tujuh orang yang tersisa masih berusaha mengalahkan rubah api, bahkan mereka telah melepaskan rantai ditangan, dan menarik senjata mereka, tampak nya niat semula untuk menangkap hidup hidup, telah berubah menjadi keadaan terpaksa mempertahankan hidup bagi mereka.


"tsk,, ini akan merepotkan.." Xiao Ahnzi merasa kepala nya berdenyut merasakan kehadiran tokoh lain yang lebih kuat, niat membunuh orang yang baru datang ini bahkan membuat sesak di dada.


Xiao Ahnzi segera mengambil tindakan, tubuhnya melesat kedalam pertempuran, anak muda itu tidak berusaha menahan serangan yang mengincar rubah api yang merupakan wujud asli si ceking.


Rubah api itu bagaimana pun dalam keadaan hilang kendali, bila salah mengambil keputusan, Xiao Ahnzi sendiri bukan tidak mungkin bisa meregang nyawa terkena serangannya.


Xiao Ahnzi telah memiliki cara untuk menyelamatkan teman baru nya ini,


Saat si rubah api berekor sembilan tengah fokus menanti serangan dari orang orang yang ingin menangkapnya, Xiao Ahnzi telah berada tepat di belakangnya, dengan sedikit sentakan, Xiao Ahnzi menarik sosok rubah api kedalam cincin.


Xiao Ahnzi tidak ingin terlibat masalah lebih jauh,tubuhnya langsung melesat keluar dari kepulan kabut putih, dan melenting menjauh,meninggalkan orang orang yang menatap penuh kebencian.


Xiao Ahnzi tidak kembali ke penginapan, penginapan itu pasti telah di satroni orang orang itu, begitu pikirnya,


Gurun kematian yang menjadi tujuannya terletak ratusan kilo meter barat daya dari kota semenanjung pelangi, hampir tidak ada jalan yang menuju gurun kematian, setiap orang yang ingin mencoba peruntungan di gurun kematian harus menembus kerimbunan hutan,


Xiao Ahnzi menghentikan lari nya di bibir hutan, keadaan di depannya membuat anak muda itu harus berpikir ulang, teknik mata ketiga tidak mampu menembus kegelapan hutan.


Anak muda itu menengadah menatap langit, melihat gugusan bintang sebagai pedoman, tapi suasana langit benar benar di rundung mendung, tidak tampak satu bintang pun disana.


"hutan ini tidak biasa,,,dan langit ini,,, kenapa harus se-mendung ini?" Xiao Ahnzi menggerutu dan menggumam tak jelas beberapa lama.


Xiao Ahnzi memutuskan untuk menunda dulu memasuki hutan di depannya, anak muda itu lalu berkelebat sedikit ke tenggara, teknik mata ketiga nya menangkap keberadaan sebuah goa tidak berapa jauh dari sana.


Sementara itu, di dalam dunia kecil di dalam cincin,..


Xiao Ahnzi benar benar mengirimkan lawan tanding yang luar biasa bagi Cakra dan kawan kawan,

__ADS_1


Cakra sedang asyik merawat herbal ketika sesuatu melesat dari langit, aura pembunuh yang sangat kuat mengiringi kemunculan sosok itu.


Cakra langsung memasang kuda kuda bertarung saat sosok yang melesat dari langit itu membentur permukaan tanah.


Tumbukan sosok itu dengan tanah menciptakan bunyi ledakan yang sangat keras.


Bahkan Beruang yang sedang bermalas malasan di gubuk, sampai terlonjak dari posisi tidurannya saat tanah tiba tiba bergetar.


Bangunan gubuk yang dibuat dari bahan berkualitas itu bahkan mengeluarkan bunyi ber kereotan.


"orang orang gila itu bertarung lagi?" Serigala segera berdiri, pertanyaan nya barusan entah ditujukan pada siapa,tidak ada yang memperhatikan. bangunan yang dibuat tinggi itu memungkinkan siapa saja yang berada di dalam gubuk dapat melihat sekeliling.


Penebas juga sedang memperhatikan kearah datangnya suara ledakan, mata nya menangkap kobaran api dibagian dalam tanah yang melesak,


Meski sudah tahu siapa yang punya kerjaan, Cakra benar benar meledak melihat kelakuan orang itu, "bercanda mu keterlaluan!!! Anak setan!!" Cakra berteriak,suara nya menggetarkan alam dunia kecil didalam cincin.


Rubah Api Berekor Tiga,wujud asli dari Xu Lian atau si ceking, sedang dalam keadaan tidak terkendali, insting binatang buasnya menganggap Sosok Cakra yang hanya berupa bayangan sebagai musuh.


Satu kibasan ekor dari rubah api mengirim sebuah bola api meluncur mengincar Si tua Cakra.


Orang tua yang sudah siap dengan kuda kuda bertarung, menyiapkan diri menangkis lesatan bola api, "tsk.. Bertambah lagi satu setan yang mampu membunuhku!" si tua Cakra merasa tertekan dengan keadaan. Bola api dari Rubah Berekor tiga itu bisa menyakiti nya.


Meski tahu serangan lawan sangat kuat, ego nya membuat orang tua itu tidak mau menghindar. Tangan Tua Cakra sekarang di selimuti api merah menyala, siap menyambut serangan Bola Api.


Benturan akhirnya tidak terhindarkan, sekali lagi ledakan besar menggoncang dunia di dalam cincin. Bayangan orang tua itu terlempar mundur sampai lima meter, tubuhnya yang tidak menapak tanah tergontai gontai di udara.


Penebas datang di waktu yang tepat, kedatangan Penebas membuat Rubah Api Berekor Tiga itu membatalkan serangan susulan nya kepada Cakra. Sebagai gantinya, sebuah bola api langsung menyambar kearah Penebas, tepat ketika orang itu menjejakkan kakinya di tanah.


Tubuh Penebas langsung melenting tinggi menghindari lesatan bola api. Dia selamat, tapi hawa panas terasa membakar wajahnya, saat memalingkan wajah, didepan nya sebuah cakar mengincar kepala.


"cepat sekali!!" Penebas berdesis, dalam satu kedipan, lawan telah berada dalam jarak serang.


Suara geraman Binatang buas itu bahkan seperti berada di dalam telinga Penebas sekarang, dia tidak punya kesempatan menghindar.


Dalam sepersekian detik menegangkan itu sebuah tendangan menghantam telak tubuh Rubah Api, Kedatangan Serigala memberi waktu bernapas lebih lama untuk Penebas.


Beruang juga tidak tinggal diam, semangat bertarung meluap di dalam diri nya, tiga orang dan satu jiwa gentayangan menghadapi seekor demonic beast rubah api berekor tiga.


Pertarungan sengit terjadi, tanah yang ditumbuhi aneka ragam herbal itu sekali lagi kembali porak poranda.


Beruang yang tidak memegang senjata, terpaksa terbang sejauh dua puluh meter setelah kibasan ekor Rubah api menahan tinjunya.


Demonic beast itu tidak berhenti sampai disana, Sosok Cakra yang sedang tergontai di udara merasa kan lesatan bola api kembali mengincarnya. Orang tua ini benar benar berantakan penampilannya.


Swooosshh....

__ADS_1


Akhhh....


__ADS_2