Pangeran Ke Empat

Pangeran Ke Empat
117. gulungan tanpa tanding bagian kedua.


__ADS_3

“Kenapa kalian mencari aku?” orang asing itu mengulangi pertanyaan nya. Tidak ada tendensi apa apa dalam nada bicara orang ini,


“......menghabisi mu,,” Paman Lan menjawab setelah menghembuskan nafas, di dalam hati nya pria ini merasa hal itu akan sangat sulit untuk di lakukan 


“ kau setengah benar,,” orang itu masih berdiri ditempatnya, pakaian merah nya berkibar ditiup angin, “itu akan sulit untuk kau lakukan bila bersama tuan mu itu, tapi seorang diri itu mustahil!”


!


Meski telah hidup begitu lama dan berjumpa orang orang sakti mandraguna, mendengar ucapan orang asing ini hati nya bergetar juga.


Paman Lan tidak ingin semangat nya semakin jatuh mendengar celoteh orang asing ini lebih jauh, pria suruhan itu segera menyerang dengan kemampuan terbaiknya, siluet kepala harimau muncul dari telapak tangan Paman Lan, ukuran nya kali ini lebih besar.


“Tidak berguna!”


orang itu tidak bergerak bahkan menghindar, saat siluet kepala harimau itu hampir setengah jalan, orang asing itu mengepalkan tangannya, sebuah energi tidak kasat mata menghadang laju siluet kepala harimau, 


Serangan Paman Lan seperti ditahan telapak tangan yang sangat besar, perlahan telapak tangan itu mengepal, meremas dan menekan siluet harimau miliknya,


seperti kaca yang pecah, siluet harimau itu berserakan lalu menghilang. Paman Lan memuntahkan darah segar sebagai efek serangan balik yang menghantam organ dalamnya.


Meski kalah telak dari serangan pertama, Paman Lan tidak memiliki pilihan selain bertempur sampai titik darah penghabisan, tenaga nya didorong sampai melewati batas, bahkan di tangannya sudah tergenggam pedang sepanjang satu setengah meter, pedang itu hanya memiliki satu sisi tajam dan bentuknya sedikit melengkung.


Melihat Paman Lan yang sudah siap menyabung nyawa, orang asing itu menggeleng pelan, tampak sebuah ke engganan di mata nya, bibirnya bergerak pelan,


“ hutang budi dibawa mati,,” 


*****


Xiao Ahnzi saat ini sedang menggores meja kristal es memakai belati kesayangan nya, anak muda ini mencoba menyusun kembali petunjuk petunjuk dari gulungan kitab pernapasan tanpa tanding bagian kedua.


Beberapa jam yang lalu Xiao Ahnzi teringat metode pembacaan yang menyelubungi teknik pernapasan hitam,


Teknik pernapasan terakhir memang memiliki teks tersendiri di dalam gulungan, tapi ternyata cara untuk memahami nya terhubung dengan teks teks teknik pernapasan bagian sebelumnya.


Benar saja, setelah menyalin simbol simbol yang muncul pada bagian kedua, Xiao Ahnzi menemukan rahasia dibalik gulungan tersebut, fix itu sebuah peta,


Anak muda berambut putih seperti salju itu melonjak girang, sudah bertemu sebuah titik terang.

__ADS_1


Meski belum bisa memastikan perkiraan nya benar seratus persen, Xiao Ahnzi bisa menduga dimana ia harus memulai pencarian nya.


Tapi sebuah persoalan lain membuat anak muda ini mengerutkan keningnya, Paman Lan belum juga kembali, ini sama saja merantai sebelah kaki nya untuk tidak kemana mana.


Tapi godaan petualangan itu nyata,, Xiao Ahnzi sampai mengacak rambut dinginnya ketika mata nya tidak bisa di alihkan dari goresan di atas meja.


***


Setelah keluar dari kota, Xu Lian mengeluarkan karpet terbang pemberian Xiao Ho Dong, lalu terbang dengan kecepatan tinggi menuju lembah berkabut, sesampainya di bibir lembah, hati demonic beast rubah api itu di liputi keraguan, 


Pengalaman sebelumnya memasuki pekatnya kabut di dalam lembah yang penuh misteri, terbayang kembali di benak Xu Lian.


"Lembah ini benar benar menakutkan,,"


Xu Lian berdiri dengan ragu di bibir lembah, bayangan keanehan lembah berkabut beberapa waktu yang lalu seakan tampak nyata di. Mata nya. 


Perwujudan demonic beast rubah api berekor tiga itu mencoba mengingat tanda tanda atau apa pun yang saat itu di ikuti Paman Lan, tapi kabut itu benar benar menelan segala hal, Xu Lian tidak dapat mengingat penanda jalan apapun. 


"hadapi saja!" Xu Lian menggertakkan gigi dan mulai menguatkan langkah memasuki kabut tebal di depannya.


!


Aaaaa


Xu Lian gemetar, dia merasa tubuh bagiannya basah namun terasa hangat,,


"ciihh,, bau pesing apa ini?" sebuah suara yang terdengar akrab membuat Xu Lian memejamkan mata,


"aku benar benar tersesat,, sebelumnya tidak ada ujian seperti ini,,," Xu Lian berbisik,


"ceking sialan,, kau ngompol?"


Kali ini Xu Lian merasa sebuah tamparan di kepala bagian belakangnya,


"ssa kiit..." Xu Lian meringis. tapi keberanian nya tidak juga kembali, Xu Lian tidak berani sekedar untuk menoleh mencari tahu ini ilusi atau bukan.


Tiba tiba saja Xu Lian merasakan cengkeraman pada pundaknya,tubuhnya lalu tertarik kebelakang dengan cepat,dan ia telah keluar dari kungkungan kabut.

__ADS_1


Xu Lian mendapati dirinya terbaring di rerumputan, beberapa meter di depannya tampak lembah berkabut, pandangan matanya lalu tertumbuk pada satu subjek yang sangat dia kenali,


"....tuan muda Xiao,,," masih terasa kegugupan dari suara nya.


"Kenapa kau berjalan kearah sana? Didepan mu itu jurang!" Xiao Ahnzi memberitahu.


!


Xu Lian mengusap muka nya mendengar perkataan anak muda berambut seperti salju ini, ia baru bisa bernapas lega setelah subjek itu mendekat dan merasa yakin orang muda di depan ini adalah Xiao Ahnzi.


"dimana Paman Lan?" Xiao Ahnzi mendapati Xu Lian hanya sendirian.


"... Itu...,," Xu Lian bingung bagaiman menceritakannya.


"aisshh kau mengingatkan ku pada ratu ular sialan itu.." Xiao Ahnzi lalu duduk menjelepok di sebelah perwujudan demonic beast rubah api itu.


Xu Lian yang mulai mendapatkan kembali ketenangannya mulai menceritakan kejadian selama satu bulan ini, tentang istana ufuk barat yang lenyap, tentang orang tua dan saudara saudara Xiao Ahnzi yang di bawa ke suatu tempat demi keselamatan mereka oleh orang yang bernama Atung,


Serta perjalanannya ke kota Tiānqì zhēn hǎo, semua nya di ceritakan Xu Lian tanpa bumbu ataupun bagian yang di kurangi.


"lalu bagaimana keadaan tua bangka itu saat kau tinggalkan?" Xiao Ahnzi mulai berani menyebut guru nya dengan sebutan tua bangka saat yakin orang yang bersangkutan tidak berada disana.


"....,, entahlah,, guru tuan muda hanya berpesan, agar tuan muda segera bertambah kuat secepatnya."


Memang sesaat setelah keluar dari kota, Xu Lian menerima pesan di benaknya dari orang yang berpenampilan setengah tua itu, pesan nya persis yang ia sampaikan pada Xiao Ahnzi.


"mn...begitu,,tua bangka itu akan baik baik saja,," Xiao Ahnzi berujar, tidak terkesan kecemasan apa pun dari nada bicara nya.


"tuan muda..." Xu Lian


"jangan khawatir,, aku orang yang realistis! Tua bangka itu mengusir kamu karena ia tidak yakin akan mampu melindungi mu, bisa saja musuh sekarang sedang menawan nya,, "


perkataan Anak muda berambut putih itu benar ada nya, Xu Lian setuju,dan berharap memang seperti itu, semoga saja Alang tidak tewas di tangan musuh, dengan begitu masih ada kesempatan untuk menyelamatkan orang tua itu di kemudian hari.


"jadi aku harus menjadi lebih kuat secepatnya??,, itu berarti masalah ini rumit,dan kekuatan musuh jauh di atas Paman Lan." Xiao Ahnzi menggumam, lalu tiba tiba berdiri


"Ayo!"

__ADS_1


__ADS_2