
"setan tua, Dalam empat kita harus sampai di jurang kematian!" Xiao Ahnzi mengingatkan sosok berupa bayangan yang melayang di sisi nya.
"anak setan,, kamu yakin kita berdua saja?" orang tua itu mulai meragukan keputusannya yang terlalu bersemangat sebelum ini
"........"
Xiao Ahnzi melirik sejenak,dan sebuah senyum mekar di bibirnya.
"........."
"siapa bilang kita berdua?"
Xiao Ahnzi bertanya dengan suara datar.
".........., kamu dan aku kan berdua? Kau tidak menganggap aku ada?" wajah orang tua itu tampak memerah merasa keberadaannya tidak di anggap anak setan ini.
"........" Xiao Ahnzi berusaha untuk tidak tertawa, tingkah orang tua di sebelahnya ini benar benar seperti seorang tuan putri yang sedang merajuk.
"setan tua,, kamu mengingatkan ku pada kakak perempuan ku kalau berkata seperti itu, hmmfpt" akhirnya anak muda ini tidak sanggup lagi menahan tawa nya.
"........."
"semua jago di negeri ini akan terlibat dalam rencana ku, jangan khawatir setan tua! Aku juga tidak mau mati konyol" Xiao Ahnzi akhirnya menjelaskan,
Dua orang itu terus memacu langkah menggunakan peringan tubuh,tidak berapa lama lagi keduanya akan segera keluar dari Wilayah Padang Rembulan,
Dua orang itu seperti bayangan yang saling berpacu di dalam gelap.
"......."
Orang tua itu benar benar tidak mengerti, sejak kapan anak itu membuat rencana.
"Bagaimana kau bisa se-yakin itu?" orang tua dalam bentuk bayangan itu benar benar tidak mengerti apa yang di rencana kan Xiao Ahnzi.
"........., kamu akan melihatnya langsung nanti!!, kita hanya harus segera sampai disana." Xiao Ahnzi tidak mau menceritakan rencana yang telah di jalankan nya.
Xiao Ahnzi benar benar mengerahkan kemampuan meringankan tubuhnya kali ini, bagaimana pun rencana yang telah di jalankan nya semenjak setahun yang lalu masih membutuhkan beberapa sentuhan agar dapat berjalan semakin baik.
Xiao Ahnzi baru saja keluar dari wilayah padang rembulan, ternyata saat ini telah menjelang senja, matahari berwarna ke emas an bersinar di langit barat.
Semilir angin serasa menghempaskan belenggu belenggu yang membuat jiwa nya yang selama ini merasa terkekang, setelah hampir satu tahun di dalam wilayah Padang Petir Abadi yang tidak tidak pernah tersiram cahaya matahari, tanpa angin yang berhembus.
Xiao Ahnzi seakan terpana melihat hamparan perdu dan padang rumput yang menghijau di depan mata nya, tanpa sadar anak muda itu mengurangi kecepatan lari nya,
Xiao Ahnzi menarik napas dalam memenuhi rongga dada nya dengan udara segar,
"benar benar me-lega-kan," Xiao Ahnzi menarik napas berkali kali.
"........, bukannya kau bilang kita perlu buru buru?" orang tua di sampingnya mengingatkan Xiao Ahnzi tentang perjalanan mereka.
"tidak mengapa, kita akan sampai tepat waktu,," Xiao Ahnzi menjawab dengan yakin "lagi pula, kalau pun aku terlambat, mereka pasti mau menunggu!"
Melihat keyakinan anak muda di sebelahnya, orang tua itu tidak lagi membantah, orang tua itu tidak bisa tidak terkejut lagi dengan jalan pikiran Xiao Ahnzi.
"ayo,, kita temui teman lama!" sebuah senyum mengembang di bibir Xiao Ahnzi.
"........."
__ADS_1
Orang tua itu hanya melirik, tampak sekali dia tidak mengerti "teman lama siapa lagi maksud anak setan ini?"
Xiao Ahnzi telah berkelebat di ujung kalimatnya. Orang tua itu segera menyusul, dia ingin melihat siapa yang ingin di temui Xiao Ahnzi kali ini.
Beberapa menit berlari dengan peringan tubuh, sebuah suara yang terdengar seperti ringkikan kuda mengejutkan sosok orang tua berupa bayangan itu.
"........"
Orang tua itu penasaran.
Sebuah suara tawa menggema di padang rumput,lalu terdengar seseorang berbicara.
" teman lama, kamu semakin gagah,, tidak di sangka kita akan bertemu disini."
Orang tua itu melihat Xiao Ahnzi sedang mengelus kepala se ekor kuda, kuda itu tanpa pelana, anehnya kelihatan jinak dan bersahabat.
Kuda itu menggosok kan kepala nya pada Xiao Ahnzi.
"kuda baik, kuda baik. Terimakasih sudah mau menunggu aku di sini!" Xiao Ahnzi kembali berbicara dengan kuda itu.
"kamu bisa bicara dengan kuda?" orang tua itu mendekat.
"........,, mn..."
Xiao Ahnzi hanya menggumam menanggapi kata kata orang tua itu, lalu mengeluarkan pelana dan tali dari cincin spasial nya.
" untung lah waktu itu aku tidak membuang nya" Xiao Ahnzi berusaha memasangkan pelana dan tali pada kuda itu.
"teman, kamu mau kan, mengantar ku sekali lagi?"
Kuda itu tidak menolak saat Xiao Ahnzi mengaitkan pelana di punggung nya. Bagi Xiao Ahnzi itu pertanda baik, anak muda itu mengencangkan ikatan nya.
*
*
*
Kota Teluk Berkabung.
Beberapa hari ini ramai pengunjung yang mendatangi kota teluk berkabung, dari penampilan mereka, jelas orang orang itu dari rimba beladiri.
Bahkan identitas sebagian orang ini tampak jelas dari lambang pada seragam mereka.
'Paviliun Teratai' sebuah rumah makan yang juga menyediakan penginapan, di salah satu sudut ruangan lantai satu,
Beruang, Serigala dan Penebas tampak sedang menikmati makan siang mereka,
Walau tampak biasa dan sangat menikmati hidangan yang di sajikan, tapi sebenarnya tiga orang jago dari benua Minanka Bao itu tidak pernah lepas dari memperhatikan pengunjung pengunjung yang memadati Pavilun Teratai.
Suasana Kota Teluk Berkabung benar benar berubah dalam beberapa hari terakhir, lebih dari delapan puluh persen pengunjung di Paviliun Teratai adalah orang orang dari kalangan bela diri.
Seorang lelaki berpenampilan seperti alkemis memasuki Paviliun Teratai, lelaki itu hanya melewati lantai satu, naik ke lantai dua, penjaga yang biasa nya memungut bayaran untuk memasuki Lantai dua tampak gemetar saat lelaki itu lewat di depan mereka.
Serigala yang memperhatikan lelaki itu semenjak memasuki lantai satu juga merasakan bahaya yang datang bersama lelaki berpenampilan seperti alkemis itu.
"orang itu, aroma racun di tubuhnya benar benar membuat dada ku sesak!" Serigala buka suara setelah punggung orang berpenampilan seperti alkemis itu menghilang dari pandangan.
__ADS_1
"aku yakin,dia lebih mahir dalam racun dibanding sebagai alkemia" beruang setuju dengan kata kata serigala.
"......." Penebas hanya melirik sekilas dua orang rekannya.lalu melanjutkan makannya.
"kau pernah mendengar tentang orang itu?" Serigala bertanya, pandangan mata nya tertuju pada Penebas.
"Mo Xiang Jin, Patriark Sekte Selaksa Racun" Penebas menjawab dengan suara rendah
"apa??" Beruang kaget
"......." air muka Serigala juga tampak berubah.
Bahkan beberapa orang di meja berbeda, yang diam diam tengah memperhatikan tiga orang itu juga sempat tersentak mendengar kata kata yang keluar dari mulut Penebas.
Orang orang itu jelas pernah mendengar nama Mo Xiang Jin, tapi tampak nya tidak benar benar pernah melihat wujud nya.
Ruangan luas itu tiba tiba terasa begitu sesak, orang orang mulai meninggalkan meja mereka, bagaimana pun kisah mengenai Mo Xiang Jin selalu mampu membuat orang orang bergidik ngeri.
"Aaaaaakkkhh"
Brak!!
suasana yang terasa panas itu tiba tiba di pecahkan oleh satu sosok tubuh yang terlempar dari lantai dua, jeritan orang itu menghilang saat tubuhnya membentur sebuah meja.
Meja yang tidak kuat menahan hempasan tubuh orang itu pecah berkeping keping.
Semua mata menatap nanar pada jasad yang telah kehilangan nyawa itu.
Orang itu tewas dengan sekujur tubuh membiru, semua lubang ditubuhnya mengeluarkan darah, darah berwarna merah bercampur biru kehitaman.
Orang orang yang semula telah berniat meninggalkan Paviliun Teratai,tanpa pikir ulang segera menghambur kabur.
Sementara itu dari lantai dua juga terdengar suara langkah terburu buru, belasan orang yang semula tidak mendapat tempat di lantai satu lalu memutuskan naik ke lantai dua,sekarang berebutan untuk dapat turun dengan selamat.
Wajah orang orang yang berebut turun dari lantai dua tampak sangat pucat, bahkan beberapa ada yang tampak dalam keadaan menangis.
Penebas dan kawan kawan tampak tetap duduk tenang di meja mereka. Bahkan Beruang dengan santai nya menuangkan minuman ke dalam gelas besar di atas meja.
Adapun tiga orang jago ini, mereka bukan lah orang orang yang tidak pernah kalah dalam bertarung, tapi mereka belum pernah melarikan diri.
Jika pun nanti pecah pertarungan, mereka cukup percaya diri dengan kemampuan mereka. Serigala, Beruang dan Penebas bukanlah orang anak baru di dalam rimba bela diri.
Tidak berapa lama, Mo Xiang Jin telah keluar dari lantai dua, melihat masih ada pengunjung yang tidak melarikan diri, Mo Xiang Jin mengarahkan Aura Membunuh yang kuat pada rombongan Penebas dan kawan kawan.
Penebas yang merasakan aura pembunuh yang di lepaskan Mo Xiang Jin, meledakkan qi ditubuhnya, seketika tekanan yang sempat membuat tiga orang itu merasa terancam, hilang setelah Penebas melepaskan qi nya.
"tidak perlu buru buru, kita akan segera bertemu lagi" Penebas berbicara dengan suara rendah, tapi dapat di dengar semua orang di dalam ruangan itu.
Mo Xiang Jin menyeringai, berlalu dengan angkuh.
*
*
*
Kuda yang di tunggangi Xiao Ahnzi telah tumbuh semakin baik dalam setahun terakhir, benar benar bisa di andalkan, bahkan kuda itu hanya beristirahat sekedar untuk minum.
__ADS_1
Jika tidak mengalami kendala,dalam beberapa jam ke depan Xiao Ahnzi akan memasuki wilayah jurang kematian.