
Xiao Ahnzi teringat dengan sang kapten kapal nelayan yang membawanya ke kota teluk berkabung beberapa tahun silam, mungkin dari kapten kapal nelayan itu dia akan memperoleh informasi mengenai pelayaran ke seberang danau. Bahkan sampai sekarang anak muda itu tidak tahu nama danau di depannya.
"Saat ini mungkin Kapten itu adalah pilihan yang paling tepat untuk mendapatkan informasi" Xiao Ahnzi mencoba mengingat dimana tepatnya kediaman sang kapten kapal nelayan.
Xiao Ahnzi menyadari seseorang mengikutinya sejak keluar dari rumah makan, tapi anak muda itu membiarkan saja penguntit itu. Dia sudah tahu yang mengikuti nya adalah si ceking yang baru saja dia beri makan.Xiao Ahnzi ingin tahu ada maksud apa orang itu mengikutinya.
"seharusnya ini adalah rumah milik kapten kapal itu bukan?" Xiao Ahnzi sedikit kecewa mendapati rumah di depannya dalam keadaan hampir roboh, dari tampilan luar nya yang di penuhi sampah dan tanaman merambat, jelas rumah ini telah di tinggalkan dalam waktu yang lama,
"tuan muda mencari siapa?" Si ceking telah berdiri tidak jauh dari Xiao Ahnzi, dari gelagatnya, orang itu tidak memiliki niat buruk, setidaknya sampai saat ini.
"seorang kawan lama,dulu dia tinggal di rumah ini!" Xiao Ahnzi memberikan jawaban yang jujur.
"..... lebih dari tujuh puluh lima persen warga kota ini adalah orang orang baru, mungkin kawan tuan muda sudah jadi korban sekte selaksa racun selama tiga tahun terakhir." si Ceking melangkah mendekat di samping anak muda itu.
"....... apa sampai separah itu?" Xiao Ahnzi seperti berbisik untuk diri nya sendiri, tapi karena si ceking sangat dekat, orang itu masih bisa mendengar kata kata Xiao Ahnzi.
"kota ini bahkan hampir jadi kota mati tanpa penghuni waktu itu," nada bicara si ceking tidak berubah sewaktu menyampaikan kalimatnya.
"sudah berapa lama kamu di kota ini?" Xiao Ahnzi menjadi semakin tertarik dengan orang kurus yang tidak tahu malu ini.
"dua hari," si ceking sudah melangkah ke dalam pekarangan rumah yang di penuhi sampah itu, mata nya seperti menangkap sesuatu yang menarik di dalam sana,
Xiao Ahnzi mengikuti orang itu dengan teknik mata ketiga, tidak ada pergerakan lain dalam radius seratus meter.
"orang yang tuan muda cari kemungkinan besar sudah tewas, ada bekas pertarungan di dalam sini, dan ... Ada sisa bau racun.." si ceking segera keluar dari dalam rumah yang hampir roboh itu.
".....?"
"si ceking ini cukup ahli, dia bisa merasakan sisa sisa racun di dalam sana,,"
"racun?? Apakah itu orang orang sekte selaksa racun?" Xiao Ahnzi memasang wajah terkejut, bagaimana pun dia harus bersikap sealami mungkin, sosok di depannya jelas bukan sesederhana tampilannya.
"bisa ku pastikan begitu!" si ceking menjawab tanpa keraguan.
"ahh sayang sekali...." wajah Xiao Ahnzi benar benar menggambarkan kekecewaan.
"tuan muda mencari tumpangan?" si ceking tiba tiba bertanya, pertanyaan yang tidak di duga Xiao Ahnzi.
"........,?"
"orang yang tuan muda cari ini seorang nelayan, perabotan di dalam rumah ini erat hubungannya dengan pekerjaan itu." si Ceking tahu anak muda di depannya ini terlalu berhati hati.
"aku memang ingin berlayar," Xiao Ahnzi menjawab seadanya.
"kalau begitu,, tuan muda harus membawa ku serta, aku punya pengamatan yang bagus, pasti berguna untuk tuan muda!"
__ADS_1
Xiao Ahnzi tidak menyangka orang didepannya akan menawarkan diri semudah itu. "kenapa aku harus mempercayai mu?"
"tidak harus,,,tapi mengajak ku lebih baik bagi tuan muda" si ceking ini begitu percaya diri.
"berapa bayaranmu?" Xiao Ahnzi tidak ingin terjebak, bagaimana pun semua ini terlalu mudah..
"tuan muda makan aku ikut makan, begitu saja" si ceking tersenyum lebar, mata nya berbinar, dalam pikirannya setidaknya dia tidak akan kelaparan lagi untuk beberapa waktu ke depan.
"kenapa kau melakukan ini semua?" Xiao Ahnzi masih merasa janggal.
"aku tahu, tuan muda adalah orang yang sama yang hari itu di jurang kematian.!"
"kenapa kau begitu terobsesi untuk bertemu dengan orang yang kau curigai sebagai aku itu?" Xiao Ahnzi memiringkan kepala nya mencari kebenaran dari jawaban pemuda kurus di depannya.
"......." si ceking menahan nafas, otak nya tengah bekerja keras memberi jawaban yang tidak akan menggagalkan rencana nya. pemuda itu berucap " aku telah terlibat dengan orang orang sekte selaksa racun, meski pun sekte itu telah hancur, tapi orang orang nya tersebar di seluruh benua ini,"
Xiao Ahnzi hanya mendengarkan, wajahnya bahkan tidak mengalami perubahan, seperti nya anak ini tidak begitu peduli jawaban orang di depannya.
Si ceking lalu melanjutkan " waktu itu, aku melihat orang yang mengalahkan Burka begitu khawatir dengan keselamatan tuan muda, aku yakin orang itu adalah pengawal tuan muda,, aku hanya butuh perlindungan."
".....mn... Kamu terlalu banyak berpikir!" Xiao Ahnzi lalu berbalik, menurutnya si ceking ini terlalu banyak bicara, dan mulutnya berbisa..
"jadi kemana tujuan kita selanjutnya?" ceking menganggap diri nya sudah di terima.
"Kota Semenanjung Pelangi,, "
"...." Xiao Ahnzi menoleh orang kurus di belakangnya.
"sayangnya dalam minggu ini tidak ada kapal yang berlayar ke kota terapung dari kota ini,," si ceking melanjutkan.
"......." Xiao Ahnzi berkedip, meski kecewa, tapi ekspresi nya tidak berubah
"bagaimana dengan jalan darat?"
"Bisa, tapi akan makan waktu dua minggu lebih dengan kuda,, " ceking menjawab dengan yakin, seperti nya orang ini pernah melalui jalan darat menuju kota Semenanjung Pelangi.
Xiao Ahnzi tampak berpikir, jika dalam seminggu tidak ada kapal menuju kota terapung, berarti dia harus membuang buang waktu selama seminggu di kota teluk berkabung ini, saat ada kapal perlu melalui dua hari pelayaran ke kota terapung. Sudah kehilangan waktu sembilan hari.
"berapa lama pelayaran dari kota terapung menuju kota semenanjung Pelangi?" Xiao Ahnzi
"empat sampai lima hari" ceking men sejajarkan langkahnya,lalu melanjutkan "perjalanan dari kota terapung menuju kota semenanjung pelangi tergantung jumlah penumpang, mayoritas penumpang kapal komersil adalah pedagang, semakin banyak penumpang semakin lambat perjalanan, karena orang orang kaya itu kadang memaksa kapten kapal untuk singgah dulu beberapa tempat.
"singgah?" kening Xiao Ahnzi sampai berkerut
"dari kota terapung menuju kota semenanjung pelangi tersebar beberapa pulau kecil, pulau pulau kecil itu biasa di gunakan untuk pasar kagetan, banyak pedagang yang saling bertukar barang dagangan di pulau pulau itu." si ceking tampak benar benar menguasai pembicaraan.
__ADS_1
"Apa ada hal menarik dengan itu?" Xiao Ahnzi mulai mempertimbangkan seandainya ada hal hal menarik dijajaran pulau kecil tersebut.
"......., bagi ku tidak, itu hanyalah transaksi normal antar pedagang, paling hanya satu dua benda berharga" si ceking membuat Xiao Ahnzi batal mempertimbangkan untuk mampir,
"kalau begitu,, ayo cari kuda!!" Xiao Ahnzi memberi tanda agar si ceking memimpin jalan.
Ceking kenyataannya sangat handal dalam bernegosiasi, dua ekor kuda dengan postur besar didapatkannya dengan harga yang terbilang murah, meski pun tanpa menawar sebenarnya Xiao Ahnzi masih sanggup untuk membayar harga dua ekor kuda tersebut.tapi berkat kelihaian si ceking, harga kuda kuda itu jatuh hampir setengah harga.
tidak butuh waktu lama, dua sosok sudah mengendarai kuda keluar dari kota teluk berkabung.
Xiao Ahnzi membedal lari kuda nya setelah keluar dari gerbang kota, jalanan tidak terlalu ramai, bahkan terbilang sepi. Memang reputasi kota teluk berkabung beberapa tahun ke belakang tidak terlalu baik, kota ini porak poranda di tangan sekte selaksa racun.
Lebih banyak pedagang memilih kota kota kecil lain untuk menggelar dagangan mereka, kota kota yang lebih aman dibanding kota teluk berkabung.
Setelah tiga hari perjalanan, Xiao Ahnzi dan si ceking melintas di sebuah kota kecil, dua orang ini singgah sekedar mengisi perbekalan, dan Xiao Ahnzi juga menemui seorang tukang kayu, untuk membeli permintaan si tua cakra di dalam cincin spasial.
Memang di dalam perjalanan, si tua cakra sempat mengirim pesan suara mengatakan permintaan nya , bahkan juga sempat membahas tentang pengikut baru anak muda ini, si ceking.
Orang tua tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan terhadap orang kurus yang menjadi penunjuk jalan si anak muda.
Setelah membeli kayu kayu yang di butuh kan si tua Cakra,Xiao Ahnzi kembali melanjutkan perjalanan.
Si ceking yang melihat belanjaan tuan muda itu berlainan dengan belanjaan orang pada umumnya akhirnya bertanya "untuk apa tuan muda membeli kayu kayu itu?"
Xiao Ahnzi telah bersama orang ini selama empat hari, jadi tidak lagi merahasiakan tujuannya. " tujuan ku selanjutnya adalah suatu tempat yang masih cukup jauh dari kota semenanjung pelangi, di sana mungkin aku akan butuh waktu satu atau dua tahun."
Si ceking bagai disambar petir mendengar jawaban pemuda itu, kota semenanjung pelangi adalah kota terakhir di tepian danau, bila berjalan terus,,, hanya ada gurun kematian di sana.
Wajah si ceking tiba tiba saja pucat membayangkan semua itu. Dengan suara yang bergetar si ceking berucap "tuan muda,, apa tujuan sebenarnya tuan muda adalah gurun kematian?"
Xiao Ahnzi memalingkan wajah, lalu tersenyum pada teman baru nya. "apa sekarang kamu berubah pikiran?" anak muda itu jelas menangkap ketakutan didalam diri si ceking.
"bu bukaan begitu,," si ceking bahkan kesulitan menelan ludah.
Xiao Ahnzi semakin menyeringai melihat orang di sebelahnya. Tapi tidak berkata kata lagi, memacu kuda nya lebih cepat.
Beberapa kali setelah itu Xiao Ahnzi singgah di beberapa kota kecil, tapi tidak ada kejadian menarik yang harus diceritakan, akhirnya pada hari ke enam belas, dua orang itu memasuki kota semenanjung pelangi.
Kota semenanjung pelangi adalah kota yang indah, pantulan sinar matahari pada permukaan danau membiaskan warna pelangi di sepanjang pantai tepian danau.
Kota ini menjadi kota terakhir di sepanjang tepian danau bagian barat, kota ini kota terbaik yang pernah Xiao Ahnzi kunjungi di benua ini, selain tata kota yang apik dan indah, struktur pemerintahan di kota ini juga sangat bagus. Kediaman penguasa kota beridir pada bagian tanah yang menjorok kedalam danau, tiga sisi bangunan memiliki pagar alami, tebing batu yang langsung jatuh ke dalam danau.
Luas kota ini mampu menampung tiga juta penduduk, bahkan Xiao Ahnzi begitu tertarik melihat sebuah bangunan berbentuk pagoda lantai tiga. Di tembok gerbang bangunan itu tergantung sebuah papan nama besar bertuliskan "perpustakaan kota semenanjung pelangi"
"ini adalah kota paling unung di tepian barat, kita harus membeli semua keperluan di kota ini, jika tuan muda hendak melanjutkan perjalanan," si ceking mengingatkan Xiao Ahnzi tentang tujuannya ke kota ini.
__ADS_1
"kita cari penginapan dulu,kita akan menikmati dulu kota ini satu dua hari,lalu melanjutkan perjalanan."