Pangeran Ke Empat

Pangeran Ke Empat
042. Keunggulan Membaca


__ADS_3

Xiao Ahnzi masih harus menempuh perjalanan selama dua hari semenjak kejadian penghadangan oleh ular hitam besar, yang berakhir dengan kematian ular itu dengan tubuh yang dibelah sampai setengah badan, bahkan lidah ular yang bercabang itu di tarik si anak muda sampai menyembul di ujung luka. Tepatnya di bagian perut ular itu sendiri.


Tidak terhitung berapa banyak demonic beast yang terbunuh ketika mencoba menghadang perjalan Xiao Ahnzi saat melintasi hutan yang menjadi penghubung menuju gurun kematian.


Rasa takut yang di derita Xu Lian bahkan semakin menjadi melihat betapa brutal tuannya yang baru ini dalam menghabisi setiap demonic beast sepanjang perjalanan tersebut.


Sekarang dua orang rekan seperjalanan itu sedang menempuh sebuah daerah dataran yang mulai jarang di tumbuhi pohon pohon besar. tanaman yang tumbuh di tempat ini mulai berbeda, lebih banyak rumput liar ketimbang pohon, Xiao Ahnzi sengaja memilih untuk beristirahat di wilayah ini, intuisi nya mengatakan di depan akan semakin sulit menemukan tempat yang teduh untuk beristirahat sekedar melepas lelah.


"Xu Lian, kau pernah memasuki gurun kematian sebelum ini?" pandangannya menangkap gelagat kurang nyaman pada sosok manusia jelmaan rubah api berekor tiga tersebut.


"tidak,," Xu Lian menggeleng untuk menguatkan jawabannya.lalu melanjutkan " saya pernah masuk sampai pertengahan hutan yang sudah kita lalui, tapi terpaksa melarikan diri kembali ke kota semenanjung pelangi."


".....?, kenapa ? Xiao Ahnzi penasaran, mengingat demonic beast di depannya ini cukup kuat,rasa nya tidak ada demonic beast di dalam hutan yang mampu menghadang Xu Lian atau si ceking ini.


" karena orang orang itu..."


"orang orang yang menyerang di kota semenanjung pelangi?" Xiao Ahnzi makin penasaran.


"iya,," raut wajah Xu Lian nampak berubah, tampaknya dia masih trauma dan tidak nyaman mengingat kejadian di masa lalu itu.


"orang orang itu sebenarnya adalah kaki tangan tuan saya terdahulu,," Xu Lian mencoba menyusun kata kata yang tepat, bahkan sekarang dia memperbahasakan diri nya dengan kata saya, meninggalkan kata aku yang artinya sama, karena di beberapa peradaban pemakaian kata saya terkesan lebih menghargai lawan bicara.


sosok anak muda di depan nya tidak boleh dia bikin tersinggung, lalu melanjutkan ceritanya. " saya mengikuti orang tua licik itu yang ingin memasuki gurun kematian,tapi ternyata itu semua hanya akal licik untuk menjebak saya.."


"....." Xiao Ahnzi


" Orang orang itu tidak pernah benar benar ingin memasuki gurun kematian, yang mereka incar sebenarnya adalah demonic core saya," Xu Lian menelan ludah dan berhenti sejenak.


"kenapa mereka harus jauh jauh ketengah hutan?" Xiao Ahnzi merasa cerita itu berlebihan, konyol sekali orang orang itu, demi seekor demonic beast harus susah payah ke tengah hutan.


" karena mereka adalah orang orang terhormat dari kota semenanjung pelangi " Xu Lian jadi emosional bila mengingat hal itu. Tapi ia masih berusaha meneruskan cerita nya, tidak ada lagi yang dia coba tutupi dari Xiao Ahnzi.


"kota semenanjung pelangi terkenal makmur dan tidak toleransi terhadap tindakan tindakan yang mengarah pada diskriminasi,,, mereka telah mengeluarkan biaya yang besar untuk membangun citra yang harum, padahal semua itu hanyalah kedok belaka." tangan Xu Lian bahkan meremas baju nya saat ini, begitu emosi.

__ADS_1


"ooohhh seperti itu,, jadi siapa tuan mu kala itu? Apa walikota?" Xiao Ahnzi tentu paham dengan yang nama nya menjaga reputasi.


"......" Xu Lian sampai Syok mendengar kesimpulan tuan muda Xiao nya. Tebakan orang itu sangat jitu.


Di lain sisi, Xiao Ahnzi teringat keluarga nya di kerajaan Ufuk Barat, "apakah ayah juga melakukan hal hal hina seperti itu untuk menjaga reputasi kerajaan? Atau untuk tahta nya saja?,, semoga saja tidak, itu semua sungguh mempermalukan diri sendiri!!"


Teringat itu semua, teringat ibu nya permaisuri Ling, saudara saudara, bahkan guru nya yang menyebalkan, si tua bangka Paman Lan yang tidak ingin di panggil kakek. Xiao Ahnzi berdiri, melirik Xu Lian yang tengah larut dalam pikiran nya sendiri, pemuda itu segera mengajak rubah api berekor tiga itu melanjutkan perjalanan.


Gurun Kematian, seperti gurun gurun yang lain, cuaca di tempat itu berubah secara ekstrim. hari itu belum terlalu siang, bahkan masih cukup pagi, tapi matahari telah bersinar terik, Xiao Ahnzi merasa rambut putihnya yang seperti salju seperti terbakar di bawah cahaya matahari.


Xu Lian, si rubah api berekor tiga, bahkan dari beberapa jam yang lalu telah di kirim ke dalam dunia kecil di dalam cincin, entah bagaimana cerita nya, makhluk itu ternyata sebelum mendapatkan tubuh manusia nya, hidup di lingkungan penuh salju, terbiasa hidup di tempat dingin, membuat daya tahannya terhadap suhu panas menjadi buruk.


Xiao Ahnzi bahkan sampai marah marah seperti kebakaran rambut mendengar keluhan makhluk itu, untungnya cuma sekedar kata kata,


Xu Lian merasa mulut pemuda ini benar benar berbisa.


Sekarang pun dalam keadaan sendirian, mulut anak muda itu masih mengeluarkan kata kata serapah, dia mengutuki dunia yang amat panas ini.


"aiissshh kenapa tua bangka itu mengirim aku ke tempat seperti ini?"


Xiao Ahnzi telah mencoba menerapkan teknik pernapasan, pernapasan angin, pernapasan api, pernapasan air, teknik pernapasan petir,, tapi nihil.


Sama sekali tidak membantu,teknik pernapasan yang telah di pelajari nya jadi tidak berguna sama sekali sejak menginjakkan kaki di gurun ini.


tempat ini benar benar tandus, benar benar gersang, sangat miskin dengan qi alam. Dantian lubang hitam, yang bahkan menelan racun, saat ini tidak bereaksi apa apa.


Xiao Ahnzi ingin kabur ke dalam dunia kecil di dalam cincin juga tidak ada guna nya. Tubuh fisik nya yang tertinggal di luar tetap akan terpanggang lama ke lamaan di gurun ini.


terlebih, anak muda ini sama sekali tidak memiliki informasi mengenai gurun kematian, informasi dari perpustakaan kota semenanjung pelangi sama sekali tidak membahas tentang kondisi gurun kematian. Buku tebal itu lebih tepatnya hanyalah daftar nama orang orang yang di kabarkan mati saat mencoba memasuki gurun kematian, entah itu mati di dalam hutan atau bagaimana. Sederhana nya,, buku itu tidak jelas.


Untungnya,, dengan keberadaan sungai di dalam dunia kecil di dalam cincin, Xiao Ahnzi tidak perlu khawatir akan mati kehabisan air, berhari hari anak muda itu berjalan di dalam lautan pasir, tanpa tempat berlindung dari sinar matahari yang melelehkan rambut salju nya. Bahkan saat malam datang anak muda itu di paksa terus berjalan untuk mengurangi hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.


Xiao Ahnzi telah memutar otak,menggunakan segala cara.

__ADS_1


Seperti pesan guru nya, Paman Lan, saat berada di tempat yang tidak normal, temukan sesuatu yang paling tidak normal di antara ketidak normalan tersebut, Anomali.


bahkan setelah hari yang ke sekian, tantangan yang di hadapi nya semakin berat, selama ini hanya cuaca ekstrim antara suhu panas dan dingin, sekarang badai pasir mulai terjadi sekali sekali,


Seorang diri di tengah lautan pasir tak bertepi, kewarasan anak muda itu benar benar jatuh pada titik terendah, beberapa kali Xiao Ahnzi menarik paksa penghuni dunia kecil di dalam cincin untuk sekedar turut merasakan penderitaannya. Bahkan beberapa kali orang orang itu kembali kedalam dunia kecil dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Xiao Ahnzi benar benar tidak rela merasakan siksaan dunia itu sendirian.


Meski pun begitu, ternyata orang orang di dalam dunia kecil tidak marah,apa lagi merasa dendam terhadap anak muda yang di paksa matang secepatnya ini.


Jika tidak salah menghitung, sudah tiga bulan Xiao Ahnzi berputar putar di dalam gurun kematian.


Pangeran ke Empat yang optimis itu pun mulai merasa putus asa, tidak ada perkembangan dari waktu ke waktu, tapi ada satu bagian dari otak nya yang menyatakan jangan menyerah.


Benarlah kira nya, usaha tidak akan menghianati hasil, Xiao Ahnzi berhenti menghitung setelah tiga bulan, entah pada hari yang ke berapa, Xiao Ahnzi berhenti berjalan, dibawah terik matahari yang serasa berjarak sejengkal di atas ubun ubun, anak muda empat belas tahun itu menarik keluar gulungan yang memuat teknik pernapasan,


Susunan kata yang berubah setiap tiga puluh detik di dalam gulungan itu ternyata memiliki cara atau metode membaca yang lain, inilah rahasia sebenarnya tentang teknik pernapasan terakhir. Pernapasan hitam.


Selama ini Xiao Ahnzi begitu percaya diri dengan daya ingatnya, tidak di pungkiri semua tulisan yang dibaca anak muda itu secara otomatis seperti tersalin ke dalam memorinya cukup dengan sekali baca, tapi metode membaca yang berbeda ini jelas belum pernah diketahui Xiao Ahnzi sebelumnya, untunglah dia kembali membuka gulungan tersebut.


Perlahan Xiao Ahnzi mulai mencoba menerapkan teknik pernapasan hitam sesuai metode yang baru di ketahui nya.


Perlahan Xiao Ahnzi mulai merasakan qi alam yang tipis, padahal swbelum nya benar benar tidak merasakan qi alam selama berada di gurun kematian.


Dantian lubang hitam bereaksi, seperti nya selama ini dantian pelahap itu telah kelaparan. Xiao Ahnzi tersenyum penuh arti, "ini perkembangan yang bagus!"


Dari semula tidak ada jadi ada, dari tipis menjadi makin tebal, sekarang qi alam yang dirasakan Xiao Ahnzi seperti air bah memasuki dantian lubang hitam.


Xiao Ahnzi memejamkan mata menikmati sensasi dari qi dengan jumlah besar membanjiri dantian lubang hitam, Sampai tiba tiba lautan pasir itu bergetar,


Sreetttt...


Bunyi keras seperti sesuatu yang robek memaksa anak muda itu membuka mata.

__ADS_1


pasir dibawah tempat duduk nya terbelah.


__ADS_2