
“Lakukan sesukamu!” sebuah suara menggema di dalam ruangan lantai satu itu.
Xiao Tian segera berdiri dan melesat ke depan Permaisuri Ling Xue memasang sikap melindungi, bukan, bukan melindungi Permaisuri Ling Xue, tapi melindungi sosok yang baru saja muncul dari amukan sang istri.
Dengan cepat Xiao Tian memeluk tubuh permaisuri Ling Xue yang sudah bersiap menerjang pemilik suara itu.
“Adik Ling,,kendalikan dirimu,,” setengah berbisik Xiao Tian mengeratkan pelukannya terhadap Permaisuri Ling Xue.
“Lepaskan aku kakak! Aku akan mengadu jiwa dengan tua bangka laknat itu!” Permaisuri Ling Xue berusaha melepaskan diri.
Menyadari keributan yang akan terjadi, Xiao Lu Metian segera meninggalkan Xiao Mei Mei dan ikut menenangkan ibunya.
Pria tampan yang baru datang dan benar Xiao Ho Dong adanya, mengabaikan kemarahan Permaisuri Ling Xue, pria itu berjalan perlahan menuju tubuh Xiao Mei Mei yang tidak bergerak, dengan sekali ayunan tangan,
Plak
Bibir Xiao Mei Mei mengucurkan darah lagi, terdengar orang yang sebenarnya sudah sangat tua itu bersuara dingin, “lain kali aku akan langsung membunuhmu jika melakukan itu lagi!”
Setelah itu Xiao Ho Dong naik ke lantai dua, tidak lama kemudian pria itu turun kembali bersama Raja Obat yang tampak memiliki bekas merah di pipinya. seutas benang spiritual mengikat tubuh alkemis nomor satu benua timur itu.
Xiao Tian menggeram melihat sahabatnya diperlakukan dengan buruk oleh leluhurnya sendiri, tapi Xiao Tian tidak bisa berbuat apa apa, telah berulang kali Xiao Tian dibantu istri dan putra putri nya untuk menaklukkan Xiao Ho Dong, akhirnya tetap sama,kekalahan!.
selama ini keberadaan Raja Obat yang membuat mereka bisa pulih seperti sedia kala setelah bertarung habis habisan melawan sosok diktator ini, perbedaan kekuatan antara dirinya dan Xiao Ho Dong ibarat langit dan bumi, bahkan setelah keroyokan pun mereka tidak berhasil menjatuhkan satu serangan pun terhadap lawan.
“Mulai Hari ini, setiap kali datang, aku akan membunuh kalian satu persatu, sampai bocah itu menyerahkan diri!"
Xiao Ho Dong berlalu dengan membawa Raja Obat bersamanya,menyisakan kepahitan di hati Xiao Tian dan Istri beserta anak anaknya.
******
__ADS_1
Kota Embun Beku, daratan benua timur wilayah Utara.
Dua Orang Pemuda tampak berkelebat di antara gundukan salju, didepan kedua orang pemuda ini berlari dalam kecepatan tinggi seekor Serigala salju berukuran besar, tinggi nya mencapai lima meter dengan dua cula di keningnya, tampak bekas luka yang masih meneteskan darah pada bagian kaki belakang serigala salju tersebut, sesekali kedua anak muda itu berbalik untuk menangkis serangan anak panah yang datang dari arah belakang,
“Senior,,ini buruk, mereka semakin dekat!” Shu Liu Xin dengan nafas mulai tidak beraturan menangkis sebatang anak panah yang nyaris mengenai dada nya,
“Kau pergi lebih dulu!,aku akan menghalangi mereka,,kabarkan kepada ayahmu untuk segera bersiap akan datangnya serangan!” pemuda yang tidak lain adalah Ye Minghao ada nya menjawab dengan nafas yang tidak kalah berantakan nya.
"Jangan mati dulu! " Shu Liu Xin sudah menghadapi keadaan hidup mati bersama sampah akademi tianqi ini untuk kali yang tidak terhitung, makanya ia tidak ragu untuk meninggalkan sahabatnya ini untuk menghadang lawan.
Setelah bersepakat, Shu Liu Xin segera bergerak cepat menyusul serigala salju yang telah berlari jauh.
Ye Minghao menarik sebuah tongkat besi dari dalam cincin spasialnya, dengan gagah pemuda itu menunggu kedatangan orang orang bertopeng yang jumlahnya belasan orang itu.
"Akhirnya kau menyerah? " Seorang pria bertopeng berkata dingin saat melihat anak muda itu berdiri sendirian di tengah jalan.
"Mimpi! " Ye Minghao langsung menerjang selepas kata katanya.
Lawan lawan yang dihadapi Ye Minghao rata rata berada di master foundation, yang paling kuat adalah yang sebelumnya berbicara selaku pimpinan kelompok ini. Praktiknya berada di tingkat master foundation tahap emas.
"Hmp!!Jangan pikir kemampuan instan kalian itu akan sebanding dengan jerih payahku! " Ye Minghao berhasil memukul pecah kepala seorang musuh dengan tongkat besi nya.
Satu hal yang paling disadari Ye Minghao adalah, orang orang ini mendapatkan kekuatan dengan jalur terlarang, yaitu dengan menghisap energi kehidupan, tidak terhitung berapa banyak manusia dari golongan rakyat biasa yang kehilangan nyawa akibat praktek ilmu terlarang ini.
Tapi seperti mana ilmu sesat lainnya, selalu ada efek samping yang di Terima sang praktisi dari ilmu terlarang yang mereka pelajari. Salah satunya adalah stamina mereka cepat terkuras, meski kuat secara instan, dasar atau fondasi beladiri mereka tidak terlalu baik, mereka hanya sibuk mengejar kekuatan, tanpa berusaha memperbaiki dasar dasar seni beladiri mereka.
Setelah setengah jam saling beradu serangan, tubuh Ye Minghao mendapat banyak luka, sedangkan lawan lawan yang jumlahnya belasan itu bertumbangan satu persatu,
Tapi orang orang bertopeng ini tampaknya lebih memilih mati dalam tugas ketimbang kembali dengan tangan kosong, meski stamina mereka sudah mendekati titik terendah, tidak satu pun yang berusaha melarikan diri.
__ADS_1
"Sial!! " Ye Minghao merutuk, karena keadaannya makin terdesak, sebilah belati beracun berhasil menancap di pinggang sebelah kiri nya, luput seinci dari bagian ginjal. "Ahh tampaknya aku akan mati kali ini! " Ye Minghao merasa dada nya berdenyut lebih kencang akibat terkena racun.
Hiiiaaa
Anak muda itu berteriak memompa semangatnya, tongkat besi nya berayun semakin cepat, dan kembali berhasil melumpuhkan seorang lawan yang langsung kehilangan nyawa,
Bertepatan dengan serangan itu Ye Minghao meremas hancur sebuah benda dibalik baju nya, sebuah cahaya menyilaukan mata membuat lawan kelabakan.
"Menghindar!" Pria bertopeng yang menjadi pemimpin kelompok memperingati anggota nya. Segera saja kepungan itu tercerai berai,
Mereka tampaknya khawatir ledakan cahaya itu akan merenggut selembar nyawa mereka. Tapi setelah ledakan cahaya itu menghilang, terdengar ketua regu itu menyumpah panjang pendek. Target mereka sudah melarikan diri.
****
Jajaran pilar batu yang seakan menjadi penopang langit itu tidak lagi sama seperti saat pertama kali Xiao Ahnzi menapakkan kaki di lembah tandus dan membara ini, udara ditempat ini sekarang jadi sedikit lebih bersahabat, karena hamparan batu yang sebelumnya seperti bara api, tidak lagi mengeluarkan udara panas.
Seorang pria tampan yang belakangan bersedia menyebutkan namanya kepada anak muda itu tampak berdiri dengan tatapan berbinar di puncak pilar ke enam. Nama pria ini Chu Tian, sosok yang hampir seribu tahun lalu pernah merajai dunia beladiri, dan akhirnya namanya terlupakan setelah berhasil mencapai alam keabadian,
Yang saat ini bersama Xiao Ahnzi hanyalah kepingan jiwa spiritualnya, yang sengaja dan memang bisa dilakukan seorang kultivator yang telah mencapai tingkat immortal dan naik ke alam para dewa.
"Akhirnya aku harus menyaksikan sendiri pewaris setan tua itu menguras habis formasi petir ini,,,rahasia apa lagi yang kau simpan anak muda? " Chu Tian tersenyum getir.
Sementara itu Xiao Ahnzi tampak tenggelam dalam meditasi nya pada puncak pilar Ketujuh, petir berwarna emas seperti seekor naga raksasa berusaha menembus ubun-ubun anak muda berambut putih itu.
Xiao Ahnzi tak bergeming, meski terdapat lelehan darah pada sudut bibirnya, anak muda itu masih berusaha menaklukan inti petir terakhir.
"Aaaaaaaaa" Dengan sebuah jeritan panjang petir yang berbentuk seperti seekor naga raksasa itu mulai terkikis dan merasuk melalui ubun ubun Xiao Ahnzi.
Beberapa menit kemudian cahaya emas yang menghiasi langit itu memudar dan menyisakan suasana langit yang sangat normal seakan waktu itu matahari baru beranjak naik.
__ADS_1
Fluktuasi energi itu perlahan mereda, dan keadaan menjadi damai dan tenang.
"Akhirnya dia berhasil… " Chu Tian menarik nafas lalu mulai terbang menuju pilar Ketujuh, terang saja Chu Tian Khawatir berada terlalu dekat, teknik pernapasan hitam menyedot semua jenis energi, sedangkan keberadaanya saat ini hanyalah kepingan jiwa spiritual, sebuah energi yang terkonsolidasi membentUk rupa manusia. Ia adalah sasaran empuk tEknik pernapasan hitAm.