
Serigala yang menghadapi tiga orang tetua sekte selaksa racun, selalu di atas angin semenjak pertarungan di mulai,
Tiga orang tetua sekte selaksa racun kocar kacir menerima tendangan Serigala yang bak air bah,
Yang membuat mereka masih bertahan hanya lah Racun yang berkali kali mereka lepaskan, racun racun itu bukan tidak berbahaya, tapi Serigala yang lebih lihai, kemampuan lain Serigala sebagai pemburu adalah memisah udara,
Dengan teknik nya, Serigala tidak menghirup udara beracun walau tanpa menahan nafas, udara yang masuk ke pernapasan nya adalah udara yang tidak terkontaminasi. Udara beracun itu di urai dulu dengan teknik nya, baru setelah itu memasuki saluran pernapasan.
Serigala sempat melirik Beruang yang tengah berjuang menetral kan racun ditubuhnya, tampak nya manusia yang jarang memakai otak itu butuh pertolongan secepatnya.
Serigala menarik keluar sepasang pedang bergagang dua dari balik punggungnya, sepertinya lebih pantas disebut cakar logam, Serigala orang yang fleksibel dalam bertarung, selain tendangan, dia juga mahir menggunakan senjata.
Tidak butuh waktu lama sampai ke tiga tetua sekte selaksa racun meregang nyawa di tangan senjata aneh Serigala.
Tiga orang tetua sekte selaksa racun tewas dengan banyak luka tusukan dan tebasan.
Serigala lalu berkelebat membantu Beruang menetralkan racun ditubuhnya.
Penebas yang berhadapan dengan Xuan Lei Ting tampak cukup kerepotan, serangan makhluk beracun datang dari tempat tempat yang tidak terduga.
Cahaya dari obor yang terpasang ti beberapa tempat menimbulkan bayangan, bayangan bayangan itu di manfaatkan Xuan Lei Ting untuk menempatkan binatang piaraan nya, sewaktu waktu binatang beracun itu Dapat menyerang Penebas dari arah mana saja.
Mengabaikan kemungkinan serangan gelap dari kegelapan, Penebas memangkas jarak nya dengan Xuan Lei Ting, sekarang dua orang itu terlibat pertarungan jarak dekat,
Penebas mulai berada di atas angin, beberapa tebasan mulai membuat tubuh Xuan Lei Ting berdarah.
Dalam satu kesempatan, Wanita itu melompat mundur, tampak bibirnya bergerak cepat,seperti nya merapal mantra.di ujung komat kamit nya Xuan Lei Ting berteriak,
"Giant Hell Centipede"
Dalam kegelapan abadi jurang kematian,tanah bergetar, sebuah rengkahan muncul didekat kaki Xuan Lei Ting.
Makhluk dengan banyak kaki berwarna Merah membara, panjang makhluk itu mencapai lima meter dengan diameter tubuhnya setengah meter, di kepala makhluk itu terdapat dua buah tanduk sejajar.
Makhluk ini yang di sebut Kelabang Raksasa Neraka.
Kondisi Penebas yang semula di atas angin, tiba tiba saja berubah jadi tertekan.
Penebas masih tampak tenang meski situasi telah berbalik tidak menguntungkan bagi nya.
Orang tua itu lalu menarik sebuah pedang lagi dari cincin spasial milik nya, sebuah pedang dengan bilah melengkung, tapi hanya memiliki satu sisi tajam, gagang pegangan pedang itu sangat berbeda dibanding kebanyakan pedang yang di gunakan kultivator, gagang pedang itu terbuat dari gading berwarna putih, panjang nya mencapai tiga puluh senti meter, dengan panjang bilah pedang itu sendiri sekitar seratus dua puluh senti meter.
Jika Xiao Ahnzi sedang berada disini, anak muda itu tentu mengenal jenis pedang seperti ini, pedang yang menurut Paman Lan nya bernama katana berasal dari negeri yang jauh.
Semula Xuan Lei Ting menduga musuh didepannya akan menggunakan dua pedang,tapi asumsi nya segera dimentahkan saat Penebas menyimpan pedang yang biasa ia pakai.
Xuan Lei Ting yang telah memanggil seekor makhluk berupa kelabang raksasa, inisiatif menyerang lebih dulu, kelabang raksasa berwarna merah menyala itu sampai lebih dulu,
Warna kulit nya yang merah membara ternyata benar benar mengeluarkan hawa panas, membuat perih mata.
Penebas berdiri dengan tenang, kedua kaki sedikit terbuka,pedang dengan satu sisi tajam itu dipegang horizontal sejajar bahu.
Satu meter lagi kelabang raksasa itu akan menabrak tubuh Penebas, Sementara di belakang kelabang raksasa, Xuan Lei Ting mengikuti, wanita itu datang dengan posisi tangan terulur,di telapak tangan nya dua ekor kelabang siap meluncur.
Penebas masih belum bergerak, dia masih menunggu.
__ADS_1
Kepala Kelabang Raksasa Neraka itu tiba tiba berdiri tegak, sebagian tubuh besar dengan tangan atau kaki yang berkuku runcing, seperti berniat menarik Penebas ke dalam pelukannya.
Tampak kaki yang banyak itu memiliki duri duri halus yang tak terhitung,
Penebas tiba tiba saja berdesis "bumi terbelah,azab menimpa" dengan satu tumit menggores tanah.
Tanah di depannya tiba tiba terbelah, dari dalam belahan tanah itu keluar angin kuat dengan sifat menyedot.
Tubuh kelabang raksasa itu tersedot kedalam tanah yang terbelah,
saat makhluk tidak normal itu panik menyelamatkan tubuhnya, Penebas menebaskan pedangnya dalam tebasan horizontal, tubuh kelabang yang sedang berusaha tetap berdiri mengangkat bagian kepala nya langsung terpotong putus.
Xuan Lei Ting yang tidak pernah menduga serangan lawannya ternyata menyusur tanah, wanita keji itu berusaha melompat menghindar, tapi daya hisap dari serangan lawannya terlalu kuat.
kaki Xuan Lei Ting sebatas lutut telah terbenam ke dalam rengkahan tanah, tanah yang awalnya terbelah itu perlahan mulai menutup kembali,
Xuan Lei Ting semakin panik, timbul keinginan untuk memotong kedua kaki nya agar bisa selamat. Saat itu lah sebuah suara seperti berbisik di telinga nya " tidak perlu repot repot biar aku yang memotong,,---- dari bagian lehar saja!"
Setelah itu dunia jadi terbalik bagi Xuan Lei Ting, dia dapat melihat seorang berdiri di depannya, wanita tanpa kepala dengan kaki yang terbenam sampai lutut, tubuh itu terasa sangat familiar...
"tubuh itu...." lalu semua nya gelap.
Penebas menyimpan pedang dengan bilah melengkung itu kedalam cincin spasial, aura dari tubuhnya benar benar mengintimidasi. Sosok itu melangkah ringan menuju kawan kawannya.
Pada sisi lain, sebuah penganiayaan sedang berlangsung, Osasa wanita yang memakai pakaian ketat berwarna merah benar benar tidak mampu memberi satu serangan pun pada lawannya. Telah semua kemampuan ia kerahkan, tapi tidak ada yang berhasil menyentuh lawannya,
Cakra benar benar membalaskan dendam kesumatnya, setiap satu serangan cakra melempar satu pertanyaan "dimana Jung Sara?"
Jung Sara adalah musuh bebuyutan yang meracuni nya tiga ratus tahun silam, tapi jawaban yang diberikan Osasa tidak sesuai dengan kehendak Cakra, jawaban wanita itu mulai dari tidak tahu,aku tidak kenal,dan lain sebagainya.
Cakra yang merasa orang di depannya bermain main, semakin menggila dalam menganiaya. Hingga akhirnya wanita itu mengaku kalau dia memang murid dari Jung Sara, dari penuturannya Jung Sara telah tewas puluhan tahun lalu.
Cakra yang masih menyimpan kebencian dan amarah di hatinya, membakar habis semua bangunan sekte selaksa racun. Tempat itu benar benar dibuat terang dibawah cahaya api yang melalap seisi jurang kematian.
Bukan tanpa alasan Sosok bayangan orang tua itu melakukan itu. Semua hal di dalam jurang kematian, khususnya di kawasan bangunan sekte selaksa racun telah terkontaminasi aneka racun berbahaya. Sedikit saja peninggalan sekte selaksa racun yang tersisa, dikemudian hari akan membuat peluang sekte itu muncul kembali.
Habisi saja sampai ke akar akar nya.
setelah semua bangunan sekte selaksa racun habis dimakan api, Cakra mendekati rekan seperjuangan yang lainnya.
"kau keracunan, Jalada?" Cakra melihat tiga orang itu sedang berusaha membantu si Beruang menetralkan racun, wajah beruang tampak menghitam,
Tidak ada yang menanggapi pertanyaan sosok orang tua yang hanya bayangan itu,
"......" Cakra ikut berdiri di depan Beruang, ia memperhatikan tiga orang itu sampai berkeringat.
"........, sayang sekali anak itu belum kembali, dia dengan mudah bisa mengobati mu," suara Cakra membuat Serigala membuka mata,
"benarkah? Anak itu bisa mengobati racun ditubuh beruang?" Serigala serius bertanya.
"mn.." Cakra mengangguk meng-iya kan.
"kalau begitu aku akan menyusulnya!" Serigala segera berdiri, ingin menyusul Xiao Ahnzi, dia cukup frustasi melihat kondisi Sahabatnya.
Sebelum tubuhnya bergerak, Cakra langsung menahannya.
__ADS_1
"jangan di susul, dia sengaja membawa Mo Xiang Jin menjauh agar tidak membahayakan kalian." suara Cakra begitu tenang.
"......?"
"........?"
Mendengar kata kata Cakra bahkan Penebas membuka mata dan menatap Sosok Cakra yang barusan bicara.
"tenang saja, dia pasti mampu mengatasi Mo Xiang Jin, dia itu tidak terduga" Cakra lalu melanjutkan, "aku bisa seperti ini juga karena dia, boleh dikata dia itu guru ku!"
!
!!
!!!
Penebas dan Serigala bagai mendengar petir di kepala nya, kata kata terakhir yang di ucapkan Cakra, siapa yang akan percaya?
"mn..." Cakra mengangguk menyakinkan orang orang itu tidak salah dengar.
*
*
*
"Hujan Racun Darah!!!" Mo Xiang Jin berteriak nyaring menyebutkan nama jurus nya.
Kegelapan yang menyungkup jurang kematian bertambah tebal, awan hitam bergulung gulung di atas kepala Xiao Ahnzi.
Titik titik air mulai berjatuhan, bau amis benar benar membuat hidung pekak,
Xiao Ahnzi masih beridiri dengan tenang , sampai saat ini belum ada titik hujan yang menyentuh tubuh nya, Xiao Ahnzi menerapkan teknik pernapasan angin untuk melindungi tubuhnya.
Di sisi lain Mo Xiang Jin sangat percaya diri dengan serangan terkuat nya ini. kegelapan total didepannya membuat ia tidak bisa melihat lawannya didalam hujan racun. Orang tua itu menunggu dengan sebuah seringai kemenangan di bibirnya.
Xiao Ahnzi sedang berpikir, serangan seperti apa yanga akan di gunakannya untuk menghajar lelaki tua di luar sana. Anak ini sangat santai, dalam perhitungannya, orang tua itu tidak akan melakukan serangan apapun selama hujan racunnya berlangsung, orang itu terlalu percaya diri bahwa tidak ada orang yang bisa selamat dari hujan racun darah milik nya.
"hujan...???" sebuah ide muncul di benaknya, "hujan dengan petir,, aku akan membuat nya se dramatis mungkin!!"
Xiao Ahnzi teringat tentang inti api biru yang bisa di keluarkan dari tubuhnya, kemungkinan besar makhluk berpendar dari Padang Petir Abadi yang ditelan dantian lubang hitam.
Xiao Ahnzi mengarahkan fokusnya ke dantian lubang hitam, , dantian lubang hitam sekarang memiliki kilatan kilatan petir didalam nya, dengan pikirannya Xiao Ahnzi mencoba menggapai petir petir itu, dan menarik nya keluar.
Di luar hujan racun darah, Mo Xiang Jin syok, tiba tiba saja ia mendengar petir di dekat telinganya.
"a...ap apa yang terjadi? " wajah Mo Xiang Jin jadi seputih kain kafan. Gumpalan awan hitam di langit yang mencurahkan Hujan Racun Darah bertambah luas, sekarang tubuhnya sendiri telah terkurung di dalam hujan darah, petir menyambar tanpa henti dari gumpalan awan hitam.
petir menyambar tubuhnya, tubuhnya tersengat arus listrik tegangan tinggi. Petir petir itu tidak berhenti menyambar sampai tubuh Mo Xiang Jin hangus terbakar, bahkan tidak ada tulang yang tersisa dari tubuhnya. Sekte selaksa racun telah berakhir mulai hari ini.
dari bekas bangunan sekte selaksa racun, Cakra dan kawan kawan melihat sambaran petir tersebut,
"bagaimana tiba tiba ada petir yang menyambar serendah itu?" mulut Serigala sampai menganga melihat kejadian aneh yang tidak terlalu jauh dari sana.
"petir apa yang terus menyambar tanpa henti?" Penebas berdiri melihat lebih jelas.
__ADS_1
Hanya Cakra yang tampak biasa saja, dia sudah menghabiskan stok terkejutnya semenjak bersama anak muda itu "itu pasti kerjaan bocah itu!" Cakra berkata datar.
Orang orang itu terus memandangi langit yang dipenuhi petir itu, sampai akhirnya Kilatan kilatan petir itu menghilang.