Pangeran Ke Empat

Pangeran Ke Empat
039. Perpustakaan Kota Semenanjung Pelangi


__ADS_3

Si ceking tidak mengalami kesulitan mencari penginapan untuk mereka berdua, kemampuannya dalam bernegosiasi didukung dengan kepandaian dalam menggunakan banyak bahasa menunjukkan kelas nya bukan kaleng kaleng.


Xiao Ahnzi, meminta dua kamar, sehingga si ceking merasa senang, bagaimana pun dia punya hal hal pribadi yang ingin dilakukannya tanpa ada yang memperhatikan.


Xiao Ahnzi memanfaatkan waktu istirahatnya untuk memasuki dunia kecil di dalam cincin.


Di dalam dunia kecil di cincin spasial. Penebas dan kawan kawan telah selesai membangun sebuah gubuk, beberapa pohon juga telah tumbuh dengan subur,


ini pertama kali Xiao Ahnzi memasuki dunia kecil di dalam cincin, melihat deretan herbal yang tumbuh dengan pesat, tampaknya perjalanan waktu di dunia kecil ini lebih cepat dibanding di alam manusia.


anak muda ini begitu terpana, sehingga tidak menyadari sebuah serangan telak menghantam punggung.


Tubuh spiritualnya melesat menabrak deretan tanaman herbal,tubuh spiritualnya baru berhenti saat menabrak sebuah batu besar.


Di alam nyata,Xiao Ahnzi sampai memuntahkan seteguk darah. Tapi anak muda itu tetap bertahan dalam posisi lotus.


"tua bangka sialan!! " Xiao Ahnzi bergegas berdiri, meski tidak melihat, dia sudah menduga siapa yang berani menyerangnya di alam ini.


"hah..!! Kau sungguh memalukan,, begitu saja sampai muntah darah!!" orang tua yang menyerangnya menggeleng pelan, tapi tidak tampak merasa bersalah sedikitpun di wajahnya. Jelas sekali gelengannya bermakna ejekan.


"sialan!! Kau membokong,seperti pengecut!" anak muda itu tidak menahan diri lagi, dia benar benar kesal dengan perlakuan tua bangka ini.


Akhirnya pertarungan pecah di antara dua orang yang sama sama saling memanggil lawannya setan.


Tua bangka cakra yang di panggil setan tua juga tidak menahan diri sama sekali, kemampuan terbaik dari seni beladiri nya dikeluarkan.


Xiao Ahnzi, bahkan mempraktekkan semua seni beladiri yang selama ini disimpannya, anak ini memiliki banyak jurus dan teknik, meski yang dipakainya sehari hari cuma teknik pernapasan angin dan pernapasan air, tapi ternyata kemampuan serangannya juga tidak bisa di pandang rendah.


Seni seni beladiri tingkat tinggi terus bergulir sambung menyambung, berkali kali kedua belah pihak terkena hantaman, tendangan bahkan tinju dari lawan.


Tempat yang semula asri di penuhi aneka ragam herbal berharga, kini telah berubah menjadi kubangan lumpur, debu dan abu beterbangan menyesakkan mata dan saluran pernapasan.


Beruang dan kawan kawan bahkan tidak berani memalingkan kepala dari pertarungan sengit yang diperagakan dua orang berbeda usia itu.


Bahkan, Penebas sampai tidak berkedip, ini benar benar pertarungan besar, bukan seperti latih tanding uji kepandaian,, layak di sebut pertarungan hidup mati.


"a..apa yang merasuki dua orang itu?" Beruang akhirnya bersuara, meski suara itu dikeluarkan dengan susah payah.


"entahlah, sepertinya mereka ingin meruntuhkan dunia ini" Serigala menelan ludah, bahkan sekarang dua orang yang bertarung disana semakin mendekat ke tempat tiga orang ini menonton.


Penebas menarik pedang nya dan melompat membuat sebuah tebasan saat sebuah serangan nyasar menyambar kearah mereka.


Sebuah ledakan menggema, bahkan tanah sampai bergetar.


Serigala merasa jantungnya tiba tiba pindah ke telinga, ledakan itu benar benar tidak terduga, masih untung Penebas bergerak cepat, jika tidak,, nyawa mereka mungkin sudah melayang saat ini.


Sedangkan dua orang yang bertarung itu tidak peduli bila serangannya melukai orang lain atau pun menghancurkan apa pun.

__ADS_1


Pertarungan itu baru berhenti saat Xiao Ahnzi menarik keluar makhluk berpendar dari dantian lubang hitam, cuaca yang selama ini selalu seperti pagi menjelang siang tiba tiba jadi mendung, petir menyambar tiada henti dari gumpalan awan hitam itu.


Si tua Cakra langsung mengaku kalah, suara jeritan nya bahkan membuat sakit gendang telinga tiga orang yang menonton dari jauh.


"ahh... Kau baru takut sekarang? Aku benar benar bisa membunuh mu tua bangka!!"Xiao Ahnzi menarik kembali makhluk kecil berpendar ke dalam dantian lubang hitam.


Anak muda itu segera berkelebat kearah Beruang dan kawan kawan, meninggalkan si tua Cakra yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


" kelihatan nya Paman semakin kuat,," Xiao Ahnzi tersenyum memuji Penebas, sedangkan orang yang di puji tidak memberi tanggapan apa apa, jujur saja, saat ini tangan Penebas masih kesemutan setelah menahan serangan nyasar tadi.


Xiao Ahnzi basa basi sejenak dengan orang orang dari Benua Minanka Bao itu, pikiran nya lebih cenderung memikirkan isi perpustakaan kota semenanjung pelangi.


di sisi lain si tua cakra tengah sibuk memperbaiki dan menata ulang kebun herbal yang sempat porak poranda akibat pertarungannya dengan Xiao Ahnzi sebelumnya.


Xiao Ahnzi membuka mata bertepatan dengan suara ketukan di pintu, setelah membersihkan pakaiannya yang sempat terkena muntahan darahnya sendiri, anak muda itu membuka pintu, didepannya si ceking telah menunggu di balik pintu,tidak ada yang berubah dari orang kurus itu, dia masih memakai pakaian lusuhnya.


"kamu saja yang membeli semua perlengkapan, aku ingin mengunjungi suatu tempat," anak muda itu tersenyum sambil memberikan sekantong emas.


Wajah si ceking semakin cerah setelah menerima uang emas dari tuan muda nya, pemuda kurus itu langsung berbalik tanpa berkata kata, hanya saja saat mencapai tangga si ceking berbalik dan berlari kembali ke arah Xiao Ahnzi, lalu berkata dengan suara yang nyaris berbisik "tuan muda,seseorang telah mengawasi kita semenjak memasuki kota ini, apa aku boleh membereskan orang itu?"


"tidak perlu, biarkan saja orang itu, bersikap saja seolah tidak tahu." Xiao Ahnzi memang menyadari keberadaan penguntit itu, tapi dia punya pikiran lain.


"baiklah!" si ceking kembali berbalik dan menghilang di bawah tangga.


"orang ini luar biasa,, aku harus semakin berhati hati terhadapnya." Xiao Ahnzi masih menyimpan kewaspadaan terhadap si ceking, 'tidak ada makan siang yang gratis' kata kata itu tertanam begitu dalam di benak anak muda ini.


Pintu bangunan serupa pagoda itu terbuka lebar, di dekat pintu masuk terdapat sebuah meja, seorang wanita berumur belasan tampak duduk merapatkan punggungnya ke sandaran kursi yang terbuat dari kayu,


Wajah wanita itu tampak tidak bersemangat, mungkin salah satu penyebabnya adalah kehidupan monoton sebagai pegawai perpustakaan, bahkan mata wanita itu hanya setengah terbuka saat Xiao Ahnzi berdiri di depan meja,


"nona,, apa aku boleh melihat lihat koleksi di perpustakaan ini?" suara Xiao Ahnzi tidak keras, tapi terdengar sangat merdu di telinga wanita itu, dengan posisi punggung yang bersandar,dan kepala sedikit terangguk wanita itu tersenyum,lalu berkata lirih " aku terlalu lelah,,,sehingga membayangkan hal hal yang tidak mungkin terjadi!!"


Merasa dirinya di abaikan, Xiao Ahnzi memilih membiarkan wanita itu dengan mimpi nya. Pemuda itu sudah mulai memeriksa beberapa kitab dan buku saat sebuah suara membuatnya menoleh,


"tuan muda,, anda mencari kitab apa?" wanita yang tadi setengah tertidur,sedang berjalan kearahnya, wanita itu tampak berusaha merapikan pakaiannya sambil jalan, bagaimana pun membosankan nya hidup yang dia jalani, wanita itu tetap tidak ingin kehilangan pekerjaannya.


"ohhh.. Nona sudah bangun?" Xiao Ahnzi memberikan sebuah senyuman yang membuat wanita itu salah tingkah.


"ee ee itu,, " wanita itu bingung memikirkan alasan.


"tidak apa apa, tempat ini begitu sepi, tidak ada pengunjung, jadi tidak masalah kan?" Xiao Ahnzi tidak ingin ada masalah.


"...... Tuan muda harus mengisi daftar pengunjung dulu," wanita itu begegas kembali ke meja nya, mengambil sebuah buku tebal dan setengah berlari menghampiri Xiao Ahnzi.


"tolong isi kan data tuan muda kedalam catatan ini" wanita itu berusaha tersenyum.


Xiao Ahnzi menerima buku yang diberikan wanita itu, lalu menuliskan nama nya.dengan percaya diri lalu mengembalikan buku tersebut.

__ADS_1


Wanita itu menerima kembali buku daftar pengunjung, dan memeriksa nama yang tertulis di dalam nya.


Tapi tiba tiba ia merasa dunia berputar di kepala nya, tulisan itu... Sungguh tidak bisa dia baca.


Xiao Ahnzi tidak mau memikirkan ekspresi wanita penjaga perpustakaan, dia telah kembali memeriksa beberapa kitab yang tersusun rapi.


Wanita yang masih berusaha membaca apa yang ditulis tuan muda didepannya itu lalu berhenti berusaha. Menurutnya itu tidak terlalu penting,lebih penting membuat senang pengunjung pertamanya hari ini.


"kitab apa yang tuan muda cari? Mungkin saya bisa membantu mencarikan,, " wanita itu menawarkan bantuan, kerutan sudah menghilang dari keningnya.


"tidak ada yang spesifik, aku hanya suka membaca, jadi apa saja bisa aku baca! " Xiao Ahnzi tidak menghentikan aktivitasnya memeriksa beberapa kitab.


"tema apa yang lebih tuan muda sukai?" wanita berusia belasan tahun itu berdiri semakin rapat dengan Xiao Ahnzi. Bahkan sekarang mereka terlihat berdiri berdampingan.


"....... bagaimana kalau info seputar gurun kematian?" Xiao Ahnzi hanya sekedar menanggapi, tapi tak disangka wanita yang pantas disebut gadis itu langsung mengangguk dan bergerak kesebuah rak,lalu menarik keluar sebuah kitab yang lumayan tebal.


"rangkuman tentang kejadian di gurun kematian ada di dalam kitab ini" gadis itu menyerahkan buku di tangannya, senyum nya cerah sekali, seperti nya ia sangat senang bisa membantu pemuda tampan ini.


Xiao Ahnzi menerima kitab yang di berikan gadis itu, dengan senyum ramah pemuda itu mengucapkan terimakasih, suara nya bahkan membuat wajah gadis itu semburat kemerahan.


Seharian itu Xiao Ahnzi menghabiskan waktu nya di dalam perpustakaan, anak muda itu benar benar jadi tamu istimewa bagi si gadis resepsionis, hari demi hari perpustakaan yang di jaga nya nyaris tidak ada pengunjung, baru kali ini ada seorang tuan muda yang datang untuk membaca, dan mengobrol tentu saja.


Xiao Ahnzi bahkan hampir lupa waktu, memang bila telah berurusan dwngan kitab kitab, sekalipun tidak penting, anak muda itu sering lupa pulang, untung saja pangeran ke empat memiliki seorang pengikut baru, si ceking, pemuda kurus itu datang menyusul tuan muda nya, si ceking masih memikirkan orang yang menguntit Xiao Ahnzi sejak memasuki kota Semenanjung Pelangi.


Seorang pengunjung mengetuk pintu perpustakaan yang terbuka lebar, gadis penjaga segera berdiri dari posisi nya yang nyaris menempel di bahu Xiao Ahnzi, lagi lagi semburat merah di wajahnya membuat gadis itu pantas untuk dipandangi berlama lama. Begitu mempesona.


"selamat datang tuan muda" gadis itu tersenyum ramah menyambut pengunjung baru nya.


"aiss.. Aku jadi kurang enak pada tuan muda" si ceking tersenyum masam melirik Xiao Ahnzi.


"hmm.kamu sudah datang, sebaiknya isi dulu buku daftar pengunjung,," Xiao Ahnzi lalu menatap gadis yang masih salah tingkah, lalu berucap "nona, tolong bantu tuliskan nama teman ku ini"


"ii iya tuan muda," gadis itu semakin merah wajahnya, lalu menanyakan nama orang yang baru datang tersebut.


"Xu Lian,," si ceking menjawab dengan suara yang nyaris seperti tersangkut di tenggorokannya.


Ini kali pertama Xiao Ahnzi mendengar nama pemuda yang sekarang jadi pengikut nya ini. Untuk beberapa waktu setelah itu tiga orang itu terlibat pembicaraan ringan, hingga Xiao Ahnzi menyadari malam telah menghampiri, sudah saatnya keluar dari gedung perpustakaan.


setelah meninggalkan gedung perpustakaan dua orang muda itu berjalan bersisi-an menuju penginapan.


"jadi nama mu Xu Lian, apa itu nama asli atau nama untuk memikat gadis penjaga perpustakaan saja?" Xiao Ahnzi memulai pembicaraan,tapi nada nya bertanya jelas jelas menyindir si ceking.


"itu benar namaku,,," suara pemuda yang mengaku bernama Xu Lian itu rendah,sejenak dia menarik napas sebelum melanjutkan kata kata nya "namun aku hampir tidak pernah menyebutkan nama ku pada siapa pun."


"......?"


Melihat pandangan Xiao Ahnzi yang meminta penjelasan, Xu Lian kembali menarik napas dalam, seperti nya itu sesuatu yang berat untuk di ceritakan.

__ADS_1


"aku,,, seorang buronan,,"


__ADS_2