
Pertarungan dua lawan satu, antara Raja Xiao Tian bersama istri nya Permaisuri Ling Xue menghadapi kepala keluarga Klan Xiao tampak nya akan berlarut larut, melihat betapa hebatnya serangan kombinasi Suami istri tersebut,
Dilain pihak, yang menjadi lawan juga bukanlah pendekar tua yang lapuk dimakan zaman, Xiao Wen Chun benar benar pilih tanding, meski usia sebenarnya dari kepala keluarga Klan Xiao ini tidak ada yang tahu pasti saking tua nya, kemampuan dan stamina nya berbanding terbalik.tampak sangat muda seperti kondisi seorang pemuda tiga puluh tahunan.
Bahkan ia tampak tidak mengalami kesulitan sama sekali menampung serangan kombinasi suami istri dari istana ufuk barat itu.
Xiao Wen Chun masih menyimpan trik terbaiknya, kartu andalannya sampai saat ini di belum dikeluarkan.
Pertarungan berjalan semakin sengit dan area yang terdampak semakin luas, Raja obat yang menonton dari sisi pertarungan membawa penonton bergerak menjauh, meskipun dari sekian banyak penonton sebenarnya tinggal beberapa yang bertahan, rupanya mereka masih sayang nyawa.
Raja obat sendiri tidak bisa terjun langsung kedalam pertarungan ini, semua ini menurutnya termasuk urusan internal keluarga Xiao, Raja obat masih bertahan hanya karena tidak ingin hal yang buruk terjadi kepada kawan lama nya, Xiao Tian.
Setelah Xiao Wen Chun menggunakan senjata andalannya , keadaan menjadi berat sebelah, pemenang duel dua lawan satu itu segera dapat di tebak bagaimana hasilnya.
Raja Xiao Tian dan Permaisuri Ling Xue segera jatuh kedalam tekanan.
Akhirnya pertarungan itu sampai di penghujung, Xiao Wen Chun berhasil membuat kedua lawannya mencium tanah,
Dalam keadaan menderita luka dalam, Raja Xiao Tian tidak lagi punya kesempatan ketika kepala keluarga Klan Xiao, Xiao Wen Chun memberikan sebuah serangan dengan niat membunuh.
"Kakak!!"
Permaisuri Ling Xue hanya mampu histeris ketika melihat raja Xiao Tian yang tidak mampu bergerak menghindari serangan Xiao Wen Chun.
Permaisuri Ling Xue sendiri juga mengalami luka dalam cukup parah, terbukti dari banyaknya darah yang mengucur di sudut bibirnya.
Sekejap lagi nyawa Raja Xiao Tian akan terenggut, entah dari mana datang nya, seorang pria berpenampilan parlente,berusia pertengahan empat puluh tahunan, menepis lesatan Senjata andalan Xiao Wen Chun dengan sebilah pedang melengkung yang hanya memiliki sebelah sisi tajam.
Tring!
"cukup!"
subjek yang baru datang itu bersuara dingin tanpa nada, tanpa menunggu reaksi Xiao Wen Chun, orang itu lalu berbalik memberi tanda agar Raja Obat membantu Raja Xiao Tian meninggalkan kediaman klan Xiao, orang itu sendiri membantu permaisuri Ling Xue berdiri, lalu meninggalkan tempat itu.
Xiao Wen Chun terpaku di tempat ia berdiri, sebuah kejutan yang amat menyakitkan ketika Kepala Keluarga klan Xiao ini menyadari siapa yang barusan menghentikan serangannya.
Xiao Wen Chun jelas mengenali pedang melengkung yang digunakan pria pertengahan empat puluh tahun tadi. wajah nya berubah muram, bahkan sedikit darah mengalir di sudut bibirnya.
Sekarang Klan Xiao harus keluar dari wilayah kerajaan ufuk barat, Xiao Wen Chun sudah mengambil keputusan yang terburu buru,sebelumnya lelaki tua ini berniat menghabisi Raja Xiao Tian dan keturunannya, tapi setelah kehadiran orang berpenampilan mewah barusan, semua rencana nya harus dibatalkan.
*******
Di dalam sebuah ruangan berdinding batu alam yang cukup luas, di dinding yang tidak rata tampak tertancap selusin obor yang nyala api nya tampak menari nari tertiup angin.
__ADS_1
Seekor ular yang bagian pinggang ke atas memiliki tubuh seperti Seorang manusia tampak memegangi dada nya. ditangan makhluk itu tampak melilit seutas cambuk, tubuhnya yang dibasahi keringat tampak kembang kempis berusaha mengatur nafasnya yang terasa sesak,
entah apa yang sebenarnya terjadi,
tapi bila diperhatikan secara keseluruhan, dan sedikit agak lama, jelas manusia setengah ular itu sedang melakukan sebuah pekerjaan yang tampaknya cukup menguras tenaga, dan menguras emosi juga tampaknya.
Seorang pemuda berusia mendekati empat belas tahun, memiliki rambut seputih salju yang kontras dengan warna bola mata nya yang hitam sekelam malam namun berbintang, tampak terikat kedua tangan dan kaki nya,
Ditubuh anak muda itu tampak bekas merah memanjang, hampir disetiap bagian tubuh, bahkan juga dileher nya yang terkalung sebuah belenggu dari baja. Tapi bekas luka tidak bertahan lama, beberapa detik kemudian luka luka yang sebelum nya mengeluarkan darah itu mengering lalu meninggalkan bekas merah, beberapa menit kemudian bekas merah itu juga menghilang, meninggalkan kulit yang kembali bersih seperti tidak pernah mengalami luka apa apa.
"Sial!! Sebenarnya siapa yang dihukum disini? Kita atau manusia kecil ini? "
Seorang Pria setengah ular lain tampak berdiri dari tempat duduknya, mengambil alih proses penyiksaan yang telah berlangsung hampir tiga puluh hari di dalam ruangan ini.
"Hai.. Aku tidak melakukan apa pun ! ! Jangan playing victims! " Anak muda berambut putih itu membantah perkataan manusia ular itu.
Manusia ular yang menggantikan pekerjaan temannya itu mulai melecutkan cambuk di tangannya, sebenarnya ular ular ini sudah sangat bosan melakukan pekerjaan ini, sudah sebulan menginterogasi penyusup ini, tapi tidak memperoleh hasil yang di inginkan.
Pekerjaan yang selama ini menyenangkan bagi mereka, lambat laun menjadi membosankan dan menguras emosi.
Semua berawal dari tertangkapnya seekor manusia ular yang diketahui menjalankan praktek terlarang, yang dimaksud tidak lain adalah ular hijau yang sebelumnya bertarung dengan Xiao Ahnzi, bersama ular hijau itu tertangkap seorang anak manusia yang dicurigai adalah komplotan ular hijau itu juga. Karena kedua nya melintasi wilayah manusia ular bersama sama.
Karena manusia itu mencoba melarikan diri, satu regu manusia ular yang memergoki nya langsung menghukum mati manusia tersebut dengan serangan mematikan.
Sebuah keajaiban saat ini Pangeran Ke Empat dari Kerajaan ufuk barat itu tampak sehat walau kaki tangan dan lehernya terbelenggu.
Di lain sisi, ular hijau yang tidak mau menyerah, akhirnya bertarung dengan satu regu manusia ular yang melakukan patroli itu. Pertarungan itu berakhir sangat cepat, ditandai kematian ular hijau yang memang sedang berada pada keadaan yang buruk akibat pertarungannya dengan Xiao Ahnzi sebelumnya.
Sewaktu regu patroli itu akan melanjutkan tugas mereka, salah seorang manusia ular melihat tubuh korban manusia itu masih utuh, hal yang baru pertama kali terjadi selama mereka bergabung dalam satu tim, selama ini tidak peduli manusia ataupun demonic beast setelah terkena serangan gabungan mereka, dapat dipastikan korban akan tewas dengan tubuh tidak bersisa.
Setelah berdebat beberapa lama tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap manusia yang di duga penyusup comrade nya si ular hijau.
Alhasil, hari itu untuk pertama kali dalam sejarah tim mereka, regu manusia ular ini akhirnya membawa seorang tahanan kembali ke markas manusia ular.
Demikianlah hingga akhirnya Xiao Ahnzi berakhir diruang penghakiman yang sekaligus dimanfaatkan sebagai ruang interogasi.
Cambukan demi cambukan kembali mendarat di sekujur tubuh anak muda yang memiliki kulit seperti kulit seorang putri itu, bahkan algojo itu sampai meneteskan keringat saking bersemangat dan bertenaga nya cambukan yang dimaksudkan agar si anak muda mengalami penderitaan,
Xiao Ahnzi yang telah melalui hari hari dengan menerima beragam siksaan itu benar benar tidak ingin melepaskan ular jadi jadian ini saat dia memiliki kesempatan di masa depan. Sakit yang dirasakan nya bukan lah rasa sakit yang tidak tertahankan, jujur saja cambukan yang diterima nya bahkan belum separuh dari sakit di sambar petir di padang petir abadi.
Tapi sakit nya itu pada harga diri nya yang tidak bisa menerima perlakuan tidak enak seperti ini.
Xiao Ahnzi kembali menelan darah yang seharusnya ia muntahkan, mengganti seteguk muntah darah itu dengan sebuah senyum dibibirnya.
__ADS_1
Regenerasi tubuhnya memang luar biasa, algojo manusia ular itu bahkan telah kehabisan tenaga sebelum benar benar mampu melukai tahanan yang kaki tangan dan lehernya dirantai itu.
"Jahanam!! Aku ingin membunuh nya!!"
Seorang manusia ular yang tadi berkesempatan memberikan hukuman cambuk terhadap Xiao Ahnzi, dalam rasa frustasinya akhirnya nekat melanggar perintah, dengan sebilah pedang di tangan manusia ular itu menerjang Xiao Ahnzi yang tidak bisa bergerak karena kaki tangan dan lehernya di lilit rantai.
"Hentikan!"
Sebuah suara yang terdengar merdu dan tegas menahan kepala Xiao Ahnzi agar tetap bertengger di lehernya. Gerakan pedang manusia ular itu berhenti di tengah jalan,
"Ratu!!"
Semua manusia ular di dalam ruangan membungkukkan tubuh mereka sampai hampir menyentuh tanah begitu menyadari subjek yang datang.
Xiao Ahnzi yang sedang dipasungpun ikut menoleh menatap ke arah asal suara, jantungnya berdebar ketika menyaksikan keindahan di depan mata, bahkan apa yang menghiasi majalah dewasa yang ia temukan di lantai satu perpustakaan kerajaan ufuk barat tidak ada secuil dibanding subjek yang baru datang ini.
"Ular paling cantik yang pernah ku lihat,, aku ingin mencoba di hukum Nona Ular ini,," suara Xiao Ahnzi begitu lemah dan rendah, seperti berbicara untuk diri nya sendiri
tiba tiba saja Xiao Ahnzi menggigit lidahnya sendiri, dia kelepasan,, secara tidak sadar pangeran ke empat telah mengeluarkan kata kata yang tidak boleh diucapkan, lidahnya benar benar asin, Xiao Ahnzi jadi ngeri ketika membayangkannya.
Subjek yang baru datang itu sungguh sungguh mendominasi, aura yang dipancarkan tubuhnya seakan menarik semua udara, sehingga siapa pun merasa sesak di dalam dada, setiap orang dibuat menahan nafas, para manusia ular yang dalam kesehariannya bertugas sebagai algojo pun bahkan tidak berani sekedar mengangkat pandangan.
"Semua keluar!"
Suara itu dingin dan tanpa nada, tapi di telinga Xiao Ahnzi terasa sangat renyah,
Tanpa berani mengangkat kepala bahkan sekedar hanya mencuri pandang, semua algojo yang sebelum nya bergantian menghukum Xiao Ahnzi merayap meninggalkan ruangan yang diterangi cahaya obor tersebut.
Subjek yang di panggil dengan sapaan Ratu tersebut berjalan kearah Xiao Ahnzi, bagian tubuh dari pinggang kebawah yang semula berbentuk ular bertukar menjadi sepasang kaki jenjang dan putih,
Kali ini Xiao Ahnzi tidak bicara sepatah kata pun, meski hatinya berdesir melihat keindahan di depan mata, tapi otaknya meronta-ronta mengingat ucapan yang keluar dari mulutnya sebelum ini,
Subjek yang di panggil dengan sapaan Ratu itu sekarang berdiri tepat didepannya, perlahan kepala Wanita ular itu mendekat, bahkan bibir wanita cantik itu sedikit lagi pasti menyentuh daun telinga Pangeran Ke Empat.
"Ku dengar,,kau ingin menerima hukuman dari ku,,," suara nya nyaris berbisik namun hasrat kelelakian Xiao Ahnzi mendengar jelas kata kata yang di ucapkan wanita itu.
Xiao Ahnzi merasa kan sesuatu yang lembut menyentuh daun telinga, perlahan sesuatu itu bergerak turun ke arah leher,,
Desss
!
Xiao Ahnzi hampir saja mengeluarkan jeritan ketika lehernya di tembusi dua benda tajam.
__ADS_1
Subjek yang di panggil dengan sapaan Ratu itu menancapkan dua taringnya di leher Xiao Ahnzi, racun ular ganas itu dengan cepat menyerbu pembuluh darah Pangeran ke Empat.