PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part10


__ADS_3

Suara riuh tepung tangan menggema ketika Riko memotong pita acara pembukaan hotel yang mana dirinya mendapat undangan sebagi tamu kehormatan.


Tidak dipungkiri jika awalnya dirinya kesal karena Felik mengirimnya kesini, namun kekesalan itu menjadi sebuah rasa penasaran ketika dirinya bertemu kembali dengan mantan sang pujaan hati.


Riko nampak disapa banyak orang dari berbagai pengusaha, dirinya yang terkenal pengusaha muda dan memiliki wajah tampan banyak para wanita yang datang ke acara itu mencuri-curi pandang kearahnya, bahkan ada pula yang terang-terangan berkenalan agar bisa dekat.


Memiliki wajah tampan dan perawakan tinggi serta sifatnya yang ramah membuat kaum hawa merasa senang. Tidak tahu saja jika pria yang mereka kagumi adalah seorang Casanova kelas kakap.


"Pak Riko, kenalkan rekan saya pak Zidan." Ucap pria paruh baya yang Riko tahu pemilik hotel ini. Dirinya menatap pria yang dikenalkan nya.


Riko menyambut uluran tangan Zidan. "Oh..ya Riko." Ucapnya dengan ramah.


"Saya Zidan, dan ini istri saya." Ucap Zidan memperkenalkan Silla yang berdiri disampingnya.


Riko hanya tersenyum, tanpa membalas uluran tangan Silla. Meskipun seorang Casanova tapi didepanya ini adalah rivalnya.

__ADS_1


"Istri anda sangat cantik tuan, apakah tidak berniat menambah istri lagi." Ucap Riko santai namun akan sebuah sindiran.


Zidan merasa tidak nyaman dengan ucapan Riko, namun dirinya tak menganggap ucapan Riko serius.


"Tidak pak, karena saya sangat mencintai istri saya." Ucapnya sopan.


"Hahaha..saya hanya bercanda tuan, bagaimana bisa anda mencari wanita lain jelas-jelas istri anda sangat cantik." Ucap Riko menatap Silla dengan senyum mautnya. Dan berhasil membuat Silla salah tingkah.


"Bapak bisa saja." Mereka tertawa dengan obrolan ringan lalu menjurus pada obrolan bisnis.


"Bagaimana jika saya mengundang anda makan malam di rumah saya, kebetulan kami baru merayakan hari jadi pernikahan kita satu tahun." Ucap Zidan berniat mengundang Riko agar lebih akrab, karena dibalik itu ada udang di balik bakwan tentang bisnis.


Otak Riko berpikir keras memikirkan kehidupan Rere yang tentu tidak mudah menjalaninya.


"Baiklah dengan senang hati saya akan datang, apalagi kehormatan bagi saya bisa kenal dengan pengusaha yang juga sukses seperti anda." Ucap Riko yang sebenarnya memiliki rencana menerima undangan Zidan.

__ADS_1


"Kalau begitu terima kasih." Zidan senang begitupun Silla, yang suka menatap wajah tampan Riko lebih lama.


Riko yang sadar di perhatikan terus oleh istri Zidan pun dengan sengaja dirinya mengedipkan mata dan memasang senyum mautnya.


"Astaga jantung gue." Silla memegangi dadanya yang berdebar melihat pangeran tampan tersenyum begitu manis padanya.


"Ck. wanita sama saja, tapi tidak untuk Rere." Ucap Riko dalam hati. Dirinya kembali tersenyum mengingat wajah Rere.


Riko keluar hotel menuju kamar kecil, lebih tepatnya mencari keberadaan Rere, karena sejak tadi memikirkan keadaan Rere yang begitu membuatnya merasa sedih.


"Aduh mbak, kita pulang saja ya..ini kaki mbak terkilir harus diurut." Ucap Bella yang membantu membalurkan minyak ke area kaki Rere yang memar dan sedikit membengkak. Karena tadi petugas hotel sempat mengasih obat P3K.


"Tapi buat jalan sakit banget Bel, mbak gak bisa berdiri." Rere meringis ketika mencoba menggerakkan kakinya terasa begitu ngilu dan sakit.


"Bella gendong ya, tapi kalau jatuh jangan salahkan Bella."

__ADS_1


"Yang ada mabuk tambah sakit kalau jatuh." Rere tersenyum kecut.


"Hon..?"


__ADS_2