
Felik mengejar Miranda yang sudah pergi berlari keluar.
"Miranda..!!" Felik melihat Miranda yang sedang berdiri di pinggir jalan wanita itu ingin menyebrang.
"Sayang, tunggu dengerin aku bicara." Felik berlari untuk mengejar Miranda. Namun karena Miranda tidak mendengarnya wanita itu nekat menyebrang jalan tanpa melihat jika ada sepeda motor yang berkecepatan tinggi.
"Miranda awas..!!" Felik berteriak bersamaan dengan jeritan dari Miranda.
"Aaakkkhh..!!"
"Miranda..!!" Felik berlari dengan cepat. "Sayang.." Jantungnya berhenti berdetak ketika melihat Miranda yang berlumuran darah dengan merintih kesakitan. "Sayang, bertahanlah." Felik tidak bisa membendung air matanya, orang-orang yang melihat pun langsung menguhungi mobil ambulance.
"Felik, Miranda?" Bastian yang melihat Felik berlari sambil berteriak dirinya ikut berlari mengejar, dan alangkah terkejutnya melihat Miranda yang sudah tergeletak berlumuran darah.
"Sayang, kumohon bertahanlah demi anak kita." Felik meraung dengan memeluk kepala Miranda.
"M-Mas ak_"
"Ssttt bertahanlah."
Tak lama mobil ambulance pun tiba, beruntung kejadian itu tak jauh dari rumah sakit yang tadi mereka datangi untuk periksa.
__ADS_1
Bastian membatu Felik untuk membawa Miranda masuk ke dalam mobil. "Lik, lu yang sabar gue ada dibelakang." Bastian menepuk pundak Felik, tapi pria itu tidak menggubrisnya karena merasa dinianya hancur seketika melihat Miranda yang terluka.
Bastian pun mengikuti mobil ambulance yang membawa Miranda ke rumah sakit, dirinya tidak peduli dengan rasa sakit di wajahnya, karena pukulan Felik.
"Gue percaya Lik, kalau lu beneran udah berubah." Bastian tersenyum tipis, sejujurnya dirinya tadi hanya ingin mengetes Felik mengatakan hal itu, tapi dirinya tidak tahu jika Miranda juga akan mengatakan yang sejujurnya, dan berakhir menjadi fatal seperti ini.
Apalagi melihat wajah ketakutan Felik melihat keadaan Miranda, membuat Bastian yakin jika Felik adalah pria terbaik untuk Miranda.
"Ternyata gue gak bisa miliki dia lagi, semoga kamu bahagia dengan sahabat gue Mir." Gumamnya yang melihat mobil ambulance masuk kedalam perkarangan rumah sakit, Bastian pun mengikutinya.
.
.
.
"Kamu sudah sadar?" Felik langsung duduk tegak ketika mendengar suara rintihan Miranda.
"Haus." Ucapnya lirih.
Felik memberikan gelas berisikan air minum dengan sedotan. "Minumlah."
__ADS_1
"Mas.." Suara Miranda masih serak, dirinya baru saja bangun dari tidur panjang.
"Istirahat lah, kamu baru saja siuman." Ucap Felik mengecup kening Miranda.
"Mas maafkan aku, yang tidak jujur." Miranda menatap Felik penuh sesal, karena merasa bersalah tidak jujur di awal.
"Sstt..jangan bahas itu lagi, aku sudah memaafkannya lebih baik kamu pikirkan dirimu agar cepat sembuh." Felik tersenyum dan mengecup kedua tangan Miranda. "Percayalah tidak akan ada yang berubah di antara kita."
Miranda hanya mengangguk, "Mas masih mau menjadikanku istri setelah semua yang terjadi?"
Felik kembali menghembuskan napas. "Bagaimana aku bisa meninggalkan wanita yang aku cintai, ibu dari putraku yang tampan, untuk berpaling saja aku tak bisa apalagi untuk meninggalkan." Felik berdecak kesal, Miranda selalu saja membuat hatinya kesal karena kurang percaya pada ucapanya.
"Kalau tidak percaya, kita menikah sekarang."
"Mas..aku masih belum sembuh." Jawab Miranda dengan wajah kesal.
Ya, Miranda mengalami pendarahan yang cukup parah, beruntung bayi mereka begitu kuat dan dilahirkan dengan cara operasi Caesar.
Meskipun mendapat perawatan intensif karena belum waktunya lahir, tapi bayi mereka sehat tanpa kekurangan suatu apapun.
"Terima kasih sudah melahirkan putra yang tampan untuk ku."
__ADS_1