PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part80


__ADS_3

"Harus dong, mereka harus ketemu.." Ucap Leli dengan wajah senang.


"Laura ini sudah bekerja menjadi model, dan dia sedang ada job besar disalah satu majalah terkenal."


"Wajar dong jeng, nak Laura cantik begini." Harna memuji wanita bernama Laura.


"Makasih Tante." Balasnya dengan wajah tersipu.


"Cantik saja juga tidak cukup kan jeng, yang terpenting bisa langsung memberi keturunan, saya dulu tidak nunggu dan langsung mendapat kan putra saya yang pertama." Ucap Leli.


"Ya, saya sih hanya ingin putra saya segera mendapatkan momongan, karena anaknya nanti yang akan meneruskan bisnis keluarganya." Harna ikut tersenyum.


Rere yang sejak tadi mendengar mencoba menguatkan hatinya, meskipun terlalu sakit mendengarnya tapi sebisa mungkin dirinya bersikap biasa saja.


"Harus dong jeng, dan anak pertama pun harus laki-laki kan."


Harna mengangguk, mengiyakan. "Pasti jeng."


"Eh..itu kok dari tadi masih berdiri di situ, nguping ya." Sentak Leli yang melihat Rere masih diam saja di tempatnya.


Sedangkan Indira sudah pamit pergi karena putrinya menangis meminta susu.


Rere menatap wanita paru baya yang penampilannya begitu glamor.


"Tidak apa jeng, dia itu sebenarnya menantu saya." Ucap Harna melirik Rere.


Leli dan putrinya membulatkan kedua matanya.


"Jadi dia menantu jeng yang tidak bisa memberikan cucu?" Tanya Leli dengan nada sedikit tinggi, membuat beberapa orang yang di dekat mereka mendengar.


"Iya dia orangnya." Harna tidak merasa bersalah dengan memperlakukan Rere seperti itu.


Harlan yang memang sedang mengobrol dengan Allan di belakang membuat mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumahnya, begitupun Indira yang membawa putrinya ke dalam kamar untuk istirahat.


Hanya ada Rania yang masih mengobrol dengan para sahabatnya, sehingga tidak terlalu menghiraukan karena asik mengobrol.


Rere menatap sendu Mama mertuanya.


"Pantas saja susah punya keturunan, mungkin dia juga mandul." Ucap Leli tanpa perasaan.

__ADS_1


Hati Rere begitu mencolos ketika di katakan mandul, jelas-jelas dokter menjelaskan bahwa dirinya sehat.


"Hati-hati loh jeng, mungkin dia bertahan sekarang hanya ingin memiliki harta kalian."


Leli dan Laura saling tatap, dan mengangguk.


Harna menatap Rere tajam. "Benar begitu Re..!!" Bentak Harna pada menantunya.


Rere menggeleng kepala. "Ngak mah, mana mungkin Rere memiliki niat seperti itu."


"Dih, pake ngeles lagi."


"Mah, Rere gak ada niatan untuk hal itu mah, Rere mencintai mas Riko apa adanya, jika masalah anak kami sudah berusaha dan mungkin Tuhan yang memang belum mempercayai kami." Ucapnya yang sudah meneteskan air mata.


"Ada apa mah, kenapa kak Rere nangis?" Tanya Rania yang mendekati mereka ketika mendengar suara Mamanya berteriak.


"Jika kamu tidak mandul, lalu kenapa kamu belum hamil dan belum juga memberi kami cucu hah..!!"


"Mah, mama bicara apa sih, kak Rere ngak mandul mah." Rania mengelus bahu Rere. "Mama jangan terus menekan kakak dong, rezeki anak itu Tuhan yang kasih, kalau belum di kasih kita bisa apa, hanya usaha dan doa." Rania mencoba menyadarkan sang Mama agar amarahnya tidak meledak dan berakhir membuat malu keluarga.


"Lihat Rani, batu du bulan menikah dia sudah hamil, dan kami sudah hampir satu tahun tapi tidak juga hamil, apa jangan-jangan benar jika kamu mandul dan menutupi nya dari kami."


Rere menggeleng. "Ngak mah, aku gak bohongi kalian." Rere mengusap air matanya agar berhenti mengalir.


"Diam kamu Rania..!!" Bentak Harna. "Kamu," Tunjuk Harna pada Rere. "Asal kamu tahu, saya sudah siapkan calon istri untuk Riko, jadi suka ataupun tidak kamu harus rela di madu." Ucap Harna dengan suara yang begitu tegas dan lantang, membuat seseorang yang berdiri di ambang pintu mendengar nya.


"Mamah Keterlaluan mah." Rania tak percaya mendengar ucapan sang mama.


"Ada apa ini?" Harlan muncul bersama dengan Allan ketika mendengar suar sang istri yang begitu mengusik mereka berdua.


"Pah, Mama keterlaluan Pah." Adu Rania pada Harlan.


"Mah..?" Tanya Harlan meminta penjelasan.


"Kak..!!" Rania ingin mengejar Rere yang tiba-tiba berlari keluar rumah, tapi tangannya lebih dulu di cekal Harna.


"Rania gak nyangka Mama menjadi ibu yang egois." Rania menghempaskan tangan nya dan pergi untuk mengejar Rere.


"Rania..!!"

__ADS_1


Deg


Kedua mata Harna membulat sempurna ketika melihat putranya yang berdiri dengan memeluk sang istri.


"Ri_Riko." Tubuh Harna bergetar melihat tatapan tajam Riko yang menatapnya penuh amarah.


"Nak, Riko..ini tidak seperti yang kamu lihat." Harna mencoba menggerakkan kakinya untuk mendekati putranya yang sedang berdiri menatapnya tajam.


"Kak.." Rania memeluk kedua kakaknya dengan Isak tangis, Raka yang sejak tadi melihat kejadian itu hanya diam dirinya merasa tidak berhak ikut campur apalagi melihat Rania di bentak membuatnya merasa marah.


"Sayang, sudah jangan menangis." Raka menarik Rania untuk dirinya peluk, dirinya tau jika yang mamanya ucapkan sangat melukai hati seorang wanita manapun.


"Ayo kita pergi." Riko meraih tangan Rere, mengajak wanitanya pergi.


"Riko.." Panggil Harlan yang melihat putranya akan pergi padahal dirinya tahu jika Riko batu saja sampai. "Kamu baru sampai kenapa sudah mau pergi lagi." Tanya Harlan yang memang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Untuk apa aku tinggal di rumah yang bagaikan neraka untuk rumah tanggaku." Suara Riko begitu berat, matanya menatap tajam Harna yang sedang diam mematung. "Jika anda tidak menerima istri saya, makan jangan harap anda akan melihat putra anda lagi." Riko begitu marah dan kecewa dengan perkataan mamanya pada Rere, beruntung dirinya segera menyusul pulang.


"Riko Apa yang kamu katakan?" Tanya Harlan.


"Bang.." Indira yang baru turun dari lantai atas menatap suaminya sendu.


"Tanyakan saja pada istri anda, apa yang sudah dilakukan pada istriku."


"Dengar." Riko menangkup wajah Rere yang sembab. "Tanpa ijin diriku jangan pernah kamu injakan kaki di rumah ini lagi."


Setelah mengatakan itu Riko menarik tangan Rere untuk keluar dari rumah yang dulunya hangat dan berwarna, kini menjadi sebuah neraka bagi pernikahannya.


"Kakak..!!" Rania menangis dan memanggil keduanya, tapi Riko tetap menarik sang istri untuk segera masuk ke dalam mobil.


Harlan menatap istrinya yang sedang menangis, acara yang seharusnya bahagia dan khidmat, kini menjadi berantakan dan membuat malu.


"Pah.." Harna menggelengkan kepala, bermaksud memberi tahu jika bukan seperti yang Riko lihat.


Berlalu pergi tanpa berbicara pada Harna, Harlan memilih menaiki tangga dan masuk keruang kerjanya.


Bisik-bisik para tamu pun mulai terdengar, membicarakan perkataan Harna yang begitu tanpa rasa bersalah dan simpati, apalagi kepada menantunya sendiri. Seharusnya mereka memberi semangat dan dukungan.


"Mas, ayo kita pulang." Ucap Rania pada Raka, Rania yang masih sesenggukan pun mengajak Raka untuk keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Ran.." Harna ingin mengejar, tapi putrinya itu sama sekali tak mau melihatnya.


Para tamu pun, ikut membubarkan diri setelah Allan berbicara di depan semua, meminta maaf yang sebesar-besarnya.


__ADS_2