PEBINOR Nakal

PEBINOR Nakal
Part91


__ADS_3

Wajah Miranda di tekuk, dengan bibir mengerucut tajam menatap pria yang hanya tersenyum tanpa dosa sejak tadi.


"Lis, sudah semua kan." Tanya Miranda dengan suara ketus, kesal dengan Felik, Lisa yang menjadi sasaran.


"Mbak kenapa sih, lagi PMs?"


"Udah, buruan nanti keburu telat." Miranda menarik Lisa untuk segera naik ke atas motor.


Semua pesanan bunga sudah tertata rapi di mobil pickup, Miranda dan Lisa akan ikut menggunakan motor.


"Iya mbak, sabar." Lisa dengan terseok mengikuti langkah Miranda.


"Kamu bawa motornya, biar dia sama saya." Ucap Felik di depan keduanya.


"Ayo Lis buruan."


"Ehh.." Miranda yang kaget tubuhnya di tarik. "Apaan sih mas."


"Udah kamu duluan.!!" Titah Felik pada Lisa yang hanya bengong.


"Ehh..i-iya." Lisa pun segera melesat pergi, takut jika terjadi sesuatu yang mencemari otaknya.


"Kenapa?" Tanya Felik yang sudah berhasil membawa Miranda masuk ke dalam mobil, dan kini mobilnya mengikuti motor Lisa dari belakang.


Miranda tidak menjawab melainkan memanyunkan bibirnya dengan bergerak-gerak kecil.


Felik yang melihat itu gemas sendiri, jam masih menunjukan tujuh pagi. Tapi dirinya merasa waktu begitu cepat. Apalagi melihat tingkah Miranda membuatnya ingin mengurung gadis itu lagi di dalam kamar.


"Masih marah?" Tanya Felik lagi, sesekali menatap Miranda dan kembali fokus ke jalan.


Miranda menoleh dan menatap tajam Felik. "Apa?" Tanya Felik yang di tatap Miranda.


Miranda hanya menggeleng, dan kembali membenarkan duduknya.


Ingin rasanya Felik meledakkan tawanya, melihat wajah Miranda yang lucu dan menggemaskan.


Tak lama mobil Felik berhenti di sebuah hotel yang yang baru akan di resmikan hari ini.


"Disini?" Tanya Felik yang melihat bangunan tingkat itu.


"Hm..Mereka pesan untuk grand opening hotel." Miranda ingin keluar, tapi lebih dulu di cegah Felik.


"Jangan marah." Ucap Felik menatap bibir tebal Miranda yang sudah membuatnya hilaf semalaman hingga pagi.


Felik mengecup bibir itu kembali dengan lembut, mellumat nya sebentar.


"Jangan lupa, hubungi aku kalau ada apa-apa." Tangan Felik mengelus wajah Miranda.


Jantung Miranda berdetak tak aman, melihat wajah Felik saja sudah membuatnya berdebar, apalagi semalaman dirinya tidur dalam pelukan pria itu, bahkan mereka sudah melakukan hal intim.


Miranda keluar dari mobil Felik, dan Felik pun segera pergi untuk kembali ke rumahnya, karena nanti dirinya akan menghadiri sebuah undangan.


Mengingat Harlan masih belum bisa bekerja seperti biasanya, jadi Felik yang menghandle semua pekerjaan kantor.

__ADS_1


.


.


Paris...


Jika di Indonesia pagi pukul tujuh pagi maka di negara yang terkenal romantis itu masih pukul dua dini hari.


Huek...huek..


Riko yang mendengar suara seseorang yang sedang muntah segera bangun dan melihat istrinya tidak ada di sampingnya.


"Honny kamu kenapa?" Riko menatap istrinya yang sedang muntah di depan wastafel.


"Jangan mendekat By.."


Huek...huek..


Lagi-lagi perutnya bergejolak dan hanya memuntahkan air yang terasa pahit.


"Kamu sakit." Riko memijat tengkuk Rere, membantu supaya lebih baik.


Rere hanya menggeleng. "Tidak tahu.. ephm.."


Dengan telaten Riko membantu Rere membersihkan mulutnya menggunakan tisu.


"Kamu salah makan." Riko menyentuh kening dan leher Rere, suhu tubuhnya normal.


"Tidak makanan kita sama." Ucapnya dengan suara lemah.


"Aku ambilkan air hangat." Rere hanya menganggukkan, tubuhnya Ia sandarkan di bahu ranjang dengan setengah duduk.


"Loh Rik, kamu belum tidur." Tanya Fitri yang kebetulan juga mengambil air minum, karena di kamar nya air nya habis.


"Em..belum Bu." Ucapnya dengan mengambil gelas dan diisi dengan air hangat.


"Kenapa wajah kamu panik begitu."


Riko menoleh menatap ibu mertuanya. "Rere muntah-muntah Bu, tapi badannya tidak panas mungkin dia tadi salah makan." Ucap Riko yang mencari beberapa obat yang bisa meredakan mual.


"Muntah-muntah." Gumam Fitri yang masih berfikir.


"Kamu bawa apa?" tanya lagi yang melihat beberapa bungkus obat.


"Obat agar mulanya reda." Riko ingin pergi, tapi kembali di tahan.


"Ehh..eh tunggu dulu." Fitri mengambil bungkusan obat itu. "Jangan sembarangan kasih obat siapa tahu istrimu sedang isi."


Riko menatap Fitri dengan kening berkerut. "Isi? Isi apa Bu?"


Fitri menepuk jidat. "Maksud ibu, siapa tahu gejala mual dan muntah disebabkan karena Rere sedang hamil."


Mata Riko membeliak mendengar ucapan Fitri. "Beneran Bu, kalau Rere sedang hamil." Ucapnya tak percaya.

__ADS_1


"Siapa tahu, kalau mau tahu lebih baik kamu tes dengan alat kehamilan."


"Alat tes kehamilan?" Gumam Riko.


"Ya, di supermarket atau apotik banyak alat tes kehamilan."


Mendengar ucapan Fitri, seketika membuat Riko, bergegas pergi, dan menaruh gelas yang akan dia bawa ke kamar pun tidak jadi.


"Loh..heh..mau kemana kok keluar..!!" Teriak Fitri.


"Beli testpack Bu..!!!


Fitri hanya geleng kepala, menantunya itu memang kadang ajaib.


"Semoga benar kamu hamil nak." Doa Fitri untuk sang putri.


Tak lama Riko kembali dengan membawa bungkusan kresek, dimana ada beberapa macam alat tes kehamilan semua Riko beli, karena tidak tahu yang mana yang akan di pakai.


Bibirnya terus mengembangkan senyum ketika mengingat ucapan ibu mertuanya, dirinya berharap semoga keinginannya segera terwujud.


Ceklek


Membuka pintu, Riko melihat Rere yang masih duduk dengan bersandar di ranjang.


"Kenapa lama By, hanya ambil air minum." Tanyanya dengan menatap suaminya yang merasa aneh, sejak membuka pintu Riko terus tersenyum.


"Kamu kenapa By, kesambet?" Tanya Rere yang menatap suaminya heran.


"Sembarangan." Riko memberikan gelas berisikan air hangat, dimana isinya sudah Ia ganti, karena yang tadi sudah dingin.


"Terus wajah kamu aneh gitu, senyum-senyum gak jelas." Terang Rere yang merasa sedikit waspada.


Riko memberikan bungkusan plastik yang dia bawa tadi. "Apa ini?" Tanya Rere yang menerima bungkusan itu.


"Kata ibu, mungkin saja kamu hamil, jadi ibu suruh aku beli itu untuk memastikan." Ucap Riko dengan mata berbinar.


"Tapi By aku.." Wajah Rere mendadak mendung, dimana dirinya teringat di katakan mandul.


"Di coba saja dulu, jika hasilnya negatif masih banyak waktu kita untuk membuatnya." Ucap Riko dengan menaik turunkan alisnya, menggoda sang istri agar tidak sedih.


"Ayolah, demi mengurangi rasa penasaranku." Ucap Riko dengan menggendong Rere masuk kembali ke kamar mandi.


"Aku tunggu di luar." Riko mendudukkan Rere di atas closed.


Rere hanya mengangguk, jantungan berdetak cepat dirinya takut jika ini hanya karena dirinya yang sakit ataupun salah makan, hingga membuatnya merasa mual dan muntah. Tapi jika di ingat dirinya sudah tidak mendapatkan masa periode cukup lama, dan juga lupa.


Riko menunggu di balik pintu dengan mondar mandir merasa cemas dan penasaran.


'Ya tuhan semoga kau kabulkan doa kami.'


Tak lama Rere membuka pintu kamar mandi, dengan wajah menunduk.


"Honny, bagaimana?" Tanya Riko antusias.

__ADS_1


Rere hanya menunjukan tespeck yang baru saja dia pakai, dan sudah terlihat hasilnya.


"Hon..Ini.."


__ADS_2